Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 256


__ADS_3

"Maaf, aku harus mengakuisisi perusahaan kamu. Karena itu adalah perintah dari bosku sekaligus suami sahku," jawab Lee dingin.


Entah kenapa seluruh orang yang melingkariku merasakan hawa lebih dingin dari biasanya. Mereka hanya terdiam dan membiarkan rasa dingin itu menusuk tulang. Begitu juga dengan Sam, Greg dan Erra, mereka hanya bisa diam dan membiarkan Lee yang mengambil alih semuanya.


"Apa!" pekik Igin yang tidak terima perusahaannya berpindah tangan.


"Iya... Dan besok aku akan mengambil alih semuanya," jawab Lee. "Sekarang pulanglah. Sebelum suamiku mengamuk menghancurkan wajah kamu."


Igin langsung pergi dengan raut wajah ketakutan. Ya ketakukan karena sudah kehilangan segalanya. Igin tidak pernah menyangka kalau dirinya memilih lawan yang salah. Memang salah sih, kenapa Igin berurusan dengan Erra? Dikira itu Erra orangnya tidak peduli dengan namanya cewek. Itu salah besar kalau Erra tidak peduli dengan perempuan. Bisa dikatakan sekarang Erra menjadi bucin akut.


"Salah pilih lawan," rutuk Lee.


Lee melambaikan tangannya untuk membubarkan semua Pengawal yang berada di sana. Lalu kami segera duduk sambil menyelesaikan makanan sisa makanannya. Lee tidak pernah menyangka kalau si Erra sang pemilik wajah datar bisa cemburu buta. Bahkan kecemburuan bisa membuat seseorang menjadi bangkrut.


Ya... Bangkrut. Sedari dulu memang Erra sudah mengetahui kalau Igin sangat menyukai Lee. Bahkan Igin menjadikan Lee sebagai fantasi ketika berada di ranjang.


"Mie ayam ini sangat enak sekali," celetuk Lee.


"I don't care," jawab Erra.


"Kamu kenapa?" tanya Lee yang bingung. "Bukannya mie ayam adalah makanan favorit kamu?"


"Kamu enggak tahu kalau aku cemburu sama Igin?" tanya Erra yang kesal.


"Benarkah kamu cemburu?" tanya Lee dengan mata berbinar.


"Ya... Aku cemburu sama playboy tua sialan," kesal Erra.


"Sejak kapan kamu bisa cemburu? Perasaan jika aku dekat dengan Kak Nanda, Paman Sam, Kak Greg atau Kak Garda kakak enggak cemburu?" tanya Lee.


"Itu beda. Mereka memiliki kontribusi dalam enam pilar utama. Mereka adalah teman-temanku dan teman-temanmu. Bukankah kita saling mengenal?" tanya Erra yang masih menahan emosi.


Lee menganggukan kepalanya dan menyetujui perkataan. Memang Lee sadari kalau mereka adalah teman, partner bisnis sekaligus saudara. Erra tidak akan pernah marah jika Lee bersama Jake, Nanda, Sam atau Imam.


"Ya... Aku aku tahu itu," jawab Lee.

__ADS_1


"Apakah kamu menyukai Igin?" tanya Erra.


"Tidak, aku tidak menyukai Igin. Kamu tahu dia adalah playboy kelas kakap. Yang sering mengobral cintanya ke setiap wanita dan membuainya hingga ke angkasa. Lalu Igin menjatuhkannya kembali. Bahkan Igin sudah memiliki anak empat dari wanita berbeda. Kamu gila saja jika aku menyukai Igin sialan itu!" kesal Lee.


"Kamu tahukan aku membelamu tadi. Masa kamu enggak tahu?" tambah Lee.


"Ya... Aku kira kamu mau," celetuk Erra.


"Jika di dunia ini semua pria sama Igin, begitu juga dengan kakak yang memiliki sifat playboy. Aku tidak akan menikah. Aku ingin hidup sendiri," ucap Lee dengan mode kesal. "Makanlah!"


"Kamu aja yang makan. Aku sudah kenyang," ucap Erra dengan dingin.


"Ya sudah. Malam ini kamu tidak tidur bersamaku! Tidurlah di luar bersama para pengawal," ancam Lee yang tidak main-main.


Glek.


Erra langsung terdiam dengan mata berkaca-kaca. Erra tidak bisa membayangkan kalau dirinya tidur di luar. Erra memandang wajah Lee yang masih mode kesal sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan... Aku tidak ingin tidur di luar. Kamu tahukan kalau aku tidur sering memeluk kamu," ucap Erra dengan wajah putus asa.


Bukannya Lee tidak mau melayani Erra meminta makan tengah malam. Sepanjang hari Lee sangat lelah ketika pekerjaan kantor yang menumpuk. Belum lagi dengan dunia bawah tanahnya yang menyita perhatiannya. Mumpung masih ada di restoran Erra harus makan kenyang. Lalu Erra menuruti permintaan Lee.


Selesai makan Lee berdiri lalu menuju ke meja kasir. Lee melihat ada Sam dan Greg sedang duduk di meja kasir. Ketika ingin membayar sang pengawal White Eragon menyuruh Lee pergi.


"Nona," panggil pengawal itu.


"Aku mau bayar," sahut Lee.


"Kata uncle Sam tidak usah bayar. Buat nona dan tuan Erra gratis,'' ucap Pengawal itu.


"Aku mau bayar!" kesal Lee.


"Kasir tutup!" celetuk Gerre.


"Apa?" pekik Lee.

__ADS_1


"Pulanglah. Kami sedang mengikuti perhelatan besar yang diadakan oleh Confidence Interval di dunia," jawab Sam.


"Baiklah. Kalau begitu aku mau pulang," balas Lee.


Sebenarnya sih hari ini tidak ada perhelatan game. Namun Sam dan Greg sengaja bermain game dengan serius agar Lee tidak membayarnya. Lee kembali lagi ke Erra dan menyuruhnya pulang. Sepanjang perjalanan mereka terdiam dan tidak berkata apa-apa. Suasana di dalam mobil sangat sepi bagaikan di kuburan.


Erra bosan bila Lee mendiamkannya begitu saja. Erra mengerem mendadak dan melihat sang istri masih terdiam. Dengan cepat Erra menarik tubuh mungil Lee sambil berkata, "Jangan diamkan aku seperti ini."


Lee mengendus aroma tubuh Erra yang maskulin. Ia memejamkan matanya sambil berkata, "Aku tidak mendiamkan kamu. Sebenarnya otakku sedang memikirkan sesuatu."


"Sesuatu apa?" tanya Erra.


"Sebelum kamu mengajakku kesini. Aku mendapatkan informasi dari Kak Garda. Kalau Adam membuat perhelatan besar pasar gelapnya semakin menarik. Mereka bekerjasama dengan seluruh anggota mafia di dunia agar bisa mengamankan transaksi-transaksi haram yang dilakukan mereka. Adam sudah menempatkan mereka supaya kita tidak bisa masuk," jawab Lee.


"Lalu?" tanya Erra.


"Aku akan berkoordinasi dengan para papa dan enam pilar utama. Aku ingin menghancurkan mereka sampai tamat," jawab Lee.


"Jangan lupakan kalau Adam memakai teknologi canggih untuk mendeteksi keberadaan mereka," bisik Erra.


"Ah... Iya," balas Lee. "Aku hampir lupa. Kalau begitu aku akan membobol sistem keamanan."


"Ya... Kita harus bekerja keras untuk menghancurkan mereka," jawab Erra. ",Kita pulang besok ke Los Angeles terlebih dahulu."


Di markas Irwan, Joko dan March sedang berdiskusi. Tak lama Garda dan Imam masuk ke dalam. Mereka menghempaskan bokongnya di sofa sambil menatap para papa dengan bersantai menikmati wine.


"Ada kabar buruk," ucap Garda yang menaruh tabnya.


"Ada apa?" tanya March.


"Aku ingin meminta bantuan pada papa March," jawab Garda.


"Ada apa?" tanya March.


"Aku sedang menunggu Lee, Jake, Greg dan Papa Andi. Aku akan melibatkan mereka untuk berdiskusi," jawab Garda.

__ADS_1


"Apakah ini berhubungan dengan sistem keamanan?" tanya Irwan.


__ADS_2