
Saat mereka mulai mengobrol santai, Lee datang tiba-tiba dengan membawa sebuah pedang. Lalu ia mendekati Erra sambil berkata, “Kakak, Ayo ikut aku.”
“Ke mana?” tanya Erra.
“Ke ruangan bawah tanah,” jawab Lee sambil mengulurkan tangannya.
“Kamu tidak mengajak kakak?” tanya Garda.
“Sepertinya sih iya. Aku butuh bantuan kakak,” jawab Lee.
“Ngapain juga ngajak Garda?” tanya Erra dengan malas.
“Kita akan mengeksekusi Nicky bersama Thiago,” jawab Lee.
“Ayolah kita berangkat! Aku Sudah lama tidak masuk ke dalam ruangan bawah tanah!” ajak Garda.
“Lee,” panggil Nanda.
“Iya Kak,” sahut Lee.
__ADS_1
“Apakah kamu mau mengeksekusi dengan Garda?” tanya Nanda.
“Kenapa kak?” tanya Lee.
“Kamu belum tahu, kalau kakakmu memiliki jiwa iblis?” tanya Nanda lagi.
Sontak saja Lee terkejut, “Ish... Matilah aku!”
“Jangan pernah kamu ikut jika mengeksekusi mereka. Kamu nanti lihat kakakmu sang pembunuh berdarah dingin. Aku sudah memperingatkan kamu dan jika melanggar maka tanggung akibatnya,” jelas Nanda yang melarang Lee mengeksekusi dengan Garda.
Garda hanya tersenyum sambil melihat adik kecilnya itu. Memang sudah seharusnya sang adik tahu kalau Ia memiliki penyakit jiwa yang akut. Penyakit itu tidak bisa hilang sebelum musuh semuanya lenyap. Lalu, bagaimana dengan Lee? Lee memang sebenarnya sudah tahu. Tapi dirinya benar-benar takut jika sang kakak tiba-tiba saja berubah. Namun gardan tidak berubah sedikitpun saat berdekatan. Malah jiwa iblisnya hilang seketika.
“Kamu jadi ikut nggak?” tanya Garda.
“Tak apa. Nanti kamu terbiasa jika melihatku menghabisi orang dengan cara sadis,” ujar Garda yang membuat adiknya bergidik ngeri.
“Kalau begitu, Aku menyerahkan pedang ini untuk kakak,” jawab Lee sambil menyodorkan pedangnya.
Erra yang melihat percakapan adik sama Kakak itu bingung. Di dalam kebingungan itu Erra memandang wajah Nanda sambil bertanya, “Kenapa istriku menyodorkan pedang?”
__ADS_1
“Satu fakta yang harus kalian tahu. Lee memang seorang pembunuh. Tapi Li tidak pernah menyiksa korbannya seperti kalian. Jika sudah terdesak maka sang pengawal kepercayaannya yang melakukan eksekusi tersebut di bawah kekuasaan Lee. Sang pengawal itu lebih sadis dan tidak memiliki hati nurani saat membantai sang musuh,” jelas Nanda.
“Kenapa aku baru tahu ya?” tanya Erra.
“Lee memang menyembunyikan fakta ini dari kalian. Iya tidak mudah menjadi seorang pembunuh seperti kalian,” jawab Nanda yang melihat lebih menunduk ketakutan.
Tangan kekar Erra akhirnya memegang rambut hitam Lee dan halusnya. Iya tersenyum manis melihat berkata, “Tidak apa-apa. Kami nggak marah. Ya sudah pergilah jalan-jalan sama mereka. Biar kami yang lagi mengeksekusi mereka.”
“Kita pulang kapan?” tanya Lee sambil mendongakan kepalanya dan melihat wajah tampan Erra
“Malam ini,” jawab Erra
'Kalau begitu aku ingin membereskan koper,” pamit Lee lalu pergi meninggalkan mereka.
"Lebih Baik begitu. ketimbang lihat keganasanku," ujar Garda.
"Kamu jangan memprovokasi keadaan, Garda!" teriak Nanda.
"Aku tidak mau provokasi keadaan. aku hanya ingin adikku tahu sebenarnya. Aku sudah capek menutup-nutupi siapa diriku sebenarnya di mata adikku sendiri," jawab Garda.
__ADS_1
"Aku ingin tanya sama kalian, Apakah Lee sering membantai orang?" tanya Garda.
"li adalah seorang manusia memiliki hati lembut yang penuh kasih sayang. Li tidak akan membantai begitu saja walau itu musuh," jawab Nanda.