
Nanda membulatkan matanya sambil bertanya, "Ada apa pa?"
"Bawa senjata laras panjangmu itu!" titah Bayu.
Nanda masuk ke dalam dan menuju ke ruangan bawah tanah untuk mengambil senjata. Sedangkan Andi sudah bersiap-siap melacak keberadaan Lee. Setelah itu Nanda kembali dengan membawa senjata laras panjangnya.
"Kenapa tiba-tiba papa mengajakku serta membawa senjata Laras panjang?" tanya Nanda.
"Lee dalam bahaya!" titah Bayu.
Nanda dengan cepat masuk ke dalam. Lalu Bayu dan Andi segera masuk ke dalam. Bayu menyalakan mobilnya lalu menancapkan gasnya. Andi yang menemukan titik koordinat Lee berada meminta Bayu bergegas menyusulnya.
Lee yang berada di dalam mobil sungguh terkejut. Lee melihat ke belakang lalu matanya membelalak sempurna. Ada banyak mobil Van hitam yang sedang berjejer memblokade jalan. Matanya menuju ke depan dan meminta Gilmore mencari alternatif lain. Gilmore pun akhirnya menyetujui permintaan Lee. Kemudian Gilmore segera mencari jalan alternatif tersebut.
Beberapa menita kemudian Gilmore berbelok ke jalanan sepi. Lee membalikkan badannya dan melihat mobil itu mengikutinya. Sementara itu Erra sedang mengecek perusahaan tetap tenang. Erra tahu kalau dirinya diikuti oleh mereka. Namun Erra tidak bicara apapun kepada Christian karena tidak mau membuatnya panik.
Saat ingin mengeluarkan suaranya Erra menendang Lee sambil memberi kode untuk tutup mulut. Erra tidak mau melihat Gilmore panik. Lee akhirnya memutuskan untuk menutup mulutnya. Saat Lee tenang, Erra menulis sebuah pesan singkat untuk Lee. Isi pesan itu adalah jangan buat panik Paman Gilmore. Karena paman Gilmore bukan kamu yang pandai menyetir mobil secara gila-gilaan. Apakah kamu paham?
Lee akhirnya paham apa yang dikatakan oleh Erra. Namun tidak sengaja Gilmore menatap kaca spion dan melihat beberapa mobil yang mengikutinya. Matanya membulat sempurna dan mulai menancapkan gasnya dengan berkecepatan tinggi.
"Christian sialan!" maki Gilmore. "Kenapa kamu tidak bilang kalau ada banyak mobil mengikuti mereka!"
Christian terkekeh sambil membuka dashbord. Christian mengambil dua senjata api jenis Glock. Lalu Christian melemparkan ke arah Lee dan Erra yang sedari tadi diam saja. Memang Christian sengaja menjebak partnernya itu.
"Makanya jangan terlalu santai kalau menyetir. Lihatlah ke belakang ke samping kanan dan kiri," ujar Christian dengan diiringi gelak tawa.
"Untung saja kamu adalah atasanku bukan tahananku. Aku akan menghajarmu sedari tadi," kesal Gilmore.
"Sudahlah jangan kesal," sahut Christian.
Lee dan Erra menatap kedua paruh baya sangat kesal. Dari tadi mereka hanya diam hanya untuk menenangkan Gilmore.
__ADS_1
"Kalian ini malah bercanda. Bisakah kalian serius ketika musuh mengejar kami?" tanya Erra dingin.
Keadaan di dalam mobil yang sedari hangat berubah menjadi dingin. Christian hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Aura Christian yang sedari tadi berhamburan menjadi lenyap. Seketika aura pembunuh dari Erra langsung menguasai keadaan itu.
"Kamu memberikan aku pistol yang tidak ada pelurunya! Ha!" bentak Erra.
"Apakah itu benar?" tanya Christian.
"Ya itu benar," jawab Erra dengan nada datar namun mematikan. "Apakah kalian mencoba membodohi kami seperti kalian membodohi bocah kecil!"
Erra benar-benar marah pada keadaan. Entah kenapa dirinya merasa dipermainkan oleh kedua pria paruh baya itu. Disaat genting ini mereka tertawa terbahak-bahak.
"Maaf, aku tidak tahu kalau pistol itu tidak ada isinya," ucap Christian yang baru saja ingat kalau pistolnya tidak ada isinya.
"Paman," panggil Lee.
"Iya," sahut Christian.
"Berikan pistolmu sekarang juga!" titah Lee dengan nada dingin.
"Apakah pistol itu ada isinya?" tanya Lee.
"Hey... Kamu meremehkan aku ya! Cek sendiri sana!" kesal Christian dengan wajah cemberut.
Lee mengambil pistol itu dan memeriksa isinya. Dengan senyum mengembang Lee melirik Erra yang jengah. Lee mengecup pipi sang suami untuk meredakan emosinya. Sesaat Lee melihat ke belakang sambil memperhatikan mobil Van hitam itu masih mengikutinya. Rasanya ingin sekali Lee melemparkan bom.
"Apakah kakak membawa bom?" tanya Lee dengan serius.
"Bukannya kamu lihat tadi aku membawa ponsel saja. Pistolpun aku tidak membawanya. Aku sungguh sial hari ini tidak membawa apa-apa," jawab Erra dengan kesal.
"Paman Gilmore," panggil Lee.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Gilmore.
"Hentikan mobilnya! Kita akan bertaring dengan tangan kosong!" titah Lee.
"Bertarung! Bukan bertaring! Kamu itu selalu saja tidak bisa membedakan dua suku kata itu. Ah... Setelah pertempuran ini aku akan menghukummu," gerutu Erra.
"Paman! Hentikan mobilnya atau kita terjebak masuk ke dalam hutan!" kesal Lee.
Mau tidak mau Gilmore mengalah dengan menghentikan mobilnya. Lee segera keluar dan melihat beberapa mobil Van hitam berada di depannya. Lee hanya menghembuskan nafasnya secara kasar dan mengepalkan kedua tangannya.
"Apakah kamu yakin dengan mereka?" tanya Erra.
"Ah... Enggak. Aku enggak yakin. Mereka adalah orang brengsek yang berani mengeroyok perempuan," jawab Lee dengan tertawa renyah.
Erra memutar bola matanya dengan malas. Rasanya ingin sekali Erra menggendong Lee seperti karung beras dan membawanya pergi dari sini. Namun Lee malah senang menghadapi mereka.
"Kakak, mundurkan! Aku yang akan melawan mereka dengan tangan kosong," usir Lee sambil mengibaskan tangannya ke arah Erra.
Terpaksa Erra mundur dari Lee. Lee tersenyum bahagia sambil menunjuk orang-orang bertubuh kekar di depannya. Lee tidak gentar dan langsung mendekatinya dengan elegan. Sedangkan mereka hanya bisa menelan salivanya. Mereka tidak menyangka kalau orang yang dihadapinya adalah singa betina yang terkenal dengan jurus mautnya itu.
"Apakah kalian akan diam saja melihat musuhmu mendekat!" seru Lee.
Dengan gugup mereka akhirnya menganggukan kepalanya. Mereka akhirnya menyerang Lee secara berbarengan. Lee hanya memutar bolanya dengan malas lalu menunggunya menyerang. Mereka segera melingkari Lee agar tidak kabur.
"Gimana gue kabur! Kalau mereka masih hidup begini. Asal kalian tahu saja aku tidak pernah kabur sebelum membunuh kalian!" kesal Lee yang masih menunggu mereka menyerang.
Lee terdiam dan melihat semua orang-orang yang mengelilinginya. Lee bisa secsrs langsung menilai kelemahan dan kelebihan secara bersamaan. Lee juga membaca kapan waktunya menyerang dari sudut mana.
"Apakah kalian tidak capek mengelilingi aku seperti ini? Aku bukan tuan putri dari kerajaan manapun. Aku adalah wanita biasa yang sedang memiliki mood yang tak lama lagi hancur gara-gara kalian. Kalau kalian menyerangku maka seranglah! Jika tidak aku akan pergi dari sini!" ketus Lee dengan penuh amarah.
Tak lama ada seseorang yang memakai baju seragam kepolisian mengurai mereka agar tidak melingkari Lee. Mereka menuruti apa kata orang itu dan segera menyingkir. Orang itu akhirnya mendekati Lee sambil bertanya, "Apa kabar singa betina?"
__ADS_1
Lee hanya bisa menghembuskan nafasnya ketika melihat pria bertubuh kekar berisi. Lee sangat jengah melihat pria itu sambil meledek, "Cih... Pakai nanya kabar segala! Memangnya kita adalah teman lama?"
"Oh ya... Kita kan teman lama," jawab pria itu. "Apakah kamu masih ingat kapan kita terakhir tidur di ranjang yang sama?"