Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 285


__ADS_3

"Berikan alamat rumah atasan paman," jawab Lee yang tiba-tiba saja memiliki ide.


"Buat apa?" tanya Christian.


"Aku mau ke rumah dan menyekapnya," jawab Lee tanpa berdosa sama sekali.


"Kamu tidak boleh melakukannya," seru Christian.


"Ya... Aku akan melakukannya,'' jawab Lee yang tersenyum devil.


"Kalau aku enggak mau?" tanya Christian.


"Ok,'' balas Lee yang menatap wajah Erra.


Erra hanya menghembuskan nafasnya secara kasar. Kali ini Erra harus mengikuti Lee. Erra menatap Christian sambil tersenyum manis, "Maaf paman... aku harus mendukung Lee. Karena Lee memiliki hobi untuk berburu obat-obatan terlarang.''


"Bisa enggak sih kamu diam?'' tanya Christian yang mulai frustasi.


"Ah... tidak. Aku tidak bisa diam di rumah. Aku ingin membumihanguskan barang tersebut. Semoga paman mengerti,'' jawab Lee dengan tersenyum sumringah.


"Ayo kak... lebih baik kita pergi dari sini. Suruh pengawal Whites Dragon mengepung rumah ini. Dan berikan tugas untuk mereka agar paman tidak pergi dari sini!" titah Lee.


Erra tersenyum simpul mendengar perintah Lee. Erra segera mengambil ponselnya lalu memberikan sebuah perintah ke anggota Black Dragon. Setelah selesai Erra menunggu mereka datang sambil menikmati pagi.


"Paman tahu enggak? Siapa yang mengawal obat-obatan terlarang yang akan dikirim?" tanya Lee.


"Pastinya anggota Black Lotus," jawab Christian.


"Itu jawaban umum bagi kami. Yang mengawal obat-obatan terlarang adalah Nicky Smith. Pagi tadi Nicky kesini ingin menghabisi Paman demi memuluskan rencananya," jawab Lee. "Tidak tanggung-tanggung Nicky membawa pengawal Black Lotus untuk menghabisi Paman. Apakah paman tahu itu?"


Mata Christian membelalak tidak percaya. Apa yang dikatakan oleh Lee memang benar apa adanya. Jadi detik ini hidupnya sedang terancam. Cepat atau lambat dirinya akan terbunuh konyol karena ulah Nicky.


"Tenang saja paman. Aku kesini hanya untuk melindungi paman. Jadi paman harus menurut kepada kami," celetuk Lee.


Christian menganggukan kepalanya tanda setuju. Mau tidak mau Christian harus menuruti permintaan Lee. Disisi lain hati Christian membuncah bahagia. Bagaimana tidak diusia senjanya masih ada yang peduli? Sungguh Christian sangat terharu sekali.


"Paman enggak usah memberikan aku alamat atasan paman sendiri. Aku akan mencarinya sendiri. Kota New York bagi aku kecil. Tetaplah disini... Para papa akan kesini!" perintah Erra.


"Jam berapa mereka kesini?" tanya Lee.


"Sebentar lagi," jawab Erra.

__ADS_1


Tak lama para papa, Jake, Garda dan Greg sampai. Mereka segera turun langsung masuk ke dalam rumah. Sebelum pergi Lee dan Erra menceritakan kasus tadi. Tangan Andi langsung mengepal dan menggebrak meja. Sementara itu Bayu tidak habis pikir dengan Candra. Semakin lama Candra semakin menjadi. Bahkan semakin gila menghabisi orang yang ingin menjegalnya.


"Kalau begitu pergilah ke kantor polisi! Kalau enggak nurut hancurkan saja! Kita harus mengendalikan polisi saat ini juga! Jika tidak maka barang yang akan dikirim akan lolos!" titah Bayu.


"Dimana Nanda?" tanya Erra.


"Nanda aku beri tugas untuk memilih pasukan untuk berjaga nanti malam," jawab Bayu.


"Garda," panggil Erra.


"Iya... Ada apa?" tanya Garda yang bermain game online di ponsel.


"Apakah kamu sibuk?" tanya Erra.


"Enggak," jawab Garda.


"Kalau begitu ikutlah dengan kami!" ajak Erra.


Garda menaruh ponselnya sambil beranjak dari duduknya. Ia segera mendekati Erra dan meminta izin ke Andi. Andi menganggukan kepalanya tanda merestui tugas untuk menyekap atasan Christian.


"Jake dan Greg," panggil Erra.


"Kalian harus stand by di sini. Cepat atau lambat aku akan meminta informasi yang berkaitan dengan tugas ini!" perintah Erra.


Greg dan Jake mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. Mereka akan bersantai di rumah Christian sambil menunggu perintah. Erra, Lee dan Garda segera meninggalkan mereka.


Istanbul Turki.


Seorang pria tua yang tergolek lemas di atas brangkar rumah sakit sedang terlelap tidur. Pria itu sangat damai tanpa merasakan beban apapun.


Sementara di luar ada seorang pria yang sedang menunggu bangun. Wajahnya tertunduk lesu dan membiarkan air matanya menetes. Tiba-tiba saja pria itu kedatangan Adam dengan wajah sendu. Adam segera mengajak pria itu ke ruangan khusus.


Ketika sampai Adam langsung mengunci ruangan itu dan menatap sang pria tadi. Hampir lima menit Adam tidak berbicara sedikitpun. Hingga akhirnya Adam bertanya apa yang sedang terjadi.


"Kenapa kakakku bisa menjadi begini?" tanya Adam.


Pria itu hanya diam dan wajahnya menunduk. Meski suara Adam dengan nada biasa namun bagi pria itu hal yang menakutkan.


"Gery!" teriak Adam.


Pria itu adalah Gerry. Sementara pria yang terkulai lemas di ranjang adalah Candra. Sedangkan yang berada di depan Gerry adalah Adam.

__ADS_1


Saat berada di Den Haag, Adam terkejut mendengar sang kakak terkena serangan jantung. Banyak serangkaian jadwal di sana langsung dibatalkan. Adam langsung meninggalkan Den Haag untuk menemui sang kakak.


"Bagaimana bisa kakakku terkena serangan jantung mendadak?" tanya Adam.


Kemudian Gerry bercerita asal muasal kenapa Candra bisa terkena serangan jantung. Matanya membulat sempurna seakan tidak percaya apa yang didengarnya. Lalu Adam meminta Gerry menyelidiki kasus itu.


"Selidiki semuanya. Aku enggak mau terlewat sedikitpun!" titah Adam.


"Tuan, nanti malam di kota New York ada pengiriman barang ke pelabuhan. Aku sudah menyuruh Nicky untuk mengawal. Aku berharap Christian tidak ikut campur," balas Adam.


Adam baru sadar kalau Lee masih berada di New York. Hatinya semakin berdenyut hebat dan matanya menyalang. Adam berharap semuanya berjalan lancar.


"Aku akan menyuruh seseorang untuk mengintai keberadaan singa betina. Jangan sampai singa betina tahu soal barang ini!" geram Adam.


New York City.


Setelah keluar dari rumah Christian, Erra mengajaknya sarapan di pinggir jalan. Erra membeli sebuah roti dan susu panas. Begitu juga dengan Lee dan Garda. Mereka juga menikmati sarapan pagi dengan santai.


"Kamu kenapa sebelum pesawat mendarat tersenyum?" tanya Garda kepada Lee.


"Oh... Virus yang kita buat bersama sudah aku coba," jawab Lee.


Garda langsung tersedak dan batuk-batuk. Entah kenapa Garda merasakan firasat yang tidak enak. Garda langsung meraih air mineral di meja kemudian meminumnya. Setelah itu Garda hanya bisa memandang wajah sang adik.


"Ngomong-ngomong, dimana kamu mencobanya?" tanya Erra yang penasaran.


"Kirim ke situs ilegal milik Candra," jawab Lee dengan lirih sampai kedengaran di telinga sang kakak dan sang suami.


"Apakah kamu serius?" tanya Erra.


"Iya... Itu benar. Aku memang mencobanya kesana," jawab Lee.


Mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepalanya. Rasanya ingin menangis apa tertawa pada pagi ini ketika mengetahui kalau Lee sudah mengacaukan situs ilegal milik Candra.


"Aku baru sadar kalau adikku adalah seorang wanita bernyali besar," puji Garda.


"Aku juga baru sadar kalau istriku adalah seorang wanita bernyali besar," puji Erra.


"Ternyata nyalinya melebihi papa Bayu," ucap Garda yang membuat Lee tersipu.


"Jangan berbicara seperti itu. Nanti aku menjadi gila bagaimana?" tanya Lee.

__ADS_1


__ADS_2