
"Cih…. Dirimu itu membagongkan," kesal Naomi. "Beritahu siapa kamu sebenarnya?"
"Aku tidak akan memberitahukan pada emak-emak gila seperti kalian," teriak pria itu sambil menangis.
"Naomi," panggil Widya.
"Iya kak," sahut Naomi.
"Tambahin satu lagi biar tahu rasa. Kita dibilang emak-emak gila!" kesal Widya.
"Ok kak," balas Naomi.
Naomi berdiri sambil memegang teflon tersebut. Lalu Naomi mengayunkan teflonnya ke arah pria itu hingga suaranya terdengar dari luar.
Bugh!
Pria itu menjadi pingsan karena menahan kesakitan. Naomi hanya menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Lebih baik digeledah saja. Siapa tahu ada kartu identitasnya," ujar Haruka.
"Setuju," sahut Mama Yi. "Biar aku saja yang menggeledah orang itu."
Terpaksa Naomi mundur dan Mama Yi maju. Mama Yi segera mendorong pria itu hingga jatuh tersungkur. Dengan cepat Mama Yi mencari dompet. Benar saja Mama Yi menemukan sebuah dompet lalu membukanya. Mama Yi tersenyum devil mendapati kartu identitas yang sangat aneh sekali.
"Ayo kita keluar. Kita tunjukkan pada para suami!" ajak Mama Yi.
Mereka menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Mereka akhirnya keluar dan mencari keberadaan para suami di ruangan khusus. Sesampainya di ruangan khusus Mama Yi menaruh dompet itu di hadapan mereka. Jake mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Ini apa ma?"
"Sebuah dompet," jawab Mama Yi.
"Buat apa?" tanya Jake lagi.
"Coba kamu lihat saja," jawab Mama Yi memerintah Jake untuk melihatnya.
Jake segera mengambil dompet itu dan membuka isinya. Jake menemukan beberapa identitas tentang pria itu sambil berkata, "Ternyata dia bukan orang sini."
"Entahlah," jawab Mama Yi yang mengedikkan bahunya.
Jake menemukan sebuah kartu identitas yang asing lalu mengambilnya. Jake membaca kartu identitas itu sambil berkata, "Ini kartu identitas milik Black Lotus."
__ADS_1
"Jadi Black Lotus kesini?" tanya Irwan.
"Yupz," jawab Jake yang meraih ponselnya dan mengecek kartu identitas tersebut.
Jake tersenyum devil dan mengirim kartu identitas itu ke Erra dan Lee. Jake berharap ada serangan balik dari mereka.
"Tenanglah.. aku sudah mengirimkan data-data tersebut ke Erra. Cepat atau lambat mereka akan mengamuk," ucap Jake.
"Baguslah," balas Joko.
"Apakah Lee bisa mengetahui kode tersebut?" tanya Irwan.
"Lee memang jago untuk memecahkan seluruh kode yang berada di dunia. Bahkan kode rahasia seluruh negara pun di dunia ini Lee tahu semua," jawab Jake.
"Darimana Lee belajar?" tanya Mama Yi.
"Yang pasti dari papa Andi. Sejak kecil Lee memang memiliki otak jenius. Sangking jeniusnya Lee didaulat untuk memecahkan kode di usia sepuluh tahun. Bahkan jika dunia tahu Lee akan dinobatkan sebagai kriptologi termuda di dunia. Tapi Papa Andi tidak menginginkan kejeniusannya Lee sampai ke publik. Jika sampai dunia tahu hidup, Lee tidak aman. Bahkan Lee sendiri akan dikejar interpol dan seluruh mafia yang berada di dunia," jawab Jake.
"Jadi orang jenius ternyata tidak enak ya?" tanya Naomi yang sebenarnya memiliki otak pas-pasan dalam segala pelajaran.
"Tanya saja pada putramu itu. Apakah enak menjadi jenius?" tanya March.
"Semua itu tergantung pada kita sendiri. Contohnya jika kita terlalu mengeksposes kejeniusan maka ada sisi positif dan negatifnya. Sisi positifnya kita bisa bekerja di perusahaan besar dengan upah menjanjikan. Negatifnya kita bisa diburu oleh orang yang tidak suka. Contohnya tadi kriptologi yaitu orang yang ahli memecahkan kode akan diburu oleh seluruh anggota mafia dan interpol. Karena jika data-data tersebut bisa terkena tangan orang tersebut. Maka rahasia mereka tidak aman," jelas Irwan.
"Ya… ada benarnya juga. Terus orang itu bagaimana pa?" tanya Greg.
"Ah… biarkan saja jadi mainan para mama," ujar Joko.
"Habislah nasib pria itu," ucap Jake, Imam dan Greg secara serempak.
Di dalam pesawat Lee dan Erra sedang duduk berhadapan sambil mengecek keberadaan Marvin. Lee berharap Marvin baik-baik saja. Tak lama Lee mendapatkan sebuah email dari Jake. Lee meraih ponselnya dan membaca pesan itu, "Aku mendapatkan sebuah kartu identitas dari Black Lotus dari Jake."
"Identitas?" tanya Erra yang tidak sengaja melihat pesan dari ponselnya. "Apakah markas sedang diserang?"
"Kemungkinan besar iya," jawab Lee tersenyum devil.
"Kalau begitu, apakah kita akan pindah lagi?" tanya Erra.
"Aku rasa tidak perlu. Selama berada di Tottenham aku menemukan sebuah markas utama Black Lotus. Yang di mana markas itu bisa aku jamah. Cepat atau lambat aku akan meminta izin kepada papa Bayu untuk membumihanguskan markas itu," jawab Lee.
__ADS_1
"Idemu sangat bagus sekali. Enggak usah meminta izin aku sudah memberikan hak kepada kamu untuk melakukan kegilaan," ucap Erra.
"Tidak… tidak… tidak… aku akan meminta izin pada atasan terlebih dahulu," ujar Lee. "Aku tidak boleh melakukannya."
Erra menganggukan kepalanya dengan pasrah. Erra tidak akan memaksa Lee untuk membumihanguskan markas Black Lotus. Lee harus melewati proses terlebih dahulu melalui para petinggi-petinggi White Eragon. Memang cukup ribet sih untuk masalah ini. Karena masalah ini harus dilakukan terlebih dahulu.
"Baiklah kalau itu mau kamu," ucap Erra dengan pasrah.
"Kak… aku akan menghubungi Candra sialan itu memakai nomor Thomassen ya," ujar Lee yang meminta izin.
"Baiklah kalau itu mau kamu," balas Erra yang tersenyum manis.
Markas Black Lotus.
Gerry yang sedang bersantai sedang dikejutkan oleh pengawalnya pucat pasi. Pengawal itu tertunduk lesu sambil membungkuk dan berkata, "Selamat siang Tuan Gerry."
Gerry segera menurunkan kakinya sambil menatap sang pengawal dengan wajah pucat, "Ada apa?"
"Anu tuan. Ada seseorang yang mengirimkan mayat Thomassen ke sini," jawab pengawal itu.
"Thomassen?" tanya Gerry yang mengerutkan keningnya.
"Ya… Thomassen tuan," jawab pengawal itu.
"Bukannya Thomassen sedang berada di Tottenham untuk menjalankan sebuah misi membakar markas utama singa betina itu?" tanya Gerry yang bingung.
"A… a… a… anu tuan… Thomassen sudah menjadi mayat," jawab Pengawal itu dengan ketakutan.
Gerry tidak percaya apa yang dibilang oleh pengawal itu. Gerry segera berdiri dan menarik baju pengawal itu, "Apakah itu benar?"
"Saya tidak bercanda tuan," jawab pengawal itu.
Gerry memberi hadiah bogem mentah ke arah pengawal tersebut. Pengawal itu jatuh tersungkur. Gerry sangat marah sekali ketika mendengar Thomassen sang sahabat baiknya tewas. Seluruh pengawal yang melihat Gerry langsung menunduk ketakutan. Mereka tidak mau melihat wajah Gerry sama sekali.
Setelah keluar dari markas Gerry melihat ada kantong mayat. Lalu Gerry membuka kantong mayat itu sambil melihat tubuh Thomassen yang kaku. Gerry mengepalkan tangannya sambil berteriak, "Mengapa ini bisa terjadi!"
Beberapa saat kemudian Candra telah sampai markas. Candra memarkir mobilnya dengan asal sambil melihat keadaan Gerry yang kacau balau dari dalam mobil. Candra mengerutkan keningnya lalu keluar dari mobil. Seluruh pengawal yang melihat Candra langsung memberikan hormat sambil menyapanya, "Selamat siang Tuan Candra."
"Ada apa ini kok kalian seperti kehilangan orang penting saja?" tanya Candra yang tidak mengerti.
__ADS_1
"Anu tuan," jawab pengawal itu.
Beberapa saat kemudian ponsel Candra berdering. Candra mengambil ponselnya itu sambil melihat nama yang tertera di layar benda pipihnya, sambil berkata "Thomassen."