
Ketika Erra berbicara seperti itu, rasanya Lee ingin memukul kepala Erra yang sudah di penuhi dengan kemesumannya. Lee hanya bergidik ngeri membayangkan ular pitonnya masuk ke dalam sarangnya.
Setelah itu, Lee langsung berdiri dan langsung membersihkan badannya. Kemudian Lee langsung memakai baju tidurnya dan berlari keluar.
''Sangat mengerikan melihat ular pitonnya kakak tampan dan aku tidak sengaja meremasnya,'' ucap Lee.
Sementara itu Erra yang masih berada di bathup hanya memandang singa betinanya pergi dengan tatapan kosong. Setelah sadar, Erra langsung pergi mandi. Erra yang notabenenya mempunyai pikiran epic untuk masa depan Asco Corporation Grup Internasional dan nasib 6 pilar utama dunia menjadi mesum ketika melihat Lee yang tanpa memakai benang sehelai pun.
''Ah.... sial... ini karena ular pitonku yang sudah besar ketika melihat singa betina yang seksei itu,'' gerutu Erra yang berada di bawah guyuran shower.
''Tapi aku harus mendapatkan sarang itu, walau aku harus di cakar oleh singa betina. Sabar ya ular pitonku. Ikhlas enggak ikhlas aku harus mendapatkannya,'' gerutu Erra.
Malam itu juga, Erra memaksa Lee untuk memberikan sarangnya. Lee yang masih membayangkan ular piton Erra yang besar langsung menutup wajahnya dengan selimutnya. Lee yang notabenenya otaknya bersih tanpa ada kata-kata mesum menjadi mesum.
Hingga akhirnya Lee bertapa di atas ranjang king sizenya. Lee mencoba menghilangkan kotoran mesum di otaknya.
Erra yang sudah melaksanakan ritual mandinya langsung mendekati Lee. Erra akhirnya dengan jahilnya membuka seluruh pakaian Lee dan memaksa untuk memberikan sarangnya itu.
Malam itu juga mereka melakukan adegan panas di ranjang. Mereka sangat menikmatinya di malam panjang.
Fendi yang awalnya menunggu mereka turun dengan kesalnya meretas CCTV kamar Lee. Tanpa sengaja, Fendi melihat serigala beringas sedang berada di atas singa betina. Fendi langsung melemparkan ipadnya dan mengucapkan istighfar berkali-kali sambil mengelus dadanya.
Garda yang barusan datang dengan para pelayan yang membawa 2 cangkir coklat panas dan cemilan. Garda merasa aneh dengan Fendi.
''Ayah kenapa?'' tanya Garda.
''Ayah barusan lihat genderuwo yang berada di atas kuntilanak,'' ucap Fendi.
''Hmmp.. memang ada ya, di Helsinki ada kuntilanak dan genderuwo ya?'' tanya Garda lagi.
''Tuch buktinya ada,'' jawab Fendi polos.
Garda yang takut namanya genderuwo itu langsung lari menuju kamar dan menutup pintunya.
Fendi yang melihat Garda lari langsung tertawa terbahak-bahak.
''Badan gede doank, mendapatkan julukan psikopat berbahaya koq malah takut sama genderuwo dan kuntilanak,'' seru Fendi sambil tertawa terbahak-bahak.
Pagi yang dingin di kota Helsinki. Sepasang manusia yang selesai melaksanakan lari maratonnya tengah malam masih asyik di dalam mimpinya. Tiba-tiba saja, Lee mengerjapkan matanya lalu melihat wajah tampan Erra.
''Pagi kakak tampan,'' sapa Lee.
Erra yang merasa ada yang memanggil namanya pura-pura tidak mendengar. Lee menyingkirkan tangan Erra lalu menyingkap selimutnya dan merasakan perih di area sensitifnya. Lee menurunkan kakinya secara perlahan lalu berdiri.
''Augh!'' pekik Lee.
Erra yang melihat Lee merasa kesakitan lalu bangun dengan cepat dan mendekati Lee.
__ADS_1
''Kamu mau kemana?'' tanya Erra sambil memegang Lee.
''Aku mau ke toilet. Tapi,'' ucap Lee terdiam.
Kemudian Erra menggendong Lee ke toilet.
''Mau mandi?'' tanya Erra.
''Tidak kak,'' jawab Lee.
''Terus?'' tanya Erra.
''Aku mau pipis saja,'' jawab Lee lagi.
Setelah selesai, Erra menggendong kembali dan membaringkan tubuh Lee.
''Terima kasih,'' ucap Lee dengan tulus.
''Maaf,'' sahut Erra dengan menyesal.
''Tidak usah menyesal. Kamu orang yang pertama menjamahku,'' tutur Lee dengan lembut.
''Benarkah itu?'' tanya Erra dengan wajah berbinar.
''Iya kak,'' jawab Lee dengan tersenyum manis.
''Aku hari ini mau keluar sebentar. Katanya kamu mau meminta cincin pernikahan. Aku akan membelinya,'' ucap Erra.
''Setelah ini aku akan mengambilkan sarapan. Kamu tunggu di sini saja,'' tambah Erra.
''Iya,'' jawab Lee.
Kemudian Erra melakukan ritual mandi. Selesai mandi, Erra mengambilkan sarapan buat Lee. Di situlah Erra bertemu dengan Fendi.
''Semalam kemana saja kalian? Aku tunggu kalian tidak muncul,'' tanya Fendi.
''Hmmp... kami istirahat ayah. Badan kami capek,'' jawab Erra dengan tenang.
''Bagaimana dengan ular pitonmu? Apakah bereaksi lihat singa betina?'' tanya Fendi.
Erra tidak menjawab sama sekali. Karena Erra hanya menganggukkan kepalanya. Setelah mengambil sarapan, Erra masuk lagi ke kamar dan menaruh sarapan Lee di atas nakas.
''Baiklah... Aku pergi sebentar untuk membeli ponsel dan cincin,'' ucap Erra lalu mencium pipi Lee dengan lembut.
''Hati-hati kak!'' seru Lee.
Setelah itu Erra turun dan melihat Fendi.
__ADS_1
''Ayah, dimana aku membeli cincin pernikahan yang bagus?'' tanya Erra.
''Rumah Berlian BL. Di situ kamu bisa menemukan cincin pernikahan dari harga yang murah sampai mahal. Modelnya juga bagus,'' jawab Fendi.
"Apakah Rumah Berlian BL pemiliknya Caroline Riu?" tanya Erra.
"Iya. Aku saranin belilah cincin bersama Lee. Biar Lee yang memilih," jawab Fendi.
"Hmmp... baiklah," ucap Erra.
Kemudian Erra kembali lagi ke kamar dan melihat Lee yang sedang duduk santai di ranjang.
"Lee," panggil Erra lirih.
"Ya kak," sahut Lee.
"Apakah kamu mau ikut bersamaku ke Rumah Berlian BL?" Tanya Erra.
Lee hanya mengangguk tanda setuju.
"Masih sakit?" tanya Erra.
"Iya kak.... Perih," jawab Lee.
Tanpa permisi, Erra langsung mengangkat tubuh mungil Lee dan membawanya ke toilet.
"Sebentar, aku akan menyiapkan air hangatnya. Setelah itu kamu berendam dulu," ucap Erra.
Di ruangan CEO BL, Caroline yang selesai melihat laporan penjualan bulan ini tersenyum puas. Di sisi lain, Caroline merasakan hidupnya yang sangat hampa.
''Andi, kamu tau begitu besarnya rasa cintaku padamu. Aku ingin sekali memelukmu bahkan mencium bibir kamu. Andaikan Emilia tidak hadir dalam hidup kita. Kita akan selalu bersama. Melihat Brucce dan Lee tumbuh bersama-sama. Andi, apakah kita bisa bersama lagi? Apakah kita bisa hidup bahagia?" tanya Caroline Riu dalam hati.
Di New York City, Andi yang selesai merakit PC bersama Jake merasakan hatinya gelisah. Dadanya terasa sesak karena ada yang memanggil namanya dengan suara yang sangat jelas sekali.
"Tika kau kah itu? Aku sangat merindukanmu. Aku ingin kita bersama. Hey... Tika... Kamu ingat tidak, bocah tengil anaknya Bayu. Bocah tengil itu sudah menikahi putri kita. Ah... rasanya aku ingin menghajar bocah tengil itu. Aku ingin menjodohkan dengan Sam atau Nanda, tapi apalah daya? Bocah tengil sudah memenuhi janjinya ketika Lee berusia 7 hari," batin Andi.
Kemudian Sam memukul pundak Andi.
"Paman," panggil Sam.
"Ada apa?" tanya Andi.
"Apakah Paman memikirkan Bunda Tika?" tanya Sam balik.
"Aku yakin Tika masih hidup. Aku ingin mengajaknya pulang dan aku ikat biar tidak pergi lagi," ungkap Andi.
"Ternyata Paman Andi sangat posesif sekali terhadap Bunda Tika," ucap Sam terkekeh.
__ADS_1
"Hey... kamu jangan tertawa begitu. Aku sumpahin kamu bucin sama istrimu kelak!" geram Andi.
"Waduh!!!" sahut Sam lalu tersenyum manis.