Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 262


__ADS_3

"Ya... aku masih mengintai mereka. Mereka sedang mempersiapkan banyak senjata dan membriefing mereka untuk menyerang,'' jawab Lee dengan senang. "Kalau begitu kakak menghubungi para petinggi White Eragon untuk mempersiapkan dirinya melawan mereka.''


"Baiklah,'' balas Erra. "Sebelum aku pergi baiklah ke atas!"


"Baiklah,'' ucap Lee yang segera naik ke atas.


Erra pergi meninggalkan rumah itu lalu masuk ke dalam markas. Saat masuk Erra berpapasan dengan Irwan dan Joko. Erra mendekati mereka sambil berkata, "Musuh sudah mendekat. Tak lama lagi mereka akan menyerang sekarang,'' ucap Erra.


''Apa?'' pekik mereka secara bersamaan.


"Ya itu benar. Aku akan memberitahukan kepada papa untuk bersiap,'' balas Erra yang meninggalkan mereka.


Lee yang sudah sampai di atas menatap kembali Lee bawah. Lee melihat para musuh yang masih briefing. Tak lama Lee memiliki ide jahil kepada mereka. Kenapa Lee tidak melemparkan bom ke bawah?


Sebelum mengintai Lee menemukan sebuah tas hitam yang sudah berada di sana. Lee penasaran dengan tas itu lalu membukanya. Ia terkejut sekali kalau di dalam tas itu berisi bom bola yang di mana dilempar ke bawah akan meledak. Lee tersenyum devil dan memiliki sebuah rencana di atas kepala.


"Kak,'' panggil Lee.


"Ada apa?" tanya Garda yang menoleh ke Lee.


"Aku pengen jahil dech. Aku ingin meledakkan mereka hingga berhamburan,'' jawab Lee yang tersenyum jahil.


"Bukan ide yang buruk. Kita harus melakukannya. Jika mereka menyebar da mengepung markas bisa dipastikan kita yang kewalahan,'' ucap Garda yang menyetujui ide Lee.


Lee mulai mengambil beberapa butir bom dari dalam tas. Lee mengetahui kalau bom yang berada di tangannya adalah ciptaannya sendiri. Lee sempat bertanya kenapa ada bom ciptaannya berada di sini?


"Apakah itu milik Papa Irwan?" tanya Garda.


"Ya... Memang bom ini adalah milik Papa Irwan. Tapi blm ini adalah buatanku. Saat itu aku sedang marah dan menghasilkan bom ini,'' jawab Lee yang membuat Garda terkejut.


"A... a... a... apakah itu benar?'' tanya Garda yang bergidik ngeri.

__ADS_1


Sebegitu mudahnya Lee marah lalu menghasilkan sesuatu barang? Baru kali ini Garda mendengar pengakuan sang adik jika marah bisa menghasilkan bahan peledak. Ya... memang bahan peledak yang bisa pakai untuk kepentingan seperti ini.


Lee membaginya ke Garda sambil tersenyum manis. Lee menyuruh Garda untuk mencobanya untuk pertama kalinya. Setelah menerima beberapa butir bom Garda melihatnya dengan seksama. garda mengharumkan kepalanya sambil bertanya, "Ini mau bukan bulat.''


"Lalu lonjong maksudnya?" tanya Lee yang tidak tahu bentuknya.


"Aku enggak tahu," jawab Garda.


"Kakak tahukan kalau orang sedang marah kaya apa? Enggak peduli dia membuat apa? Bentuknya bagaiman? Yang penting bisa dipakai,'' jawab Lee.


''Ya... bukan maksud aku begitu. Kamu ini aneh sekali. Jika lagi marah pada perempuan akan berdiam diri di kamar sampai sang pria membujuknya?" tanya Garda yang melemparkan semuanya ke arah para musuh sedang briefing.


Mata Lee membola sempurna karena melihat Garda yang melemparkan bom itu ke bawah. Lee segera menutup telinga sambil berteriak, "Kakak Gila!"


"Aku belum gila kali. Aku masih waras,'' jawab Garda yang langsung menunduk bersama Lee.


Duaaaaaaaaaaaarrrrrrr!


"Kamu memberikan aku tujuh bola kecil.'' ucap Garda. "Lalu kenapa bunyinya seperti dentuman gunung meletus?"


"Aku lupa bilang ke kakak,'' jawab Sascha. "Bahan yang aku pakai itu melebihi takaran yang sudah diberikan oleh Papa Irwan.''


"Apa?" pekik Garda yang baru mengetahui takaran bom itu.


Ketika Erra laporan ke Bayu dan Andi, Erra mendengar sebuah dentuman keras langsung terkoneksi kaget. Erra segera berlari mencari keberadaan Lee. Otak Erra sudah tidak sinkron lagi dengan keadaan. Ya... memang Erra takut sekali jika Lee pergi meninggalkan dirinya.


Begitu jugan dengan mereka yang melihat kepergian Erra. Mereka segera keluar dari ruangan menuju ke luar. Saat keluar mereka menghembuskan nafasnya secara kasar. Ternyata Lee dan Garda sudah berpijak di atas bumi. Rasa syukur dan lega mereka panjatkan. Ketika Lee ingin bercerita, Garda langsung menyenggol Lee agar tidak bercerita. Lee langsung mengubah posisinya sambil tersenyum, "Mungkin mereka sedang konslet lalu melemparkan bom ke diri sendiri.''


"Apa?" pekik Andi. "Apakah mereka bunuh diri?"


Lee mengedikkan bahunya tanda tidak tahu. Lalu Lee masuk ke dalam sambil berteriak, "Ayolah! Kita berkemas sekarang! Kemungkinan musuh akan datang lagi ke sini.''

__ADS_1


Yang dikatakan oleh Lee benar apa adanya. Mereka harus mengantisipasi serangan mereka selanjutnya. Lalu mereka pada perg ke kamar masing-masing.


Istanbul Turki.


Adam yang baru saja sampai markas tidak sengaja mendengar ponselnya berdering. Adam mengambil ponsel itu sambil melihat nomor yang tertera di layar ponsel itu. Adam segera menggeser ikon hijau itu sambil menyapa orang yang berada di seberang sana.


"Halo,'' sapa Adam yang masuk ke dalam ruangan yang di mana Candra sedang menikmati waktu santainya.


"Maaf tuan. Pasukan kita yang akan mengepung markas White Eragon telah tewas karena ada serangan mendadak dari pihak lawan,'' jawab sang penelepon itu dengan tubuh bergetar.


Pria itu sangat frustasi sekali karena para pengawalnya meninggal. Namun tanpa disadari olehnya, Lee sedang lewat dan melihat orang itu sedang ketakutan. Dengan cepat Lee mengambil batu yang cukup besar sambil melemparkannya ke arah kepalanya. Pria itu jatuh tersungkur sambil merasakan kepalanya berputar kemudian pingsan.


"Apa yang kamu bilang?'' tanya Adam yang mulai frustasi.


Saat bertanya ke pengawalnya itu Adam tidak mendengar apapun. Beberapa saat kemudian Lee menyapa Adam dengan suara sumringahnya.


"Hallo bos Adam Malik,'' sapa Lee dengan nada mengejek.


"Ha... Ha... Halo,'' sapa Adam dengan tergagap.


"Apa kabar Adam Malik yang paling ganteng jika dilihat dari Patung Liberty,'' ejek Lee yang benar-benar membuat Adam mati rasa.


"Siapa ini?'' tanya Adam.


"Kau lupa denganku? Bukannya kamu dulu ingin sekali mendapatkan kepalaku? Jika kamu lupa berarti kamu sudah tua dan botak ditambah lagi pikun,'' ledek Lee.


"Jaga bicaramu!" bentak Adam dengan suara meninggi.


"Please... jangan membentak seperti itu. Jangan salahkan aku jika jantungmu kumat seperti Candra lalu masuk kuburan,'' ucap Lee.


Adam terkesiap mendengar apa yang dikatakan oleh Lee. Jujur saja riwayat penyakit jantung sang kakak sudah terdengar ke telinga singa betina. Hanya dengan bentakan dari singa betina, kemungkinan besar Candra akan lewat begitu saja. Adam hanya bisa menghembuskan nafasnya secara sambil bertanya, "Dari mana kamu tahu?"

__ADS_1


__ADS_2