Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 317


__ADS_3

Andi tersenyum iblis setelah menangkap kedua putranya itu. Ia sengaja memasang wajah tengil bagai iblis yang berhasil menangkap mangsanya. Pria paruh baya itu pun berjalan dengan santai tanpa ada beban sama sekali. Ia pun lupa dengan keberadaan Putri satu-satunya tersebut. Dalam hati Andi telah mempersiapkan hukuman buat mereka.


Erra dan Garda yang sudah masuk dalam ruangan bawah tanah hanya bisa pasrah. Mereka baru sadar kalau menempati ruangan yang paling dibencinya itu. Erra dan Garda saling memandang satu sama lain. Mereka pun geram bersama-sama, kenapa dirinya bisa masuk ke dalam sini?


“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Garda.


“Bukannya kamu ahli melepaskan ikatan rantai ini?” tanya Erra sambil mencibir Garda.


“Kamu rantai yang dipakai itu sebesar dua puluh kilo,” jawab Garda dengan kesal. “Rantai seberat itu bisa membuat tangan dan kakiku patah jika terlalu banyak bergerak. Jika tidak bergerak maka tangan dan kakiku sangat kaku sekali.”


Lantas Erra berpikir, kalau bergerak tangan dengan kaki patah... Kalau tidak bergerak akan menjadi kaku. Entah apa itu istilahnya kata-kata Garda membuat dirinya sangat menyesatkan.


“Lalu, apa yang harus kamu lakukan?” tanya Erra.


“Entahlah. Mau tidak mau kita berdiam di sini,” jawab Garda dengan serius.


“Semuanya ini gara-gara kamu. Bisa-bisanya kamu menjadi pebinor di dalam rumah tangga adikmu. Coba kamu pikir sedikit saja kalau Lee sudah memiliki suami,” kesel Erra.


“Kamu tahu, kalau Lee adalah adik kandungku?” tanya Garda yang mulai memasang bendera peperangan.


“Lalu, apakah kamu keberatan jika aku menjadikan adikmu sebagai istriku?” tanya Erra yang mulai mengibarkan bendera peperangan juga.


“Iya aku keberatan! Aku sangat kesal sekali pada kamu! Andai saja kalau pada waktu itu aku disuruh mengurus surat-surat pernikahan akan kubawa kabur dari Indonesia! Apakah kamu paham?” tanya Garda dengan sengit.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Andi melangkahkan kakinya untuk melihat kedua putranya itu. Dengan senyum mengejek pria paruh baya pun menggelengkan kepalanya. Mereka tidak sadar kalau pembicaraan yang baru saja terjadi, didengarkan langsung oleh Andi. Andi tidak habis pikir dengan kedua pria berbadan kekar itu masih saja bertengkar. Ia segera mendekati dan jongkok melihat mereka.


“Hello putraku,” sapa Andi dengan suara tegasnya.


Kedua pria tadi terkejut melihat sang papa sedang berada di depannya. Mereka tidak habis pikir kalau sang papa melihat dirinya sedang terperangkap dalam ruangan bawah tanah.


“Papa!” pekik Garda.

__ADS_1


“Iya ini papa,” jawab Andi. “Kamu tahu kenapa kamu berada di sini?”


“Entahlah,”  jawab Garda tidak sadar.


“Bahkan kamu nggak tahu jika Lee menghilang dari markas?” tanya Andi sambil mengintimidasi mereka.


“Aku tidak tahu,” jawab Erra yang tidak sadar karena istrinya telah minggat dari markas.


“Oh baguslah. Berarti kamu nggak sadar jika istrimu minggat?” tanya Andi sekali lagi.


“Memangnya Erra punya istri ya pa?” tanya Garda meledek.


“Entahlah... Papa sendiri nggak tahu,” jawab Andi yang kesel dengan Erra karena selama ini dirinya tidak pernah ketemu Lee.


Garda akhirnya tertawa terbahak-bahak melihat Erra yang kesal. Jika seandainya tangan dan kaki tidak terikat maka dirinya sudah menghajar Garda.


“Gue kapok menjadikan dia sebagai asisten. Jika dia bukan anaknya papa pasti aku lempar ke sungai Brantas,” ucap Erra dengan suara datar sedotan triplek.


“Selama ini ke mana saja bro... Lo baru sadar kalau kapok sama gue!” geram Garda.


“Apakah papa tega menghukum menantu Papa yang ganteng ini?” tanya Erra sambil merayu Andi.


“Pa... Apakah Papa mau melepaskan Garda?” tanya Garda. “Jika Papa melepaskan Garda, kerja akan memberikan mobil sport keluaran terbaru.”


“Kalian mencoba untuk merayu papa!” bentak Andi yang tidak mau terkena rayuan kedua putranya itu.


Mereka hanya bisa menunduk sambil ketakutan. Baru kali ini kedua pria kekar itu seperti ayam sayur. Wajahnya sangar tubuhnya gede, memasang wajah arogan. Ternyata mereka takut dengan Andi. Meskipun pendiam tanpa irit bicara namun Andi memiliki sifat tegas yang sangat ditakuti.


“Pa... Kok aku nggak lihat Lee ya?” tanya Erra yang baru sadar.


“Aku pun juga sama,” ucap Garda yang tidak menemukan Lee sama sekali.


“Nggak usah dicari. Percuma.... Melihat kelakuan kalian Lee sudah jengah. Jika dia tidak menahan amarah kalian akan masuk rumah sakit!” geram Andi.


“Apa-apaan ini? Dia istriku pa!” sungut Erra yang tidak terima.

__ADS_1


“Dia adalah adikku!” geram Garda yang tidak terima juga.


“Lalu, Apa masalahnya kalian? Lee adalah putriku! Apakah kalian paham soal itu!” geram Andi.


Mereka menunduk lagi dan tidak berkutik sama sekali. Jujur mereka kalah dari Andi. Karena kekuasaan terbesar dalam hidup Lee adalah Andi sendiri. Lalu, apakah mereka bisa mengelak dan mengklaim Lee seenak jidatnya? Tidak bisa Ferguso!


Jujur, mereka berdua memang berhak untuk mengklaim Lee. Namun ketika klaim mengklaim terjadi hingga membuat orang-orang muntah. Kedua pria itu memang sangat posesif sekali kepada Lee. Sangking posesifnya membuat Lee geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa Ia mendapatkan seorang suami yang posesif dan memiliki kakak terlalu posesif? Bahkan dirinya bisa dibagi menjadi dua.


“Pa, di mana Lee berada?” tanya Garda serius.


“Aku kira kalian lupa dengan putriku?” tanya Andi dengan wajah yang sukar ditebak.


“Iyalah pa. Aku rindu pada nasi goreng buatannya,” jawab Erra dengan wajah sendu.


“Apakah kalian menyesal tentang ini semua?” tanya Andi.


“Iya Pa... Aku menyesal. Aku takut Lee akan selingkuh dari hidupku,” jawab Erra yang ketakutan.


“Cih, pakai takut segala! Seharusnya kamu senang jika istrimu hilang. Kamu bisa menikah lagi dengan wanita lain,” ledek Andi yang membuat Erra frustasi.


“Sekarang Papa tanya, apakah kamu mencintai putriku?” tanya Andi serius.


“Seperti papa lihat aku sangat mencintai putrimu. Sangking cintanya aku tidak bisa lepas dari Lee,” jawab Erra dengan jujur.


“Jika kamu mencintainya maka lepaskan putriku selama dua hari!” perintah Andi yang tidak main-main.


Jeder.


Bagai petir di siang bolong, Erra tertunduk lesu dan tidak semangat. Jujur saja kehilangan istri adalah kehilangan tulang rusuk. Kemudian Garda tidak sengaja melihat Erra tertunduk lesu. Rasanya Garda ingin menangis atau tertawa ya untuk saat ini? Karena Garda bingung mengungkapkan kata-katanya ketika Erra tertunduk lesu seperti itu.


“Baru kali ini yang namanya tuan muda Drajat tidak semangat karena kehilangan istri. Aku tidak habis pikir pada orang seperti ini,” ledek Garda.


“Kamu Jangan melihat aku terus-menerus seperti itu Garda!” kesel Erra.


“Alu tidak meledekmu. Tapi kamu sangat lucu sekali. Baru kali ini seorang pria dingin kehilangan istrinya. Coba dulu hidup sendiri, banyak wanita mendekat silih berganti tapi nggak ada yang peduli sama sekali. Baru kali ini aja sudah kebakaran jenggot,” sindir Garda yang mengetahui seluk beluk Erra.

__ADS_1


“Apakah itu benar?” tanya Andi.


__ADS_2