
“Senjata yang aku gunakan adalah AK 47. Aku sangat menyukai senjata itu,'’ jawab Imam yang membuat Garda terkejut.
“Apakah itu benar? Sepertinya aku baru mengetahui kalau kamu sudah bermain pedang?” tanya Garda yang mengerutkan keningnya.
'Sebenarnya aku tidak bisa memakai pistol itu. Tapi aku meminta Suci mengajarkanku memakai senjata itu,'’ jawab Imam.
“Suci apa Lee?” tanya Garda balik.
“Dua-duanya. Dan itu disaksikan oleh Erra dan Papa Bayu,'’ jawab Imam yang membuat menggelengkan kepalanya.
Jujur saja Garda terkejut apa yang didengarnya itu. Garda mengakui kalau Imam tidak bisa memakai pistol dengan jenis apapun. Garda malah sangat khawatir dengan keadaan Imam ketika terjadi pertempuran brutal. Garda menatap Imam sambil berkata, “Sepertinya kamu harus memakai pedang. Kamu kan memiliki hobi menebas kepala orang. Jika kamu kurang pandai maka jangan lakukanlah. Kami juga menerima seorang anggota yang memiliki kemampuan bermain pedang. Kemungkinan aku juga memakai pedang dan menjadi sebagai ninja,'’ jawab Garda yang membuat Imam membelalak sempurna.
“Apakah kamu serius?” tanya Imam. “Bukannya kamu pandai memakai senjata?”
“Ya... aku memang pandai memakai senjata. Tapi kamu tahukan kalau Kasai pistol itu habis? Kemungkinan besar aku enggak bisa menyerang lagi. Lebih baik jalan satu-satunya adalah memakai pedang,'’ jawab Garda. “Dan aku berkoloborasi dengan Lee Dan Erra.’’
“Ah... sepertinya itu sangat mengasyikkan. Aku akan ikut dengan kalian,'’ celetuk Imam.
“Bolehlah. Aku sudah memikirkan rencana apa yang sedang disusun,'’ sahut Garda.
Imam pun setuju apa yang dikatakan oleh Garda. Sebelum kesini Garda memang memberikan saran untuk Erra. Erra pun menyetujuinya
Bandara John D. Kennedy.
Haruka dan Mama Yi telah tiba di bandara. Mereka bingung mau tinggal dimana? Kalau mereka ke markas milik Bayu atau Erra akan ketahuan dan disuruh pulang sama Saga dan Joko. Namun mereka tidak akan mau pulang.
“Tinggal di mana kita?” tanya Haruka.
“Kalau kita pergi ke markas, maka Kak Joko dan Kak Saga pasti akan marah dan menyuruh pulang,'’ jawab Mama Yi.
“Lalu?” tanya Haruka.
“Kita terpaksa tinggal di hotel,'’ jawab Mama Yi.
__ADS_1
“Kalau begitu kita akan mencari hotel terdekat untuk menginap,'’ ucap Haruka yang menganggukan kepalanya.
Merdeka segera keluar dari bandara. Tanpa disadari oleh mereka ada dua orang pria yang tidak sengaja melihat dua wanita paruh baya itu. Pria itu berhenti dan menyelidiki dua wanita itu yang sedang berjalan beriringan.
“Bukannya itu istri kita ya?” tanya pria itu.
Mata pria satunya membulat lalu menyebut nama Haruka. Pria itu langsung melemas dan bertanya, “Mengapa Haruka kesini?”
“Tuan Joko... Tuan Saga... Mari ikut saya,'’ anak Geo.
“Kamu pulang dulu ke markas sekalian bawakan barangmu. Aku ingin menyelidiki dua wanita itu yang sedang berjalan ke pintu keluar!” titah Saga.
Geo menganggukan kepalanya dan menuruti perintah Saga. Ia langsung meminta pengawal lainnya untuk membawakan barangnya. Sedangkan Saga dan Joko langsung mengikuti mereka. Akan tetapi mereka terkena siap. Kedua wanita itupun menghilang tanpa jejak. Mereka teringat akan kelebihan kedua wanita itu yaitu menghilang seperti ninja. Untung saja jika mereka menjadi seorang ibu rumah tangga, mereka tidak pernah memakai ilmu hilang tanpa jejak.
“Sial!” geram Joko. “Mereka langsung menghilang tidak ada jejaknya.”
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Saga.
“Yang harus kita lakukan adalah menunggu tagihan di kartu hitam atas nama Joko Setiawan. Cepat atau lambat Yi akan memakainya. Kamu tahukan kalu Yi itu orangnya suka ceroboh?” celetuk Joko.
“Yi itu jarang sekali membawa dompet pribadinya. Yang dibawa saat bepergian adalah hanya kartu hitam milikku. Aku enggak tahu kenapa? Padahal di dompetnya sendiri sering ada uang tunainya. Kartu kredit semuanya atas namaku? Tapi kenapa hanya kartu itu yang menemaninya jika bepergian seperti ini?” tanya Joko yang frustasi.
“Ya... mana aku tahu. Kamukan suaminya? Kamu harus menanyakan semua ini ke istri kamu itu,'’ jawab Saga yang mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.
Merdeka memutuskan untuk pergi meninggalkan bandara. Sementara Haruka dan Mama Yi telah menemukan sebuah hotel milik Lee di area bandara. Mata mereka berbinar dan langsung masuk ke dalam. Mereka segera memesan kamar hotel standar.
“Pakai hotel biasa saja ya?” tanya Haruka.
“Oke... aku enggak jadi masalah,” jawab Mama Yi yang mengeluarkan sebuah kartu hitam milik Joko. “Biarkan aku yang memb agar semuanya.”
“Baiklah kalau begitu,'’ balas Haruka.
Mama Yi membayar kamar hotel itu dan mendapatkan kunci. Mereka langsung menuju ke kamar yang sudah dipesannya di lantai tiga. Sedangkan Joko dan Saga sedang duduk di sebuah kafe yang berada di area bandara. Lalu Joko tidak sengaja melihat sebuah motif dari bank yang memberitahukan ada sebuah transaksi yang baru saja dilakukan. Tak lama Joko melihat transaksi sambil tersenyum lucu.
__ADS_1
“Kan sudah aku tebak... mamanya Nanda pasti pake kartu hitam milik Joko,'’ ucap Joko.
“Kalau begitu mereka ada dimana?” tanya Saga.
“Ada di depan sana. Sepertinya kita akan kesana sebentar lagi. Aku yakin nanti malam kedua istri kita akan melakukan hal yang gila,'’ celetuk Joko.
“Hal gila,” ujar Saga.
“Hal gila ikut penyergapan nanti malam,'’ sahut Joko. “Mari kita kesana.”
Mama Yi dan Haruka langsung beristirahat di atas ranjang king sizenya itu. Mama Yi langsung membuka laptopnya dan mencari informasi tentang obat-obatan yang akan dikirimnya itu. Dengan jari lentiknya Mama Yi menemukan sebuah informasi tersebut. Mama Yi tersenyum dan melihat Haruka.
“Apakah kamu mau ikut nanti malam?” tanya Mama Yi.
“Inilah. Kakak tahukan aku rindu bertarung sesama bandit yang namanya Black Lotus?” tanya Haruka yang dibenarkan oleh Mama Yi,
“Kalau begitu kita akan menyamar sebagai ninja. Kita bisa berbaur sama pengawal White Eragon dan Black Dragon. Jika terjadi kekacauan. Kita menjadi provokasi saja. Biar para pengawal milik Black Lotus menyerahkan dirinya suka rela agar anak-anak kita yang menghabisinya,'’ jelas Mama Yi.
“Okelah kalau begitu,'’ balas Haruka yang sudah tidak sabar lagi ingin mengacaukan acara nanti malam.
“Apakah kamu sudah memesan makan siang?” tanya Mama Yi.
“Ya... aku sangat lapar sekali,'’ jawab Haruka yang melihat jamnya. “Aku harap sudah sampai.”
“Pelananya disini sangat bagus. Mereka mengirimkan jadwal makan sesuai waktunya. Kalau sudah jam dua belas seperti ini mereka sudah on time di depan. Biar aku yang membukakan pintunya,'’ ujar Mama Yi.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggu,” balas Haruka.
Mama Yi segera beranjak dari duduknya. Lalu ia menuju ke pintu. Sedangkan Haruka mulai berbalas pesan bersama Lee. Haruka tertawa karena pesan Lee yang kocak. Entah kenapa Haruka sangat merindukan Lee siang ini.
Ceklek.
Pintu terbuka.
__ADS_1
Dua pelayan yang berjenis kelamin pria itu sedang membawa makan siang. Lalu Mama Yi mempersilahkan masuk ke dalam. Kedua pria itu masuk dan melihat Haruka yang tertawa sendirian.
“Maaf nyonya, makanannya ditaruh dimana?” tanya pria itu.