Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 99


__ADS_3

"Baik paman," balas Feli. "Saya permisi dulu."


Irwan hanya menganggukkan kepalanya untuk menyetujui permintaan Feli. Setelah Feli pergi Jake akan melangkah. Namun langkahnya terhenti karena mendengar suara Irwan memanggil. Jake menoleh dan menghampirinya. Lalu Jake duduk di hadapan Irwan.


"Paman," panggil Jake.


"Apa kabar?" tanya Irwan.


"Kabarku baik," jawab Jake. "Lalu kabar paman bagaimana?"


"Baik juga. Oh... Ya apakah kamu besok ke kantor?" tanya Irwan yang mengambil rubik.


Jake menganggukan kepalanya, "Ya.. aku akan ke sana. Mumpung aku tidak ada jadwal meeting."


"Aku meminta tolong kepadamu sering-seringlah berkunjung ke kantor. Aku ingin kamu mengamankan sistem informasi jaringan komputer. Aku ingin melihat para karyawanku terutama pada bagian keuangan dan pemasaran," ucap Irwan.


"Baiklah," balas Jake.


Sementara itu Feli masuk ke dalam ruangan IT. Feli melihat Angela dan Rina sudah bekerja. Lalu Feli mendekati mereka dan duduk di samping sambil menyalakan PC. Namun sebelum itu Rina menahannya agar Feli tidak melakukannya.


"Kamu enggak perlu nyalain PC. Aku sudah menemukan siapa pelakunya!" titah Rina.


Feli terkejut mendengar suara Rina. Kemudian Feli memandang wajah Rina sambil bertanya,"Kenapa kakak ada di sini? Bukannya kakak berada di Helsinki?"


"Ya... Aku memang berada di sana. Tapi aku disuruh pulang sama Paman Bayu untuk mengajarkan kalian main pedang," jawab Rina.


"Oh... Baiklah kalau begitu," kesal Feli.


"Kamu tidak rindu aku?" tanya Rina yang tersenyum devil.


"Ti... Ti... Tidak... Aku tidak merindukanmu," jawab Feli yang membuang wajahnya.


"Kamu itu selalu saja begitu. Ah... Rasanya aku ingin mengerjaimu," ujar Rina yang menggelengkan kepalanya melihat wajah Feli yang boring.


"Padahal dalam hatinya rindu sama kamu Rin. Hampir tiap hari selalu tanya, kapan kamu pulang?" ucap Angela yang secara sengaja membocorkan rahasia Feli.


"Iya... Iya... Aku rindu. Aku memang rindu sama Kak Rina. Rindu main pedangnya," jawab Feli secara blak-blakan.


"Apakah kamu tidak memelukku?" tanya Rina yang berhadapan dengan Feli.


Feli segera berhambur di hadapan Rina sambil berkata, "Kakak... Aku rindu kamu."

__ADS_1


Rina mengelus kepala Feli, "Janganlah jual mahal kepadaku. Jika kamu rindu katakanlah kepadaku. Aku bisa datang kok ke Indonesia."


"Baiklah kakak," balas Feli.


Setelah berpelukan Feli melepaskan Rina. Feli tersenyum sambil bertanya, "Apakah kakak sudah menemukan pelakunya?"


"Sudah. Mereka adalah tetangga Suci yang bernama Nilam dan ibu Tina," jawab Rina.


"Apa motifnya?" tanya Angela.


"Paling iri. Mereka memang sengaja membakar rumah Suci," jawab Rina. "Untunglah aku mengingat rumah Suci ada CCTV-nya. Jadi bisa melacak pelaku utamanya."


"Oh... Iya aku baru ingat. Kak Lee pernah menyuruh pengawal memasang CCTV yang berada di pohon nangka depan rumah Suci. Makanya kamu bisa melacaknya," jawab Angela yang hampir saja lupa.


Yang dikatakan oleh Angela benar. Lee memang sengaja menyuruh pengawal untuk memasang CCTV. Lee sangat ingin melindungi Suci dari masyarakat yang akan menyerangnya. Seperti saat ini akhirnya Suci mendapat serangan dari warga.


"Sebelum aku pindah ke Helsinki. Aku sudah mengenal warga di situ. Memang dulu aku pernah ngekost di sana. Aku mengenal baik orang sana terutama kedua orang itu," jawab Rina.


"Kalau begitu kita bertemu dengan kak Lee saja," ajak Angela.


"Bagaimana dengan keadaan kakak besar setelah penusukan itu?" tanya Rina.


"Keadaannya baik-baik saja. Kasihan Tuan Erra yang tidak memiliki semangat hidup," jawab Angela dengan sendu.


"Alicia adalah suruhannya Candra. Yang aku dengar dari Tuan Nanda, kepala Alicia memang ditanam chip agar bisa diprogram. Lalu Candra menyuruh Alicia membunuh kakak besar dari jauh bersama Gissel," ucap Angela.


"Berarti Alicia sama Candra ada hubungannya?" tanya Rina.


"Ada," jawab Angela.


"Aish... Si tua bangka itu. Kok enggak sadar-sadar juga," geram Rina.


"Ayo kita berangkat ke alamat yang diberikan oleh Kakak besar!" ajak Feli.


Mereka menganggukan kepalanya sambil membawa bukti-bukti tersebut. Mereka sangat geram terhadap kedua emak-emak itu. Sementara di lokasi kejadian rumah Suci sudah hangus terbakar. Lalu beberapa rumah tetangga yang di samping Suci juga sudah ludes terbakar. Mereka meratapi nasibnya dan tidak menyangka kalau rumahnya ikut terbakar.


Beberapa saat kemudian datang Ibu Nilam dan Ibu Tina. Mereka mulai memprovokasi keadaan. Dengan mulut manisnya mereka mengatakan kalau Suci yang sengaja tidak mematikan kompor saat pergi. Akhirnya semua warga menduga kalau Suci memang sengaja melakukan itu. Ibu-ibu tadi yang berhasil memprovokasi keadaan hatinya bersorak kegirangan.


Sementara di tempat itu para pengawal sudah mendapatkan informasi. Pengawal itu curiga kalau yang melakukannya adalah emak-emak yang memprovokasi keadaan. Setelah mendapat informasi mereka pergi dari sana dan melaporkan kejadian ini ke Imam.


Sejam berlalu Feli, Angela dan Rina datang ke apartemen Imam. Mereka berkumpul untuk menguatkan Suci. Melihat mereka yang kompak Erra dan Imam tersenyum bahagia. Kedua pria itu sangat bersyukur apa yang dilihatnya.

__ADS_1


"Siapa yang melakukannya?" tanya Imam.


"Anu tuan... Ibu Nilam dan ibu Tina yang melakukannya," jawab Rina.


"Apa?" pekik Suci. "Kenapa mereka melakukan itu kepadaku?"


"Karena mereka iri kepadamu," jawab Rina yang sudah tahu penyakit hati kedua orang itu.


"Bagaimana dengan rumah warga lainnya? Apakah rumah mereka juga ikut terbakar?" tanya Lee.


"Tiga rumah sebelah kanan tiga rumah sebelah kiri sudah ludes terbakar," jawab Rina.


"Lalu bagaimana dengan warga yang memiliki rumah itu?' tanya Lee lagi.


"Sesuai dengan perintah Tuan Irwan. Aku akan mengurus semua kerugiannya," jawab Feli.


"Kalau dihitung-hitung semua kerugian mencapai satu milyar," jawab Imam.


"Apakah kita tidak memberikan rumah minimalis kepada para korban?" tanya Lee.


"Ide yang bagus. Kalau kita memberinya uang. Mereka akan bingung membangun lagi rumah mereka," jawab Imam.


"Kalau mereka enggak mau?" tanya Suci.


"Hmmp... Lebih baik dibicarakan enaknya bagaimana. Kalau mereka mau uang ya kita berikan saja kepada mereka. Tapi jika mereka mau rumah ya kita berikan," jawab Imam.


"Ide yang bagus," puji Erra.


"Ayo kita ke sana," ajak Lee.


"Apakah kakak yakin?" tanya Rina.


"Ya aku yakin. Oh iya kirimkan semua bukti yang aku minta!" titah Lee.


"Baiklah," balas Rina.


Mereka akhirnya pergi menuju ke rumah Suci. Lee sangat penasaran sekali dengan emak-emak itu. Semenjak menginjakkan kedua kakinya di rumah Suci. Lee merasakan ada hawa yang aneh sama emak-emak itu. Mereka sering mengucilkan Suci karena dianggap membawa malapetaka.


"Apakah kamu tahu sesuatu semuanya tentang mereka?" tanya Erra.


"Ya aku memang sudah mengetahuinya. Sedari dulu aku memang mendiamkan mereka dan tidak mencampuri urusan mereka," jawab Lee. "Kali ini tidak bagiku. Mereka sudah keterlaluan terhadap Suci."

__ADS_1


Suci yang mendengar ucap Lee langsung menyanggahnya, "Tidak kak... Itu benar."


"Tidak benar apanya?" tanya Lee.


__ADS_2