
"Tidak janji," jawab Naomi yang mengerti March mulai mengalihkan pembicaraan.
"Aish... Bagaimana ini?" tanya March.
"Aku harus mencari akal agar istriku tidak seperti ini," ucap March dalam hati.
"Jika kamu ingin meminta maaf dan membatalkan persyaratanku. Aku akan mengajukan satu permintaan lagi," jawab Naomi.
"Apa itu?" tanya March. "Aku ikhlas melakukannya."
"Ambilkan buah kelapa yang berada di mansion Andi Sebastian," jawab Naomi yang membayangkan es degan.
March hanya menganggukkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya. Bagaimana tidak calon bayi kembarnya meminta yang aneh-aneh. Bagaimana kalau sang bayi kembarnya meminta bertemu dengan seorang public figure yang di mana mereka adalah pria. Bisa-bisanya March jatuh pingsan atau cemburu.
"Kalau begitu baiklah," jawab March yang menganggukan kepalanya.
Sebelum berangkat March mengirim pesan ke Lee. March ingin memastikan kalau Lee berada di mansion. Tak lama Lee membalas kalau dirinya tidak berada di mansion Erra melainkan di mansion milik papanya. March bersyukur karena bisa mengambil kepala muda... Eh... Salah kelapa muda milik Andi.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang. Lee sekarang berada di mansion milik Sebastian. Kalau kita kesana aku bisa mengambil kelapa muda milik Andi hanya untukmu," ucap March.
"Baiklah kalau begitu," balas Naomi.
Meskipun masih lemas Naomi segera bangun karena ingin melihat sang suami mengambil kelapa di taman belakang. Sementara di kediaman Tristan, Sam baru saja menginjakkan kakinya. Tak lama sang ibunda tercinta sedang membawa pedang. Tanpa basa basi sang ibunda menyerang Sam dengan membabi buta. Lalu Sam dengan lincahnya segera menghindar untuk naik ke atas pohon dengan memakai jurus ninjanya. Sam melihat sang ibunda yang menyerang tiba-tiba hanya bisa tersenyum.
"Papa enggak salah milih seorang wanita yang benar-benar tangguh. Sangking tangguhnya aku tidak bisa melawannya," ucap Sam dalam hati.
"Samuel! Turun kau!" teriak Haruka sang ibu yang membuat para Pengawalnya menelan salivanya dengan susah payah.
"Aish... Mama... Aku pikir masih di rumah kakek," celetuk Sam yang masih betah di atas pohon.
"Apa yang kamu bilang! Ha! Apakah kamu enggak sadar selama ini mama berada di lab sama papamu?" bentak Haruka.
"Apakah itu benar ma?" tanya Sam yang bingung dengan kata-kata Haruka.
__ADS_1
"Ya... Mama memang berada di Jakarta. Kamunya kemana!" teriak Haruka.
"Biasalah ma. Seorang chef harus berperang melawan alat-alat dapur untuk membuat makanan yang enak. Bukannya mama paling hobi jika mencicipi masakan putramu yang tampan ini," ucap Sam yang blak-blakan.
Haruka memutar bolanya dengan malas. Haruka sangat kesal jika sang putra menyebut dirinya tampan. Memang sih sejujurnya Sam itu tampan. Namun Sam itu memiliki sifat dingin sedingin salju. Bahkan sama perempuan Sam tidak pernah bicara sama sekali.
"Dasar kulkas!" gertak Haruka yang melempar pedangnya tanda kalah berdebat dengan Sam.
Setelah itu Haruka pergi ke dalam dan menghela nafasnya. Haruka hanya menggelengkan kepalanya sambil menggerutu hingga terdengar ke telinga Saga, "Begini ya... Punya anak laki-laki dengan wajah tengil. Jika sudah mengeluarkan kata-kata tampan membuat mamanya mundur."
Saga hanya terkekeh mendengar gerutuan Haruka sang istri. Saga mendekati Haruka dan memeluk sang istri, "Semakin lama putramu itu semakin tengil. Coba saja lihat wajahnya yang sudah ketularan Erra."
"Ah... Iya... Bagaimana ya kabar Lee?" tanya Haruka.
"Baik-baik saja. Lee sudah pulih kembali. Bahkan Lee sudah mulai melupakan bayinya yang telah tiada," jawab Saga.
"Syukurlah. Aku harap Lee segera diberikan anak secepatnya. Aku enggak mau Lee berlarut dalam kesedihan," ucap Haruka secara tulus.
"Amin," balas Sam yang membawa pedang dan membereskannya lalu menaruhnya di dinding.
"Belum sih ma. Aku lapar. Aku rindu pada masakan mama," jawab Sam yang mendekati Haruka dan Saga.
"Kemana sih kamu? Kok kamu baru saja muncul?" tanya Haruka.
"Sam sibuk sekarang. Mama tahu enggak kalau sang musuh mulai menyerang," jawab Saga.
"Terutama Lee yang diserang habis-habisan," jawab Saga yang tertunduk lesu.
Haruka paham akan situasi seperti itu. Jangankan Lee sang putra mahkotanya sekarang dalam bahaya. Cepat atau lambat sang musuh akan menyerangnya. Haruka mulai gusar dan menatap Sam. Air matanya menetes dan memeluk Sam.
Sam yang mendapatkan pelukan hangat menjadi terharu. Sam sangat mencintai kedua orang tuanya terutama pada mamanya.
"Tenanglah ma. Sam tak apa. Setelah ini kita akan menyatukan kekuatan. Kita akan berperang hingga darah penghabisan. Lee juga tidak akan tinggal diam. Cepat atau lambat Lee akan bergabung dengan pasukan khusus," ujar Sam yang meyakinkan sang mama.
__ADS_1
"Jika kalian membutuhkan pengawal khusus yang sangat terlatih. Aku bisa membawa pasukanku dari Jepang," usul Haruka yang melepaskan Sam.
Saga dan Sam menelan salivanya dengan susah payah. Haruka tiba-tiba saja menawarkan pasukan khususnya berada di Jepang sana. Sam mengetahui kalau Haruka adalah ketua mafia dari Jepang yang terkenal keganasannya. Mafia yang digawangi oleh Haruka bernama Ninja Kawasaki.
"Hmmp.... Bagaimana ya?" tanya Sam.
"Niat mamamu sangat baik sekali. Tapi kita harus membicarakan ini semuanya ke para papa. Jika kita bisa membuat White Eragon semakin besar maka kekuatannya akan menjadi bertambah. Nah saat inilah kita bisa menghancurkan Candra," ucap Saga.
"Mama juga akan membuat senjata biologis untuk menghancurkan markas Candra sialan itu," kesal Haruka.
"Apakah mama serius?" tanya Sam yang tersenyum manis.
"Ya... Mama akan melakukannya tanpa papa. Mama akan memanggil Miyako untuk ke sini," jawab Haruka dengan serius.
"Baiklah. Aku setuju," balas Sam.
"Nanti jam sepuluh akan ada pertemuan di markas. Aku mau kamu ikut," ajak Saga.
"Apakah semuanya pa?" tanya Sam.
"Ya semuanya. Aku harap kamu hadir dan tidak perlu ke kantor," harap Saga yang memukul pundak Sam dan meninggalkan putra dan istrinya itu.
"Papa mau kemana?" tanya Sam.
"Mau ambil obat buat Lee," jawab Saga sambil menaiki tangga.
Sam melihat kepergian Saga dan matanya beralih ke Haruka. Sam hanya menggelengkan kepalanya dan mendekati sang mama, "Ma... Apakah benar mama mau ikut balas dendam atas kematian nenek dan kakek?"
Haruka menganggukan kepalanya sambil mengusap lengan kekar Haruka, "Luka yang ditorehkan kepada Candra buat mama sangat perih. Bahkan luka itu tidak bisa tertutup."
"Ma... Mama tahu enggak apa yang ada di dalam hati Sam?" tanya Sam ke Haruka yang serius.
"Ya... Mama tahu. Kamu adalah saksi mata ketika Candra menghabisi kakek nenekmu," jawab Haruka yang mengerti tentang Sam. "Maafkan mama karena harus melibatkan kamu."
__ADS_1
"Sudah seharusnya kami yang akan membalaskan dendam mereka ke Candra. Perusahaan nenek untuk mama telah direbut oleh Candra dan diakuisisi. Ma... Maaf... Aku harus menceritakan ini ke mereka. Agar mereka paham dengan semuanya."
Tak lama Saga turun sambil membawa papperbag dan berteriak, "Apakah kalian tidak sarapan?"