Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 82


__ADS_3

Lee kaget mendengar kabar bahwa Naomi hamil. Ia bingung lalu melihat Andi.


“Apakah itu benar Papa?” tanya Lee.


“Iya.. sebentar lagi Jake akan mempunyai adik kembar,” jawab Andi.


Caroline yang melihat Lee kaget hanya tersenyum manis. “Kira-kira singa betina ngidam apa ya?”


“Minta bubur yang buatin Kakak Tampan,” sahut Lee.


Andi tersenyum manis melihat Lee lalu duduk di samping Lee.


“Rasanya aku de Javu,” ucap Andi yang tersenyum manis.


“Memangnya ada apa dengan Papa?” tanya Lee.


“Saat Mama sedang hamil kamu. Papamu yang menderita karena ulah Mama,” jelas Caroline.


Sementara di semak-semak Alicia melihat Lee bersama Andi dan juga Caroline dengan tatapan membunuh. Ia segera mengambil pistolnya lalu mengisinya peluru yang bercampur kan racun yang mematikan.


Kemudian ia tidak lupa memasang alat peredam suara dan menunggu Lee berdiri.


Mereka tidak tahu ada bahaya yang mengancam jiwa Lee. Tiba-tiba saja Nanda keluar dengan membawa pistol yang baru di belinya untuk diuji. Lee teringat keinginannya untuk memakan kue pukis buatan Nanda segera menghampirinya.


“Kak Nanda buatin aku kue pukis ya,” ucap Lee dengan wajah puppy eyesnya.


Nanda yang notabenenya tidak pandai membuat kue matanya membulat sempurna.


“Adik kecil, aku tidak bisa membuat kue. Gimana caranya membuat kue pukis?” tanya Nanda.


“Aish kakak. Kan ada aplikasi Yusrup di ponsel kakak. Kakak buka aplikasinya lalu cari dech tutorial cara membuat kue pukis,” jawab Lee dengan lembut.


“Kalau begini aku tidak bisa mengelak. Kamu sangat manis sekali adik kecil,” batin Nanda.


“Baiklah. Nanti aku buatkan,” sahut Nanda.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya membuat bubur. Erra keluar lalu mencari Lee.


“Ah... Rupanya kamu di sini,” seru Erra yang mendekati Lee.


Alicia memperhatikan gerak gerik Lee secara teliti sambil mengarahkan pistolnya ke posisi Lee berada. Kemudian Alicia membidiknya tiga kali dan mengenai perut Lee.


Lee yang mendapat tembakan tiga kali langsung tergeletak sambil memegang perutnya. Erra yang melihat Lee tergeletak jongkok dan melihat perutnya mengeluarkan banyak darah.


“Siapkan mobil!” teriak Erra yang menahan kesedihan.

__ADS_1


Dengan cepat Nanda mengambil mobil. Erra langsung menggendong lalu memasukkan ke dalam mobil. Nanda langsung menancap gas menuju ke rumah sakit.


Andi yang melihat Lee tergeletak bersimbah darah kaget lalu mata elangnya berkeliling melihat Alicia yang berlari menjauh dari tempat itu. Ia mengejar Alicia hingga ke dalam hutan. Saat mau menangkapnya, Alicia sudah menghilang.


Dengan geramnya Andi memukul pohon dan meraung memanggil Lee. Andi menangis dengan sekuat tenaga. Ia tidak menyangka, Lee tergeletak bersimbah darah. Ingatannya kembali ke masa lalu saat kehilangan Brucce dan Tika.


Saat itu Garda dan Jake yang sedang menikmati keindahan alam di kejutkan oleh teriakan seseorang. Mereka berlari menuju sumber suara. Saat menemukan Andi yang menangis meraung. Hati Garda sangat teriris.


“Papa!” seru Garda.


Saat Garda memanggilnya, Andi tidak menjawabnya. Tangisannya semakin pilu.


“Papa,” lirih Garda yang langsung memeluk Andi.


Andi yang mendapat pelukan dari Garda langsung tenang dan menceritakan tentang kejadian yang menimpa Lee. Mata Garda dan Jake membulat sempurna.


Dengan cepat, Jake mengambil ponselnya lalu menghubungi anggota Black Dragon untuk memburu Alicia. Setelah itu mereka kembali ke markas.


Di markas terjadi kehebohan saat Lee tertembak. Bayu dan Rani segera menyusul ke rumah sakit. Begitu juga dengan lainnya.


Di dalam perjalanan, tubuh Lee melemah. Lee memanggil Erra dengan suara lirih serta menahan kesakitan. “Kakak maafkan aku.”


Erra yang melihat keadaan melemah hanya menggelengkan kepalanya. “Kamu tidak boleh meninggalkan aku!”


“Sakit kak,” lirih Lee lalu menatap mata.


“Lee...,” panggil Erra.


Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit. Akhirnya mereka sampai ke rumah sakit lalu Erra menggendong Lee ala bridal style menuju ke ruangan operasi.


Sesampainya di sana Lee di tangani oleh para dokter yang handal. Tak lupa juga ada Saga. Saat Saga menerima Lee yang lemah. Matanya membelalak kaget. “Singa betinaku!”


Saga langsung mengecek keadaan Lee yang sudah pucat pasi. Siang itu juga Saga memimpin tim dokter untuk menjalani operasi.


Tubuh Erra melemas. Ia tidak menyangka Lee menjadi begini. Air matanya menetes. Nafasnya sangat sesak. Tangannya mulai mengepal. Seketika jiwanya di rasuki oleh iblis. Erra melihat Nanda dengan tatapan membunuh.


“Cepat cari siapa yang telah menembak istriku!” titah Erra dengan penuh penekanan.


Kemudian Nanda membuka ponselnya lalu meretas CCTV di samping markas. Ia mulai meneliti siapa saja yang berada di sana.


Tak selang berapa lama datanglah Bayu, Rani, Jake, Garda, Caroline dan juga Andi.


“Bagaimana keadaan Lee?” tanya Bayu.


“Dokter belum keluar,” jawab Nanda.

__ADS_1


“Siapa yang melakukan ini?” tanya Rani.


“Paman ngomongnya Alicia,” jawab Jake.


Kemudian Garda mengingat sesuatu. “Jake... Coba kamu retas CCTV yang berada di pohon Pinus.”


“Aku sudah meretas CCTV di sana,” sahut Nanda.


“Dasar mata-mata gadungan,” sindir Erra yang dingin.


Nanda hanya menghembuskan nafasnya dan tidak meladeni perkataan Erra.


Sementara itu Saga yang berhasil mengeluarkan dua peluru belum bisa bernafas lega. Ia melihat ada satu peluru yang menembus perut Lee. Ia berhati-hati mengambil peluru itu. Mata Saga membulat sempurna karena peluru itu mengenai calon bayi Lee.


“Dok,” panggil dokter Rian.


“Maafkan opa sayang. Opa tidak bisa menyelamatkanmu. Opa harus menyelamatkan nyawa Mamamu,” lirih Saga.


Keadaan Lee semakin melemah. Peluru yang dilumuri racun sudah menyebar. Sang calon bayi yang masih berusia 3 Minggu akhirnya meninggal. Dengan cepat Saga mengambil calon bayi Lee yang masih kecil.


Tiiiiiiiiiiiiiiiittttt!


Suara dari alat pendeteksi jantung berbunyi. Tubuh Saga melemah. “Ini tidak mungkin. Siapkan alat pemacu jantung!”


Sementara di luar Erra terduduk lemas karena mendengar suara tiiiiitttt dari dalam. Erra membiarkan air matanya menetes. Tangannya mengepal kuat.


Rani yang melihat Erra lemah langsung memeluknya. “Ma.. jika singa betinaku pergi ke alam lain. Aku akan menyusulnya.”


Semua yang mendengar perkataan Erra hatinya tersayat. Mereka diam tanpa bicara. Air mata mereka mulai menetes. Mereka baru menyadari kalau Erra sangat mencintai Lee.


“Cintamu sangat dalam sekali Ra. Aku salut sama kamu,” batin Jake yang menghapus air matanya.


Berjam-jam salah satu tim dokter belum keluar juga. Rani yang melihat Erra yang diam mendekatinya sambil membawa roti dan juga susu. “Ra... Makanlah.”


Erra hanya diam mematung. Ia ingin Lee menghampirinya lalu memeluknya. Tapi itu hanya angan-angan belaka.


Saga yang masih berada di ruangan operasi melakukan pencucian darah Lee. Ia bekerja sekuat tenaga. Hampir 12 jam Lee belum juga terbangun.


Setelah selesai pencucian darah. Saga keluar dari ruangan operasi tersebut. Dengan wajah sedihnya ia tidak mampu mengatakan apapun.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2