
Candra segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan meeting. Candra mengajak orangi itu ke ruangannya. Setelah masuk ke dalam, Camdra memandang orang itu. Yang ternyata mata-mata dari Black Lotus.
"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Candra.
"Singa betina itu masih hidup. Tapi calon istri anda meninggal dengan Giselle," jawab sang mata-mata itu dengan pucat.
"Alicia," pekik Candra.
"Ya tuan. Mayatnya sudah ada di mansion tuan," jawab sang mata-mata.
Dengan geramnya Candra mengambil kunci mobilnya. Candra segera meninggalkan kantor untuk menuju ke mansion. Dalam perjalanan hati Candra berkecamuk. Candra tidak bisa membayangkan kehilangan sosok sang calon istrinya itu.
Jika mau disalahkan sebenarnya ya... yang salah tetap Candra. Kenapa Candra bisa mengirimkan Alicia untuk membunuh Lee si singa betina itu. Padahal Singa Betina itu banyak yang menjaga termasuk sang suami dan kakaknya. Akankah Candra menghabisinya? Ah... yang membuat cerita ini belum tahu. Masih bingung dengan kisah cinta Lee dan Erra.
Sesampainya di mansion, Candra melihat kedua peti mati tersebut. Salah satu pengawal membuka peti mati milik Alicia. Airmatanya tumpah seperti air hujan. Candra sangat kehilangan sekali. Lalu apakah Candra bisa mengembalikan keadaan? Tidak bisa. Karena egonya yang besar Candra ingin menghancurkan enam pilar utama dan menguasai dunia. Namun di dalam hatinya Candra akan memburu Lee dan bersumpah akan membunuhnya.
Setelah memandang wajah Alicia, Candra menemukan surat yang ditulis Garda. Garda akan menghancurkan perusahaannya jika berani menyentuh rambut Lee sehelai. Kemudian Candra meremas kertas itu hingga hancur.
"Akan aku balas kalian!" geram Candra. "Kubur mereka di belakang mansion ini!"
"Baik tuan," balas mereka serempak.
Mereka akhirnya menguburkan Alicia dan Gissel di belakang mansion. Sementara itu Candra langsung pergi ke ruangan bawah tanah untuk menikmati waktu seorang diri.
Asco Corporation Groups International.
Di ruangan bawah tanah seluruh peserta berkumpul. Mereka membicarakan perkembangan White Eragon. Semakin lama White Eragon berkembang pesat. Mereka bangga akan perkembangannya itu. Mereka juga mendiskusikan tentang mata-mata. Mereka ingin mempersempit jalannya si penyusup di White Eragon.
"Apakah para papa yakin kalau Candra akan balas dendam?" tanya Nanda.
"Ya papa yakin. Aku tidak mau lagi meneruskan permusuhan ini. Kita harus diam terlebih dahulu untuk mendinginkan suasana. Kita menunggu Lee pulih terlebih dahulu. Setelah itu kita akan menyerangnya beramai-ramai," jelas Irwan.
"Kayaknya rame-rame enggak asyik ya... Berikan Candra sama Lee. Nanti kamu akan melihat singa betina akan akan marah," celetuk Bayu.
"Ah... Apakah papa enggak kasian sama Lee? Lee itu perempuan loh. Lee itu sudah menjadi menantu papa. Seharusnya Lee itu mengurus Erra," usul Garda.
"Tidak. Itu tidak bisa. Lee akan menggila jika dilarang. Apalagi tahu jika sang pelakunya adalah Candra," jawab Bayu.
"Bagaimana papa tahu kalau sang pelaku utamanya adalah Candra?" tanya Jake.
__ADS_1
"Apakah kamu tahu informasi tentang Alicia yang konkret?" tanya Bayu dengan serius.
"Ya aku paham," jawab Jake yang baru terbangun dari tidurnya.
"Apakah kamu tertidur?" tanya March.
"Ya... Pa... Aku hanya tertidur sebentar," jawab Jake.
"Makanya kamu baru sadar," kesal March.
"Makanya kalau baru bangun jangan menyahut. Malah membagongkan," sahut Imam.
"Ish... Ternyata kamu bersuara juga ya? Aku sangka kamu membisu?" ledek Garda.
"Kalau kamu bukan anaknya papa Andi. Sudah aku lempar ke daerah konflik!" kesal Jake.
"Kamu tahu Erra sudah sering mengirimku ke sana," ujar Garda dengan serius.
"Lalu?" tanya Jake. "Ngapain ke sana?"
"Tidurlah," jawab Garda dengan santai.
Mereka memutuskan untuk bubar dan kembali ke mansion masing-masing. Mereka juga siap untuk beristirahat. Untunglah Lee sudah sadar dan perlahan membaik. Mereka harus bersiap-siap untuk menajamkan telinganya. Agar mereka bisa mendengar kedatangan musuh.
Beberapa hari kemudian Erra meminta Saga untuk mengizinkan Lee pulang. Saga pun menyetujuinya. Saga juga berpikir Lee akan sembuh jika berada di mansionnya. Kemudian Erra mempersiapkan semuanya. Sebelum memasukan baju ke dalam tas, Erra mendekatinya sambil berkata, "Sebentar lagi kita akan memiliki anak. Aku tidak akan marah sama kamu."
"Marah kenapa?" tanya Lee.
"Masalah tertembak," jawab Erra.
"Maaf... Aku tidak bisa melindunginya. Aku berharap beberapa Erra kecil akan hadir," jawab Lee.
"Apakah kamu yakin?" sahut Garda berada di ambang pintu.
Mata Lee membulat sempurna. Lee tersenyum tersipu. Bagaimana bisa Lee mempunyai anak banyak? Garda pun tersenyum lucu dan mendekatinya sambil berkata, "Ya sudahlah kamu buruan bikin anaknya. Biar kakak ada yang mengajak main."
Lee menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Sabarlah kak. Aku masih dalam penyembuhan," hibur Lee.
"Ra," panggil Garda.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Erra yang menutup kopernya.
"Apakah kamu akan memperketat pengamanan mansion?" tanya Erra.
"Kayaknya enggak. Kalau terlalu memperketat juga rasanya aneh. Musuh semakin curiga," jawab Erra.
"Menurutku musuh masih berkeliaran. Bahkan di rumah sakit," tambah Lee.
"Yang kamu katakan itu benar Lee. Jangan sembarangan mengenal orang. Jujur gara-gara Alicia aku takut," ucap Erra.
"Apakah Alicia masih hidup?" tanya Lee dengan serius.
"Alicia sudah meninggal. Kamu tahu siapa itu Alicia sebenarnya?" tanya Garda.
"Aku mengenalnya di jalanan," jawab Lee dengan sendu.
"Nanti aku suruh Greg mengirim profilnya ke kamu. Jika kamu tahu semuanya. Aku harap kamu melupakan kejadian ini," pinta Erra.
"Yang dikatakan Erra benar. Ambilah sisi positifnya. Jika ada kenangan yang indah tetaplah dikenang. Aku yakin Alicia tidak bersalah sepenuhnya," ucap Garda.
"Kenapa kalian membunuhnya?" tanya Lee yang masih bingung dengan semua ini.
"Terpaksa kami membunuhnya. Jika kami tidak membunuhnya. Alicia akan menjadi kaki tangan Candra," jawab Erra.
Lee terdiam dan menggelengkan kepalanya. Lee paham akan situasinya. Ingin membela namun tidak bisa. Lee tahu siapa itu Candra. Jika Alicia dibiarkan hidup, cepat atau lambat Candra akan menangkapnya. Bahkan Candra bisa menjadikan mata-mata. Sedari dulu memang Candra sangat licik sekali.
"Aku paham dengan situasinya. Aku masih bisa memaafkan kesalahannya. Aku masih bisa menerimanya kembali. Tapi jika Candra sangat menginginkan Alicia," ucap Lee dengan menggantung.
"Bisa membahayakan kita semua. Terutama nyawa kamu. Sedari dulu Candra menginginkan kematian kamu," imbuh Erra.
"Oh... Oke kalau begitu. Kalau begitu aku yang akan menginginkan kematian Candra Malik dan Adam Malik. Kirim pesan itu ke Candra. Aku sudah lama tidak berperang dengan kakek-kakek tua itu!" geram Lee.
"Apakah kamu serius?" tanya Erra.
"Ya... Aku memang ingin mengajaknya berperang," jawab Lee dengan tersenyum smirk.
"Ternyata adikku sangat menakutkan," lirih Garda yang bergidik ngeri.
"Apakah kamu siap untuk pulang?" tanya Erra.
__ADS_1