
Selesai menyelesaikan lari maraton, Erra dan Lee mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor.
Mereka turun dari tangga lalu melihat Andi, Caroline dan Garda.
"Pagi semua," sapa Lee dengan hangat.
"Pagi," sahut Garda.
"Duduklah," ajak Caroline.
Lee dan Erra duduk bersebelahan. Lee yang mencium harum masakkan Caroline langsung menutup mulutnya.
"Kenapa?" tanya Erra.
"Aku tidak bisa memakannya. Maafkan aku ma," lirih Lee lalu beranjak dari tempat duduknya.
Lee pergi ke toilet lalu muntah. Mereka mendengar Lee muntah lalu menatap tajam arah Erra.
Erra berdiri dan menuju ke toilet untuk menyusul Lee ke dalam toilet.
"Lee... sepertinya kamu tidak usah ke kantor," usul Erra.
"Aku akan ikut kakak ke kantor," ucap Lee dengan lirih.
"Makan dulu," ajak Erra.
"Aku tidak bisa makan itu kak. Aku ingin makan nasi putih sama krupuk," ujar Lee.
"Aish... makanan apa itu?" tanya Erra.
"Please kak," jawab Lee.
"Beli roti aja sama susu," usul Erra.
"Baiklah," ucap Lee.
Kemudian mereka kembali ke ruang makan. Lee sangat menyesal sekali karena tidak bisa memakan masakan Caroline.
"Maaf ma," ucap Lee dengan menyesal.
Caroline menghentikan sarapannya. Ia mendekati Lee dan memegang tangan Lee. "Ikut mama sebentar,"
Kemudian Caroline mengajak Lee ke ruang keluarga. Caroline melihat wajah Lee pucat.
"Kamu sakit?" tanya Caroline.
"Enggak ma. Badanku lemas," jawab Lee.
"Apakah bulan ini kamu datang tamu?"
"Aku sudah dua Minggu tidak datang bulan."
"Lebih baik kamu beli testpack lalu kamu cek sendiri. Siapa tau kamu hamil," ucap Caroline sumringah.
__ADS_1
Lee hanya menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin Lee hamil ma."
"Bisa mungkin. Apakah kamu pergi ke kantor?"
"Iya ma. Maaf aku belum bisa memakan masakan Mama."
"Tidak apa-apa."
"Ma... Aku pergi ke kantor dulu."
"Baiklah. Berhati-hatilah."
Kemudian Lee mencari Erra yang sedang sarapan. Lee menjauhi meja makan itu. Ia membuka kulkas dan melihat coklat.
"Apakah coklat ini miliknya kak Garda?" tanya Lee.
"Itu semua milikmu," sahut Garda.
Lee mengambil salah satu coklat itu dan membukanya. Setelah itu Lee memakannya. Rasa mual hilang dan mendapatkan tenaga baru. "Terima kasih Kak Garda."
Selesai Erra sarapan. Erra mendekati Lee dan menggandeng Lee.
"Ma, Pa, Kak Garda kami berangkat dulu," pamit Lee.
"Hati-hati," sahut Andi.
Mereka menatap kepergian Lee yang menghilang dari pandangan mata.
"Ma.. kenapa adik kecil muntah-muntah seperti itu?" tanya Garda.
"Syukurlah!" seru Andi yang bersemangat.
"Sepertinya Papa bersemangat menginginkan cucu?" tanya Caroline sumringah.
"Iya. Ah... Bagaimana ya jika mama ikut hamil juga," jawab Andi.
Mata Garda membulat sempurna dan menatap tajam ke arah Andi.
"Kenapa kamu melihat Papa seperti itu, Garda?" tanya Andi terkekeh.
"Aku tidak bisa membayangkan kalau aku yang berusia 29 tahun memiliki adik," jawab Garda.
Kemudian Garda membayangkan bahwa dirinya sedang menggendong adiknya. Garda langsung meminum airnya.
"Ah.. tidak usah Pa. Aku akan mencari istri setelah ini dan memberikan cucu buat Papa," ujar Garda.
Andi dan Caroline tertawa melihat kelakuan Garda.
"Tenang Mama tidak akan memberikan kamu adik baru," ucap Caroline ke Garda yang gemas.
"Janji ya ma," ujar Garda yang sendu.
"Makanya sekarang kamu cari istri sana!" perintah Andi.
__ADS_1
"Tenang saja Pa," ucap Garda.
"Mulai saat ini kamu belajar dari Mamamu soal bisnis. Papa tidak akan meminta Lee memegang Sebastian. Kamu tau sendiri kalau Erra sudah terkena setan bucin akut," jelas Andi.
"Sangat parah sekali. Erra ketika bucin," ungkap Garda yang menggelengkan kepalanya. "Padahal dulu enggak begitu Pa."
"Ceritakan pada Papa, Erra bagaimana kesehariannya?" tanya Andi.
"Erra adalah pria dingin bisa di katakan pria yang mempunyai aura pembunuh. Pendiam dan jarang ngomong. Bahkan sangat kejam sekali. Jika Erra dalam mode iblis kami dan para pengawal tidak berani mendekat," jawab Garda yang menceritakan keseharian Erra.
"Terus apakah Erra pernah tidur sama perempuan?" tanya Caroline.
"Tidak pernah ma. Yang di dalam otaknya hanya nama Lee. Kami pernah menjebak Erra dengan perempuan yang memakai lingerie seksi untuk melakukan one night stand. Tapi Erra malah pergi meninggalkan mereka. Katanya ular pitonnya tidak bereaksi sama sekali," jelas Garda. "Apakah sama adik kecil ular pitonnya bereaksi?"
"Bereaksi. Buktinya adikmu bisa hamil," ujar Caroline secara blak-blakan.
"Syukurlah," ungkap Garda yang menghela nafasnya.
"Apakah kamu mau menerima sebagai adik iparmu?" tanya Andi.
"Ya Pa. Erra adalah pria baik. Tidak macam-macam. Aku akan menyerahkan Lee seutuhnya ke Erra," jawab Garda yang bahagia.
"Ya udah kita pergi ke kantor. Papa dan Mama akan mengajarimu bisnis," ucap Andi.
Hari pertama masuk kantor bagi Lee dan Erra sangat bersemangat sekali. Sesampainya di kantor lobi. Erra melemparkan kunci mobilnya ke arah satpam.
Dengan aura dingin yang penuh misteri, Erra melangkah masuk dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Lee hanya memasang mode santai tapi mematikan. Lee menatap seluruh karyawan yang mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Saat menuju lift khusus CEO, samping kanan ada seorang perempuan mendekati Erra dengan memakai baju yang kurang bahan itu. Perempuan itu bernama Brenda dari divisi pemasaran. Dengan percaya diri yang tinggi Brenda mulai mendekati Erra.
Ting.
"Siapkan semua laporan tentang penjualan properti!!!" titah Lee yang dingin.
Mata Brenda membulat sempurna. Baru kali ini seorang sekretaris menyuruh untuk mempersiapkan laporan properti. Brenda mendekati Lee dengan tatapan tidak terima.
"Jadi kamu menyuruhku menyiapkan laporan properti. Ambil aja sendiri sana!" ketus Brenda.
Ting.
Pintu lift terbuka. Lee dan Erra melangkahkan kakinya untuk memasuki lift dengan di ikuti Brenda.
Saat lift naik Brenda melakukan aksinya. Brenda dengan nakalnya mendekati Erra dan melepaskan satu kancing kemeja agar Erra tertarik. Mata Erra menoleh ke arah buah melon Lee yang tidak terlalu besar dan sangat cukup di tangannya. Dengan tengilnya Erra menggenggam tangan Lee dan memberi kode. Lee yang belum mengerti kode dari Erra hanya memasang mode batu. Lee diam bukan berarti tidak merespon Erra. Lee sedang menahan rasa mualnya karena mencium parfum Brenda yang sangat menyengat.
Ting.
Pintu lift terbuka. Lee menarik tangannya lalu berlalu beranjak pergi. Sesampainya di ruangan CEO, Lee bergegas masuk ke toilet dan memuntahkan isi dalam perutnya.
Erra langsung menyusul Lee ke ruangannya dan mendengar Lee muntah. Erra mendekati Lee di toilet lalu memijat tengkuknya Lee. Setelah selesai Lee menyiramnya dan memandang wajah Erra.
"Maaf," lirih Lee.
"Tidak perlu minta maaf. Kamu enggak pernah salah sama aku. Apakah kamu mual lagi?" tanya Erra.
__ADS_1
"Iya. Bau parfum Brenda sangat menyengat sekali. Aku memuntahkan semuanya," jawab Lee.