
Malampun tiba. Lee yang sudah memakai gaun yang sudah di pesan oleh Fendi. Lee menjelma menjadi seorang gadis yang sangat anggun sekali. Kulitnya yang putih bersih serta wajah imutnya nan menggemaskan membuat semua orang terpanah.
Saat Lee sudah siap. Lee menampakkan dirinya di hadapan Fendi. Fendi yang sedang mengecek email dari dunia bawah tanahnya mengangkat kepalanya lalu menelan salivanya dengan susah payah.
''Huah.... Cantik sekali. Caroline Riu lihatlah putrimu yang menjelma menjadi seorang gadis yang imut dan menggemaskan. Tapi sayang, Erra sudah mengikat tali pertunangan jaman Lee masih bayi. Aku ingin memilikinya tapi apalah dayaku.'' Batin Fendi menangis.
''Paman... Ayolah...'' Sapa Lee.
''Ah... Iya... baiklah... kita berangkat bersama.'' ucap Fendi tersadar dari lamunannya.
Kemudian mereka pun ke Viu Hotel untuk peluncuran sebuah brand parfum milik BL company. Di dalam perjalanan.
''Paman... Paman enggak belikan gaun ini dengan harga mahal?'' tanya Lee sambil bermain game online di ponselnya.
''Tenang saja sayang. Harganya murah. Kurang lebih 2400 euro.'' jawab Fendi tersenyum manis sambil menyetir.
''Baiklah... Nanti kalau beli baju paman kasih mentahnya saja ya... Biar Lee yang beli.'' ucap Lee akhirnya memberi saran terbaiknya ke Fendi.
''Lee... kamu itu... di beliin gaun mahal malah memberi saran. Di beliin gaun yang murah senengnya minta ampun. Baru kali ini nemu cewek yang aneh. Seharusnya kamu senang di beliin barang mahal dan branded.'' ucap Fendi menghela nafasnya.
''Aish... paman... Saya malah menangis melihat harga gaunnya paman.'' lirih Lee yang menekuk wajahnya karena kecewa.
''Aish... Baiklah... Nanti kalau ada acara lagi paman akan memberikan mentahnya saja. Kamu yang beli sendiri ya...'' ujar Fendi semakin bingung dengan kelakuan Lee
''Ra... kamu beruntung dapat calon istri yang sederhana. Hufth... Ayah akan mendukung kamu.'' batin Fendi yang bahagia.
Sesampainya di sana. Fendi mengajak Lee melihat-lihat minyak wangi yang akan di luncurkan.
''Belilah... yang kamu suka. Papamu mengirimkan uang buat kamu.'' titah Fendi.
''Nanti aja paman.'' ucap Lee tersenyum manis.
Acara terus bergulir. Fendi tidak pernah melepaskan Lee sedetikpun. Fendi memang di beri perintah oleh Bayu untuk menjaga calon istri Erra. Hingga akhirnya, Lee memutuskan untuk membeli sebuah minyak wangi dengan wangi bayi. Lee membeli sekali 3. Fendi akhirnya membayar minyak wangi tersebut.
''Ayo... Aku perkenalkan dengan seseorang perempuan pemilik BL company.'' Ajak Fendi yang selesai membayar minyak wangi tersebut.
''Baiklah paman.'' sapa Lee segera menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Kemudian mereka menuju ke ruangan khusus untuk bertemu dengan seseorang. Sesampainya di sana. Caroline sedang mengobrol dengan asisten pribadinya.
''Mmmp... Apakah aku mengganggu?'' tanya Fendi ke Maura.
Sementara itu Lee sedang melihat-lihat sekelilingnya.
Mereka tersentak kaget. Caroline segera membalikkan badannya lalu melihat Fendi yang memakai baju casual.
''Ah... Tidak Fen...'' jawab Caroline mendekati Fendi dengan senyum ramahnya.
''Nona... saya pergi dulu.'' pamit Maura langsung keluar dari ruangan khusus itu.
''Fen... Mana gadis imut yang menggemaskan yang kamu bawa?'' tanya Caroline.
''Hmmp... Lee... kemarilah.'' titah Fendi.
Di saat Fendi memanggil Lee, Caroline diam mematung. Jantung Caroline berdetak kencang. Tiba-tiba saja Caroline meneteskan air mata.
''A... A.... Apakah dia Lee Rosesku?'' Mata Caroline berkaca-kaca.
__ADS_1
''Iya... Dia adalah putrimu.'' jawab Fendi tersenyum manis dan memasukkan tangannya ke saku mengambil sapu tangan.
''Di manakah dia sekarang?'' tanya Caroline yang membiarkan air matanya menetes.
Kemudian Lee yang mendengar namanya di panggil langsung mendekati Fendi. Lee seakan tidak percaya apa yang di lihatnya di depan. Wajah Lee sangat mirip sekali dengan Caroline Riu.
''Paman... Koq wajahku mirip sama ibu itu?'' tanya Lee dengan polos.
''Lee... Apakah itu kamu?'' tanya Caroline melihat wajah Lee pada waktu masa mudanya dulu.
''Iya... Aku Lee...'' jawab Lee semakin bingung dengan keadaan apa yang sedang terjadi.
''Apakah aku boleh memelukmu?'' Tanya Caroline kepada Lee.
''Boleh.'' jawab Lee yang imut.
''Apakah kamu tidak mengenal mama nak?'' tanya Caroline memeluk Lee.
Di saat Lee membalas pelukan hangat dari Caroline ada perasaan yang sangat nyaman. Hati Caroline dan Lee semakin berdegup kencang. Ada ikatan batin yang sangat kuat oleh 2 wanita itu yang berbeda generasi.
Fendi sudah mengetahui mama kandung Lee berada. Tapi, Fendi tidak pernah bilang ke siapapun. Karena musuh sedang mengincar 6 serangkai. Fendi sudah menganggap Caroline sebagai adik kandungnya sendiri.
Setelah pertemuan itu, Caroline menyuruhnya tinggal di apartemennya. Setiap ada acara besar, Caroline selalu mengajak lee. Identitas Lee juga di sembunyikan. Caroline tidak ingin Lee dalam bahaya. Jika publik ingin tau tentang Lee, Caroline selalu berkilah dan menutup mulutnya rapat-rapat.
FLASHBACK ON.
Andi merasakan hatinya berdebar-debar ketika mendengar cerita Fendi. Andi sangat bahagia karena Lee sudah menemukan ibu kandungnya.
''Bisakah papa bertemu dengan mamamu?'' tanya Andi.
''Kemana para penghuni sini? Tiba-tiba saja menghilang?'' tanya Sam curiga.
''Argh... Mereka kabur duluan setelah terjadi kerusuhan itu.'' jawab Nanda menghela nafasnya.
''Ndi, Ketimbang kamu jadi musisi lebih baik kamu jadi mata-mata.'' sela Bayu menyenderkan tubuhnya ke tembok.
''Tergantung keadaan dan situasi.'' jawab Fendi menyeringai licik lalu berdiri.
''Mau kemana kau, Fendi Drajat?'' tanya Bayu yang mulai curiga.
''Pulang... Mau lihat perkembangan Helloween United main enggak di negaraku.'' seru Fendi melangkahkan kakinya.
''Paman... Aku mau lihat.'' teriak Lee.
''Ayah... Aku juga...'' teriak Erra.
''Aish... Nich bocah...'' jawab Fendi memutar matanya yang malas.
''Ayolah ayah...'' seru Erra memasang wajah melasnya.
Tiba-tiba Lee melihat wajah Erra yang memelas lalu tertawa terpingkal-pingkal. Wajah Erra sangat lucu sekali.
''Baiklah... Tapi dengan satu syarat.'' ucap Fendi memutar badannya lalu melihat Erra.
''Apa itu ayah?'' selidik Erra yang penuh curiga.
''Berikan ayah cucu...'' jawab Fendi tersenyum devil.
__ADS_1
Lee dengan cepat menutup mulutnya. Lee memutar bola matanya yang malas ke arah Fendi.
''Kenapa kedua orang ini meminta cucu ya? Sementara aku belum unboxing anaknya Bapak Andi.'' ucap Erra kembali memelas.
''Ha... apakah itu benar?'' tanya sam, Nanda, Fendi dan Andi serempak.
Seketika ruangan tersebut para penghuninya sudah melemas tak berdaya. Mereka ingin melempar Erra ke Samudra Atlantik.
''Aku baru tau Erra yang garang di dunia bisnis dan dunia bawah tanah enggak bisa unboxing perempuan?'' tanya Nanda yang notabenenya ceplas ceplos ingin bersembunyi di bawah tanah.
''Ya kan enggak tau caranya unboxing perempuan dengan benar.'' Jawab Erra dengan polos.
''Ikuti nalurimu nak. Biarkan nalurimu bekerja dengan baik.'' ucap Fendi memberi nasihat ke Erra.
Kemudian Fendi menuju ke tempat duduknya.
''Ngapain balik lagi kesini?'' tanya Bayu.
''Gue lupa coklat panas.'' jawab Fendi menunjuk mug yang berada di depannya.
''Gubrak.'' seru Lee menepuk jidatnya.
''Paman Sam...'' lirih Lee.
''Apa?'' sahut Sam menoleh melihat wajah Lee.
''Kapan ada latihan militer lagi?'' tanya Lee.
''2 bulan lagi... Seluruh anggota White Eragon, Red Swan Lake dan Black Dragon akan bergabung di hutan Aokigahara selama sebulan.'' Sam melihat Erra yang meminta persetujuan.
''Baiklah... Anggota tim khusus Fields of Dissapier akan bergabung.'' seru Lee sangat bersemangat sekali.
''Siapa yang akan melatih?'' tanya Fendi.
''Andi dan March.'' ucap Bayu menyahuti.
''Akhirnya papa turun.'' seru Lee tersenyum sumringah.
''Udah lama kita enggak latihan ekstrim.'' ujar Erra menambahkan perkataan Lee.
''Kalian berdua kalau sudah malam jangan memainkan banyak ronde. Cukup 2 ronde. Jaga kesehatan, jaga fisik dan jaga kekuatan. Kita tetap harus waspada terhadap 2 orang itu.'' jawab Fendi memberikan nasihatnya sambil memegang mugnya lalu menyesap coklatnya.
''Baik paman.'' Timpal Lee.
''Lha kalau gini kapan saya memberikan cucu kepada kalian?'' tanya Erra.
''Pending dulu. Karena latihan ini kalian harus ikut. Ini sangat penting.'' Titah Fendi.
''Baiklah.'' sahut Lee akhirnya berdiri.
''Mau kemana?'' tanya Nanda.
''Mau beres-beres. Sore balik ke kota Jakarta.'' Lee pergi meninggalkan mereka.
''Apakah Lee marah?'' tanya Erra.
''Tidak... Lee jarang sekali marah.'' jawab Andi.
__ADS_1