
Edi bergidik ngeri melihat seluruh pengawalnya terkapar mengenaskan. Bahkan Edi menjatuhkan tubuhnya untuk berlutut dan menangis. Edi sangat menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi," ucap Edi dengan penyesalan.
"Pengawal!" teriak Lee.
Seluruh pengawal yang bertugas di area Asco segera mendekati Lee sambil membungkukkan badannya.
"Tangkap segera Edi! Dan sisanya kalian bersihkan semuanya!" titah Lee yang menatap wajah Edi dengan nyalang.
Mereka segera melaksanakan perintah dari Lee. Sementara itu Lee dan Erra masuk ke dalam. Di jalanan Bayu menyunggingkan senyumnya. Bayu cepat-cepat meraih ponselnya untuk menghubungi Greg. Bayu langsung memerintahkan Greg untuk membersihkan kejadian yang telah terjadi. Greg pun paham dan mengerjakan semua perintah Bayu.
Sesampainya di lobi Lee melihat Caroline yang masih bengong. Caroline sangat terkejut ketika melihat sang putri memiliki kekuatan yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Lalu Lee menyapa Caroline dengan lembut, "Ma."
Sontak saja Caroline kaget dan jantungnya hampir keluar dari tempatnya. Caroline menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Apakah itu kamu?"
"Maksudnya?" tanya Lee yang tidak paham.
"Yang tadi itu kamu menghempaskan gembong obat-obatan terlarang?" tanya Caroline.
"Ya itu aku," jawab Lee. "Apakah mama mau pulang?"
"Ya… mama mau pulang," jawab Caroline yang masih bertanya-tanya dalam hati.
"Mama pulang sama pengawal saja. Biarkan mobil mama dibawa ke bengkel untuk diperbaiki," saran Lee.
Caroline menuruti sang putri untuk pulang ke mansion. Akhirnya Lee masuk ke dalam lobi. Lee merubah dirinya menjadi dingin. Sangking dinginnya seluruh orang yang mendekat menjadi beku seketika.
Tak lama Lee mendekati Erra yang berdiri tegak. Lee terkejut karena Erra tidak menekan tombol lift. Lee memutar bola matanya dengan malas. Akhirnya Lee menekan tombol lift tersebut. Beberapa saat kemudian pengawal yang membawa jas mendekati Lee, "Nona jasnya tuan muda."
Pengawal itu memberikan jas itu ke Erra. Lee mengambilnya sambil berkata, "Terima kasih."
Ting.
Pintu lift terbuka. Lee dan Erra melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Ketika Lee ingin menutup pintu lift tersebut Brenda berteriak. "Tunggu!"
__ADS_1
Lee akhirnya menunggu kedatangan Brenda. Setelah itu Brenda melihat Erra yang berdiri tegak. Tidak mau membuang kesempatan Brenda menggunakan cara licik. Meskipun cara licik itu akan mempermalukan dirinya sendiri.
Brenda segera berlari agar bisa menabrak Erra lalu memeluknya. Namun Lee paham dengan akal bulus Brenda. Lee dengan cepat menarik Erra supaya minggir. Erra pun akhirnya minggir dan mendekati Lee. Hingga akhirnya…
Brakkkkkkkk!
Akhirnya Brenda terjatuh hingga mencium lantai lift. Lee segera menekan tombol tutup tersebut dan menekan angka tiga puluh delapan. Tanpa merasa bersalah Lee memasang wajah santai. Lalu bagaimana dengan Erra? Erra tetap memasang wajah datar dan tidak memperdulikan Brenda yang jatuh tersungkur.
"Apakah kamu enggak capek begitu?" tanya Lee.
Brenda semakin jengkel mendengar suara Lee. Brenda berharap Erra memperhatikannya. Namun itu semuanya telah sirna. Akhirnya Brenda berdiri dan membuang wajahnya.
Ting.
Pintu terbuka.
"Tuan muda… keluarlah," pinta Lee.
Erra tidak menjawab dan langsung keluar. Sedangkan Lee menatap tajam ke Brenda, "Kamu ingin mencari-cari kesempatan ya?"
"Maksudku… kamu berlari lalu menabrak Tuan Erra. Kemudian kamu sengaja memeluknya," jawab Lee yang berdiri di tengah-tengah pintu lift.
Brenda kaget karena rencana yang dibuat secara tiba-tiba bocor. Brenda bertanya-tanya dari mana Lee tahu?
"Bukan urusanmu!" ketus Brenda.
"Bukan urusanku! Ok… aku jelaskan kepada kamu. Yang berhubungan dengan Tuan Erra adalah tugasku. Aku yang berhak menjaganya, melindunginya, merawatnya dan memahami perasaannya. Jadi jika ada yang mengganggu Tuan Erra aku langsung bertindak. Dan satu lagi Aku bisa memecatmu kapan saja. Apakah kamu paham?" tanya Lee yang memberikan peringatan pertama.
Brenda semakin kesal kepada Lee. Jujur saja Brenda kalau telak dari Lee. Brenda mengangkat tangannya kemudian mendaratkan ke pipi Lee. Sedangkan Lee dengan cepat menangkap tangan Brenda lalu menghempaskannya.
Erra yang sedari tadi menatap sang istri melayani Brenda hanya tersenyum tipis. Betapa sabarnya Lee melayani Brenda tanpa harus emosi. Entah terbuat dari apa hatinya itu?
"Kamu mau menamparku?" tanya Lee.
"Iya… aku ingin kamu sadar kalau Tuan Erra adalah milikku!" bentak Brenda.
__ADS_1
"Silahkan saja kalau bisa! Kamu tahu Tuan Erra adalah suamiku yang sah. Pernikahan kami sudah terdaftar di agama dan negara," ujar Lee yang mengaku Erra adalah suami sahnya.
Dalam hati Erra bersorak kegirangan. Karena Lee sudah mengakui dirinya sebagai sang suami. Bagaimana tidak selama ini Lee tidak pernah memberitahukan pernikahannya itu ke semua orang. Erra mendekati Lee sambil melingkarkan tangan kanannya ke pinggang Lee.
"Yang dikatakan oleh asisten Lee benar. Jika kamu selalu menyakiti asisten Lee yang notabenenya adalah istriku. Aku tidak segan-segan memecatmu! Dan kamu tidak akan mendapatkan pesangon lagi! Camkan itu Brenda," ucap Erra yang mengancam Brenda dengan serius.
"Ayo!" ajak Lee.
Lee melepaskan tangan Erra lalu menggandengnya. Mereka masuk ke dalam ruangan CEO. Lalu Brenda, Brenda hatinya sangat panas sekali. Brenda tidak percaya dengan apa yang didengarnya itu. Apa benar sang bosnya telah menikah dengan sang rivalnya?
"Aku tidak akan tinggal diam! Aku harus merebut Tuan Erra dari asisten sialan itu!" tegas Brenda.
Tanpa disadari oleh Brenda, Garda keluar dari lift. Garda sekilas mendengar apa yang dikatakan oleh Brenda. Dengan senyum mengejeknya Garda menatap wajah Brenda sambil mengancam, "Jika kamu mencoba merusak rumah tangga Tuan Erra. Bisa dipastikan akulah orang yang pertama yang menjebloskanmu ke dalam penjara. Camkan itu!"
Garda segera pergi dari sana langsung menuju ke ruangan Erra. Brenda yang berencana ingin menghancurkan rumah tangga Erra bergidik ngeri. Brenda memutuskan untuk kembali. Brenda tidak ingin berhubungan dengan Garda. Karena selama ini Brenda mengetahui kalau Garda adalah pria terkejam dan tersadis. Jika ada yang melawan Garda bisa dipastikan hidupnya akan menderita.
"Apa jadwalku sayang?" tanya Erra.
"Jadwal hari ini jam sepuluh akan ada rapat pemegang saham dan dewan direksi. Hingga sore nanti. Jeda satu jam istirahat," jawab Lee dengan tegas.
"Catat jadwalku nanti malam!" tegas Erra.
"Apa itu?" tanya Lee.
"Makan malam bersamamu," jawab Erra.
"Kenapa ada jadwal makan malam segala?" tanya Lee yang tidak paham.
"Apakah kamu tidak paham aku mengajakmu kencan malam ini?' protes Erra sambil menekuk wajahnya.
"Oh… kakak tampan ingin kencan? Baiklah dengan senang hati aku akan mengabulkannya," jawab Lee yang bersorak kegirangan.
"Ya… masa kamu enggak tahu dengan ajakan kencan? Apakah kamu dulu tidak pernah berpacaran dengan seorang pria?" tanya Erra yang curiga. "Bukankah seorang perempuan cantik sepertimu dapat seorang kekasih?"
"Bukannya kakak tampan juga tidak pacaran juga?" tanya Lee balik. "Padahal kakak tampan memiliki wajah yang tampan."
__ADS_1