
"Jika kakak meminta menemani. Aku tidak bekerja sama sekali," jawab Pita.
"Apakah kamu betah bekerja dengan Kak Sam?" tanya Lee yang tersenyum lucu.
"Kak Sam lebih menyebalkan. Kak Sam sering mengerjai aku," jawab Pita yang berhasil membuat Lee tertawa.
Jujur saja Sam yang notabenenya pendiam ternyata sering jahil. Dahulu Lee sering terkena kejahilannya. Lalu Lee harus membalasnya. Hingga membuat para pengawal yang melihatnya dibuat tertawa terpingkal-pingkal. Setelah itu Lee beralih kepada Arini yang sepertinya memasang wajah suntuk.
"Arini," panggil Lee dengan lembut.
"Iya kak," sahut Arini.
"Kenapa wajahmu sangat suntuk sekali?" tanya Lee yang mengerutkan keningnya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana," jawab Arini yang menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Apanya bagaimana?" tanya Lee.
"Kakak tahu aku disuruh sama Tuan Andi menjadi asisten pribadinya Tuan Garda?" tanya Arini yang kesal.
"Lalu?" tanya Lee yang mulai serius.
"Tuan Garda orangnya sangat menyeramkan. Aku tidak bisa bernafas ketika berada di sampingnya," jawab Arini.
"Menyeramkan bagaimana?" tanya Lee yang semakin dibuat bingung.
"Karena tuan Garda memiliki sifat seperti es yang berada di kutub selatan. Yang dimana es itu susah sekali mencairnya," jawab Arini yang secara berterus terang.
"Arini kamu kalau berbicara sangat jujur sekali. Kamu tahu kita berbicara dengan adiknya tuan Garda disini," seru Pita yang menunjuk Lee.
"Tak apa. Aku tidak akan marah sama kalian. Aku tahu sifat kakakku yang sebenarnya dingin. Maklumlah sifat kakak seperti itu," ucap Lee yang tidak marah sama sekali.
"Jam berapa pesawatnya akan berangkat? Lalu kita akan kemana?" tanya Pita yang sedari tadi penasaran.
Tak lama ponsel Lee berdering. Lee segera mengambil ponselnya sambil mengangkat benda pipih tersebut.
"Halo," sapa Lee dengan ramah.
"Nona… pesawat sudah siap. Anda bisa masuk ke dalam pesawat," ucap seseorang yang berada di dalam pesawat.
"Baiklah kalau begitu," balas Lee yang mematikan sambungan teleponnya.
Lee berdiri sambil mengambil tasnya, "Ayo ikut aku!"
Mereka segera meninggalkan ruangan khusus itu. Mereka berjalan menuju ke apron. Arini dan Pita masih bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan kakak besarnya itu? Kenapa kakak besarnya berangkat tanpa ada Tuan Erra? Apakah mereka sedang bertengkar?
__ADS_1
Pertanyaan demi pertanyaan bergulir di kepala mereka. Mereka tidak berani bertanya. Karena bisa saja menyinggung perasaan kakak besarnya itu.
Setelah memasuki pesawat, mereka duduk dan memakai sabuk pengaman. Mereka menunggu pesawat itu lepas landas.
Di tempat lain ada seorang wanita cantik yang memakai baju serba hitam sedang mengikuti kemana perginya Elizabeth. Namun Elizabeth tidak mengetahui kalau dirinya sedang diikuti. Elizabeth menemui seorang pria gendut dan perawakan pendek. Elizabeth mendekati pria itu dan memandangnya sebelah mata.
"Cih… setelah aku buang dari istanaku. Kamu menjadi pria yang tidak berguna. Bahkan kamu menjadi tukang sampah yang tidak bisa menghasilkan apa-apa," ejek Elizabeth yang tersenyum puas.
"Mau apa kamu kesini?" tanya pria itu.
"Aku ingin mengambil anakku!" jawab Elizabeth dengan ketus.
"Enggak usah bawa Lala. Kamu adalah ibu yang tidak becus mengurus anak-anak!" bentak pria itu.
"Apa itu enggak kebalik ya? Kamu sendiri yang tidak becus mengurus mereka!" bentak Elizabeth dengan suara meninggi hingga terdengar semua orang yang lewat.
Pengawal itu tersenyum devil. Lalu pengawal itu mengambil ponsel itu dan foto Elizabeth dari berbagai sudut. Setelah mengambil foto pengawal itu segera mengirimkan ke Lee.
Sementara di dalam pesawat Lee terdiam dan memandang wajah Pita dan Arini. Lee menceritakan apa maksudnya dari semua ini.
"Aku tahu kalian sangat penasaran," ucap Lee dengan lembut.
"Itu benar kak," jawab Pita. "Memangnya ada apa sih kak? Kita mau kemana?"
"Kita pergi ke Totenhem Inggris. Aku mau membeli semua saham milik perusahaan Elz Groups. Setelah itu aku akan mengakuisisinya dan mengganti BL Company. Apakah kalian akan membantuku?" tanya Lee.
"Kalau begitu kita akan bagi tugas. Pita cari skandal Elizabeth yang bisa menjatuhkan dirinya. Dan kamu Arini tugasnya adalah masuk ke dalam perusahaan itu. Cari kebusukan Elizabeth ketika menjabat menjadi CEO!" perintah Lee.
"Hanya aku saja," ucap Arini yang mulai gusar.
Lee mengerti dengan kegusaran Arini. Lee tidak membiarkan sang pengawal kesayangannya itu menderita. Lee tersenyum smirk dan berkata, "Tidak. Aku akan memberikan seorang teman."
"Siapa itu kak?" tanya Pita.
"Cecilia," jawab Lee yang tersenyum devil.
Pita dan Arini tersenyum bahagia mendengar nama Cecilia. Pasalnya Cecilia adalah seorang ahli dalam bidang penyamaran. Selain itu juga Cecilia adalah kaki tangan Lee di daerah Inggris.
"Ah… aku rindu sama kakak Ceci," celetuk Arini.
"Begitu juga dengan aku. Aku juga jarang sekali bertemu dengannya," ucap Pita.
"Baiklah. Setelah sampai aku akan memanggilnya," balas Lee yang tersenyum puas.
Istanbul Turki.
__ADS_1
"Nyonya," panggil pelayan yang membungkuk sambil memberi hormat.
Seorang wanita paruh baya memutar bola matanya dengan malas. Wanita itu berdiri dan melihat sang pelayan yang sedang membungkuk.
"Ada apa?" tanya wanita itu dengan jengah.
"Ada seseorang yang sudah menunggu anda di bawah," jawab Pelayan itu dengan sopan.
"Pergilah!" usir wanita itu.
Tak lama wanita itu turun dari bawah. Wanita itu melihat seorang pria yang memakai baju serba hitam. Wanita itu mendekati pria itu dan bertanya, "Apakah kamu menemukan adikku?"
"Begini nyonya Emilia kami sudah menyebarkan orang-orang yang ada di Indonesia. Terakhir kami melihatnya dia diculik dan dibawa ke Istanbul. Setelah itu mereka membawa nyonya Alicia ke suatu tempat. Yang di mana nyonya Alicia disekap," jawab orang itu.
Emilia nama orang itu. Sudah beberapa Minggu Emilia tidak mendengar kabar berita Alicia sang adik kembarnya itu. Setelah pertemuan terakhir di Jakarta Emilia telah kehilangan kontak.
"Sebutkan di mana Alicia disekap?" tanya Emilia.
Orang itu memberi tahukan di mana Alicia disekap. Setelah memberitahukan di mana Alicia disekap, Emilia segera mengusir orang itu dari hadapannya. Lalu Emilia segera kembali ke kamar untuk bersiap-siap.
"Ternyata Candra sudah menemukan di mana adikku berada," cebik Emilia.
Emilia membayangkan pernikahan Candra dan Alicia. Emilia berharap Alicia bisa hidup bahagia. Namun disisi lain Emilia tidak mengetahui kalau Alicia sudah pergi dari dunia ini.
Jakarta Indonesia.
Erra sudah sampai mansion Sebastian. Erra menghembuskan nafasnya dan melihat bayangan Lee yang berada di atas tangga. Erra menunduk sedih dan memanggil nama istrinya dengan lirih.
"Lee… kamu di mana? Maafkan aku," ucap Erra dengan lirih.
Selang berapa menit Andi menepuk pundak Erra. Andi menyuruhnya ikut ke ruangan bawah tanah. Erra pun menganggukkan kepalanya dengan pelan dan mereka menuju ke ruangan bawah tanah.
Sedangkan Garda mengikuti mereka dari belakang. Garda berharap sang papa tidak terlalu keras memarahi Erra. Karena Garda sendiri adalah saksi hidup Erra.
Ketika sampai di ruangan bawah tanah mereka disuguhi cemilan dan teh hijau yang masih panas. Mereka berkumpul di meja bundar. Yang di mana meja itu dikhususkan untuk mengadili seseorang tanpa ada kekerasan. Andi mempersilakan kedua pria itu duduk. Setelah duduk Andi juga duduk di hadapan mereka.
"Papa hanya ingin kamu mengerti dengan sikap singa betina. Papa berharap kamu jujur pada kenyataan ini. Papa tidak mau ke sananya membuat rumah tangga kalian runyam. Karena di kamus enam pilar utama tidak ada yang namanya perceraian sama sekali. Apakah kamu mengerti Erra?" tanya Andi dengan tegas.
"Aku mengerti pa. Aku akan katakan sekali lagi. Aku tidak pernah meniduri wanita manapun kecuali Lee. Sedari kecil aku sudah bersumpah kepada diriku. Bahwa seluruh tubuhku hanya untuk Lee pa. Jika Elizabeth mengatakan seperti itu. Kemungkinan besar Elizabeth sedang berhalusinasi," jawab Erra yang secara terang-terangan menjawab pertanyaan dari Andi.
"Garda, jawablah dengan jujur. Apa benar yang dikatakan oleh Erra?" tanya Andi.
"Itu benar pa. Setiap wanita yang mendekat dan memeluk Erra. Tubuh Erra tidak bereaksi apapun. Malahan Erra menjadi patung. Padahal wanita itu menempel terus dan mencari kelemahannya," jawab Garda dengan jujur.
"Kok aku merasakan de Javu," ucap Andi yang merasakan kembali ke masa lalu.
__ADS_1
"Maksudnya papa apa?" tanya Erra yang penasaran.