Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 412


__ADS_3

"Ya seperti kita tahu sendiri kan hidup di masyarakat. Mereka tidak tahu bagaimana kisah Raka yang sudah mulai gede itu. Ada beberapa kolega yang tidak suka dengan keberhasilanku. Aku nggak mau mereka menjadikan Raka sebagai senjata untuk menyerang Pradipta," jawab Imam.


"Oh soal itu. Biarkanlah saja mereka berkata apa adanya. Mereka tidak tahu kenapa Raka sudah hadir di saat terjadi resepsi pernikahanmu sama Suci? Aku yang akan turun tangan melindungi Raka dari para kolegamu yang ingin menyerang Pradipta. Semua serahkan kepadaku," ucap Lee yang tidak main-main dengan perkataannya.


"Apakah kamu serius membantuku?" tanya Imam yang menatap wajah sang adik kecilnya itu. 


"Tenanglah. Jika istriku sudah mengeluarkan kata-kata seperti itu. Maka istriku akan membantumu dengan tulus. Apalagi Raka sudah menjadi anak angkatnya. Aku harap kamu mau menerimanya," ucap Erra yang mendapat anggukan dari Lee. 


"Terima kasih banyak. Aku tidak menyangka kalau kalian ingin membantuku," balas Imam.


"Aku tidak akan bekerja sekarang. jika sampai di Jakarta aku akan mencari siapa-siapa saja yang membenci Pradipta. Lalu aku akan mencari skandal mereka-mereka dan membuatnya kapok berurusan dengan enam pilar utama," ujar Lee. 


"Apakah kamu melakukan cara klasik?" tanya Erra yang menatap wajah sang istri. 


"Dengan terpaksa aku melakukannya. Tapi sebelumnya aku akan memperingatkannya terlebih dahulu. Jika tidak mempan maka dunia maya akan bergetar melihat skandal milik mereka," jawab Lee dengan memakai cara yang licik.


"Rasanya ide kamu sangat bagus sekali," puji Imam yang tersenyum manis.


"Tentu saja. Aku memang sengaja melakukannya. Pokoknya Kak Imam memilih untuk fokus ke dalam acara pernikahannya itu," pinta Lee. 


"Baiklah kalau begitu," balas Imam.


Setelah itu para Papa masuk ke dalam rumah. Mereka menatap Imam sambil mengerutkan keningnya. Sebelum terjadi pembicaraan yang lebih. Andi memutuskan untuk masuk ke dapur dan menaruh menu sarapan pagi ini. Lalu Andi kembali dan melakukan pembicaraan yang cukup serius. 


Saat berbicara, Saga datang bersama Sam dan Haruka. Keluarga Tristan akhirnya memutuskan untuk duduk bersama-sama. Di sinilah terjadi pembicaraan yang sangat penting sekali.


Helsinki Finlandia.


Seorang pria paruh baya yang bernama Fendi sedang dikejutkan oleh pesan. Lalu Fendi membaca pesan itu berulang kali sambil tersenyum manis.


Tak lama ada pengawal yang masuk ke dalam ruangannya itu. Pengawal itu membungkukkan badannya sambil memberi hormat.

__ADS_1


"Selamat pagi Tuan Fendi," sapa pengawal itu.


Sontak saja Fendi terkejut melihat pengawalnya itu. Lalu Fendi merubah posisi duduknya menjadi tegak dan berwibawa. Kemudian Fendi kembali menyapa sang pengawal itu dengan tegas, "Pagi! Ada apa?"


"Maaf tuan. Di ruangan tamu ada Tuan Adam dan Nona Yoona," jawab pengawal itu sambil menunduk ketakutan.


Mendengar nama kedua orang itu, Fendi sangat terkejut sekali. Ia mengerutkan keningnya sambil menatap sang pengawal itu, "Maksud kamu Adam Malik?" 


"Ya itu benar," jawab pengawal itu. 


"Apakah Adam sedang membawa pengawalnya rame-rame?" tanya Fendi sekali lagi yang mulai gusar. 


"Tidak tuan. Mereka hanya berdua saja. Mereka sangat ingin bertemu dengan Anda tuan," jawab pengawal itu.


"Kalau begitu Pergilah dari sini," usir Fendi kepada pengawalnya itu.


Fendi yang baru saja mendengar informasi dari pengawalnya itu sangat gusar. Pria paruh baya itu pun kedatangan seorang musuh bebuyutan dari White Eragon. Mau tidak mau Fendi harus menemuinya. Sebelum bertemu ia menyeting ponselnya agar bisa menghubungi para pengawalnya itu. Jika terjadi penyerangan besar-besaran di dalam kediamannya itu.


Kemudian Fendi mengambil jaket dan memakainya. Ia terpaksa menemui mereka dan menanyakan apa tujuannya ke sini. Dengan elegannya Fendi berjalan menuju ke ruang tamu tersebut. 


Mereka berdua langsung berdiri dan menatap Fendi. Kemudian Adam merentangkan kedua tangannya sambil memeluk Fendi. Di saat memeluk Fendi, Adam mulai berbisik, "Tenanglah… Aku tidak akan menyerangmu mulai hari ini dan selamanya. Aku memutuskan untuk perbaikan dengan masa lalu. Aku harap kamu bisa mengajakku kerjasama dalam bidang entertainment." 


Fendi langsung terdiam dan tidak dapat bicara apa-apa. Lalu Fendi sadar dan melepaskan Adam sambil menatapnya, "Ada apa ini? Kok tiba-tiba saja kamu berubah menjadi baik seperti ini."


"Ceritanya panjang. Aku sama anggota enam pilar utama sudah berbaikan. Aku harap kamu dan aku juga melakukan hal yang sama," jawab Adam yang disambut senyuman oleh Fendi. 


"Kalau begitu duduklah," sambut Fendi sambil mempersilakan Adam dan Yoona duduk. 


Mereka akhirnya duduk kembali di sofa panjang. Lalu Fendi meminta pelayannya untuk membuatkan minuman buat Adam. Pelayan itu pun menganggukkan kepalanya sambil undur diri menuju ke dapur. 


"Syukurlah kalau begitu. Aku tidak ingin kalian memiliki bola panas di dalam hati. Aku berharap semuanya bisa diajak kerjasama dengan baik," ucap Fendi. 

__ADS_1


"Ya itu benar. Kalau nggak gara-gara Igin, Marvel dan Eric, kemungkinan besar aku masih bermusuhan dengan kalian. Jujur yang menjadi benang merahnya adalah kakekku sendiri. Aku sama kakakku ternyata dijadikan sebagai alat balas dendam dan menghabisi kalian semuanya," jelas Adam. 


"Iya aku tahu itu. Aku masih berteman dengan mereka. Mereka bercerita asal muasal terjadinya permusuhan itu. Tapi untuk memadamkan api permusuhan itu sangat sulit sekali," tambah Fendi. 


"Semuanya ini adalah kesalahan dari kakekku sendiri. Andaikan kakekku tidak mencuci otak kami. Kami tidak akan melakukan balas dendam secara gila-gilaan seperti ini. Aku memang bodoh dan tergiur oleh kakekku sendiri," ucap Adam yang menyesali perbuatannya.


"Jangan menyesali perbuatan kamu. Kamu harus memperbaiki sifat burukmu itu. Aku sebagai Fendi nggak mau ikut campur soal balas dendammu itu kepada Bayu. Soalnya aku memiliki prinsip yang kuat. Jika ada yang mengusik enam pilar utama dan tanpa ada pertumbuhan darah. Maka aku tidak akan maju sama sekali. Jika kamu melakukan pertumpahan darah antara enam pilar utama. Akulah orang pertama yang akan membunuhmu," tegas Fendi.


"Kamu benar. Tapi aku beruntung tidak melakukan pertumpahan darah," ungkap Adam.


"Ya… meskipun bawaanku tenang. Tapi kamu harus mengerti akan aku. Aku tidak ingin ada perpecahan antara enam pilar utama. Jika kamu ingin bergabung silakan saja. Aku juga akan bergabung dengan mereka dalam bidang entertainment," imbuh Fendi sambil menatap Yoona. "Bagaimana kabarmu?" 


"Aku baik-baik saja. Aku bersyukur bisa berkenalan denganmu. Aku harap tidak akan ada lagi suatu permusuhan," jawab Yoona. 


"Tidak akan ada lagi. Ngomong-ngomong Aku ingin mengajakmu kerjasama dalam bidang modeling. Jika kamu berminat kamu bisa menghubungiku. Karena aku ingin membangun sekolah modeling yang bekerja sama dengan Caroline," pinta Fendi yang melihat Yoona memiliki bakat modeling. 


"Aku akan tanyakan kepada Adam terlebih dahulu," ucap Yoona. 


"Kenapa kamu bertanya kepada Adam?" tanya Fendi sambil mengerutkan keningnya.


"Dia adalah calon istriku. Kami akan menikah dua bulan lagi," jawab Adam dengan cepat yang membuat Fendi terkejut sekaligus senang. 


"Rasanya akan ada pernikahan lagi," puji Fendi. 


"Aku harap kamu datang bersama enam pilar utama lainnya," pinta Adam. 


"Dengan senang hati aku akan datang bersama mereka," sahut Fendi. 


Beberapa saat kemudian datang pelayan dengan membawakan minuman hangat. Pelayan itu menaruh minuman hangat di depan mereka. Kemudian Adam tidak sengaja melihat wajah pelayan itu. Lalu Adam mengerutkan keningnya sambil memberikan pertanyaan kepada Fendi.


"Silakan diminum tuan dan nyonya. Kalau tidak enak kalian bisa protes kepada saya," ucap pelayan itu dengan lemah lembut. 

__ADS_1


"Dengan senang hati," sahut Adam sambil tersenyum merekah. 


"Kalau begitu saya undur diri dulu dari sini," pamit pelayan itu.


__ADS_2