Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 214


__ADS_3

JLEB. 


Bagai hati tertusuk duri. Rasanya Erra ingin meringis. Perih sekali mendengar perkataan Lee. Erra segera berdiri dan menarik tangan Lee hingga jatuh ke pelukannya. Lee yang sudah jatuh itu pun hanya menghela nafasnya. Lee tidak dapat lari dari pesona sang suami. 


"Lepaskan aku!" Lee mulai berontak agar terlepas dari pelukan Erra.


Namun Erra menghembuskan nafasnya secara lembut. Tubuh Lee mulai meremang. Lee harus menetralisir perasaannya agar tidak terjebak skandal di kantor. 


"Kak… Bukannya kita sama-sama tidak pernah merasakan kencan ya? Kalau aku punya usul bagaimana?" tanya Lee yang memasang wajah puppy eyesnya sambil mendongakkan kepalanya ke arah Erra. 


Cup.


Satu ciuman yang berhasil diterima oleh Lee. Erra segera melepaskan Lee sambil tersenyum manis. Wajah Lee merah merona seperti kepiting rebus. Lee menunduk malu dan tidak berani menatap Erra.


"Usul apa?" tanya Erra.


"Usul bagaimana kita kencan seperti pasangan kekasih yang sangat sederhana. Kita keliling pasar malam. Nak komedi putar, bianglala, kora-kora, main game dan lainnya. Setelah itu kita membeli camilan dengan harga terjangkau. Aku ingin merasakan kencan seperti itu," pinta Lee dengan mata berbinar.


"Bukan ide yang buruk. Lebih baik kita akan akan melakukannya setiap malam Minggu. Usulan kamu diterima." sahut Erra.


"Lee," panggil Garda.


"Iya kak," sahut Lee.


"Bisakah kamu menyembunyikan kemesraan di depanku?" protes Garda yang sedari tadi hatinya meringis.


"Hmmp… Maaf. Aku hanya dijebak oleh Kak Erra," celetuk Lee.


"Kalian ini," sergah Garda. "Kamu tahu kalau disini ada jomblo?"


"Salah sendiri enggak cari," kesal Erra. 


"Bukannya kakak aku tampan? Kenapa enggak mencari jodoh?" tanya Lee.

__ADS_1


"Gimana mau nyari jodoh? Jika kakakmu seperti kulkas berjalan ketika bertemu perempuan," cebik Erra.


"Sepertinya Arini sangat cocok sekali menjadi kekasih kakak. Ah… sudah lama aku tidak menjodohkan orang. Sepertinya aku akan menjadi peri cinta yang siap-siap memanah hati kak Garda dengan panah yang bertuliskan nama Arini. Begitu juga sebaliknya," ucap Lee yang bahagia membayangkan sang kakak tidak jomblo lagi.


"Aku mendukungmu,'' sahut Erra.


Beberapa saat kemudian datang Rani, Bayu dan Andi. Mereka masuk ke dalam dan melihat Lee, Erra dan Garda. Mereka terdiam dan menatap wajah anak-anaknya tersebut.


"Dewan direksi dari luar ada beberapa persen?" tanya Bayu.


"Kurang lebih empat puluh delapan persen. Mereka semuanya penjilat dan bermain politik secara kotor. Aku sudah mengantongi nama-nama yang ingin menghancurkan Tuan Erra," jawab Lee dengan serius.


"Jangan terlalu formal pakai bahasanya. Pakailah bahasa jika kita masih berada di sini," ucap Bayu. "Lalu apakah yang harus kamu lakukan?" 


"Aku sudah mengumpulkan bukti yang akurat. Aku ingin membidik Pak Dwi Purnomo. Pak Dwi memiliki sikap arogansi dan bisa memprovokasi keadaan dengan dewan direksi lainnya. Pak Dwi melakukannya dengan waktu bersamaan," jawab Lee.


"Bahkan Pak Dwi sedari dulu sangat membenci Erra. Bukannya sedari dulu kita tahu awal-awal Erra masuk ke Asco. Papa melengserkan Pak Dwi dan menyuruh Erra duduk di kursi wakil CEO?" tanya Garda.


"Aku hanya menyuruh Pak Dwi menduduki jabatan wakil CEO hanya enam bulan saja. Sebelum Pak Dwi menduduki jabatan tersebut ada mamamu. Mama mengundurkan diri untuk menyusul kamu ke Amerika. Mama memang sengaja ke Amerika untuk memperkenalkan struktur perusahaan Asco dan seluk beluknya. Setelah itu papa mengangkat Pak Dwi menjadi wakil CEO hingga Erra pulang. Tapi sebelum aku memutuskan mengangkat Pak Dwi. Aku sudah membuat perjanjian. Perjanjian tertulis itu disaksikan oleh anggota enam pilar utama dan Pak Tama,'' jelas Bayu yang sudah memprediksi sebentar lagi akan ada politik licik di tubuh dewan direksi.


Lee mengambil tabnya dan membuka berkas-berkas milik Pak Dwi. Lee membacanya dan tersenyum kegirangan, "Memang sedari dulu Pak Dwi membenci Kak Erra. Diam-diam juga pak Dwi pernah menyewa orang untuk membunuh papa agar bisa menduduki kursi jabatan."


"Apakah itu benar?" tanya Rani yang baru mengetahuinya.


"Ya… itu benar,'' jawab Lee.


"Lee lah yang menolongku ketika aku dalam bahaya," ucap Bayu tersenyum manis.


"Bagaimana bisa kamu menyelamatkan Papa?" tanya Erra. "Setahuku kamu berada di Helsinki?"


"Saat itu aku sedang liburan," jawab Lee.


Flashback On.

__ADS_1


"Papa," panggil Lee yang sedikit kecewa. 


Bayu yang mendengar Lee berteriak tersenyum sumringah. Bayu segera berdiri lalu mendekati Lee. Bayu merentangkan kedua tangannya. Tak lama Lee berhambur ke dalam pelukan Bayu sambil tersenyum manis. Setelah berpelukan Bayu melepaskan Lee kemudian melihat mata sang putri angkatnya itu sayu, "Jam berapa kamu pulang?"


"Pagi jam tujuh. Aku memutuskan untuk pergi ke Sebastian. Aku ingin bertemu papa. Aku hanya bertemu dengan Pak Wili. Kata Pak Wili papa berada di Tokyo untuk mengurusi cabang Sebastian yang sedikit bermasalah. Akhirnya aku memutuskan untuk ke sini," jawab Lee.


"Papamu hanya beralasan pergi ke kantor cabang Tokyo. Tapi sebenarnya papamu lagi membereskan kasus yang sedang membelit White Eragon. Ada satu kelompok yang mengadu domba White Eragon dan beberapa klan Yakuza. Hingga pertempuran itu terjadi. Tapi papamu tidak terpengaruh dengan kelompok tersebut. Papamu dan papa March mencari jalan tengahnya untuk mendamaikan mereka. Dan papa sekarang sedang memantau perkembangannya. Berhubung kamu berada disini jika kedua papamu itu tidak bisa mendamaikan mereka terpaksa kamu turun,'' jelas Bayu.


"Baik pa," sahut Lee.


"Jika kamu ingin beristirahat pergilah ke lantai atas!" perintah Bayu. "Apakah kamu mau makan?"


"Ah.. iya… papa benar," jawab Lee.


"Benar apanya?" tanya Bayu. 


"Cacing di dalam perutku sedang berdemo. Mereka ingin meminta diisi," jawab Lee.


Bayu segera meraih dompet di kantong celananya dan mengambil uang berwarna merah sebanyak sepuluh lembar. Bayu memberikan uang itu ke Lee. Namun Lee mengambil uang tersebut hanya dua lembar. Bayu terkejut dengan perlakuan Lee. Matanya membulat sempurna dan bertanya, "Kenapa kamu tidak mengambil semuanya?"


"Ini sudah cukup pa. Aku hanya membeli makanan di pinggir jalan. Sepertinya enak," jawab Lee.


"Hmmp… kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan. Sekelas anak konglomerat makannya di pinggir jalan," keluh Bayu yang hanya menggelengkan kepalanya.


"He… He… He… maaf," jawab Lee. "Terima kasih pa."


"Pergilah," usir Bayu.


Lee segera keluar dari ruangan itu. Lee melangkahkan kakinya untuk ke lift. Namun sebelum itu Lee melihat kedua orang berjas rapi. Mereka sangat serius membicarakan sesuatu. Lalu Lee memutuskan untuk bersembunyi di balik dinding. Lee mengerutkan keningnya dan mulai mengaktifkan mode curiga, Lee bertanya-tanya dalam hati, kenapa mereka membicarakan pekerjaan di tempat seperti ini? Bukankah mereka bisa membicarakan pekerjaan di ruangannya? 


Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di kepala Lee. Lee mencurigai gelagat kedua orang itu. Lee memperhatikan mereka secara seksama. Lalu Lee tidak sengaja kedua orang itu menyinggung nama Bayi.


"Bagaimana sudah kamu terima uang sebesar dua milyar dariku?" tanya pria paruh baya itu.

__ADS_1


__ADS_2