
Setelah mendapatkan kantong Erra mengajak Lee pergi ke kamar. Entah kenapa Erra merasakan ada sesuatu di dalam kamar itu.
"Kenapa kita kesini?" tanya Lee.
"Entahlah. Perasaanku ada yang aneh ketika menatap pintu kamar itu terbuka," jawab Erra.
"Lalu?" tanya Lee.
"Kita periksa saja apa yang ada di sini," jawab Erra.
Erra mulai memeriksa seluruh sudut ruangan dan membuka nakas ditambah lemari. Lalu Lee mulai mendekati ranjang dan tidak sengaja menginjak sesuatu. Lee membungkukkan badannya dan mengambil sebuah botol kecil.
"Kak," panggil Lee yang sedang memamerkan penemuannya.
Erra segera menoleh dan melihat Lee sedang membawa botol kecil. Matanya memicing dan mendekati Lee sambil bertanya, "Botol obat?"
"Iya... Itu botol obat," jawab Lee sambil memeriksa label di sebuah kertas.
Tiba-tiba saja Lee terkejut dan menutup mulutnya. Otak Lee berpikir kalau ini bukan pembunuhan biasa. Lalu Erra menatap wajah Lee yang tidak bisa dimengerti.
"Lee," panggil Erra.
"Ada apa kak?" tanya Lee yang terkejut.
"Coba lihat ada label yang tertera di botol obat itu?" tanya Erra dengan serius.
Lee menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis, "Iya kak. Aku merasa curiga sama botol obat ini."
"Kenapa curiga?" tanya Erra.
"Aku hanya bisa menerka kalau kasus ini sangat sulit sekali. Paman tidak akan bisa memecahkannya," jawab Lee. "Kakak tahu label yang tertera di botol ini?"
"Apa itu?" tanya Erra yang balik tanya.
"Ini pasti berhubungan dengan mafia," jawab Lee. "Pasti kakak mengenal label ini. Obat ini hanya bisa didapatkan di dunia bawah tanah."
"Apa kamu bilang?" tanya Erra.
"Ya kak," jawab Lee sambil menyodorkan botol obat ini ke arah Erra.
Erra segera mengambilnya dan memperhatikan tulisan label ini. Matanya membelalak dan mulutnya ternganga. Erra menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Apakah ini berkaitan dengan Black Lotus?"
"Iya," jawab Lee.
__ADS_1
"Lebih baik kamu simpan saja. Di markas kan ada Papa Saga. Kita bisa memintanya untuk membantu memecahkan obat apa ini? Apakah ini racun?"
Lee hanya mengedikkan bahunya sambil menjawab, "Tidak tahu."
"Selesai kita mengetahui obat apa ini kita bisa menculik paman Christian dan mencercanya dengan berbagai pertanyaan."
"Seperti detektif saja," ledek Lee.
"Bukannya kamu detektif juga Lee ketika membantu kasus polisi yang belum selesai?" tanya Erra yang kesal terhadap istri kecilnya itu.
"Maaf, aku lupa," jawab Lee yang tersenyum sambil memamerkan gigi putihnya.
"Meskipun aku tidak berkumpul dengan White Eragon, aku tahu pekerjaan apa yang dilakukan. Kamu sama anggota White Eragon yang berjenis kelamin perempuan tugasnya untuk memecahkan kasus sulit," ungkap Erra dengan bangga.
"Lalu kakak?" tanya Lee.
"Ah... Aku hanya mendesain senjata lalu menjualnya ke penjuru dunia," jawab Erra yang gemas sekali dengan Lee.
"Ok kalau begitu. Aku kok sangat penasaran dengan kolong tempat tidur itu ya?" tanya Lee lalu berjongkok dan memeriksa bawah tempat tidur.
"Periksalah. Aku akan periksa yang lain juga," ucap Erra yang memberikan sebuah kebebasan.
Lee segera menengok ke bawah dan melihat ada beberapa barang yang mencurigakan. Ia segera mengambil barang itu lalu matanya membelalak sempurna.
"Kenapa di sini ada tangan dan kaki ya?" tanya Lee yang menggerutu dan sempat didengarkan oleh Erra.
"Lee, apakah kamu tahu?" tanya Erra yang mendekati Lee lagi.
"Apa itu kak?" tanya Lee sambil mengangkat wajahnya.
"Sepertinya paman kamu kesulitan memecahkan kasus ini. Kalau aku menganalisis sih ada beberapa rekan kerjanya sedang menutupi kasus ini. Coba saja kamu lihat paman kamu itu. Seharusnya kalau ada penyelidikan pasti rame-rame. Lha ini hanya beberapa saja," jawab Erra yang mulai menganalisis keadaan.
"Ya... Kakak benar. Aku juga merasa begitu," jawab Lee yang sedari tadi curiga.
"Kalau begitu kita cari tahu penyebabnya," ucap Erra. "Kemungkinan setelah penggrebekan pasar gelap kita bisa kesini lagi."
"Kalau begitu baiklah," balas Lee. "Kak."
"Ada apa?" tanya Lee.
"Izinkanlah aku melihat mayat sang pemilik tangan ini," jawab Lee.
"Ide bagus. Nanti aku akan menyuruh paman kesana," ujar Erra.
__ADS_1
Erra hanya bisa berteriak dalam hati. Erra sangat kegirangan memiliki seorang istri yang cerdas dan cerdik. Erra tidak menyangka kalau hidupnya dipenuhi kejutan demi kejutan yang ada. Erra sangat bersyukur memiliki istri yang baik. Erra berjanji tidak akan pernah selingkuh dari Lee.
Hampir dua jam Lee menemukan beberapa potongan demi potongan bagian tubuh itu. Lee menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Bukan kasus biasa."
Selesai membantu penyelidikan Lee dan Erra kembali ke hadapan Christian. Lee menaruh kantong yang berisikan barang bukti. Lee memandang lekat mata Christian yang gusar. Lalu Lee menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Paman, siapa yang menangani kasus ini?"
"Nicky," jawab Christian.
"Bagus itu. Aku suka," sahut Lee yang tersenyum devil.
Gilmore mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Bagus apanya? Kasus begini dibilang bagus."
"Baguslah paman," ucap Lee. "Apakah paman enggak merasakan sesuatu?" tanya Lee. "Mereka sedang bekerja sama dengan seseorang untuk mengerjakan kasus ini. Dan paman tahu dalam beberapa kali persidangan sang pelaku akan melenggang bebas. Sang pelaku akan melakukannya lagi untuk ke sekian kalinya."
"Kalau begitu?" pekik Gilmore yang paham dengan analisis Lee.
"Ya," jawab Lee. "Sudah tahukan hasilnya."
Gilmore menganggukkan kepalanya tanda paham. Begitu juga dengan Christian. Mereka ingat beberapa kasus sama seperti ini selalu tidak beres. Lee curiga dengan seseorang yang nyatanya adalah rekannya sendiri.
"Paman," panggil Lee.
"Ada apa?" tanya Christian.
"Apakah paman sudah selesai?" tanya Lee balik.
"Sudah. Aku ingin kembali ke rumah dinas," jawab Christian.
"Apakah paman yakin tinggal di sana?" tanya Lee yang merasakan ada sesuatu.
"Ya... Aku yakin," jawab Christian.
"Kalau begitu sebelum pulang dulu antar kami ke rumah sakit terlebih dahulu," pinta Lee.
"Kamu sakit?" tanya Gilmore.
"Aku tidak sakit. Aku ingin melihat mayat sang pemilik tangan," jawab Lee.
Christian menganggukan kepalanya sambil membalasnya, "Baiklah."
Di sebuah kafe ada dua orang wanita berwajah oriental dan dua pria berwajah kaku sedang menikmati suasana kafe. Kafe ini sangat sepi dan belum ada pengunjung sama sekali. Keempat orang itu hanya bisa duduk terdiam dengan damai. Tak lama ada seorang pelayan kafe itu mendekatinya sambil membawa buku menu. Pelayan itu menaruhnya sambil menyapa mereka, "Mau pesan apa?"
"Sandwich dan segelas susu rasa coklat," jawab wanita itu.
__ADS_1
"Samakan saja semuanya," titah wanita yang ada di sebelahnya.
Akhirnya pelayan itu mencatat pesanan mereka dan langsung pergi. Sementara kedua wanita itu masih memandang dan bertanya, "Apakah pekerjaan kalian sudah beres?"