
Selesainya menghubungi Garda, Lee sangat lega. Ia mendengar apa yang didengarnya itu. Jujur setelah sang papa menghubunginya, Lee juga takut terhadap keadaannya sang kakak.
"Bagaimana keadaan Garda?" tanya Erra yang melingkarkan tangannya ke perut Lee.
"Kak Garda baik-baik saja. Untungnya pesawat yang ditumpanginya mendarat sebelum badai mendarat. Ditambah lagi ada Kak Sam," jawab Lee.
"Syukurlah semuanya selamat. Aku pernah merasakan terkena badai pas mendarat di Amerika. Tepatnya aku habis pulang sebentar," ucap Erra.
"Lalu bagaimana kak?" tanya Lee.
"Rasanya ya deg-degan. Sang pilot juga enggak tahu kalau ada badai datang secara mendadak. Ya... jadinya aku bersama pramugari sangat ketakutan sekali," jawab Erra.
"Aku tidak biasa membayangkan bagaiman terkena badai seperti itu," ucap Lee.
"Enggak usah dibayangi sayangku. Semuanya ngeri banget. Lagian juga aku tidak dapat pemberitahuan dari pengawalku akan ada badai yang datang," sahut Erra.
"Memangnya para pengawal kakak suka memantau keadaan badai?' tanya Lee yang mengerti kan keningnya.
"Ya... aku memang menyuruhnya. Jika ada badai datang kemungkinan besar pesawat mendarat ke Kanada terlebih dahulu. Atau juga ke Eropa guna untuk menghindari badai. Jika badannya melanda Amerika secara serempak," jawab Erra yang menaruh dagunya di pundak Lee.
"Benar juga. Meskipun seprofesionalnya sang pilot. Pilot tidak akan mau mendaratkan pesawatnya saat badai," jelas Lee.
Erra menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh sang istri. Erra sangat mengagumi Lee karena kecerdasannya.
"Kamu semakin cantik saja. Aku benar-benar takluk sama kamu," jelas Erra.
"Begitu ya. Padahal aku pernah dijuluki singa betina," ucap Lee yang merasakan dirinya bahagia.
"Singa betina... aku juga menyebutnya begitu," ujar Erra secara terang-terangan .
"Ish... kakak memang begitu. Kakak ini aneh sekali," sahut Lee yang mulutnya maju sepuluh sentimeter.
"Kamu itu ada-ada saja," Erra langsung mencium pipi Lee tanpa dosa.
"Perasaan aku sedari pagi kakak sudah menciumku berkali-kali," sahut Lee yang membuat Erra tersenyum,.
"Memangnya tidak boleh? Aku ingin menciumu setiap hari," kata Erra.
"Hmmp... sepertinya kakak sedang jatuh cinta?" tanya Lee.
__ADS_1
"Kakak tiap hari jatuh cinta sama kamu," jawab Erra.
"Biasanya kal;aku ria yang romantis pasti ada maunya," ujar Lee yang membuat Erra tersenyum manis.
"Memangnya aku akan berselingkuh?" tanya Erra yang bingung dengan pertanyaan Lee.
"Enggak sih. Tapi menurut penelitian, jika sang suami ada maunya pasti dirinya akan berselingkuh dengan wanita lain," jawab Lee.
"Kamu dapat darimana tentang pernyataan seperti itu?' tanya Erra yang mengerutkan keningnya.
"Aku pernah membaca dan membuktikan reset tersebut ke sejumlah karyawan ASCO. Mereka mengakui kalau sang suami sudah bertingkah aneh. Bahkan permintaannya dipenuhi. Jika semuanya dipenuhi, sang istri akan mengikuti keinginan sang suami untuk selingkuh," jawab Lee yang membuat hati Erra meringis.
"Aku bukan pria seperti itu. Aku adalah pria yang dimana mengandalkan kesetiaan untuk bersama kamu," jelas Erra.
"I know," sahut Lee.
"Jika ada perempuan yang ingin menyentuhku. Kamulah orang yang pertama kalinya menjadi perisai utama melindungi aku dari mereka yang ingin menghancurkan rumah tangga ini," ucap Erra yang mengelus perut Lee.
"Aku berhak untuk menegur para pelakor di dunia yang ingin menghancurkan rumah tanggaku," jelas Lee yang membenarkan ucapan Erra. "Karena aku adalah istrimu yang paling sah di negara dan agama."
"Ah... itu benar... kamu memang istriku yang terbaik," puji Erra.
Erra menganggukan kepalanya dan membiarkan sang istri untuk menghubungi Caroline. Ia juga berharap badai akan segera berlalu.
Lee mengambil ponselnya dan mencari panggilan terakhir. Ia berharap sang mama baik-baik saja. Ia tidak ingin sang mama sakit mendengar apa yang diberitakan oleh Maura.
Sementara di Jakarta, Caroline berharap agar Garda baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan keadaan Lee? Apakah Caroline mengkhawatirkan? Tentu. Sebab Lee adalah anak yang baik dan selalu laporan sebelum ada peristiwa apapun.
Beberapa detik kemudian ponsel Caroline berbunyi. Caroline akhirnya melirik ponsel tersebut dan melihat namanya. Dengan cepat ia mengangkat ponselnya dan menyapa Lee yang masih berada di seberang sana.
"Halo," sapa Caroline dengan nada bergetar.
"Ma," panggil Lee yang merasakan sang mama bersedih.
"Bagaimana keadaan Garda kakakmu?" tanya Caroline yang masih mengharapkan berita baik dari Lee.
"Syukurlah... Kak Garda baik-baik saja. Kak Garda tidak kenapa-kenapa. Kata Kak Garda setengah jam selesai mendarat. badai langsung menghantam Brussels. Dengan kata lain sekarang Kak Garda berada di bandara," jelas Lee yang membuat Caroline lega.
"Syukurlah. Mama tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi," ucap Caroline.
__ADS_1
"Mama tenang saja. Kak Garda sekarang ada di dalam bandara. Kemungkinan Kak Garda hangat di dalam sana," tambah Lee yang memberikan informasi dengan valid.
Akhirnya Caroline bisa bernafas lega. Semua masalah semuanya menjadi clear. Caroline berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan putra-putrinya itu.
"Kapan kamu akan pulang?" tanya Caroline yang sangat merindukan Lee.
"Nanti ma. Kami akan pulang setelah membeli coklat," jawab Lee.
"Kamu ini ada-ada saja. Ngidam coklat sampai ke Belgia segala," celetuk Caroline.
"Mau bagaimana lagi? Tuh anak-anaknya kakak tampan mintanya coklat. Padahal aku sendiri tidak begitu menyukai coklat sama sekali," ucap Lee yang melihat Erra yang tersenyum manis.
"Ya sudah... jika kamu baik-baik saja Mama menjadi tenang," ucap Caroline dengan penuh syukur.
"Ya... sudah dech ma... aku ingin tidur. Aku sudah mengantuk sama sekali," sahut Lee yang membuat Caroline menyetujuinya.
"Apakah badainya sangat kencang sekali?" tanya Caroline.
"Kencang sekali. Kak Nanda harus menanyakan beberapa penghangat di rumah tamu tadi," jawab Lee yang sedari tadi agak kedinginan.
"Kamu enggak boleh keluar sebelum badai selesai. Mama enggak mau kamu terkena hipotermia," pinta Caroline dengan tegas.
"Iya ma," sahut Lee.
"Ya sudah kamu tidur saja. Disini masih belum pagi," ujar Caroline sambil memutuskan sambungan telepon.
Caroline bernafas lega setelah mendengar Garda baik-baik saja. Tiba-tiba saja ia mendapatkan pesan dari sang putra lalu dirinya baik-baik saja. Ia juga menceritakan keadaan semuanya. Caroline akhirnya tersenyum kembali.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Andi yang selesai dari toilet melihat sang istri tersenyum segera mendekatinya. Ia menghempaskan bokongnya dan duduk di samping Caroline sambil bertanya, "Bagaimana kabar Garda dan Arini?"
"Mereka baik-baik saja. Sebelum badai datang, mereka turun dan masuk ke bandara. Untung saja saat makan malam bersama Sam badai langsung menghantam dengan hebat," jelas Caroline.
"Syukurlah. Lalu kabarnya Maura?" tanya Andi.
"Aku belum mengirimkan pesan satupun. Aku harap Maura tidak memberikan informasi seperti ini," jawab Caroline.
__ADS_1
"Aku kok merasakan ada yang aneh dengan Maura ya?" tanya Andi yang sang istri terkejut.