Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 85


__ADS_3

"Arghhhh.... Kenapa juga ada Garda ada di sini?" kesal Jake.


Sementara itu Garda yang di dalam ruangan penjara melihat Jake yang keluar. Ia segera menyusul Jake.


Sepanjang perjalanan seluruh para Pengawal menunduk hormat.


"Kemana Jake?" tanya Garda yang mulai serius.


"Tuan Jake berada di halaman belakang," jawab Pengawal itu.


Garda segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke sana.


"Argh... sial banget aku!!!" teriak Jake yang frustasi.


Garda yang melihat Jake yang frustasi segera mendekatinya, "Kenapa kamu terlihat seperti orang frustasi sih?"


"Aku tidak frustasi tapi aku sebal ada raksasa di situ," jawab Jake yang belum mengetahui ada Garda yang berada di sampingnya.


"Oh... jadi begitu... Apakah kamu tidak kasihan melihat Lee yang sedang terkapar di ranjang rumah sakit?" tanya Garda.


"Kasihan," jawab Jake. "Tapi apakah aku harus melihat si Garda menghabisi mereka dengan sadis?"


"Jika kamu sayang sama adik perempuanmu yang berbaring di rumah sakit. Kamu harus ikut. Itu namanya solidaritas bro," jawab Garda yang menepuk pundak Jake.


"Apakah kamu mau aku pingsan di sana?" tanya Jake yang geram.


"Pengawal!!!!" teriak Garda.


Salah satu Pengawal yang sedang menikmati keindahan alam segera berdiri dan mendekati Garda, "Iya Tuan."


"Tolong bawa Jacob ke dalam!!!" titah Garda.


"Baik Tuan," balas Pengawal itu.


Kemudian Pengawal itu langsung menarik baju Jacob agar segera kembali. Sedangkan Jake yang sangat kesal itu tangannya lagi merangkul pohon Mangga. Akhirnya tarik menarik pun terjadi.


Tak lama kemudian Erra, Imam, Sam dan Nanda keluar dengan wajah yang semangat.


"Aku ingin kembali ke rumah sakit. Paman Saga menghubungi aku. Kalau Lee sudah sadar," ucap Erra dengan lemah.


Mata Garda membulat sempurna. Tak sengaja air matanya menetes karena mendengar Lee yang telah sadar.


"Apakah itu benar?" tanya Garda dengan mata berkaca-kaca.


"Itu benar," jawab Imam.


Tak sengaja Nanda melihat Jake yang sedang memeluk Pohon Mangga itu dengan berbagai pertanyaan yang aneh, "Jake!!!"


"Apa???" tanya Jake yang tubuhnya mulai bergetar.


"Apakah kamu akan memeluk terus pohon mangga itu seperti kekasihmu?" tanya Nanda.


"Aku tidak memeluk pohon tahu!" kesal Jake yang masih memeluk pohon mangga itu.

__ADS_1


"Terus apa? Apakah Feli tidak bisa menghangatkan kamu?" tanya Imam yang memukul pundak Jake.


"Bisa sih," jawab Jake. "Bisakah kalian tidak mengajak Kak Garda untuk mengeksekusi kedua orang itu?"


Erra yang kesal melihat kelakuan Jake konyol itu segera menariknya hingga terlepas dari pohon itu. Dengan tenaga yang kuat, Erra menariknya ke parkiran mobil.


Sam yang melihat Erra geram hanya bisa menghela nafasnya. Dengan cepat ia membuka pintu mobil.


Lalu Erra memasukkan Jake ke dalam mobil lalu melempar kunci mobil itu ke arah Sam, "Kamu yang menyetir!!!"


Kemudian mereka berangkat dengan iring-iringan mobil. Di dalam perjalanan, Jake baru saja sadar. Ia melihat Erra yang sedang mengecek email dari beberapa kliennya.


"Sudah sadar," ucap Erra dengan dingin.


"Kita kemana?" tanya Jake yang belum tahu akan kemana.


"Neraka," sahut Sam dengan asal.


"Ngeri bos," jawab Jake.


Sementara di rumah sakit, Lee yang berhasil melewati komanya sudah membaik. Saat Rani dan Caroline yang selesai berdoa hanya bisa menghela nafasnya. Mereka segera membersihkan tubuh Lee. Saat menyeka, tangan Lee bergerak. Matanya mulai membuka perlahan.


"Minum... Kak Erra minum....," panggil Lee dengan lirih.


Rani dan Caroline pun melihat Lee yang sudah sadar. Dengan cepat Caroline mengambil air mineral di atas nakas. Kemudian Rani membantu Lee bangun. Lee akhirnya minum air itu sedikit. Selesai minum, "Kak Erra kemana?"


"Kak Erra ada di markas," jawab Rani.


"Kenapa aku berada di sini?" tanya Lee yang masih merasakan kepalanya pusing.


Rani segera menghubungi Erra untuk segera kesini. Sementara itu ponsel Erra berbunyi di atas nakas.


"Eh... ponselnya tidak kebawa!" kesal Rani.


Selesai memakai baju, Lee memegang perutnya yang datar itu. Kedua wanita yang di hadapannya hanya bisa bersedih lalu air matanya menetes.


"Kamu harus tabah ya sayang," ucap Rani dan Caroline secara serempak.


"Ada apa Ma?" tanya Lee.


Mereka memeluk Lee sambil menangis.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Kedua pria paruh baya itu masuk dan menahan air matanya. Mereka bahagia sekaligus bersedih.


"Ma," panggil Lee dengan lirih.


"Iya sayang," sahut Caroline yang menahan air matanya tidak tumpah.


"Aku kenapa?" tanya Lee yang bingung.

__ADS_1


"Anakmu tidak bisa diselamatkan," jawab Caroline.


Air mata Lee akhirnya tumpah. Ia segera memeluk Caroline dan menangis sekencang-kencangnya. Sementara itu Rani, Bayu dan juga Andi hanya diam mematung.


Erra, Sam, Jake, Garda, Nanda dan Imam yang mendengar Lee menangis hanya bisa mematung.


"Apakah Lee sudah mendengar kalau bayinya tidak bisa diselamatkan?" tanya Jake yang menghapus air matanya.


"Bisa ya," jawab Garda yang merasakan Lee sangat sedih.


Akhirnya Erra memegang daun pintu lalu memberanikan dirinya sambil membuka pintu. Dengan langkah gontainya, Erra masuk ke dalam lalu mendekati Lee.


"Lee," panggil Erra.


Saat Lee mendengar suara Erra, ia segera melepaskan pelukannya lalu melihat wajah Erra.


Kemudian Erra segera menarik Lee dan memeluknya hingga erat. Erra pun menangis sambil mengelus punggung Lee.


"Maafkan aku kak," ucap Lee yang menyesal.


"Kamu tidak salah sayangku. Aku yang salah. Seharusnya aku yang tertembak bukan kamu," ujar Erra yang sedih.


Lee yang menahan air matanya, "Kak... anak kita!!"


"Ikhlaskan saja ya. Setelah ini kita buat lagi. Tidak usah ditangisi. Biarkan anak kita kembali ke Sang Pencipta," tutur Erra lembut.


Hari ini mereka bersyukur atas Lee yang sudah sadar. Meskipun harus kehilangan calon penerus Asco. Lee dan Erra menerimanya dengan hati yang lapang.


Siang itu rumah sakit di jaga ketat oleh para Pengawal White Eragon dan juga Black Dragon. Mereka tidak akan memberikan celah untuk para penyusup.


Sementara itu markas dijaga ketat oleh para Pengawal. Ruangan yang dibuat tempat untuk mengurung Alicia dan juga Gissel diberi kode khusus agar tidak bisa lepas. Mereka tidak memberikannya makan apalagi minum.


Fendi dan Greg berkoloborasi untuk mencari tahu Alicia bekerja dengan siapa. Hampir seminggu mereka tidak menemukannya.


"Apakah Alicia dan juga Gissel sudah mati?" tanya Fendi.


"Mereka belum mati," sahut Garda yang baru saja datang.


"Apakah kamu sudah menanyakan dengan siapa dia bekerja sama?" tanya Fendi.


"Mereka tidak bicara sedikitpun. Mereka bergeming tidak mengatakan apapun," jawab Garda.


"Kenapa Alicia membelot?" tanya Greg.


"Ini yang perlu di pertanyakan. Yang paling utama dengan siapa mereka bekerja sama?" tanya Fendi.


"Perasaanku mereka tidak pernah bekerja sama dengan organisasi bawah tanah sekalipun," jawab Greg.


"Aku yakin mereka sedang bekerja sama dengan organisasi bawah tanah yang kita enggak tahu siapa mereka. Ah... rasanya aku ingin menjadi mata-mata lagi," keluh Fendi.


LEE IS BACK!!!!!!


Terima kasih bagi para Readers yang masih menunggu kelanjutan ceritanya. Sabar ya.... Author masih sibuk di dunia nyata.

__ADS_1


Tetap semangat..


Salam dari Author 😘😘😘


__ADS_2