
Jujur setengah bangga dan setengah tidak. Bangganya gadis kecilku memiliki nyali yang cukup membuat orang ketakutan. Bukan cukup tapi banyak. Tidak bangganya, aku takut nyawanya terancam bahaya.
Terkadang aku ingin melarangnya. Namun para papa melarangku terlebih dahulu. Karena para papa sengaja di belakang gadis kecilku. Dengan penuh tekad tekad para papa sengaja menyuruh gadis kecilku melawan mereka.
Seiring berjalannya waktu aku sudah biasa. Biasa menerima keadaan gadis kecilku itu. Aku baru sadar kalau gadis kecilku telah kehilangan seorang mama dan kakak laki-lakinya itu. Aku bertekad untuk membantunya dan mencari hingga ketemu.
Namun Tuhan sangat baik sekali. Ternyata kakak kandungnya adalah asistenku sendiri. Aku sempat tidak mengenalinya. Tapi melihat keakraban mereka hampir membuatku gila. Diam-diam gadis kecilku sangat akrab sekali dengannya. Hampir setiap minggu mereka berjalan bersama dan bercerita. Ingin aku menghajarnya namun tidak kulakukan. Aku tidak ingin rasa cemburuku itu diketahui oleh gadis kecilku.
POV selesai.
"Sepertinya kita sudah sampai," seru Andi.
"Kita di mana?" tanya Erra.
"Kita berada di pinggiran kota Bangkok. Lihatlah ke sampingmu. Di sana ada sebuah rumah yang bisa dikatakan kecil dari Mansion. Aku harap kalian tidak kecewa untuk tinggal sementara waktu di sana," jawab Andi.
Tak lama Lee dan Erra menoleh ke arah kiri. Sepasang suami istri itu pun memandang rumah itu. Ada senyum terbit di bibir mereka. Ternyata sang papa diam-diam memiliki rumah itu. Rumah yang tidak begitu besar ternyata sangat asri sekali. banyak pepohonan yang berada di sana membuat rumah itu menjadi dingin. Lee langsung menyetujui untuk tinggal di rumah itu. Sekalian dirinya belajar mandiri untuk menjadi orang tua mandiri tanpa bantuan siapapun.
"Aku suka sekali pa dengan rumah itu," puji Lee.
"Kalau begitu kalian tempati saja," ujar Andi.
"Bisakah kami di sini hingga aku melahirkan?" tanya Lee.
"Kamu yakin ingin tinggal di sini?" tanya Erra balik.
"Iya aku yakin. Tempatnya sangat asri sekali. Aku sangat menyukainya dan membuat hatiku teduh," jawab Lee. "Aku harap kakak tidak keberatan untuk tinggal di sini."
"Jujur tidak sama sekali. Jika kamu senang. Aku akan menurutinya. Jika kamu tidak senang. Maka aku akan membawamu pulang ke Jakarta," ucap Erra.
__ADS_1
Betapa bahagianya hati Lee. Baru kali ini dirinya menjadi egois. Pertama kali melihat rumah ini, wanita bermata indah itu pun langsung jatuh cinta. Terlebih lagi sang dokter kandungannya pun sangat memperhatikannya. Akhirnya dirinya memutuskan untuk tinggal di sini hingga melahirkan.
Bagaimana dengan para papa dan para mama? Para Mama tidak memperdulikan soal itu. Mereka ingin hidup Sang Putri menjadi bahagia. Kemudian mereka keluar dan menatap rumah itu. Rumah yang di mana membuat mereka terbius dan ingin menempatinya. Jujur Andi sangat pandai sekali mencari tempat yang teduh.
"Kalau begitu ayo kita masuk.Aku memang sengaja membeli rumah ini hanya menunggu kedatanganmu Caroline. Sebenarnya rumah ini adalah hadiah untukmu," ucap Andi yang menatap Caroline.
"Kenapa Papa nggak bilang?" tanya Lee.
"Rumah ini adalah permintaan mamamu sebelum menikah. Papa sudah berjanji untuk membelikannya. Saat Papa kehilangan mama. Diam-diam Papa membelikan rumah ini di Bangkok," jawab Andi dengan jujur hingga membuat Rani dan Bayu tersenyum bahagia.
"Syukurlah... Kalian sudah bersama. Aku tidak menyangka kalau takdir itu sangat baik sekali kepada kalian. Hampir setiap hari aku berdoa untuk kalian. Agar kalian bisa bersatu seperti kami," ucap Rani dengan tulus.
"Terima kasih banyak. Kalau begitu mari kita masuk," ajak Andi.
"Apakah Kak Garda akan ke sini?" tanya Lee.
"Mereka sudah berada di sini sdjari tadi untuk menunggu kalian. Mereka sudah tidak sabar mendengar kabar dari kalian. Sekalian mengerahkan pasukan untuk membersihkan rumah ini," jawab Andi.
"Hey... Lee," teriak imam dan Garda secara bersamaan.
Mendengar suara Garda dan Imam berteriak, Lee menoleh dan menatap mereka. Li tersenyum manis sambil melambaikan tangannya, "Kak Garda... Kak Imam... Kemarilah."
Kedua pria itu langsung mendekati Lee dan memeluknya. Mereka mengucapkan selamat atas kehamilan sang adik kecil. Jujur mereka bahagia ketika mendapatkan berita tersebut.
"Selamat ya adik kecil," ucap Imam dengan tulus.
"Selamat juga buat kakak. Sebentar lagi kakak akan menikah," jawab Lee.
"Aku cancel terlebih dahulu," bisik Imam.
__ADS_1
"Kenapa di cancel Kak? Bukankah kalian menikah bulan depan?" tanya Lee.
"Suci telah berjanji kepadaku. Ketika ingin menikah, kamu harus hadir di pernikahannya. Makanya kami sepakat untuk mengundur waktu pernikahan," jawab Imam.
"Kok begitu kak? Jadi nggak enak aku sama Suci," tanya Lee yang agak menyesal.
"Kalian selalu bersama dalam suka dan duka. Selama ini Suci telah menganggapmu seorang kakak yang hebat. Ketika aku mengatakan kalau dirimu hamil dan tidak bisa kembali dalam beberapa waktu ke depan. Suci ngambek dan meminta memundurkan waktu pernikahan," jawab Imam yang tidak tega melihat kesedihan Suci.
"Aku tidak enak sama mama Widya dan Papa Irwan. Jika kalian memundurkan waktu pernikahan. Kemungkinan besar aku bersalah dengan mama Widya," ujar Lee.
"Tidak jadi masalah itu. Justru itu, kamu mengingatkan pada persahabatan yang sangat kental sekali. Mama dan Papa tidak marah sama sekali.Kami sangat berterima kasih karena selama ini sudah menjaga Raka dan suci dari orang-orang jahat. Ditambah lagi masyarakat yang berada di kampung Suci pernah menghina habis-habisan cucu mama. Sebagai gantinya kami mengabulkan permintaan Suci agar kalian bisa hadir dalam pernikahannya," ucap Widya yang memeluk Lee sambil tersenyum manis.
"Jujur ma, aku tidak enak sama kalian. Gara-gara aku, pernikahan Kak Imam akhirnya mundur. Bagaimana jika orang-orang mencibir ketika perut Suci sudah membesar. Apalagi ditambah dengan Raka," ujar Lee.
"Tenang saja. Sebagai gantinya kami akan melakukan akad nikah terlebih dahulu. Nanti resepsinya menunggu kamu datang saja. Bagaimana menurutmu? Rencana ini sudah dipikirkan secara matang," sahut Widya sambil menepuk-nepuk punggung Lee.
"Baiklah kalau begitu. Kalau soal resepsi kami akan datang. Sekalian kami akan menetap di Jakarta hingga bayi kami lahir," balas Lee.
"Ayo kita masuk," ajak Widya sambil melepaskan Lee dan memapahnya.
Kemudian mereka masuk bersama dan melihat keadaan rumah yang sangat bersih sekali. Jujur saja di sana ada foto pernikahan Andi dan Caroline. Lee sangat bangga sekali kepada orang tuanya.
Di usianya yang memasuki setengah abad, cinta mereka semakin kuat dan tak lekang oleh waktu. Dirinya ingin memiliki cinta seperti itu hingga ajal menjemputnya.
"Kamu tahu, kenapa aku memasang foto pernikahan itu di rumah ini?" tanya Andi sambil merangkul Caroline.
"Aku tahu kamu sedang menungguku. Di penantianmu kamu selalu menyebut namaku. Meskipun jarak kita jauh, tapi hati kita selalu bersama. Maafkan aku di hari kejadian itu," ucap Caroline yang memeluk Andi.
Tidak sengaja perkataan mereka didengarkan oleh Lee. Diam-diam Lee menangis dalam hati. Begitu kuatnya cinta mereka seakan tidak bisa terpisahkan oleh siapapun. Jujur Lee sangat berterima kasih kepada Tuhan. Karena kedua orang tuanya sudah dipersatukan kembali.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak lapar sayang?" tanya Widya sambil tersenyum manis.