
“Tidak,” jawab Nanda.
“Tenang mereka tidak akan mencarimu. Karena akulah yang bertanggung jawab atas hilangnya dirimu dari mereka. Aku akan memberitahukan para ketua, jika kamu pergi dari markas sementara,” ujar Nanda. “Bagaimana Sam pendapatmu?”
“Ide kamu sangat bagus sekali. Tapi kamu harus memakai kode agar kedua pria gila itu tidak mengejar Lee untuk sementara,” saran Sam.
“Tapi aku belum rapi,” ucap Lee dengan sedih.
“Tenanglah. Kita akan pergi ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu untuk membeli bajumu. Setelah itu bersihkan tubuhmu di apartemenku. Aku akan memberikan waktu selama satu jam. Setelah dari pusat perbelanjaan. Apakah kamu setuju?” tanya Nanda.
“Baiklah kalau begitu,” balas Lee.
Dua orang pria yang sedang diselimuti amarah tidak menyadari kalau Lee pergi dari markas. Mereka menuju ke halaman belakang untuk melakukan pertarungan. Sedangkan Bayu dan Andi sedang menikmati sarapan menerima sebuah pesan. Pesan itu berisi akan ada pertarungan antara Erra dan Garda. Mata mereka membulat sempurna dan saling memandang. Mereka mengirimkan kepalanya sambil berkata serempak, “Ada apa dengan anak-anak kita?”
Beberapa saat kemudian mereka menerima pesan lagi. Pesan itu mengatakan pertarungan yang diadakan oleh Garda dan Erra disebabkan oleh Lee. Mereka baru sadar karena kedua pria itu sangat posesif sekali. Namun sebelum melangkah ponsel Bayu berdering. Pria berwajah tampan itu melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
“Nanda,” sebut Bayu dengan wajah sulit diartikan.
Bayu menggeser lambang hijau itu dan menyapa sang penelpon, “Halo.”
“Maaf ketua... Aku harus mengatakan ini kepada ketua. Li sedang berada bersama kami untuk liburan air terjun Niagara. Biarkanlah Lee merasakan hari-harinya tanpa ada beban dua orang yang sedang bertengkar itu.”
Bayu pun tersenyum manis sambil berkata, “Ajaklah Lee berjalan-jalan untuk menikmati hidupnya. Setelah itu kalian kembali langsung ke Jakarta. Kedua orang itu biar aku yang urus. Aku akan mengirimkan sejumlah uang untuk Lee.”
“Baik ketua siap laksanakan,” tegas Nanda.
Bayu tersenyum sumringah dan memandang Andi. Ia segera menarik Andi untuk melihat pertarungan antara Garda dan Erra. Namun Andi tidak beranjak juga dari tempatnya itu.
“Ada apa kamu sepertinya sangat mengerikan seperti itu?” tanya Andi.
“Aku tersenyum sumringah gara-gara Garda dan Erra. Kamu tahu gara-gara pertengkaran itu Lee kabur dari markas,” jawab Bayu hingga membuat Andi kaget.
__ADS_1
“Kamu serius?” tanya Andi yang tidak paham.
“Ya aku serius. Tapi tenang saja Li aman bersama Nanda dan Sam. Yang mengirimkan pesan ke kita adalah Sam. Yang menelpon adalah Nanda. Aku akan mengirimkan sejumlah uang ke Nanda untuk Lee. Sekarang ayo kita lihat pertarungan antara Garda dan Erra. Aku ingin melihat kehebatan mereka berdua,” jawab Bayu.
“Kamu ingin melihat mereka bertengkar?” tanya Andi yang geram.
“Tentu jelas. Biarkan saja mereka bertengkar. Jika ada salah satu yang masuk rumah sakit tinggalkan saja di sini. Aku sudah jengah kepada mereka,” jawab Bayu.
“Dasar bapak nggak ada akhlak!” geram Andi.
Bayu tertawa keras sambil memegangi perutnya. Seumur-umur Bayu baru mendengar Andi menggeram. Entah bagaimana Bayu mengungkapkan sesuatu kepada Andi? Andi segera menarik Bayu menuju ke halaman belakang. Andi harus mengambil tindakan agar mereka tidak jadi bertengkar.
“Aku baru dengar kalau Andi bisa menggeram seperti itu,” ledek Bayu.
Andi semakin kesal kepada Bayu dan ingin melemparkan besannya ke daerah Afrika sana. Sudah tahu kedua anak mereka akan bertengkar malah dibiarkan saja. Andi merasa sangat jengkel dan tidak harus berkata apa lagi.
“Kamu membiarkan anak-anak kita bertengkar?” tanya Andi.
“Mau bagaimana lagi? Sudah aku bilang biarkan saja mereka bertengkar,” jawab Bayu dengan santai.
“Baiklah kalau begitu. Tapi jangan tarik aku seperti itu. Aku akan beristirahat karena semalam tidak tidur. Kamu tahu kan kalau aku sedang jatuh cinta pada Rani. Makanya aku seperti orang berpacaran lagi. Bye Andi,” pamit Bayu.
Andi melepaskan bajunya Bayu dan pergi ke halaman belakang sendiri. Ia segera memanggil beberapa pengawal untuk mengamankan kedua pria gila itu. Tak lama tak lama pengawet yang dipanggil itu segera menuju ke arah Andi. Andi memberikan himbauan kepada mereka dengan cepat. Setelah memberikan himbauan Andi bersama pengawalnya itu segera menuju ke sana.
Sesampainya di halaman belakang, Garda dan Erra sudah berdiri berhadap-hadapan. Tangan mereka juga memegang pedang. Andi hanya menghembuskan nafasnya sambil meminta shuriken. Iya mendadak berubah menjadi seorang ninja. Dengan cepatnya Andi berlari dan melompat. Lalu ia berdiri di atas pohon.
Sambil melihat pemandangan kedua pria itu Andi berubah menjadi iblis. Ia tertawa menakutkan hingga membuat para pengawal ketakutan. Sebelum terjadi pertempuran antara Erra dan Garda, Andi melemparkan dua shuriken ke arah dua pedang yang dipegang mereka. Seketika kedua pedang itu menjadi patah menjadi dua seperti lagunya Alda. Mereka baru sadar karena pedang mereka sudah patah menjadi dua.
“Huaaahaaa.... Keren sekali pedang kalian patah menjadi dua,” puji Imam sambil bertepuk tangan.
Kedua pria itu hanya menggaruk-garukkan kepalanya melihat pedangnya patah. Era langsung kesal dan meninggalkan arena pertandingan tersebut. Namun ketika pergi para pengawal yang diutus oleh Andi segera menangkapnya. Mereka akhirnya memasukkan ke dalam ruangan bawah tanah. Begitu juga dengan Garda,
__ADS_1
Selesai penangkapan Andi turun ke bawah dengan cara melompat. Meskipun usianya sudah tua namun Andi memiliki stamina yang baik. Imam yang melihat Andi baru saja turun hanya bisa tersenyum. Jujur Imam sangat mengagumi Andi.
“Pa, kenapa mereka ditangkap?” tanya Imam yang penasaran.
“Kamu mau tahu kenapa mereka aku tangkap?” tanya Andi yang melibatkan kedua tangannya di dada.
“Mereka bertengkar tujuannya hanya satu yaitu memperebutkan Lee,” jawab Imam dengan serius.
“Mereka hanya ingin mendapatkan perhatian Lee. Setiap hari mereka selalu bertengkar, bertengkar dan terus bertengkar. Hari ini aku benar-benar akan menghukumnya. Semoga saja cepat sadar bahwa mereka tidak memperebutkan Lee,” ucap Imam.
“Pasti Papa pusing melihat mereka berdua bertengkar. Coba bayangkan saja kedua pria itu tinggal satu atap dan Lee di situ juga diam-diam bermusuhan. Kalau aku sebagai papa akan aku tendang mereka berdua dari rumah,” kesal Imam yang sering menjadi pelampiasan Lee.
“Kamu tahu, jika aku menendang mereka berdua maka istriku dan putriku akan menyekap ku di dalam kamar. Dan aku menjadi pria tidak berdaya di hadapan dua wanita berbeda generasi itu,” ujar Andi yang membuat Imam tertawa keras.
“Sepertinya papa sangat menurut kepada mereka?” tanya Imam dengan serius.
“Iya... Karena mereka adalah hidupku,” jawab Andi.
“Apa yang Papa lakukan?” tanya Imam.
“Menghukum mereka seperti mereka menghukum musuh,” jawab Andi sambil tersenyum iblis.
Imam hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti. Lalu Andi pergi dari area itu untuk menuju ke ruangan bawah. Sedangkan Imam hanya bisa menghela nafasnya sambil berkata, “Ternyata Papa Andi sangat mengerikan walau wajahnya imut dan menggemaskan.”
Para pengawal pun hanya mengedikkan bahunya. Mereka juga takut sekali Jika Andi sudah berubah menjadi monster. Bahkan seluruh pengawal menjadi seperti ayam sayur. Kalau mereka disuruh memilih, mereka lebih memilih Bayu ataupun lainnya.
“Tuan, benarkah Tuan sangat takut kepada Tuan Andi?” tanya salah satu pengawal.
“Jangan tanya. Ketimbang menghadapi tuan Andi, Lebih baik aku menghadapi musuh. Apakah kamu mengerti?” tanya Imam yang membuat mereka mengangguk.
“Mengerti tuan,” jawab mereka serempak.
__ADS_1
Imam segera melangkahkan kakinya lalu meninggalkan mereka. Iya segera beres-beres baju agar bisa pulang ke tanah air. Dalam hatinya, Imam sangat merindukan calon istrinya dan anaknya itu. Namun Imam tidak tahu kalau sang calon sedang berbadan dua. Bagaimana jika Imam tahu kalau dirinya akan memiliki anak lagi?