
"Mana ada. Mereka adalah anak-anakku," kesal Erra.
"Kamu kok nggak percaya sih. Mereka adalah anak-anakmu. Kamu bilang wajahnya sangat mirip sekali. Tapi Kenapa kamu mengelaknya?"
"Aku tidak mengelak. Aku masih bingung dengan mimpiku itu. Kenapa aku memiliki tiga anak sekaligus? Bagaimana bisa mereka muat di dalam perutmu itu?"
Seketika Lee menepuk jidatnya karena ulah Erra. Bagaimana caranya Lee mencari informasi tentang kehamilan tiga bayi sekaligus. Kalau itu benar maka dirinya sudah tidak perlu repot-repot lagi hamil anak kedua.
"Seharusnya kamu percaya soal itu. Jangan tidak mempercayainya," ucap Lee.
"Aku percaya soal mereka. Mereka akan hadir di dalam hidupku. Tapi kenapa mereka bisa hidup di dalam perutmu secara bersamaan?"
"Memangnya Kakak tidak pernah belajar biologi? Atau kakak tidak pernah mengetahui seorang wanita bisa memiliki anak tiga sekaligus?"
"Bukannya aku tidak percaya. Tapi aku masih bingung karena mereka hidup dalam satu wadah secara bersamaan."
"Lebih baik Kakak tanyakan kepada Kak Imam saja. Aku sendiri juga bingung kenapa bisa terjadi. Tapi itu adalah sebuah anugerah di dalam hidup seorang wanita."
"Sepertinya kamu harus periksa deh. Soalnya aku curiga."
"Kita periksa di Jakarta saja. Apakah kamu kuat pulang ke Jakarta?"
Mendengar kata Jakarta, mata Erra yang mulai berbinar dengan bahagia. Karena dirinya sangat merindukan makan nasi dengan kerupuk. Mau tidak mau Erra langsung bangun dan bergegas sambil berkemas.
"Ayolah sayang. Kita pulang ke Jakarta sekarang juga. Aku sangat merindukan sarapan pagi makan nasi memakai kerupuk."
"Kalau aku ingin sekali makan nasi uduk."
"Rasanya itu boleh."
"Tapi jangan sekarang mencari nasi uduknya. Orang-orang yang jualan nasi uduk sudah tutup. Aku ganti menu lagi."
"Menu apa lagi?"
"Nanti deh aku pikirkan."
"Kalau begitu kamu hubungi pilot untuk menyiapkan pesawat. Hari ini kita harus keluar dari Bangkok."
"Apakah kamu melupakan nasi kuning buatan pak Bram?"
"Rasanya... Aku sangat menginginkannya. Kalau begitu ayo kita pulang. Tapi belinya di kutub Utara."
Mendengar kutub Utara Lee rasanya ingin menangis saja. Bagaimana tidak sang suami sudah mulai berulah lagi? Kenapa dirinya mengingatkan soal nasi kuning buatan pak Bram? Seharusnya dirinya tidak boleh mengingatkan soal itu. Mau tidak mau Lee harus mencari nasi kuning itu yang berada di kutub Utara.
"Memangnya ada nasi kuning di kutub Utara?" tanya Lee yang bertanya kepada Erra.
__ADS_1
"Adalah," jawab Erra yang mulai otaknya berpikir mencari nasi kuning berada di kutub Utara.
"Kalau aku nggak mau gimana?" tanya Lee.
"Kamu harus mau dan mencarinya bersamaku. Aku harap kamu paham soal itu," jawab Erra dengan mata sendu.
"Jika aku alihkan perhatianmu bagaimana? Aku ingin membuatkan nasi kuning buat kamu. Nggak usah cari Pak Bram lagi ya?"
Mendengar sang istri memasak nasi kuning, Erra langsung tersenyum sumringah. Bagaimana tidak Erra sudah tidak lama memakan nasi kuning buatan sang istri.
"Boleh itu," jawab Erra.
"Kalau begitu ayo kita pulang!" ajak Lee.
"Tapi aku minta nasi kuningnya dimasak di kutub Selatan ya," ucap Erra sambil tersenyum manis seperti anak kecil yang baru mendapatkan uang jajan dari ibunya.
Mata Lee membulat sempurna. Bagaimana bisa dirinya membuat nasi kuning yang berada di kutub Selatan. Sedangkan beras saja tidak bisa ditanam di situ. Akhirnya Lee meminta Erra untuk memahami akan hal itu.
"Jika tidak boleh memasak nasi kuning dikutub Selatan. Aku ingin memakan nasi kuning itu di daerah pantai yang ada pasir putihnya itu," pinta Erra.
"Ya udah. Kalau begitu aku akan berpamitan kepada para Mama untuk pulang terlebih dahulu."
"Apakah itu harus?"
Erra tersenyum manis sambil menatap sang istri menggerutu. Dirinya juga merasakan ada sesuatu yang aneh. Kenapa ia meminta nasi kuning dikutub Selatan? Jujur ini sangat merepotkan sekali.
"Lama-lama Aku aneh ya sayang?" tanya Erra yang tanpa ada dosa sekalipun.
"Iyalah. Mana ada membuat nasi kuning di kutub Selatan sana? Beli beras pun di sana tidak ada. Mau beli ayam pun juga tidak ada. Itulah yang membuat aku bingung sama kamu. Kalau begitu aku akan berpamitan pada Mama terlebih dahulu," jawab Lee sambil tersenyum lembut.
"Kalau begitu aku ikut," ujar Erra.
"Nggak perlu ikut kali. Kamu di sini saja," sahut Lee.
"Aku ikut! Jika kamu melarangku aku tetap ikut!" kesal Erra.
"Ya sudah deh. Kalau begitu ikutlah denganku," balas Lee yang terpaksa mengalah karena ulah sang suami.
Kemudian Lee mengajak Erra untuk bertemu Caroline. Ketika menuju ke kamar Caroline, Rani memanggilnya dan menatap wajah Lee.
"Sayang," panggil Rani.
Lee menoleh lalu menatap wajah sang Mama Rani sambil tersenyum. Kemudian Lee mendekati Mama Rani sambil berkata, "Mama sudah rapi."
"Iya. Mama akan pulang ke Jakarta hari ini. Semua urusan di sini sudah selesai. Adam sudah pulang ke negaranya bersama Yoona. Dua bulan lagi Adam akan melangsungkan pernikahannya," ucap Rani.
__ADS_1
"Syukurlah," sahut Lee yang bersyukur atas Adam yang akan menikah. "Oh iya... Kapan undangannya akan aku terima?"
"Bersabarlah," jawab Rani sambil menatap wajah sang putra pucat sekali. "Kalau begitu Masuklah ke dalam kamar."
Mereka menganggukkan kepalanya sambil berkata, "Baiklah Ma."
Mereka akhirnya masuk ke dalam kamar sambil melihat Bayu sedang bermain game online. Kemudian mereka duduk saling berhadapan. Lalu Rani menatap wajah Erra sambil bertanya, "Kamu sakit?"
"Kak Erra sedang mengalami mual dan muntah," jawab Lee.
"Sepertinya Putri kita sedang mengandung," celetuk Bayu.
"Tapi aku belum memeriksakannya Ma. Aku belum sempat sama sekali," ujar Lee.
"Tidak apa-apa. Sehabis pulang dari sini kamu bisa menghubungi dokter kandungan di rumah sakit Sebastian," usul Rani.
"Tapi ma," potong Erra.
"Kenapa memangnya?" tanya Rani.
"Masa aku bermimpi memiliki tiga anak kembar sekaligus?" Tanya Erra dengan polos.
"Baguslah. Jadi kamu nggak perlu mencetak anak banyak-banyak," jawab Bayu.
"Aku inginnya empat," jawab Erra.
"Dikasih tiga malah nawar," kesal Bayu.
"Bukan begitu pa. Aku ingin Lee melahirkan anakku sebanyak empat kali," ujar Erra.
"Apa bedanya?" tanya Bayu yang masih sabar menghadapi kelakuan Sang putra.
"Ya beda pa. Aku inginnya satu-satu. Tapi aku diberikan Erra kecil sebanyak tiga orang," jawab Erra hingga membuat mereka bertiga langsung emosi.
"Haduh ini orang sudah berulah lagi," gumam Lee yang membuat Bayu seketika sadar.
"Berulah bagaimana?" tanya Rani.
"Kak Erra memintaku untuk memasak nasi kuning," jawab Lee.
"Kalau begitu buatkan saja," suruh Rani.
"Tapi masalahnya ma. Kak Erra memintaku memasaknya di kutub Selatan," kata Lee dengan lirih namun masih bisa didengarkan oleh Rani.
Seketika Rani menepuk jidatnya sambil menatap wajah sang putra. Bisa-bisanya Sang putra meminta istrinya memasak nasi kuning di kutub Selatan, "Apakah itu benar?"
__ADS_1