Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 106


__ADS_3

"Tuan Irwan menghubungi anda," jawab Suci.


"Ha! Irwan!" teriak Imam.


"Iya tuan," ucap Suci yang benar-benar terkejut.


"Bilang saja saya lagi tidur," pinta Imam yang sedang mencari alasan agar tidak terkena semprot.


Imam segera masuk ke dalam dan melanjutkan membersihkan tubuhnya. Lalu Suci melanjutkan pembicaraannya bersama Irwan di telepon.


"Tuan," panggil Suci.


"Di mana Imam?" tanya Irwan.


"Katanya lagi tidur tuan," jawab Suci.


"Apa?" teriak Irwan. "Jam segini masih tidur!"


"Iya itu benar," jawab Suci.


Seketika Irwan tersadar dari semuanya. Irwan telah mendengar suara teriakan Imam. Kalau dipikir-pikir Imam menggelengkan kepalanya sambil tersenyum smirk. Kemudian Irwan berkata, "Aku akan ke sana bersama nyonya."


"Baik tuan. Mau disiapkan apa?" tanya Suci.


"Siapkan Raka saja. Karena Raka akan kami ajak ke Surabaya. Kamu juga harus bersiap-siap," pinta Irwan.


"Baik tuan," balas Suci.


"Oh... Ya... Aku mau bicara dengan Imam boleh?" tanya Irwan.


"Boleh tuan. Sebentar saya panggilan sebentar," jawab Suci.


Suci mendekati toilet dan mengetuk pintu. Sementara itu Irwan yang masih membersihkan tubuhnya segera membuka pintu dan mengeluarkan kepalanya lagi, "Ada apa?"


"Tuan Irwan mau bicara," jawab Suci.


"Baiklah," balas Imam.


Imam membuka pintunya lalu keluar tanpa menggunakan sehelai benangpun. Imam mendekati Suci dan berkata, "Berikan ponselmu."


Tak sengaja mata Suci melihat Imam yang sedang tidak memakai baju. Suci berteriak dan melemparkan ponselnya dan keluar dari kamar. Sedangkan Imam terdiam sambil memandang Suci pergi. Tanpa merasa bersalah Imam berteriak, "Hey... Kamu sudah menjadikan Raka lahir ke dunia. Kenapa sekarang kamu takut?"


Suci yang mendengar Imam mendengar hanya bisa menggelengkan kepalanya. Suci segera membalas Imam dengan berkata balik, "Benarkah itu tuan?"


"Ya... Bukannya kamu sudah merasakan kehebatan aku?" tanya Imam.

__ADS_1


"Kehebatan apa tuan?" tanya Suci.


"Apakah kamu mau mencobanya kembali?" tanya Imam sambil tersenyum devil.


"A... A... A... Apa maksud tuan?" tanya Suci.


"Apa kamu mengerti apa maksudku?" tanya Imam balik.


"A... A... Aku enggak mengerti," jawab Suci.


"Kalau begitu mari kita bermain kuda-kudaan. Kamu akan merasakan sensasi yang sangat puas," ucap Imam.


Tak lama Suci sadar apa yang dikatakan oleh Imam. Suci menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya. Sementara Irwan yang sedari tadi menunggu sang putra bicara sangat kesal. Bagaimana tidak Irwan mendengar percakapan antara Imam dan Suci yang konyol itu. Irwan segera mematikan ponselnya dan berkata, "Untung saja lu anak gue. Coba kalau lu anak gue. Pasti gue kirim ke daerah konflik."


Imam yang sedari tadi menggoda Suci hanya bisa tersenyum. Matanya beralih ke arah Raka yang sedang tertawa lucu. Raka mengerti kalau sang papa sedang menaklukkan hati sang ibu. Imam mendekatinya dan sambil berbisik, "Apakah kamu ingin adik? Kalau kamu mau adik ayah akan membuatnya bersama ibu."


Ceklek.


Pintu terbuka.


Raka menganggukan kepalanya tanda paham. Raka memegang pipi Imam lalu menciumnya. Kemudian Imam berkata lagi, "Tapi... Bagaimana cara membuat adik? Jika ibumu tidak mau. Sepertinya ayah bingung. Apakah ayah akan mencari informasi kepada paman Sam atau paman Nanda?"


Suci menepuk jidatnya karena Imam mulai memprovokasi sang putra. Imam ingin sekali menyentuh Suci namun tidak tahu caranya bagaimana? Ingin rasanya Suci menghajar Imam. Tetapi Suci memutuskan untuk mengurungkan niatnya.


"Apakah tuan akan tetap begini?" tanya Suci yang membuang wajahnya.


Suci langsung meringis dan keluar dari kamar. Suci mengambil air dan meminumnya hingga tandas. Lalu Suci mulai menetralkan hatinya ketika berdegup kencang. Suci baru mengetahuinya kalau Imam itu konyol. Selama ini sifat konyol itu selalu disembunyikan. Imam tidak pernah memberitahukan kepada publik. Hanya segelintir oranglah yang tahu termasuk Lee dan Erra.


Sejam kemudian Imam sudah rapi memakai celana panjang dan t-shirt hitam polos yang agak ketat. Saat memakai t-shirt itu tubuh kekar Imam kelihatan seksi. Jika ada wanita yang mengetahuinya kemungkinan besar mereka terpana dan tidak berkedip sama sekali.


Suci yang sedari tadi memandang tubuh Imam yang seksi hanya bisa tertegun. Suci sangat mengagumi tubuh kekar Imam. Dalam diam Suci memuji Imam dan menginginkan lebih.


"Bagaimana ciptaan Tuhan ini bisa sangat seksi sekali. Rasanya aku ingin memilikinya," ucap Suci dalam hati.


"Apakah kamu puas memandangiku?" tanya Imam yang secara blak-blakan.


"Ah... Tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu," jawab Suci yang blak-blakan.


"Sesuatu apa?" tanya Imam yang mengerutkan keningnya.


"Aku ingin menghubungi kakak besar. Aku ingin meminta bantuan untuk mencari bapak," jawab Suci.


"Apakah kamu tidak ingin meminta bantuanku?" tanya Imam.


"Tidak perlu. Aku akan mencarinya bersama kakak besar. Siapa tahu kakak besar bisa menemukannya," jawab Suci.

__ADS_1


"Kalau begitu baiklah," balas Imam.


Imam tidak akan memaksa Suci untuk mencari bapaknya itu. Karena Imam menyadari kalau Suci memang sedari dulu sangat dekat sama Lee. Mau tidak mau Imam mengalah. Di kediaman Sebastian, Lee yang selesai makan siang berkumpul dengan Caroline. Lee memeluk sang mama dengan penuh kasih sayang. Sudah lama Lee tidak pernah memeluk sang mama seperti ini setelah menikah. Melihat Lee seperti itu, Erra tersenyum manis. Erra sangat bahagia bisa melihat keluarga Lee bisa berkumpul.


"Ma... Apakah mama tidak menyuruh kakak menikah?" tanya Lee.


"Sepertinya Garda masih menikmati kesendiriannya," jawab Caroline.


"Kasihan kakak yang sendirian," celetuk Lee.


"Kamu tenang saja. Sedari dulu Garda memang hidup sendiri bahkan lebih mandiri dariku," sahut Erra.


"Yang dikatakan oleh suamimu benar. Semenjak Garda kembali ke mansion. Garda selalu sendiri. Hingga makan pun Garda tidak pernah meminta pelayan untuk memasak. Malahan Garda memasak makanannya ketika malam," jawab Caroline yang membenarkan perkataan Erra.


"Jadi?" tanya Lee.


"Biarkan saja kakakmu mencari jodohnya sendiri," jawab Caroline.


"Rencana kamu setelah ini apa?" tanya Caroline.


"Aku berencana ingin memperkokoh enam pilar utama," jawab Erra.


"Apakah kakak akan membersihkan tubuh intern di Asco?" tanya Lee.


"Maksudnya?" tanya Erra.


"Selama aku bekerja di Asco. Aku melihat ada beberapa orang yang mencoba korupsi," jawab Lee.


"Di bagian mananya?" tanya Erra mengerutkan keningnya.


"Bagian divisi keuangan sama pemasaran. Namun aku selalu menggagalkan rencana itu dengan memakai program rahasia dari papa," jawab Lee.


"Sepertinya kamu harus menjadi asisten pribadiku lagi," celetuk Erra.


"Itu bagus. Seperti mama dulu pernah menjadi asistennya papa kamu," sahut Caroline.


"Apakah itu benar?" tanya Lee yang penasaran.


"Ya... Tapi papa kamu itu pria menyebalkan," jawab Caroline dengan jujur.


"Kok sama sih cerita mama sama aku. Kakak tampan juga nyebelin," kesal Lee.


"Bagaimana kamu bisa masuk ke Asco? Sepertinya mama curiga dengan papa kamu itu?" tanya Caroline dengan penasaran.


"Papa enggak menyuruhku masuk ke sana. Tapi aku direkomendasikan oleh Kak Sam," jawab Lee.

__ADS_1


"Bukankah kamu akan memegang Sebastian Groups saat itu?" tanya Caroline.


__ADS_2