
“Hukuman... ah... nanti aku beritahu,” jawab Erra yang memakai baju santai.
“Kakak semakin seksi saja,” celetuk Lee.
“Apakah kamu menyukainya?” tanya Erra lagi.
“Ya... aku memang menyukainya,” jawab Lee dengan membuang wajahnya ke sembarang arah.
“Apakah para papa ikut?” tanya Erra.
“Mereka ikut. Mereka akan membelikan sebuah gaun indah untuk para istri,” jawab Lee yang menatap wajah Erra berharap ingin membelikan sebuah baju.
“Apakah kamu ingin membeli baju?” tanya Erra.
“Ya... aku ingin. Belikan sebuah gaun sesuai dengan keinginan kamu,” jawab Lee.
“Jika kamu baiklah. Nanti aku belikan,” ucap Erra yang merasakan hatinya bahagia. “Kalau begitu pergilah bersama Garda.”
“Baiklah,” balas Lee yang mulai meninggalkan Erra.
Lee segera keluar dari kamar dan melihat Garda yang sudah rapi. Ia segera mendekatinya sambil memegang tangan Garda yang dingin. Garda tersenyum manis sambil berkata, “Aku ingin kamu membantuku mencarikan sebuah baju buat seseorang.”
“Baju?” tanya Lee yang membola matanya ketika Garda mengucapkan seseorang.
“Iya... dia adalah seorang gadis yang telah meruntuhkan tembok hatiku,” jawab Garda yang membuat Lee terkejut.
“Apakah itu benar? Apakah kakak sesudah memiliki kekasih?” tanya Lee dengan jujur.
“Iya... aku memang mengincar dia untuk dijadikan seorang istri. Tubuhnya sangat mungil dan memiliki wajah yang sangat menggemaskan. Kalau memanggil aku seperti Hinata istri Naruto. Sangat lembut dan membuat aku ketagihan. Sering aku tidak menyahutinya dan diam tanpa bicara hanya karena mendengar suara gadis itu,” jawab Garda yang membayangkan wajah Arini yang sering mengusik dalam hidupnya.
“Apakah itu benar?” tanya Garda.
“Iya... itu benar,” jawab Garda dengan wajah memerah malu-malu kucing.
“Ah... rasanya aku harus merayunya untuk dijadikan kakak iparku,” celetuk Lee.
“Bantu aku ya?” tanya Garda.
__ADS_1
“Kalau itu mau kakak baiklah. Aku akan membantumu. Aku harap gadis itu sangat menyukai dan menerima cinta kakak dengan tulus,” ucap Lee yang mendoakan Garda dengan tulus.
“Terima kasih ya,” balas Garda yang tersenyum manis.
Jakarta Indonesia.
Dua orang gadis sedang berkumpul di apartemen wajahnya sangat kacau sekali. Bagaimana tidak kedua gadis itu salah ditinggal pergi oleh seseorang yang penting di hidupnya. Lalu salah satu dari mereka akhirnya berbicara, “Kenapa kamu ke sini lalu ujung-ujungnya diam? Jangan curhat tentang kisah cinamu yang selalu bernasib siap!”
“Bukan itu,” sahut gadis yang memiliki tubuh seratus tujuh puluh centi itu.
“Lalu?” tanya gadis itu sambil memicingkan matanya.
“Aku rindu sama Kak Sam,” celetuk gadis itu.
“Pita,” panggil gadis itu sambil menelan salivanya dengan susah payah.
“Iya... Arini... aku memang merindukan kak Sam,” jawab Pita nama gadis cantik itu.
“Apakah aku tidak salah dengar?’’ tanya Arini nama sang pemilik tubuh mungil itu dengan wajah menggemaskan.
“Kamu tidak salah dengar kok. Aku memang sangat merindukan Kak Sam,” jawab Pita. “Lalu bagaimana dengan Kak Garda?”
“Apakah kamu yakin kalau hatimu tidak menyukai Kak Garda?” tanya Pita yang membuat Arini tidak berkutik sama sekali.
“Tidak. Aku tidak menyukainya. Dia adalah pria menyeramkan yang pernah aku temui,” jawab Arini namun hatinya menolak akan hal itu.
“Aish... kamu itu... bisa-bisanya kamu membohongi hati kecilmu itu,” kesal Pita.
“I don't care what talking about you,” ujar Arini yang beranjak berdiri lalu meninggalkan Pita.
Pita pun terkekeh melihat Arini yang sedang jatuh cinta kepada Garda. Namun Ardini tidak pernah mengatakannya karena takut akan ditolak. Sepertinya Pita dimiliki ide agar bisa mendekatkan Arini ke Garda.
“Ah... rasanya jiwa Mak comblangku mulai bekerja nich. Bagaimana kalau aku meminta bantuan Kakak besar untuk membantu menjodohkan Arini,” ucap Pita dalam hati.
“Jangan kamu mendekati kakak besar!” seru Arini yang datang membawa puding coklat.
“Aku tidak akan melakukannya. Lagian juga kakak besar sedang sibuk mengejar Candra sialan,” sahut Pita.
__ADS_1
“Aish... aku bingung dengan Candra. Kapan ya matinya? Lama-lama aku bosan melihat pria tua itu sering berseliweran di dunia majalah. Kamu tahukan kerajaan bisnis yang dimilikinya bukan pure kerja kerasnya. Bahkan kakek Candra itu sering mengambil perusahaan yang sedang berkembang,” jelas Arini.
“Hey... kamu jangan mendoakan orang seperti itu. Biarkan orang itu hidup lebih lama. Agar kakak besar Omesh jeruknya dan mengajaknya berantem,” usul Pita yang menahan tawanya.
“Kamu itu. Tapi benar juga sih. Enggak ada Candra kakak besar akan kesepian tidak ada yang mengajaknya berantem,” ujar Arini yang tidak rela jika Candra mati. “Tapi?”
“Tapi?” tanya Pita.
“Andaikan saja kedua orangtuaku masih hidup... kemungkinan aku tidak seperti ini,” jawab Arini.
Tiba-tiba saja Arini teringat akan kedua orangtuanya. Air mata Arini mulai menetes dan menahan rasa sesak di dada. Andaikan pada waktu itu ia tidak di mansionnya... kemungkinan besar luka yang dibuat oleh sang pembunuh tidak akan sesakit ini. Pita tahu atas kesedihan sang sahabatnya itu. Ia menarik tubuh mungil tersebut sambil mengelus-elus punggung Arini.
“Sudahlah... jangan menangis lagi. Jangan kamu ingat masa yang menyakitkan itu. Suatu hari nanti kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak terduga. Kamu tahu di dunia ini, banyak sekali yang menjadi korban dari Candra enggak kamu saja. Jangankan kamu.. kakak besar pun ikut menjadi korban. Jika kamu berpikiran adalah korban menyakitkan, itu salah besar. Aku juga berharap banyak pada Tuhan agar kasus ini selesai. Aku tidak mau berlarut-larut,” hibur Pita.
“Aku sudah melupakan hal itu ketika dekat dengan kakak besar. Aku tidak mau selamanya seperti ini. Aku harus bangkit dari keterpurukan,” ucap Arini yang mengangkat wajahnya.
“Kalau begitu semangatlah,” teriak Pita yang membuat Arini semangat lagi.
New York City.
Saat sedang berjalan-jalan dengan Erra, Lee melihat ada sebuah toko yang menjual kue sus. Ia menarik tangan Erra lalu menunjuk toko itu sambil tersenyum, “Kakak.”
Erra yang tidak sengaja melihat toko kue sus tersenyum. Ia memegang tangan Lee sambil mengajaknya masuk. Ketika masuk mereka tidak sengaja melihat Nanda yang sedang menerima pelanggan dengan ramah. Kedua pasangan suami istri itupun mendekati Nanda sambil meminta pendapat.
“Apakah ada kue sus dengan rasa coklat?” tanya Erra sambil memandang wajah Nanda.
Nanda segera menunduk sambil memberi hormat, “Oh... Tuan Muda datang.”
“Cih... pake hormat segala. Biasanya bahasa gaulmu keluar!’ cibir Erra yang membuat Nanda tertawa.
“Diberi sambutan salah... enggak diberi salah,” kesal Nanda yang membuat Lee tertawa.
“Mana ada seorang tuan muda dari SW Groups menyambut kedatangan Tuan Muda ASCO?” tanya Erra yang membuat Nanda semakin kesal.
“Adalah... buktinya sekarang,” sahut Nanda.
“Ada menu apa? Kamu tahukan singa betinaku lapar?” tanya Erra.
__ADS_1