
"Ada orang yang ingin membakar tempat ini. Namanya Emilia. Emilia adalah kakak kembarnya Alicia. Emilia ingin memancing kamu keluar. Jika kita tidak bergerak cepat banyak para pengawalmu yang akan menjadi korban. Dan itu sangat disayangkan," jawab Nanda.
"Kalau begitu baiklah," ucap Lee.
"Kapan kita akan bergerak?" tanya Erra.
"Malam ini," jawab Nanda.
"Apakah kita akan menangkap Emilia?" tanya Lee yang meraih coklatnya.
"Tidak. Aku tidak akan menangkap Emilia," jawab Nanda yang tersenyum devil.
"Jika kakak enggak menangkap Emilia. Otomatis Emilia akan membuat onar," ucap Lee.
"Aku tidak akan menangkap Emilia. Aku ingin menangkap Thomassen,' ujar Nanda dengan semangat.
"Kenapa harus Thomassen? Bukannya Emilia yang kita tangkap?" tanya Lee yang mengerutkan keningnya bingung.
"Sepertinya aku mengenal Thomassen," ucap Erra.
"Dia adalah kaki tangan Candra yang diutus untuk membunuh kamu," ujar Nanda.
"Oh… baguslah. Aku ingin menangkap orang itu dan mempersembahkan kepada para pengawalku," sahut Lee yang bersemangat.
"Kamu berbicara apa?" tanya Erra.
"Aku ingin melihat mereka menghabisi nyawa Thomassen dengan cara diperk*sa," jawab Lee.
Glek.
Wajah Erra berubah menjadi pucat. Erra mulai bergidik ngeri membayangkan kejadian itu. Lee dan Nanda hanya tersenyum smirk bebarengan.
"Sebentar kak, kenapa kita enggak menangkap Emilia? Kenapa kita menangkap Thomassen?" tanya Lee.
"Kamu tahu kenapa kita menangkap Thomassen? Karena Thomassen adalah orang yang disuruh Emilia membakar markas ini. Jika kita menangkap Thomassen bisa dipastikan menang banyak. Kita bisa mengurangi kaki tangan Candra sebanyak satu orang. Jika Candra kehilangan salah satu orang terbaiknya bisa dipastikan Candra hancur perlahan," jawab Nanda.
__ADS_1
"Yang dimaksud oleh Nanda benar. Teknik ini selalu digunakan untuk menghabisi lawan di Black Dragon. Kita tidak bisa menyentuh Candra sedikitpun. Namun kalau kita bisa menghancurkan satu persatu kaki tangan Candra. Setelah itu kita bisa menyentuhnya," tambah Erra.
Lee mulai mencerna apa yang dikatakan oleh Erra. Lee menganggukan kepalanya dan menyetujuinya. Lee akan mengaktifkan kembali grup Fury Of The Storm. Yang dimana grup ini sangat ditakuti oleh musuh.
"Kalau begitu baiklah. Aku akan mengaktifkan kembali Fury Of The Storm," ucap Lee.
"Panggil semua orang terbaik kamu! Karena malam ini akan ada tugas!" perintah Nanda.
Lee segera mengaktifkan sinyal Fury Of The Storm. Lee pergi ke ruangan khusus sambil menunggu mereka. Sedangkan Nanda melacak di mana markas Thomassen itu. Setelah menemukan Nanda menyusul Lee.
Beberapa menit kemudian Lee mengambil spidol. Lalu melihat wajah para pengawalnya yang fresh. Nanda segera meraih spidol di tangan Lee kemudian menggambar sebuah tempat. Setelah selesai menggambar Nanda menjelaskan semuanya apa maksud dan tujuannya berkumpul.
Sedangkan Erra hanya bisa menelan salivanya berkali-kali. Erra masih bergidik ngeri ketika mengetahui ide milik sang istri yang bisa dikatakan sadis. Tak lama Sam mendekati Erra sambil memukul pundaknya itu. Sehingga Erra hampir berjingkat kaget.
"Ada apa dengan kamu?" tanya Sam.
"Apakah Lee kalau sedang bertugas itu mengerikan?" tanya Erra yang memandang wajah Sam untuk memintanya berkata jujur.
"Ya… Lee sangat mengerikan. Kamu tahu jiwa yang dibawa itu siapa? Jiwa mama Caroline dan papa Andi jika dijadikan satu," jawab Sam.
"Sama sadisnya. Bedanya Lee bukan psikopat. Dia akan membunuh lawannya sekali saja. Kalau Garda akan dimutilasi habis-habisan," jawab Sam.
"Fiuh… melihat aksi Garda sangat mengerikan," ujar Erra.
"Garda itu mirip papa Andi. Wajahnya saja baby face. Namun memiliki sifat psikopat," jelas Sam yang mencari keberadaan Lee. "Kemana Lee?"
"Ada. Lagi bersama Nanda sedang berdiskusi. Nanti malam akan beraksi," jawab Erra.
Tak selang berapa lama Nanda dan Lee keluar. Mereka menuju ke Erra dan tersenyum smirk.
"Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Sam.
"Aku akan menangkap Thomassen malam ini," jawab Lee yang secara terang-terangan.
"Apa itu benar?" tanya Sam yang terkejut.
__ADS_1
"Ya… itu benar. Aku memang ingin menangkapnya," jawab Lee.
Keringat dingin mengucur keras di tubuh Sam. Sam sangat terkejut sekali mendengar Thomassen. Sam langsung memijit pelipisnya dan tidak bisa membayangkan apa yang terjadi.
"Jika kamu menangkapnya, bagaimana Candra akan menyerang kita?" tanya Sam.
"Justru itu yang akan menjadi kelemahannya. Aku memang sengaja menghabisi kaki tangan Candra satu persatu," jawab Nanda.
"Kapan itu?" tanya Sam.
"Malam ini kita laksanakan," jawab Nanda. "Siapkan pasukan Raining Blood untuk mengawal mereka! Setelah terjadi penangkapan terhadap Thomassen. Aku pastikan markas kedua Candra terbakar hangus!"
Sam juga bersiap-siap untuk menyiapkan pasukan terbaiknya untuk mengawal para gadis yang akan melaksanakan tugasnya itu.
Malam pun tiba. Mereka akhirnya pergi ke suatu hutan yang belum pernah dijamah oleh banyaknya manusia. Di hutan sana banyak sekali binatang buasnya. Mereka sudah terbiasa untuk keluar masuk hutan. Beruntung sekali Bayu mendirikan markas mereka tidak di dalam hutan. Melainkan di pinggiran kota.
Sejam berlalu akhirnya mereka sampai di markas musuh. Lee melihat banyaknya para pengawal yang sedang berjaga. Lee membagi menjadi dua para pengawalnya. Yang pengawal satu segera mengepung markas itu. Yang satunya lagi mereka langsung menyerang musuh secara diam-diam.
Dengan lengkap senyapnya Lee beberapa wanita tangguh lainnya segera masuk untuk menghabisi mereka satu persatu tanpa ada bersuara. Lee yang paling cepat mendekati mereka dan langsung menembak dengan peredam suara. Setelah itu Lee masuk ke dalam untuk mencari keberadaan Thomassen. Lee segera membagi mereka menjadi beberapa bagian. Lee akan bersama Cecilia pergi ke atas. Namun di atas Lee melihat beberapa pengawal tersebut sedang berjaga. Mau tidak mau Lee menghabisi mereka dengan cara menembaknya tepat terkena jantung hanya memakai kecepatan detik. Cecilia tersenyum puas melihat aksi sang kakak besar.
"Ayo… kita kesana terlebih dahulu!" ajak Lee dengan pelan sambil menunjuk ruangan yang tepat berada di depannya itu sambil mendekatinya.
Cecilia menganggukkan kepalanya dan mengikuti Lee. Tak lama ada suara sialan yang berada di dalam kamar itu hingga terdengar ke luar. Lee dan Cecilia bergidik ngeri.
"Apakah kita akan menangkap basah mereka?" tanya Cecilia.
"Ya… aku ingin memastikan kalau itu Thomassen," jawab Lee sambil mengambil jepit rambutnya.
Lee mulai berkonsentrasi mengotak-atik lubang kunci itu. Lee sempat terkejut karena melihat lubang itu. Kenapa mereka tidak memakai peredam suara ya? Apalagi tempat ini adalah markas. Yang dimana harus dilapisi keamanan ganda yang berlapis-lapis. Ah… ini sangat aneh sekali. Apakah Candra orang miskin? Rasanya Lee tidak perlu mencari sumber informasi tentang kekayaan Candra.
Setelah berhasil membuka pintu itu mereka akhirnya masuk. Mereka terkejut melihat dua orang yang sedang bergumul panas. Lee langsung menepuk jidatnya dan membiarkan mereka melakukan pelepasan. Lee menarik Cecilia keluar sambil menghela nafasnya.
"Rasanya orang itu sangat mengerikan!" ucap Lee yang menghapus keringat di wajahnya.
"Kenapa kita keluar kak?" tanya Cecilia.
__ADS_1