
"Pesta sudah berakhir," jawab Lee dengan mengangkat kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan Emilia? Aku dengar Emilia akan membakar markas kamu?" tanya Fendy.
"Oh… tenang saja. Markasku baik-baik saja. Yang tidak baik adalah Emilia sudah pergi ke neraka," jawab Garda.
"Maksudnya?" tanya Fendy.
"Mati," jawab Andi yang kesal dengan sang putra Garda yang telah membuat pernyataan membagongkan.
"Huaha… kalau begitu baiklah. Aku ingin memang melihatnya mati. Kamu tahu gara-gara dia bandku pernah hancur berkeping-keping," ucap Fendy.
"Apakah itu benar?" tanya Garda.
"Ya… itu benar. Dia adalah biang keladinya. Gara-gara mulut manisnya dia teman-temanku mengatakan kalau aku adalah ditaktor. Enggak pernah latihan apalagi menyapa mereka. Mereka ngamuk dan mengundurkan diri masing-masing. Setelah aku cari penyebabnya dialah yang menyebabkan perpisahan semua teman-temanku," jawab Fendy yang kesal kepada Emilia.
"Sungguh meresahkan orang gila ini," kesal Garda.
"Yang dikatakan oleh ayah benar. Aku selalu mengikuti perkembangan Bandnya ayah. Malahan aku adalah orang yang paling banyak menanamkan modalnya ke Asteria," ucap Erra.
"Berapa persen yang kamu punya?" tanya Fendy.
"Cukuplah buat Lee belanja secara gila-gilaan," jawab Erra.
"Berapa persen yang kamu punya?" tanya Fendy sekali lagi.
"Kurang lebih sembilan puluh persen," jawab Erra.
Jederrrrrrrrr.
Fendy terkejut dengan saham Erra yang berada di bandnya itu. Fendy sangat kesal kepada Erra. Bisa-bisanya Erra menjadi pemegang saham terbesar. Otomatis jika Erra bosan kemungkinan besar bisa membubarkan Asteria. Itulah Erra yang ternyata sangat licik.
"Huaha… jika kamu enggak suka berarti bisa membubarkan Asteria dalam sekejap?" tanya Fendy.
"Bisa. Detik ini pun aku bisa membubarkan Asteria," jawab Erra. "Jika aku mau."
Fendy langsung diam tanpa bicara. Seketika Fendy menatap wajah Bayu untuk meminta pertolongan. Namun Bayu hanya tersenyum melihat kelakuan putranya dan adik kembarnya itu.
"Aku harus bagaimana? Lee, bisakah kamu menolong ayah?" tanya Fendy yang memelas.
"Maaf ayah. Aku tidak bisa membantu ayah," jawab Lee.
"Baiklah kalau begitu," ucap Fendy yang memelas.
"Ayah, apakah ayah tahu keberadaan Marvin sekarang?" tanya Lee.
"Marvin?" tanya Fendy.
__ADS_1
"Iya…. Dimana Marvin berada?" tanya Lee lagi.
"Sek, kenapa kamu mau mencari Marvin?" tanya Fendy.
"Begini, Dennis sekarang berada di tanganku. Kemarin Dennis ingin memburu Lee untuk dibunuh. Sebelum terjadi masalah itu Lee memburunya. Akhirnya Dennis sekarang berada di markas besar White Eragon," jawab Bayu.
Akhirnya Bayu menceritakan secara detail apa yang telah terjadi sama Dennis dan Marvin. Fendy pun mengerti apa yang dimaksud oleh Bayu.
"Sekarang Marvin berada di Sao Paolo," ucap Fendy.
"Jauh amat. Aku sangka Marvin berada di Helsinki atau Lappajarvi," celetuk Lee.
"Tidak. Hidupnya sekarang menjadi nomaden. Dia sering berpindah-pindah karena selepas Dennis keluar dari penjara. Jika Dennis melakukan kesalahan cepat atau lambat hidupnya menjadi jaminan sang putranya itu," ucap Fendy. "Aku enggak bisa membantunya lagi."
"Sepertinya kamu sama Erra harus mencari keberadaan Marvin," celetuk Bayu.
"Ah… baiklah… aku akan berangkat malam ini," ujar Lee dengan semangat yang meninggalkan Fendy dan Bayu.
"Kenapa harus mereka berdua sih?" tanya Fendy.
"Kamu tahu kalau Lee kemana-mana. Bisa dipastikan Erra yang akan bingung dengan keberadaan sang istri," jawab Bayu.
"Cih… sekarang jadi bucin," ejek Fendy.
"Ketimbang kamu jomblo abadi," ledek Bayu.
"Syukurlah… sebentar lagi kamu enggak jadi jombloh," puji Bayu yang memukul pundak Fendy lalu pergi meninggalkan Fendy.
Fendy hanya terdiam memandang kepergian Bayu. Fendy hanya menghembuskan nafasnya secara kasar. Lalu Fendy tersenyum manis sambil membayangkan wajah perempuan yang telah menculik hatinya.
Lee masuk ke dalam ruangan khusus untuk menemui Rui dan Cathy. Lee menghempaskan bokongnya sambil memandang wajah kedua pengawalnya.
"Apakah kamu sudah mengirim mayatnya Thomassen ke Candra?" tanya Lee.
"Sudah," jawab Cathy.
"Kalau begitu besok pagi mayat itu akan datang," ucap Lee.
"Lalu bagaimana dengan kepala Emilia?" tanya Rui.
"Ah… kalau bisa kamu gelindingkan saja ke markasnya itu," jawab Lee.
Mata kedua gadis itu membulat sempurna. Kedua gadis itu paham apa yang dimaksud oleh Lee. Ternyata diam-diam Lee memiliki sifat kejam. Mereka berdua hanya bisa bergidik ngeri.
"Maaf kak… kalau yang itu tidak bisa aku lakukan," ujar Cathy.
"Kalau begitu kamu buat seperti paket saja. Kamu enggak perlu jauh-jauh kesana. Setelah itu kamu paketkan ke markas Candra," usul Lee yang membayangkan bagaimana wajah Candra kalah dari dirinya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian datang Bayu. Lalu Bayu segera mendekati Lee dan duduk di hadapannya. Namun sebelum Bayu berbicara kedua gadis itu berpamitan untuk meninggalkan mereka. Setelah mereka pergi Bayu mengeluarkan suaranya, "Lee… sebaiknya kamu pergi mencari keberadaan Marvin ke Sao Paolo. Cepat atau lambat Candra akan menemukan Marvin."
"Ada apa papa kok papa ingin sekali menyelamatkan Marvin?" tanya Lee.
"Aku sudah menukar sesuatu dengan Dennis. Dennis mengetahui tujuh lahan yang ditanami sebagai bahan dasar obat-obatan terlarang. Jika Marvin ditemukan otomatis Dennis akan membuka suaranya," jawab Bayu.
"Kalau enggak?" tanya Lee.
"Aku akan menukar nyawanya. Jika dia berbohong otomatis dia akan mati di tanganku," jawab Bayu.
"Kalau begitu baiklah. Aku setuju," ucap Lee.
"Apakah kamu keberatan?" tanya Bayu.
"Tidak papa," jawab Bayu. "Apakah markas utama aman?"
"Sangat aman. Para papa dan lainnya sedang berjaga di sana. Aku berikan waktu selama tiga hari untuk mencari keberadaan Marvin!" perintah Bayu.
"Aku akan mengajak timku," ujar Lee.
"Enggak usah mengajak tim. Aku sudah memutuskan kamu akan berdua bersama Erra," sahut Bayu.
Glodaaakkkkk.
Lee tidak bisa berkata apa-apa ketika partnernya adalah Erra. Lee hanya menunduk lesu. Apakah Lee takut sama Erra? Ya… Lee sangat takut sama Erra jika berpartner bersama. Namun Bayu paham apa yang ada dalam pikiran Lee.
"Apakah kamu takut sama Erra?" tanya Lee.
"Tidak. Aku tidak takut," jawab Lee dengan ragu.
"Kamu tahu kenapa papa memberikan partner Erra?" tanya Bayu.
"Tidak tahu," jawab Lee dengan wajah pucat.
Bayu tersenyum melihat menantunya ketakutan. Bayu ingin Lee belajar lebih dalam lagi soal dunia bawah tanah. Karena Bayu melihat potensi mereka berdua jika digabungkan bisa menjadi besar. Bisa jadi kekuatan mereka membuat musuh ketakutan.
"Kamu tahu kenapa harus bersama Erra?" tanya Bayu.
Lee menggeleng kepalanya dengan cepat, "Aku tidak tahu papa."
"Kamu dan Erra seperti yin yang. Jika digabungkan kalian akan menjadi kuat," ucap Bayu.
"Aku tidak mau papa. Posisi yang pantas di samping kak Erra adalah Kak Garda. Aku sangat nyaman berada di tim khusus," ujar Lee.
"Papa tahu itu. Papa tidak akan menggeser posisi Garda. Tapi sebaiknya kamu harus mengerti posisi yang sebenarnya," desak Bayu.
"Apa maksudnya?" tanya Lee yang tidak paham maksud Bayu.
__ADS_1