
Tiga bulan sebelum menikah dengan pak bos gila itu. Papa menyuruhku untuk mencari seorang pasangan hidup. Aku pun ingat dengan umurku yang mau menginjak dua puluh lima tahun. Aku sadar akan umurku itu. Gara-gara kesibukan aku lupa mencari seseorang untuk dijadikan suami. Dengan wajah puppies eyesku, Aku meminta waktu selama tiga bulan mencari pasangan hidup. Akhirnya papa setuju untuk mencari pasangan hidup.
Setelah perjanjian itu aku lupa mencari pasangan hidup. Banyak misi yang telah menungguku untuk dieksekusi. Terpaksa aku tangguhkan pencarianku terlebih dahulu. Karena misi itu lebih penting daripada mencari seorang suami.
Gara-gara perjanjian itu aku terjebak dalam perjodohan yang telah dibuat oleh papa. Pagi itu aku dijodohkan oleh seseorang. Lalu aku berdebat dengan konyol. Alhasil aku menolak perjodohan itu. Jika tidak aku memilih untuk kabur. Aku langsung menepuk jidatku lupa sesuatu hal. Aku lupa kalau papaku adalah seseorang yang sangat bahaya sekali. Sekalinya kabur dalam hitungan jam aku bisa ditemukan. Mau tidak mau aku menyerah. Aku menyetujui ide perjodohan itu. Dengan siapa Aku menikah, Aku tidak tahu. Padahal yang mau dijodohkan adalah pak bosku sendiri.
Setelah selesai sarapan, aku memutuskan untuk pergi ke kantor. Sebelum masuk lobi aku berpapasan dengan Pak bosku. Kami masuk ke dalam lift bersama. Di sana kami diam-diaman dan tidak bicara apapun. Mataku sengaja melirik Pak bosku itu dengan hangat. Dengan hembusan nafasku, aku mengakui kalau Pak bosku itu sangat tampan sekali. Saking tampannya banyak wanita-wanita yang terjerumus dalam pesonanya.
Lalu aku, aku juga sama. Sebenarnya aku sudah terjerumus dalam pesonanya itu. Kadang otakku yang tidak bisa sinkron ini mengatakan, bagaimana aku mendapatkan Pak bos ini. Meskipun gila aku sangat menyukainya. Sesampainya di ruangan, aku membuka tab dan membacakan seluruh jadwal satu minggu ke depan.
Selesai membacakan semua jadwal, Pak bos menyuruhku untuk berbicara sebentar. Aku pun menyetujuinya dan melihat Pak bos itu sedang dalam masalah besar. Tanpa basa-basi Pak bos langsung mengatakan intinya. Tiba-tiba saja Pak bos mengajakku menikah karena sedang dikejar deadline. Awalnya aku tidak mau karena pernikahan itu bukanlah main-main.
Pak bos terus memaksaku untuk menikah dengannya. Aku tanya alasannya kenapa menikah secara mendadak? Karena dia menceritakan semuanya kepadaku. Dengan wajah murungnya Pak bos berkata, Aku sedang di kejar deadline menikah. Mau tidak mau aku pun menyetujuinya. Tapi aku harus memiliki alasan yang jelas untuk papaku. Ketika waktu perjodohan tiba aku harap sudah menikah. Akan tetapi aku harus memiliki alasan yang tepat agar tidak terpisah dari pak bos gila itu. Pak bos gila itu menyarankan bahwa Kalau kamu hamil duluan dari aku. Aku pun menyetujuinya dan malas mencari alasan lain. Sejak itulah cinta kami mulai berkibar dengan sempurna. Ternyata oh ternyata Pak bos adalah seseorang yang telah aku cari selama ini. Beginilah Tuhan memberikan aku seorang pasangan yang sangat unik sekali.
Itulah kisahku bersama Pak bos gila. Aku sangat bersyukur sekali bisa mendapatkan seorang pria gila seperti itu. Jujur aku sangat menghormatinya dan menyayanginya ditambah cintaku semakin bertambah setiap harinya. Aku sudah tidak mau melirik pria lain walaupun mereka tampan melebihi suamiku itu. Hanya satu yang aku ucapkan, aku sangat mencintainya.
“Apakah kamu sudah puas menggangguku?” tanya Erra sambil tersenyum manis.
__ADS_1
“Belum puas,” jawab Lee dengan polos.
“Lalu, Kamu mau lagi?” tanya Erra yang mendapatkan pukulan dari sang istri lalu tertawa terbahak-bahak.
“Dasar omes,” ucap Lee.
“Itu gara-gara kamu. Semakin lama kamu semakin pintar saja,” puji Erra dengan jujur.
“Harusnya begitu. Jika tidak kau akan kabur dengan yang lainnya,” jawab Lee secara blak-blakan.
“Bukankah setiap pria seperti itu? Karena tidak mendapatkan ranjang hangat dari istrinya,” ucap Lee.
“Jangan samakan aku dengan yang lainnya. Aku berbeda dengan pria lain. Ketika aku mendekati wanita lain, aku tidak bisa merasakan apapun. Bahkan wanita itu sangat cantik sekali mirip boneka Barbie,” ujar Erra.
“Enggak... Aku tidak punya menyamakan kamu dengan lainnya. Coba saja para pria lainnya tidak mendapatkan kehangatan malah mencari yang lain. Akhirnya rumah tangga mereka hancur berantakan. Aku tidak mau begitu. Jika kamu begitu, aku pasti meninggalkanmu. Lebih baik hidup sendiri tanpa seorang suami yang menyakiti,” ujar Lee.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Lee. Ia tidak mau hidupnya memiliki seorang suami yang suka selingkuh. Di dalam perjanjian hatinya, Jika dia baik maka aku bisa menjadi orang baik. Jika mendapatkan suami yang buruk dan tukang selingkuh. Dirinya akan mencari seseorang yang lebih baik lagi. Namun keadaannya terbalik, sang suami sangat sempurna sekali untuk dirinya. Begitu juga dengan sebaliknya, Erra juga berdasarkan hal yang sama. Semakin lama cinta mereka semakin kuat.
__ADS_1
“Sini aku bisikin sesuatu,” ucap Erra yang menarik tubuh mungil Lee ke dalam pelukannya.
“Mau ngomong apa?” tanya Lee yang semakin mendekat dan tidur di dada Erra.
“Aku pernah berdiskusi dengan beberapa pengawalku yang sudah menikah,” ujar Erra. “Aku pernah mengatakan sesuatu kepada mereka. Lalu aku bilang gini, siapa yang mau menikah lagi? Nanti kalau nikah lagi biayanya aku tanggung. Mereka terdiam sambil menggelengkan kepalanya. Mereka berempat mengangkat kedua tangannya sambil berkata, jujur bos nikah sih enak. Tapi ngurusnya nggak enak. Satu pasangan hidup membuat kami pusing tujuh keliling, apalagi dua atau tiga dan empat. Makanya kami nggak mau nikah lagi. Satu saja sudah cukup.”
Lee tertawa mendengar Erra berkata seperti itu. Dirinya bingung mau mengatakan apa? Apa yang dikatakan mereka itu benar apa adanya. Lalu, Bagaimana dengan suaminya itu? Erra hanya berkata satu kalimat saja dengan lantang. Lebih baik aku memiliki singa betina satu orang, ketimbang memiliki dua orang istri yang membuat dirinya bingung.
“Kamu kok malah ketawa?” tanya Erra.
“Kakak sangat lucu sekali,” jawab Lee.
“Kan bener. Aku ngomong begitu karena kenyataan. Mereka ingin menikah aku yang membiayainya. Tapi mereka tidak mau sama sekali. Aku malah nego sama mereka. Jika ada yang berani menikah lagi, aku membiayai pernikahan keduanya dengan mewah. Mereka semakin protes kepadaku dan meminta uang itu untuk membayar sekolahnya anak-anak. Kalau bisa sampai kuliah nanti. Jujur saja aku terkejut sama mereka. Mereka lebih mementingkan keluarga ketimbang mencari yang lain. Mereka sangat hebat karena memiliki seorang wanita tangguh dalam hidupnya,” puji Erra yang membuat Lee menganggukkan kepalanya.
“Jujur saja aku juga begitu. Mereka sangat hebat karena sudah tidak mau lagi mencari yang lain. Mereka lebih memikirkan nasib anak-anaknya ke depan. Ditambah lagi biaya hidup semakin mahal. Jika mereka menikah, kepala mereka sangat pening sekali,” ucap Lee dengan jujur. “Lalu bagaimana dengan kakak?”
__ADS_1