Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 341


__ADS_3

Mereka baru menyadari jika memiliki teman yang agak aneh seperti itu. Contohnya saja Apakah hubungannya momen indah di hotel bersama istri dan tidak. Masalahnya temannya itu akan mengingat kenangan indah di hotel dibandingkan sendiri. Memang bagus sih... Tapi temennya itu lupa akan kenangan sendiri. Begitu juga dengan sang author. Author juga kebingungan ketika membuat Joko seperti ini. Kalau begitu kita balik lagi ke cerita masing-masing.


Beberapa jam kemudian pesawat yang ditumpangi oleh enam pilar utama sudah mendarat di bandara. Mereka turun dengan elegan. Sangking elegannya mereka menjaga sikap seperti Sultan. Memakai baju bagus, jam mahal, jaket mahal dan semuanya serba mahal. Memang mereka aslinya Sultan tidak kaleng-kaleng. Akan tetapi mereka sering menutupi jati diri mereka. Yang lebih parahnya lagi mereka tidak pernah memakai baju dengan merek mahal ataupun harga selangit. Mereka sering mengambil baju yang bisa dikatakan murah meriah. Jujur mereka sangat kompak ketika memakai baju tersebut.


“Apakah kamar hotelnya sudah siap?” tanya Nanda.


“Siap kak,” jawab Lee.


“Kalau begitu ayo berangkat!” ajak Imam.


Mereka akhirnya memisahkan diri untuk sementara. Mereka berencana memesan taksi sendiri-sendiri. Sedangkan tiga pengawal itu langsung memberikan informasi kepada para petinggi White Eragon. Setelah memberikan informasi para pengawal itu pergi dari bandara. Mereka mendapatkan bonus libur selama beberapa hari di Istanbul.


Para papa sudah check in di kamar masing-masing. Mereka mengaktifkan grup pribadi yang telah dibuat oleh March. Grup pribadi itu tidak pernah dipublish atau dijual ke manapun. Mereka sengaja membuat grup itu demi memantau para musuh. Atau juga mereka sering memakai untuk memantau anak-anaknya. Setelah anak-anaknya datang, para papa memutuskan untuk beristirahat sebentar. Mereka sangat santai sekali menikmati hari ini sambil melihat pemandangan hutan.


Sesampainya di sana mereka langsung check in dan mengambil kunci masing-masing. Lee yang melihat para kakak sudah bersiap-siap di kamarnya. Lalu wanita itu hanya menggaruk-garukkan kepalanya karena tidak memiliki kamar. Ia berteriak memakai logat bahasa Jawa.


“Piye toh... Kok aku ditinggal ngene?” tanya Lee.


Garda yang mengerti logat tersebut langsung menoleh. Pria bertubuh kekar itu berteriak dengan logat yang sama. Hingga mereka berhenti dan menoleh ke arah Garda dan Lee.


“Ada apa memangnya?” tanya Imam.


“Anak orang hilang,” jawab Garda sambil menunjuk ke arah Lee.


“Nanti aku informasikan ke bagian informasi. Siapa tahu ada yang menemukannya,” ledek Nanda.


“Masalahnya bukan itu. Kalian mendapat kamar satu-satu. Aku sendiri tidak mendapatkan kamar,” kesal Lee.


Erra tersenyum iblis sambil melihat wajah sang istri yang sedang kesal. Pria itu segera mendekati Lee sambil meraih tangan mungil sang istri. Dengan jahilnya Erra berkata, “Bukankah kamu sudah mendeklarasikan bahwa malam ini akan tidur bersamaku?”


“Apakah itu benar?” tanya Lee yang pura-pura amnesia.


“Apakah kamu lupa tentang itu?” tanya Erra balik.


“Sepertinya,” jawab Lee tersenyum kocak.


Mereka menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya. Bisa-bisanya Lee lupa akan pernikahannya dengan kakak tampannya itu. Dengan terpaksa Erra membisikkan sesuatu hingga membuat Lee merinding.


“Nanti malam kamu akan terima hukumanku. Aku akan membuatmu menangis meraung-raung. Coba saja kamu panggil mereka, mereka tidak akan menyahut sama sekali. Bisa dikatakan kamu akan dapat tagihan,” ucap Erra.


“Tagihan apa?” tanya Lee.

__ADS_1


“Maksudku kamu akan meminta lagi lagi dan lagi. Aku yakin kamu akan meminta itu terus,” bisik Erra hingga membuat teman-temannya memiliki rencana jahat kepada pasangan itu.


“Gue duluan ya bro,” pamit Nanda yang mewakili mereka.


“Oke... Aku akan merayu anak kecil ini,” ucap Erra yang membuat Lee terdiam.


“Selamat tinggal,” pamit mereka serempak.


Melihat kepergian mereka Lee melambaikan tangannya. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Dengan terpaksa Lee mengikuti Erra masuk ke lift. Sebenarnya ini hanya akting saja buat Lee. Biar Lee mendapatkan perhatian dari para kakak. Berhubung mereka sudah bisa membaca keadaan, mereka akhirnya pergi tanpa Lee.


Cup.


Sebuah kecupan di pipi mengejutkan sang empunya. Matanya menyipit lalu menatap wajah sang suami. Dengan senyumannya yang manis ditambahin manja-manja sedikit, akhirnya Erra langsung membawa Lee ke dalam kamarnya.


“Apakah kamu sedang berakting?” bisik Erra dengan suara beratnya.


“Kalau aku jujur, apakah kakak marah?” tanya Lee.


“Apakah kamu nggak tahu kalau aku berada di sisimu?” tanya Erra balik.


“Mulai posesif ya?” ledek Lee yang membuat Erra salah tingkah.


“Memangnya aku salah?” tanya Erra yang membuat Lee bingung menjawabnya.


“Lalu benarnya bagaimana?” tanya Erra.


“Nanti deh aku ajari,” jawab Lee yang membuat Erra penasaran.


Erra hanya diam saja karena hatinya tertawa. Entah kenapa istri kecilnya itu selalu membuat teka-teki. Terkadang sang istri memiliki rencana yang di mana dirinya merasa keren. Bahkan sangat keren sekali.


“Perasaan lift ini tidak jalan-jalan deh?” tanya Lee sambil menatap Erra.


“aku lupa mengambil kartunya,” jawab Erra kemudian mengambil kartu di kantong jaketnya.


Lee hanya terbengong dan baru menyadari kalau kartunya itu ternyata dibawa oleh Erra. Jujur saja ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Karena gara-gara pertanyaan demi pertanyaan tadi, Erra melupakan hal ini.


“Bagaimana Kakak bisa lupa?” tanya Lee.


“Itu karena pesona kecantikanmu yang membius mataku ini,” jawab Erra sedang mencari alasan.


“Apakah itu benar?” tanya Lee.

__ADS_1


“Ya itu benar. Karena kamu sudah membuatku menjadi oleng bos,” jawab Erra yang tidak sengaja membuat istrinya tertawa lucu.


“Aku bukan sepeda. Aku juga bukan motor. Aku juga bukan kendaraan yang lainnya. Kenapa bisa oleng?” tanya Lee yang tangannya mulai memegang wajah Erra sambil menghembuskan nafasnya ke leher Erra.


“Jangan begitu,” pinta Erra.


“Kenapa?” tanya Lee yang semakin agresif saja.


“Lepaskan tanganmu segera,” pinta Erra yang menahan hasratnya untuk memakan Lee.


“Kalau aku nggak mau?” tanya Lee yang menantang.


“Nanti kamu tahu akibatnya apa?” jawab Erra dengan suara beratnya.


“Akibatnya apa?” tanya Lee yang membuat Erra mencoba menahan hasratnya.


Ting.


Pintu lift akhirnya terbuka. Dengan cepat Erra segera menarik tangan Lee pergi meninggalkan lift tersebut. Menurutnya sang istri sekarang mulai nakal dan harus diberi pelajaran.


“Kakak,” seru Lee.


“Apa?” sahut Erra dengan wajah sayu.


“Kenapa Kakak jalannya cepat sekali?” tanya Lee.


“Karena aku harus menghukummu sekarang juga,” jawab Erra sedang membuka pintu.


“Memangnya salah aku apa?” tanya Lee lagi.


“Nanti kamu akan tahu salah kamu apa?” jawab Erra yang membuat sang istri bertanya-tanya.


“Lalu, apa hukumanku?” tanya Lee.


“Lihatlah ke bawah,” suruh Erra.


“Ada apa kak?” tanya Lee yang membuat Erra harus memiliki kesabaran penuh dengan menjelaskan apa yang sedang terjadi.


“Lihatlah ke bawah!” perintah Erra.


“Baiklah,” balas Lee yang matanya melihat ke lantai.

__ADS_1


“Apakah kamu sudah melihatnya?” tanya Erra yang dari tadi belum masuk kamar.


__ADS_2