
Kejahilannya Garda terus-menerus terjadi. Hingga berhasil membuat Arini kesakitan. Tak lama Garda mengajak Erra berjalan-jalan. Lalu Erra menurut saja terhadap Garda. Sementara itu Arini masih saja kesakitan. Dengan terpaksa Lee membantu Arini ke kamar.
Sesampainya di kamar Arini berbaring lemah. Lee memanggil pelayan itu mengompres kaki Arini. Lee bingung apa yang telah terjadi sama Arini. Tak selang berapa lama datang Riu dengan wajah berseri.
"Kakak," panggil Riu.
"Iya… ada apa?" tanya Lee.
"Kami sudah selesai," jawab Riu. "Kami sudah membuatnya mati."
"Apakah itu benar?" tanya Lee.
"Ya itu benar," jawab Riu.
"Kalau begitu aku akan memeriksa pria itu," ucap Lee.
Lee melihat Arini yang masih meringis kesakitan. Lalu Lee mendekatinya sambil meminta izin, "Aku pergi dulu ya… jika perlu apa-apa mintalah ke para pelayan. Sembuhkan kakimu itu. Masih ada tugas banyak yang sudah menanti."
Arini menganggukkan kepalanya tanda paham. Arini harus pulih dari keadaan karena tugas-tugas sedang menantinya. Sementara itu Lee pergi dari ruangan itu untuk menuju ke ruangan tersebut.
"Kamu tahu tugasmu apa setelah ini?" tanya Lee.
"Mengirimkan mayat itu ke markas Candra," jawab Riu.
"Bagus. Setelah aku memastikan kalau orang itu mat segera kirimkan orang itu ke Candra. Aku tidak mau dikubur di sini!" perintah Lee.
"Siap kak!" teriak Riu dengan semangat.
Sesampainya di ruangan itu Lee melihat Thomassen sudah tidak berdaya. Thomassen menyerah dengan yang namanya singa betina. Jika tidak diberikan perintah melawan singa betina kemungkinan besar dirinya hidup. Namun semua menjadi penyesalan.
"Apa kabar Thomassen?" tanya Lee dengan menaikkan alisnya.
"A… a… a… apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Thomassen dengan suara bergetar.
"Kenapa suaramu bergetar? Bukannya kamu dulu ingin membunuh Erra Drajat? Dan sekarang ingin membakar markas ini? Setelah masuk ke markas ini kok kamu enggak membakarnya?" tanya Lee dengan senyum yang merekah. "Ah… iya kekuatan kamu berkurang!"
__ADS_1
"Da…sar… si…a…lan…ka…mu!" bentak Thomassen dengan suara rendah.
Lee tertawa terbahak-bahak melihat Thomassen yang membentak dirinya dengan suara membentak. Bukannya dulu Thomassen orangnya tegas dan kejam. Kenapa sekarang jadi begini. Lee semakin bingung dengan orang tersebut.
Salah satu pengawal itu tetap stay di ruangan itu. Pengawal itu bernama Nia. Nia sedang membawa suntikan yang berisi obat untuk melumpuhkan otak dan saraf. Setelah mendekat Nia tersenyum smirk sambil menunggu Lee mengeksekusi Thomassen.
"Selama aku menjabat sebagai kaki tangan Erra. Aku sering melihatmu berkeliaran di area Asco. Kamu ingin berusaha melenyapkan sang ahli waris Asco. Namun kamu tidak pernah bisa menghabisinya. Kamu tahu kenapa? Karena aku tidak pernah lengah sedikitpun. Tapi aku sangat menyesal pada diriku sendiri. Karena tidak bisa menangkap kamu. Saat itulah kamu seharusnya menghentikan aksi kejahatanmu. Bukannya kamu malah menjadi dan ingin membakar markas utamaku. Jadilah kamu seperti ini," jelas Lee.
"A… a… a…. A… ku… me….mang… i… Ngin… mem… Bu… nuh… ka… mu… dan… ju… ga…. E…. rra," ucap Thomassen dengan terbata-bata.
"Sekarang kamu harus mati di tanganku!" teriak Lee menggelegar.
Lee benar-benar sangat marah terhadap Thomassen. Sedari dulu Thomassen memang ingin membunuh Erra. Namun Lee lah yang selalu menghalangi niat Thomassen. Karena saat itu Lee menjadi sekretaris pribadinya. Namun disisi lainnya Sam memberikan tugas untuk menjaga Erra dari serangan musuh.
"Suntik mati saja itu orang!" kesal Lee.
"Baik kakak besar," sahut Nia.
Nia langsung menyuntik mati orang itu. Setelah melakukan aksinya mereka memandang Thomassen yang akan menjemput ajal. Beberapa saat kemudian Thomassen menghembuskan nafasnya yang terakhir. Lee hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Apakah kakak menangis?" tanya Nia.
"Jadi?" tanya Nia.
"Ya… jika markas ini dibakar aku belum mendapatkan tempat yang layak. Makanya sebelum dia membakar markas ini. Aku yang akan menghabisi nyawanya terlebih dahulu," jawab Lee.
"Aku sangka kakak bersedih atas kematian orang lemah ini," celetuk Nia.
"What? Lemah?" tanya Lee yang mengerutkan keningnya.
"Pria itu lemah di ranjang. Aku tidak menyukainya. Makanya aku mendukung penuh kakak untuk menghabisi pria ini," jawab Nia secara blak-blakan.
"Oalah," ucap Lee yang menggelengkan kepalanya sambil melihat keabsurdan Nia.
"Urus sana sama Riu. Setelah itu kirim ke markas Candra!" perintah Lee.
__ADS_1
"Siap kak," balas Nia.
Lee segera melangkahkan kakinya keluar. Lee keluar menuju taman dan melihat Nanda dan Sam. Lee menghempaskan bokongnya di kursi.
"Masalah satu sudah beres. Aku ingin lihat Candra ngamuk. Aku bosan kucing-kucingan sama orang gila itu," celetuk Lee.
"Apakah kamu mengirimkan Thomassen ke markas Candra?" tanya Sam.
"Ya… aku akan mengirimkannya," jawab Lee.
"Langkah selanjutnya apa?" tanya Sam.
"Aku akan mencari keberadaan Marvin. Setelah itu menghancurkan Taylor Inc. Kemudian mencari jejak Candra. Ya bisa dipastikan akan selesai Minggu ini," jawab Lee.
"Apakah kamu sudah mendengar kalau Imam akan menikah?" tanya Nanda.
"Ya… aku sudah mendengarnya. Aku harap kita bisa pulang tepat waktu sebelum pernikahan itu terjadi," jawab Lee.
"Usul… mumpung masih disini setelah menemukan Marvin. Kita akan mencari hadiah buat Imam di London," ucap Sam sambil mengusulkan ke Lee.
"Baiklah aku setuju. Aku akan mengajak Arini dan Pita untuk ikut bersama kami," ujar Lee yang langsung menyetujuinya.
Mereka pun sepakat untuk hunting hadiah. Setelah itu Lee memutuskan untuk beristirahat. Sedangkan Garda dan Erra berjalan-jalan entah kemana. Mereka sengaja tidak mengajak Lee.
"Kenapa kamu enggak mengajak Lee?" tanya Erra.
"Aku ingin Lee beristirahat. Kasihan kan semalam dia tugas mencari Thomassen," jawab Garda yang hatinya sedang berbunga.
"Sepertinya kamu ada yang aneh," celetuk Erra.
"Aneh bagaimana?" tanya Garda.
"Semenjak kamu bertemu dengan papa dan mama. Hidupmu berubah drastis. Biasanya kamu menjadi pria dingin. Sekarang menjadi pria yang hangat. Bahkan kamu sekarang sering berbicara banyak," jawab Erra.
"Kamu tahu saat itu psikologisku cukup terguncang. Aku tidak tahu siapa aku sebenarnya. Aku tidak tahu siapa diriku? Apakah aku memiliki keluarga? Dimana orang tuaku? Pertanyaan demi pertanyaan sering muncul. Kamu lihat aku menjadi pria kuat. Tapi dalam diam aku sering menangis. Aku selalu berdoa untuk bertemu mereka. Jika mereka masih hidup. Aku ingin merasakan kasih sayang mereka," jawab Garda yang ingat masa lalunya.
__ADS_1
"Aku sangat bangga sama kamu. Kamu terpisah dengan papa mama dan Lee. Kalau aku terpisah dengan Lee. Yang saat itu memang perpisahan ini disengaja oleh para papa," ucap Erra yang mengingat wajah imut Lee ketika masih kecil. "Dia adalah anak kecil yang sangat lucu sekali."
"Ya… kamu benar," ucap Garda. "Aku masih ingat ketika Lee menggangguku pada awal bertemu."