
Bangkok Thailand.
"Rasanya aku adalah pria yang sangat bahagia sekali pada malam ini hingga selamanya," celetuk Erra di depan Garda.
"Apakah kamu terkena setan di pinggir jalan itu?" tanya Garda yang membuat Erra melebarkan matanya lalu kesal
"Bisakah kamu melihatku bahagia sebentar? Sepertinya kamu suka sekali meledek aku?" kesal Erra.
Tiba-tiba saja Garda tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa pria bermata biru itupun suka meledek Lee. Ia pun segera meninggalkan Erra. Karena ia takut dilempar sepatunya.
"Dasar Garda sialan!" teriak Erra.
Andi yang melihat teriakan dari Erra hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Bisa-bisanya ketika dirinya sedang melakukan yoga terkejut.
__ADS_1
"Bisa nggak sih kalian tidak berantem sehari saja?" geram Andi.
"Maaf pa... Gardalah yang membuat kekacauan ini," jawab Erra.
"Belum kapok ya kalian ini. Aku sudah menghukummu selama lima jam di ruangan bawah tanah. Tapi kenapa kalian selalu berantem? Apakah aku harus mengurangi lagi dan menghukum kalian masuk ke dalam ruangan bawah tanah?" Tanya Andi sambil menatap wajah Erra dengan horor. "Di mana putriku sekarang?"
"Ada pa. Putri Papa sekarang berada di dalam kamar. Sebelum ke kamar Putri papa berpamitan untuk tidur terlebih dahulu," jawab Erra.
"Kalau begitu masuklah ke dalam. Temani putriku tidur. Aku nggak ingin putriku membuka matanya dan tidak ada kamu," usir Andi mengusir Erra agar tidak berada di sekitarnya.
Erra akhirnya pergi dan meninggalkan Andi yang sedang yoga. Dirinya masuk ke dalam dan melihat keberadaan Rani bersama Caroline.
"Para Mama nggak tidur?" tanya Erra.
__ADS_1
"Para Mama ingin tidur bersama Lee. Sebagai gantinya kamu tidur bersama para papa. Kalau nggak kamu nggak mau ya sudahlah. Tidurlah sendiri di dalam kamar kosong itu," jawab Rani sambil menunjuk kamar yang berada di depannya itu.
"Kenapa Mama tidak ingin tidur di sana? Aku ingin sekali tidur bersama ketiga calon bayiku. Dan tidak lupa juga, Aku ingin tidur bersama istri tercintaku," ujar Erra yang membuat Rani terkejut.
"Sepertinya kamu harus mengalah pada kami," ucap Caroline yang tidak mau kalah dengan Erra.
"Kenapa juga harus mengalah? Seharusnya para Mama tidur bersama para papa," ujar Erra.
"Tidak bisa. Kamu harus tidur bersama papamu itu," ujar Rani yang memaksa Erra untuk tidur bersama Bayu dan Andi.
Dengan terpaksa Erra mengalah. Dirinya memutuskan untuk pergi dari sana. Jika ia tidak pergi dari sana, kemungkinan besar Erra akan kalah debat sama para mama.
Bayangkan saja, pria bertubuh kekar itu sering sekali berdebat dengan para kliennya. Lalu Erra selalu memenangkan perdebatan itu jika sang klien sudah melakukan kecurangan terlebih dahulu. Akan tetapi dirinya akan menyerah saat berdebat dengan Rani maupun Caroline.
__ADS_1
"Terpaksa Aku mengalah. Jujur saja mereka lebih ngegas ketimbang aku. Padahal aku sendiri orangnya suka memutar balikan fakta ketika sedang berdebat. Tapi aku memutuskan angkat tangan dan tidak mau memperpanjang perdebatan ini," keluh Erra dalam hati.
Kedua para Mama itu tersenyum bahagia. Bagaimana tidak mereka serempak mengusir Erra dari samping Lee untuk sementara. Jujur para mama sebenarnya sangat merindukan Lee. Sudah berhari-hari Lee tidak pernah menampakan dirinya. Malahan Lee lebih sibuk dengan pekerjaannya. Yaitu mengurusi White Eragon.