
"Aku akan tetap mencarinya sampai ketemu. Aku sangat penasaran sekali dengan papaku itu. Aku berharap Papa masih hidup dan mengakuiku sebagai seorang anak," jawab Greg.
"Kemungkinan besar papamu tidak berada tinggal di New York city. Aku hanya menebaknya saja. Apakah aku harus menghubungi Erra atau Papa Bayu demi meminjam pasukan khusus untuk mencari keberadaan papamu itu?" tanya Jake.
"Aku nggak tahu bisa apa nggak. Kita harus berkoordinasi dulu sama papa Bayu. Apakah Black Dragon di sini memiliki kekuatan yang besar?" tanya Greg balik.
"Iya. Black Dragon adalah sebuah kelompok yang di mana memiliki kekuasaan yang cukup besar di Amerika. Jika kamu ingin meminjam mereka. Kamu harus meminta pada Erra ataupun Garda. Aku hanya memiliki jabatan seorang hacker untuk Black Dragon. Jadi aku tidak bisa memberikan perintah sekaligus," jelas Jake.
"Kalau begitu aku akan menghubungi era saja. Aku harap era mau meminjamkan seluruh pengawal Black Dragon untuk mencari keberadaan papa," ucap Greg yang mengambil keputusan dengan cepat.
Jake mengganggukan kepalanya sambil mengacungkan jempolnya. Pria berambut pirang itu ingin masalah ini cepat selesai. Ia sangat rindu sekali kepada kekasihnya itu. Mau tidak mau Jake harus memending pertemuannya dengan Feli.
Dengan cepat Greg menghubungi Erra lalu menceritakan permasalahan utamanya itu. Setelah menceritakan asal muasalnya, Greg merasa lega. Saat itu juga Erra langsung mengambil keputusan. Kalau Erra mau membantunya. Dengan cepat Erra meminta Jake untuk mengerahkan seluruh pengawalnya itu. Erra berharap Greg bisa menemukan sang papa.
Beberapa saat kemudian Jake langsung menghubungi kepala pengawal. Dengan kuasanya dia akan meminta kepada pengawalnya itu untuk menyebarkan pengawalnya ke seluruh penjuru New York city. Diam-diam Jake berdoa agar masalah ini cepat selesai.
Di rumah kecil di pinggiran kota New York. Seorang pria paruh baya bersama wanita seusianya sedang menikmati kopi panas. Pria itu menatap wajah wanitanya sambil berkata, "Terima kasih sudah menungguku. Aku harap kamu tidak akan marah. Maafkan aku yang telah membuangmu dan Putraku sendiri."
"Yang berlalu biarlah berlalu. Aku berharap bisa menemukan Putraku itu. Setelah melahirkan aku memberikan bayi itu ke tetanggaku agar bisa dirawat. Sampai saat ini aku belum memberikan sebuah nama," jawab wanita itu.
"Apakah Putra aku masih berada di Indonesia?" Tanya pria itu.
"Sepertinya masih berada di Indonesia. Aku merasakan putra kita sedang mencarimu," jawab wanita itu.
"Oh Leony... Jika saat itu aku tidak bermacam-macam. Kemungkinan besar aku bisa hidup bersamamu dan memiliki banyak anak. Aku juga bersalah kepada kembaranku March. Aku ingin menemuinya. Tapi aku belum bisa. Karena aku sangat bersalah sekali kepada March," ucap pria itu.
"Tidak apa-apa. Kamu bisa menemuinya. Aku tahu March adalah orang yang sangat baik sekali. Rasanya aku ingin pulang ke negaraku dan membangun sebuah rumah untuk aku tinggali," ujar Leony nama wanita itu.
"Kalau kamu tinggal di Indonesia, Bagaimana dengan aku? Aku akan menjadi pria kesepian di sini. Sementara aku tidak memiliki apa-apa lagi," sahut pria itu.
Leony yang melihat keadaan suaminya itu sangat bersedih sekali. Ia memutuskan berdiri dan mendekatinya. Lalu Leony memeluknya dengan erat sambil berkata, "Kamu nggak perlu berputus aja seperti itu Sheva. Biarkanlah hidup kamu seperti air mengalir. Ada kalanya manusia itu bisa berada di titik terendah. Tidak mungkin manusia berada di titik teratas secara terus-menerus. Aku harap kamu paham atas perkataanku ini."
Ya nama pria itu adalah Sheva. Pria itu sedang dicari oleh Greg. Seluruh pengawal Black Dragon sudah mencarinya kemana-mana. Hingga akhirnya beberapa dari mereka yang memakai baju serba hitam mendatangi rumah itu.
Kepala pengawal yang bernama Johan melihat rumah kecil milik Sheva. Untung saja Johan sangat cerdik sekali Jika mencari orang. Bahkan dirinya sering sekali disebut detektif dadakan. Johan berharap ada Sheva di dalamnya.
Johan yang memiliki tubuh kekar itu akhirnya melangkahkan kakinya. Matanya mulai mencari Seva di taman sederhana itu. Namun dirinya tidak menemukannya. Dengan terpaksa Johan mengetuk rumah itu dengan sangat kencang. Bisa dikatakan Johan memiliki keunikan tersendiri ketika mengetuk pintu rumah.
__ADS_1
Sedangkan penghuni di rumah itu sangat terkejut sekali. Sepasang suami istri pun saling memandang dan mengedikkan bahunya secara bersamaan. Kemudian Sheva berdiri untuk membuka pintu. Matanya membulat sempurna saat melihat Johan.
"Kamu siapa?" tanya Seva dengan cepat.
"Perkenalkan namaku Johan. Aku diutus oleh seseorang untuk mencarimu," jawab Johan dengan jujur.
"Kamu kasih anggota mafia ya?" tanya Seva.
"Memang saya adalah anggota mafia. Saya diutus oleh seseorang untuk mencari anda," jawab Johan.
Dengan berat hati Seva menyuruh Johan masuk ke dalam. Ia tidak mungkin membicarakan hal penting ini di luar. Lalu Seva meminta Leony membuatkan minuman untuk menyambut kedatangan Johan.
"Apa nama geng mafiamu itu?" tanya Seva sambil mengerutkan keningnya.
"Aku berasal dari Black Dragon," jawab Johan dengan jujur.
Mendengar nama Black Dragon, Seva sangat terkejut sekali. Entah kenapa hatinya menjadi sedih. Ia tidak memiliki dendam sama sekali dengan kelompok Black Dragon. Ia takut untuk berhubungan dengan ketua mafia itu.
"Aku tahu bosmu itu. Bilang saja aku akan menemuinya," ucap Sheva.
"Siapa itu Jake? Apakah ada hubungannya Jake dengan Black Dragon?" tanya Seva.
"Semuanya ada hubungannya dengan Black Dragon. Saya akan menghubungi Tuan Jake untuk meluncur ke sini. Izinkanlah kami beristirahat di sini sebentar saja sambil menunggu kedatangan Tuan kami. Kami berjanji tidak akan membuat onar," jawab Johan yang meminta izin untuk menunggu kedatangan Jake.
"Baiklah kalau begitu. Suruh ke sini itu orang. Jika tidak ke sini maka kamu yang akan aku usir dari rumahku ini," kata Sheva.
Johan pun menganggukkan kepalanya. Lalu Johan keluar dari rumah itu dan menghubungi Jake. Setelah menghubungi Jake, Johan menyuruh pengawalnya berkumpul. Mereka menikmati suasana yang asri di rumah ini. Sesekali mereka bercanda dan membuat suasana menjadi hidup.
Tidak sengaja Seva melihat mereka yang sedang bercanda. Untung saja mereka bisa membuat candaan yang aneh. Mendengar mereka bercanda, Seva menatap wajah Leony. Untung saja sifat tidak mengatakan kalau mereka adalah anggota mafia.
"Ramai sekali ya?" ucap Leony yang membayangkan teman-teman putranya itu sedang berkumpul di depan rumah.
"Ya kamu benar. Andaikan putra kita masih hidup kemungkinan besar. Putra kita mengajak teman-temannya untuk berkumpul," jawab Seva.
"Maafkan Aku. Maafkan aku sekali lagi. Aku harus memberikan anak itu kepada tetanggaku. Setelah lima belas tahun aku mencari tetanggaku itu ternyata sudah pindah ke kampung. Dengan terpaksa aku mengurungkan niatku tidak mencarinya lagi," kata Leony dengan lirik hingga membuat hati Seva menangis.
"Sudahlah. Jangan diingat masa lalu," sahut Seva.
__ADS_1
Selang satu jam, sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah itu. Seluruh pengawal itu menghentikan candaannya dan segera berbaris. Namun pemilik mobil itu memberikan kode agar tidak menyambutnya.
Kemudian sang pemilik mobil itu keluar dan menatap rumah Seva. Sang pemilik mobil itu yang bernama Jake tersenyum sumringah. Ia memuji rumah itu yang sangat bersih dan asri. Tiba-tiba saja dirinya rindu akan Mansion Anderson itu. Jujur dirinya ingin cepat-cepat pulang ke Indonesia.
"Tuan Jake," sapa Johan.
"Di mana Seva berada?" tanya Jake dengan tegas.
"Tuan Seva berada di dalam rumah bersama istrinya," jawab Johan yang membuat Jake terkejut.
"Kamu serius? Kapan Sheva menikah? Padahal yang aku dengar dirinya tidak memiliki istri," tanya Jake sambil menatap tegas Johan.
"Maaf saya tidak tahu tuan. Lebih baik tanyakan saja pada yang bersangkutan," jawab Johan secara blak-blakan.
"Kamu benar. Semoga saja wanita itu baik untuk Sheva," ucap Jake dengan tulus.
"Bukankah tuan Seva itu adalah paman anda sendiri?" tanya Johan sambil mengingatkan Jake.
"Aish... Kamu itu. Selalu saja aku memanggil namanya. Seharusnya aku memanggil dia adalah paman. Ya sudah kalau begitu. Kamu suruh Greg keluar. Ngapain juga dia di situ?" kesal Jake sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan melihat Seva sedang duduk santai.
Tak sengaja Seva menatap wajah Jake dan memanggilnya, "March... Kaukah itu?"
Jake mengerutkan keningnya sambil menatap wajah Seva. Apa yang dikatakan oleh papanya? Sheva dan March tidak mirip sama sekali. Meskipun saudara kembar namun tidak ada kemiripan sama sekali.
"Aku bukan March. Aku adalah putranya March. Perkenalkan nama saya adalah Jake. Kamu pasti Seva Kakak dari adik papaku sendiri," sambut Jake sambil tersenyum manis.
Tiba-tiba saja Seva berdiri lalu memeluk Jake. Sungguh Seva sangat merindukan adiknya itu. Reva sangat bersyukur sekali karena bisa menemukan keponakannya itu.
"Di mana papamu itu?" tanya Seva.
"Papaku berada di Jakarta bersama istrinya," jawab Jake.
"Kenapa kamu tidak mengajaknya ke sini?" tanya Seva lagi.
"Ada yang ingin bertemu dengan paman. Aku harap Paman bisa menerimanya lagi sebagai seseorang yang penting di hati," jawab Jake sambil memberikan teka-teki.
"Maksudmu apa? Siapa yang ingin bertemu denganku?" tanya Seva.
__ADS_1