
Bayu menggelengkan kepalanya sambil melihat sorot mata Lee yang tajam. Bayu melarang mereka untuk tidak ikut-ikutan. Akhirnya mereka menganggukan kepalanya tanda paham. Tak lama Lee menatap wajah Bayu untuk menyetujui permintaan mengeluarkan pasukan khusus.
"Pa, apakah aku boleh meminta pasukan khusus keluar dari kandang?" tanya Lee.
"Apakah kamu enggak ngajak kakakmu?" tanya Garda.
"Nope!" jawab Lee.
"Ajaklah... Salah satu dari mereka buat tambahan untuk menghancurkan musuh," pinta Bayu.
"Baiklah. Aku akan mengajak Kak Garda. Aku ingin berduet dengan kak Garda," ucap Lee.
"Aku siap," balas Garda.
"Hey... Kenapa kamu tidak mengajakku?" tanya Erra.
Lee menggelengkan kepalanya sambil meminta maaf. Lalu Erra hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Sebelum Erra mengucapkan kata-katanya, Garda menatap Erra dengan memberi kode. Kemudian Erra menganggukan kepalanya.
"Kak... Ayo kita berangkat ke markas!" ajak Lee.
Tanpa menjawab Garda menarik tangan Lee. Mereka akhirnya pergi meninggalkan mereka yang masih diam di tempat. Tak lama Nanda menepuk Erra dan berkata, "Tenang saja. Lee tidak apa-apa."
"Kenapa istriku tidak memilihku?" tanya Erra.
"Aku tidak tahu," jawab Nanda.
Mereka terdiam dan mencari jawabannya. Erra hanya tersenyum smirk dan pergi dari hadapan mereka. Sesampainya di markas Lee meminta Angela untuk mempersiapkan dirinya. Lalu Angela mengumpulkan semua orang yang berada di sana.
Garda yang melihat anggota khusus milik Lee terpesona. Bagaimana tidak mereka adalah perempuan-perempuan yang tangguh bahkan hebat. Garda sengaja memuji kehebatan mereka. Di tangan mereka musuh bisa dibumihanguskan menjadi abu.
Dahulu Garda sering mendengar pasukan khusus milik Lee. Garda juga sering mendengar kalau pasukan khusus milik Lee sangat beringas bahkan mematikan. Garda sangat penasaran terhadap mereka dan mencari markasnya. Namun karena pekerjaannya yang banyak Garda mengurungkan niatnya.
"Kemana Suci?" tanya Lee.
"Suci pergi ke Surabaya bersama Tuan Imam dan Tuan Irwan," jawab Angela.
Lee tersenyum dan mengucapkan rasa syukur. Karena Suci mau menerima Imam. Lalu Angela mengatakan kalau Suci akan segera menikah. Sontak saja Lee terkejut dan tersenyum. Lee sangat bahagia mendengar kabar ini.
__ADS_1
"Ayo... Semuanya berkumpul di sini. Jangan ada yang ribut dan berisik!" teriak Lee dengan lantang.
Mereka yang sedari tadi ribut langsung terdiam. Mereka akhirnya menatap Lee dan menajamksn telinganya masing-masing. Setelah semuanya diam tanpa suara Lee berkata, "Misi kali ini adalah menghancurkan markas musuh."
"Kakak... Ada apa?" tanya Rina.
"Ada penyusup di mansion Sebastian. Penyusup itu menghubungi seseorang untuk menyerang. Ketika menangkapnya musuh itu sudah mati dan mulutnya mengeluarkan busa," jawab Lee.
"Apakah musuh itu meminum racun?" tanya Feli.
"Bisa jadi," jawab Lee.
"Itu lagu lama kak," ucap Villa.
"Ya kamu benar. Kalau udah ketahuan langsung meminum racun," ujar Lee.
Garda sungguh terkejut dengan Lee yang ramah dengan para pengawalnya. Garda sangat bangga kepada adik kecilnya itu. Bahkan Lee tidak menunjukkan sosok pemimpin yang galak dan ketus.
"Sebelum kita menyerang musuh ada kalanya kita berkoloborasi dengan Kak Garda dan pasukannya," ucap Lee.
Mereka sungguh terkejut melihat Garda yang masih setia berdiri di samping Lee. Mata seluruh perempuan itu tertuju memandang wajah Garda dan sangat tersepona... Eh.... Salah terpesona. Mereka menelan salivanya dengan susah payah dan mengatakan secara serempak kalau Garda sangat tampan sekali.
Mereka masuk dan memakai baju serba hitam. Mereka mempunyai badan kekar dan tinggi. Hingga membuat seluruh pasukan khusus milik lee terkesima. Sebelum acara perkenalan lebih lanjut Lee memotong waktu dan membicarakan strategi untuk nanti malam. Mereka paham dan menganggukkan kepalanya. Sedangkan Garda sangat mengagumi adik kecilnya itu. Jadi karena kecerdasannya dan juga kelicikannya Lee didaulat sebagai ketua pasukan khusus.
Memang Lee memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Bisa mengatur strategi perang dalam waktu singkat. Bahkan Lee sering membantu Bayu jika sudah kepepet. Saat itu juga Lee masuk ke daerah musuh dan menghajarnya.
Di tempat lain Irwan bersama Widya telah sampai ke apartemen Imam. Mereka masuk dan melihat Raka yang tersenyum manis. Sebelum menggendong Raka ponsel Irwan berdering. Irwan segera mengangkatnya dan menyapa orang yang berada di sana.
"Hallo," sapa Irwan.
"Kumpul sekarang juga! Mansion Sebastian telah diserang oleh orang yang tidak dikenal!" titah Bayu.
"Apa!" pekik Irwan.
Sambungan terputus.
"Ada apa pa?" tanya Imam.
__ADS_1
"Kita kumpul di markas. Mansion Sebastian sudah diserang," jawab Irwan.
Sontak saja mereka terkejut dan tidak bisa membayangkan apa yang telah terjadi. Mau tidak mau Irwan membatalkan rencana perjalanannya ke Surabaya saat ini juga.
"Maaf aku mendadak membatalkan perjalanan ini. Kami harus berkumpul," ucap Imam.
"Tak apa," sahut Widya.
"Apakah kakak besar akan menyerang musuh?" tanya Suci.
"Ayo kita ke markas!" ajak Imam.
Mereka menganggukan kepalanya dan menyetujui permintaan mereka. Akhirnya mereka pergi ke markas. Sedangkan yang lainnya sudah meluncur ke markas dan menyiapkan dirinya untuk berjaga-jaga.
Lee melihat dua peti senjata dan satu peti berisi bom. Lee membuka peti itu dan melihat senjata yang sangat canggih sekali. Bahkan senjata itu sudah memiliki teknologi tinggi. Lee yang dibantu oleh Garda mulai mengecek satu persatu. Mereka memuji kehebatan senjata itu.
"Darimana senjata ini berasal?" tanya Lee.
"Dari suamimu," jawab Garda.
"Apakah itu benar?" tanya Lee.
"Ya itu benar. Kakak tampanmu memang jago buat senjata. Semua senjata yang dimiliki oleh White Eragon sengaja dipasok oleh Erra," jawab Garda.
"Jadi selama ini?" tanya Lee.
"Ya... Papa mertuamu telah bekerjasama dengan Erra sudah sedari dulu. Bahkan papa berharap Erra memegang White Eragon sebagai pembuat senjata," jawab Garda.
"Akhirnya sekarang kak Erra?" tanya Lee lagi.
"Kemungkinan besar Erra akan menjadi ketua White Eragon," jawab Garda.
Lee menggelengkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya secara kasar. Lee tidak tahu lagi bagaimana nasibnya. Lee ketakukan jika Erra melarangnya untuk bertarung lagi. Namun Garda memegang pundak Lee dan paham akan ketakukan adik kecilnya itu.
"Kamu enggak usah takut. Erra tidak akan menghancurkan karirmu di dunia bawah tanah. Lihatlah papa Bayu yang tidak pernah melarang mama Rani. Bahkan mama Rani mempunyai pasukan khusus sendiri di sini. Erra juga senang memiliki istri yang tangguh dan bisa mengimbangi dirinya," jawab Garda.
"Benarkah itu?" tanya Lee.
__ADS_1
"Ya itu benar. Jangankan Erra yang ingin memiliki wanita tangguh. Aku juga bahkan sampai sekarang masih menyeleksi siapa saja yang patut menjadi wanitaku kelak," jawab Garda dengan jujur.
"Apakah kakak enggak mau satu memilih diantara mereka?" tanya Lee.