Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 261


__ADS_3

"Iya... aku akan mencintai mereka dari pohon. Kakak tahukan kalau aku suka naik pohon ketika aku masih kecil bersama kakak?" tanya Lee yang menarik Garda.


"Kakak yang mana ini?" tanya Garda yang tersenyum karena sang adik tidak melupakannya.


"Ya... Kakak Garda,'' jawab Lee yang berhenti. "Memangnya kakak siapa?"


"Erra,'' jawab Garda yang membuat Lee tersipu malu.


"Setahu aku Kak Erra tidak bisa naik pohon,'' ucap Lee yang mengetahui kelemahan Erra.


"Sebenarnya dia bisa naik pohon jika kepepet. Kalau enggak kepepet Erra tidak bisa melakukannya,'' ucap Garda.


"Aish... kok kepepet begitu sih,'' kesal Lee yang bingung dengan Erra.


"Ngapain juga kamu bahwa Erra! Kamu tahukan kalau aku sangat rindu pada momen-momen berduaan seperti ini! Aku adalah kakakmu,'' rajuk Garda yang membuat Lee tertawa terbahak-bahak.


Entah kenapa Garda sangat lucu sekali ketika merajuk. Baru kali ini Lee mendapat hiburan dari sang kakak. Memang kalau dipikir-pikir kalau Garda sangat merindukan sang adik. Bahkan ingin jalan-jalan berdua Garda harus meminta izin terlebih dahulu. Itupun kalau Erra memberikan waktu. Kalau tidak memberikan waktu, Garda akan gigit jari.


Setelah keluar dari markas, Garda mencari sebuah pohon yang besar. Lalu matanya menemukan sebuah rumah pohon yang sengaja di bangun oleh salah satu petinggi White Eragon. Garda langsung menunjuk ke rumah pohon itu sambil memanggil Lee, "Lee!"


Lee menoleh ke arah Garda sambil menatap wajah sang kakak melihat ke atas. Lee juga melihat ke atas lalu menemukan sebuah rumah pohon. Dengan senyuman yang merekah Lee menganggukan kepalanya lalu naik ke pohon.


Erra yang masih tidur membuka perlahan kedua matanya. Erra meraba sebelahnya yang ternyata kosong. Ia lalu bangun dan menuju ke toilet.


"Lee,'' panggil Erra yang membuka pintu sambil mencari keberadaan Lee.


Namun Erra tidak menemukan Lee di dalam sana. Erra mulai panik dan keluar dar kamar tanpa memakai baju. Erra berlarian mencari keberadaan Lee di ruangan khusus. Akan tetapi Erra tidak menemukan Lee melainkan bertemu dengan Andi sedang menikmati kopi. Akhirnya ia memutuskan masuk dan mendekati Andi.


"Pa,'' panggil Erra yang masih panik.


"Ada apa?" tanya Andi yang memegang gelas.


"Papa tahu enggak di mana istriku berada?'' tanya Erra.


"Ya... mana aku tahu,'' jawab Andi dengan santai. "Memangnya kamu punya istri?'

__ADS_1


"Lha, papa ini gimana? Bukankah anak papa yang perempuan itu istriku?'' tanya Andi yang menaruh kopinya.


"Aku sangka anak pertamaku,'' celetuk Andi yang menahan ketawa karena melihat wajah Erra yang mulai panik.


"Memangnya aku pria belok apa!" kesal Erra yang keluar dari ruangan khusus itu sambil membanting pintu.


Blom!


Andi langsung meledakkan tawanya karena Erra yang telah kehilangan istrinya. Pagi ini memang pagi yang lucu. Jujur saja Andi tidak sengaja mengerjai Erra dan menurutnya itu sangat lucu sekali. Kemudian Andi berpikir kenapa juga tidak mengerjai sang nanti yang terlalu posesif itu. Bisa jadi Andi tertawa terbahak-bahak.


Beberapa saat kemudian datang Bayu yang sedang membawa pistol. Bayu menghempaskan bokongnya sambil melihat Andi yang masih tertawa. Ia pun bingung dengan Andi yang tertawa terbahak-bahak pagi ini.


"Kenapa kamu tertawa terbahak-bahak pagi ini?'' tanya Bayu.


"Kamu tahukan kalau Erra mengaku telah kehilangan istri,'' jawab Andi.


Mata Bayu melotot sempurna karena jawaban Andi. Dirinya baru mengetahui kalau sang putra telah kehilangan istri kecilnya itu. Setelah itu Bayu meledakkan tawanya hingga membuat Andi menggelengkan kepalanya.


"Aku baru tahu kalau Erra bisa kehilangan istri,'' celetuk Bayu. "Memangnya kemana Lee?"


"Aku tidak tahu. Tadi aku lihat Lee membawa teropong dan pistol. Entah buat apa katanya,'' jawab Andi.


"Dimana Lee mengintai para musuh?'' tanya Andi yang mengerutkan keningnya.


"Di atas pohon,'' jawab Bayu. "Apakah kamu lupa pernah membangun sebuah rumah di atas pohon?"


Andi menatap wajah Bayu seakan meminta penjelasan. Andi menggelengkan kepalanya sambil menjawab, "Aku tidak pernah membangun rumah di atas pohon."


"Lalu, siapa yang membangun rumah di atas pohon?'' tanya Bayu.


"Kemungkinan besar March atau Irwan yang membangun rumah itu. Mereka kan suka banget mengintai musuh kalau lagi,'' jawab Andi yang memainkan ponselnya.


"Ya... kamu benar,'' balas Bayu.


Sementara Lee dan Garda yang sudah di atas pohon sedang mengintai musuh. Mereka dengan serius melihat gerak-gerik musuh. Akan tetapi Lee tidak sengaja melihat Erra yang sedang membawa pedang. Tak sengaja Lee merasakan ada aura pembunuh.

__ADS_1


"Kak,'' panggil Lee sambil mengejutkan Garda.


"Ada apa?" tanya Garda yang terkejut.


"Tuh lihat,'' tunjuk Lee ke bawah.


Garda menunduk ke bawah sambil menatap Erra. Garda hanya bisa memegang perutnya sambil menahan tawanya. Kemudian Garda membisiki Lee, "Kamu tahu kalau Erra sedang kehilangan kamu.''


"OMG... baru kali ini Kak Erra mengeluarkan aura pembunuh,'' ucap Lee dengan lirih. "Aku harus turun ke bawah!"


"Ngapain juga kamu turun ke bawah?'' tanya Garda.


"Aku harus menjinakkan Kak Erra. Jika Kak Erra seperti itu kemungkinan besar akan terjadi korban'' jawab Lee yang mulai turun ke bawah.


"DASAR BUCIN!" geram Garda.


Erra yang masih berdiri tegak sambil membawa pedang mencari keberadaan sang istri kecilnya itu. Erra abu kalau istrinya itu sedang diculik oleh musuh. Tapi apakah Erra sadar kalau sang istri sedang mengintai para musuh di atas pohon. Jawabannya adalah tidak tahu.


Tiba-tiba saja Erra melihat kedatangan Lee yang turun dari pohon. Lee mendekati Erra ambil memeluk tubuh sang suami sambil mengendusnya, "Meskipun kakak belum mandi. Aku sangat menyukai aroma tubuh kakak yang maskulin.


Glek.


Erra baru sadar kalau sang istri tia-tiba saja hadir di dalam pelukannya. Erra mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Dari mana kamu?"


"Ah... Iya... aku sudah bangun sebelum subuh tiba. Aku langsung pergi olahraga. Kemudian aku melihat ada seseorang yang berseliweran di sekitar markas. Lalu aku memutuskan untuk mengintai musuh di atas pohon itu bersama Kak Garda,'' tunjuk Lee yang mengarahkan tangannya ke arah rumah pohon itu.


"Oh... Syukurlah. Untung kamu tidak diculik,'' ucap Erra dengan penuh rasa syukur.


"Sepertinya kakak ketakutan?'' tanya Lee.


"Itu benar. Kakak takut jika kamu diculik oleh mereka,'' celetuk Erra.


"Mereka belum tahu siapa aku. Mereka akan rugi jika menculikku. Kakak tahu enggak kalau itu makannya yang banyak dan menghabiskan uang,'' celetuk Lee yang mencium pipi Erra yang sudah melenyapkan aura pembunuhnya.


"Kemungkinan besar mereka akan bangkrut dan menangis,'' sahut Erra yang menyungginkan senyumnya.

__ADS_1


"Untung saja kakak tidak bangkrut karena porsi makanku yang banyak,'' ucap Lee.


"Apakah kamu masih mengintai mereka?" tanya Erra.


__ADS_2