Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 81


__ADS_3

Suci tergagap lalu tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak menyangka bahwa Imam menanyakan hal yang sudah berlalu.


“Ceritakan kepadaku! Bagaimana caranya kamu hamil Raka?” titah Imam dengan tegas.


“Baiklah saya akan memberi tahukan kepada anda Tuan. Saya memp*k*sa anda,” ucap Suci sendu.


“Setelah kamu hamil, kenapa kamu tidak memberi tahukan ke aku?” tanya Imam.


Suci menunduk lalu bersedih. “Saya takut kepada anda Tuan. Saya takut pada cerita-cerita yang berkembang di luar sana. Setelah saya melahirkan Tuan pasti meninggalkan saya.”


“Aku takut kalau Tuan Imam tidak mau menerima saya. Terutama kehamilan saya,” tambah Suci.


Saat peristiwa itu, Imam memang sedang patah hati berat. Hidupnya teringat pada Gissel. Jika ia tau Suci hamil. Ia belum tentu juga menerima Suci bahkan anaknya. Hati Imam hancur berkeping-keping karena membiarkan Suci menanggung beban sendiri. Sedangkan ia tahu masa lalu Suci dari Lee.


“Maaf,” lirih Imam yang menyesal. “Jika dulu kamu mengatakannya kepadaku. Aku belum tentu terima.”


“Tidak usah meminta maaf Tuan. Semua ini juga salahku. Aku memang ingin mengharapkan anak tapi aku tidak mau menikah. Aku takut masa lalu kedua orang tuaku terulang lagi,” jelas Suci.


“Mulai saat ini aku akan bertanggung jawab terhadap kamu dan juga Raka. Kamu boleh memperk*s*ku lagi. Aku sangat ikhlas sekali,” ujar Imam.


Mata Suci membulat sempurna. Rasanya Suci ingin melemparkan Imam ke Pantai Selatan. Ia tidak menyangka bahwa Imam benar-benar ikhlas dip*rk*sa.


“Aku ingin bertanya sama kamu. Apakah kamu mengalami fase ngidam saat kamu hamil Raka?” tanya Imam.


Suci hanya menggelengkan kepalanya lalu berkata jujur. “Saya sangat membenci anda Tuan.”


“Apa!!!” seru Imam. “Heh... Apakah kamu tidak salah membenci wajah tampanku ini?”


“Ya... Aku sangat membenci Tuan,” ungkap Suci dengan jujur.


“Apa salah dan dosaku Tuhan? Kenapa kamu sangat membenciku. Padahal kalau ada orang hamil lewat ingin berdekatan denganku,” batin Imam.


“Maaf Tuan. Aku harus menidurkan Raka,” ucap Suci.


“Biarkan aku menidurkan Raka!” perintah Imam.


“Baik Tuan,” sahut Suci.


“Jangan panggil aku Tuan! Aku bukan Tuanku!” titah Imam.


“Jadi saya harus panggil apa?” tanya Suci.


“Apa kek.. sayang, cinta, honey, baby atau babe,” jawab Imam yang penuh dengan percaya diri.


“Saya akan memanggil anda Tuan,” sahut Suci.


“Jika kamu memanggilku Tuan terus. Aku akan membawamu ke ranjang dan memp*rk*samu,” bisik Imam.


“Apa?” seru Suci.


“Iyalah. Gantian sekarang aku yang memperk*s*mu,” ujar Imam dengan seksi.


Kemudian Suci kabur dari kamar itu karena ada sinyal yang bahaya di dalam tubuhnya. Imam yang melihat Suci kabur hanya tersenyum manis.


“Ibumu sangat menggemaskan,” batin Imam.


Raka melihat wajah Imam lalu tersenyum manis dan tertawa kecil.

__ADS_1


Sementara itu Erra bingung cara membuat bubur ayam. Ia memasak memakai instingnya. Saat Lee masuk ke dalam dapur, ia duduk di depan Erra yang memasak. Lee tersenyum tipis melihat Erra yang sangat tampan sekali.


“Kakak tampan. Apakah kakak tampan tidak capek?” tanya Lee yang bertanya seperti anak kecil.


“Tidak istriku,” jawab Erra dengan lembut.


“Semangat kakak,” seru Lee yang memberikan semangat.


“Pasti itu sayang,” ucap Erra yang tersenyum manis.


“Rasanya aku ingin menggendong kakak tampan junior,” ujar Lee yang memegang perutnya yang masih datar.


“Bersabarlah. Besok aku akan mengajakmu ke Tante Widia,” jawab Erra.


Dua puluh menit kemudian, Erra selesai memasak dan menaruh buburnya di mangkuk. “Makanlah.”


Lee yang sudah sangat kelaparan matanya berbinar melihat bubur buatan Erra.


“Tiupin dulu,” ucap Erra.


Lee hanya mengangguk lalu mulai meniupinya kemudian memakannya.


“Enak ya?” tanya Erra.


“Sangat enak sekali. Apakah Kakak bisa membuatkanku bubur seperti ini setiap hari?” tanya Lee yang penuh dengan harap.


“Kalau kamu memintanya,” jawab Erra dengan tulus.


“Apakah kakak ingin mencobanya?” tanya Lee.


“Memangnya aku boleh mencobanya?” tanya Erra balik.


Kemudian Lee menyuapi Erra. Setelah bubur buatannya masuk ke dalam mulutnya. Wajahnya berubah menjadi sangat aneh. Ia berlari menuju ke wastafel lalu memuntahkan isi bubur itu. “Rasanya sangat asin sekali. Ini gawat!”


Erra kembali ke meja lalu merebut mangkuk bubur itu dan membuangnya keluar. Ia menghembuskan nafasnya dengan lega.


Lee yang melihat buburnya di rebut Erra terdiam. Air matanya menetes dan menangis sesenggukan. Kemudian Rani datang lalu melihat Lee yang duduk sambil sesenggukan.


“Putriku,” panggil Rani dengan lembut.


Lee berdiri lalu menangis dengan keras. “Huaha... Kakak Tampan jahat!”


Rani yang melihat Lee menangis langsung memeluk Lee. Tak lama kemudian Erra masuk lalu melihat Lee yang memeluk Rani.


“Mama!” pekik Erra.


Mata Rani menatap tajam seperti pedang pembunuh. Erra menelan salivanya dengan susah payah.


“Mama,” lirih Erra.


“Hey.. kamu apain puteri mama?” tanya Rani dengan mode garang.


“Aku membuang buburnya Ma,” jawab Erra yang lesu.


“Kenapa kamu membuangnya?” tanya Rani menyelidik


“Buburnya sangat asin sekali,” jawab Erra dengan pasrah.

__ADS_1


Kemudian Lee melepaskan pelukannya lalu melihat Erra dengan tatapan membunuh.


“Buatin aku bubur seperti tadi! Kalau tidak aku akan tidur bersama Mama dan Papa!” titah Lee.


Glek.


“Astaga. Kenapa singa betinaku seperti ini?” tanya Erra yang bingung.


“Itu karena faktor kehamilan,” sahut Imam sambil menggendong Raka.


“Apakah benar Lee hamil?” tanya Rani dengan mata berbinar.


“Kemungkinan,” jawab Imam. “Besok Erra harus mengajak Lee ke Dokter Obgyn.”


“Aku masih lapar,” ucap Lee dengan lemah.


“Kamu mau makan apa?” tanya Erra.


“Aku benci kakak,” ketus Lee.


“Aish... Kenapa kamu marah,” hibur Erra yang mendekati Lee.


“Jangan dekati aku jika buburnya belum matang!” titah Lee lalu meninggalkan Erra.


Imam dan Rani hanya tersenyum lucu melihat Erra.


“Sabarlah. Nanti setelah melahirkan Lee normal lagi kok,” jelas Imam.


“Berapa bulan ya kira-kira aku menghadapi singa betina yang garang seperti itu?” tanya Erra yang lesu.


“Kurang lebih sembilan bulan,” jawab Rani.


“Oh... Tidak... Rasanya aku ingin menangis,” ringis Erra.


“Itukan ulahmu sendiri. Kenapa kamu tidak ingin menanggungnya,” geram Rani.


“Aku akan menjadi pria teraniaya,” kata Erra.


“Nikmatilah penderitaanmu,” bisik Imam yang pergi meninggalkan Erra dan Rani.


“Ma... Bisa ajarin aku buat bubur,” ujar Erra yang lesu.


“Baiklah,” sahut Rani.


Kemudian Erra membuat bubur yang di pandu oleh Rani. Sementara itu Lee sedang duduk di bawah pohon sambil menghitung banyak anak ayam yang sedang berkeliaran.


“Perasaanku di sini tidak ada anak ayam dech. Kok sekarang ada ya,” batin Lee.


“Lee,” panggil Caroline yang turun dari mobil.


“Iya ma,” sahut Lee yang melihat Caroline dan Andi yang baru datang.


“Papa sini dech,” panggil Lee yang melambaikan tangannya.


“Ada apa?” tanya Andi yang mendekati Lee.


“Tumben ada anak ayam di sini?” tanya Lee.

__ADS_1


“Oh itu. Bibi Naomi sedang ngidam ingin memelihara anak ayam,” jawab Andi.


“Apa?” seru Lee.


__ADS_2