
“Iya,” jawab Mama Yi.
“Kalau Lee melarang para mama?” tanya Lee dengan wajah datar.
“Mama akan buatkan kue sus spesial buat kamu,” jawab Mama Yi berusaha menyogok Lee.
Lee hanya bisa menghela nafasnya secara kasar. Bisa-bisanya dirinya disogok oleh makanan. Apalagi makanan itu menjadi favoritnya sepanjang masa. Tak lama Joko datang dan melihat Lee dan istrinya saling terdiam. Joko paham akan hal ini lalu mendekati Lee sambil membisiki sesuatu, “Sudah kasih saja apa yang diminta. Ketimbang papa enggak dapat jatah selama tiga bulan.”
Mata Lee membola sempurna. Lee bingung sama para mama yang ingin ikut berperang. Namun disisi lain Lee sangat berterima kasih atas kehadiran para mama tersebut. Dengan senyumannya manis itu Lee mendekati mereka sambil berkata, “Baiklah... kita akan pergi untuk memilih pedang.”
Kedua wanita itu tersenyum manis dan memeluk Lee. Kemudian mereka akhirnya pergi ke ruangan yang di mana tempat penyimpanan ssenjata.
Di ruangan khusus Saga memegangi kepalanya sambil menunduk Lalu Andi mendekati Saga dengan menaruh minuman hangat di hadapannya.
“Ada apa?” tanya Andi.
“Istriku bersama istrinya Joko ikut kesini. Sekarang mereka bersama Lee. Mereka meminta dua pedang unggul bertarung nanti malam. Padahal dari kemaren aku tidak mengizinkannya untuk misi penggerebekan,” jawab Saga dengan memelas.
“Jujur aku akui kalau istri kamu itu imut dan menggemaskan. Tapi istri kamu sangat menyeramkan seperti Lee. Kemungkinan besar kamu tidak dapat membendungnya jika jiwa liarnya muncul,” jawab Andi.
“Hmmmpppp, Kamu benar. Tapi ini misi berbahaya,” ucap Saga dengan lemah.
“Terus jika dilarang istri kalian akan terdiam dan sebagai gantinya kamu akan membelikan mobil mewah. Sorry... gue tahu siapa itu Haruka. Dia memang adik kelasku dulu. Kami pernah dekat dan bukan pacaran. Tapi dia bukan seorang wanita yang akan silau harta. Jika kamu merayunya dengan mobil mewah. Aku pastikan kamu kena amukan,” ucap Andi.
“Lalu aku bagaimana?” tanya Saga.
“Dengan terpaksa kamu harus memenuhinya,” balas Andi.
Saga tersenyum manis dan menatap wajah Andi, “Bagaimana kalau mereka menjadi emak-emak komplek lalu suruh provokasi ke Black Lotus?”
“Ide bagus tapi konyol. Gue yakin ini berhasil,” celetuk Andi.
Andi segera mengumpulkan seluruh anggota White Eragon dan Black Dragon. Andi akan menjelaskan bagaimana obat-obatan terlarang tidak jadi ke pelabuhan. Andi menceritakan satu taktik jitu untuk membakar gedung itu, menghabisi para pengawal Black Lotus dan barang itu tidak jadi jalan.
Seluruh orang yang berada di sana membulatkan matanya. Memang ada ya taktik seperti itu? Jujur mereka terkejut dengan pemikiran Andi yang super tokcer itu. Lalu mereka saling memandang satu sama lain.
__ADS_1
“Maksud papa di markas?” tanya Lee.
“Iya... di markas. Memang benar sih kita langsung menggerebek markas itu hingga membumihanguskan sekalian orang-orangnya. Jadi kita enggak kerja dua kali,” jawab Andi.
“Oh... iya aku paham. Papa berencana ingin membuat kerusuhan di markas itu. Setelah terjadi kerusuhan kita serang dari belakang dengan cara melemparkan bom di area gudang. Kemudian kita bakar tempat itu,” jelas Imam.
“Nah... itu dia,” sahut Andi.
“Terus siapa provokasi?” tanya Lee.
“Tuh, kedua mama kamu,” jawab Andi sambil tersenyum manis.
“Bagaimana dengan Nicky?” tanya Erra.
“Nicky adalah urusan papa,” jawab Bayu.
“Sendiri?” tanya Erra lagi.
“Tidak... Aku akan mengajak Irwan dan March,” jawab Bayu tersenyum devil sambil memandang Irwan dan March.
“Kalau begitu ya sudahlah. Aku mah nurut saja. Enaknya bagaimana,” ucap Erra.
“Lebih baik lebih cepat. Kita tidak bisa menundanya lagi. Kalau kita menundanya, maka kita membantu meloloskan barang itu berlayar. Aku tidak mau itu,” jawab Andi. “Apakah kamu sudah mengetahui lokasinya?”
“Sudah tahu pa. Memang lokasi itu sangat besar seperti istana,” jawab Lee.
“Kalau begitu beberapa dari kalian harus membawa pasukan masing-masing. Kalau kita tidak membawanya. Kita tidak bisa menjangkaunya!” perintah Andi. “Bubar jalan.”
Mereka akhirnya keluar dari ruangan tersebut. Lee segera menuju ke kamar dan mempersiapkan dirinya. Tak lama datang Erra sambil membawa baju serba hitam berlogo Black Dragon. Erra mendekati sang istri dan memberikan baju tersebut.
“Pakailah baju kini. Karena kamu adalah anggota khusus Black Dragon,” ucap Erra yang tersenyum devil.
“Apa?” pekik Lee yang terkejut dan menatap Erra. “Sejak kapan aku menjadi anggota Black Dragon?”
“Sejak kamu menikah denganku,” jawab Erra.
__ADS_1
“Padahal aku masih aktif di White Eragon,” ucap Lee.
“Ya... padahal aku berharap ingin menjadi ratu mafia Black Dragon,” tambah Lee yang membuat Erra tersenyum manis.
“Ah... boleh juga... memang kamu pantas menjadi ratu mafia Black Dragon. Bahkan sejak lahir kamu sudah menjadi lady mafiaku,” jawab Erra.
“Keluarlah sana. Aku akan bersiap-siap memakai jubah milik Black Dragon,” usir Lee.
“Kenapa kamu menyuruhku pergi?” tanya Erra.
“Aish... kakak... aku enggak mau kelemahanmu bangun,” jawab Lee yang menatap tajam ke arah Erra.
“Baiklah... aku keluar,” balas Erra tersenyum lucu.
Erra segera keluar lalu menuju ke arah gudang persenjataannya. Erra mengambil pedang kesayangannya yang diberi nama Emerald Swords. Ia sengaja mendesain pedang ini hanya untuk menambah koleksi pedangnya.
“Bukannya pedang itu ada dua?” tanya Garda yang mengambil pedang yang lebih panjang.
“Ya... aku masih menyimpannya di kamar. Pedang itu aku rawat sendiri,” jawab Erra yang melepaskan sarung pedangnya dan melihatnya mengkilap. “Pedang yang aku simpan itu sudah ada yang punya.”
“Memangnya kamu jual itu pedang?” tanya Garda.
‘Aku tidak menjualnya tapi detik ini sudah ada pemiliknya,” jawab Erra.
“Enggak dijual tapi ada pemiliknya. Hmmmp... sepertinya itu aneh,” ucap Garda yang bingung.
“Kamu enggak tanya siapa sang pemilik pedang tersebut?” tanya Erra.
“Apakah itu perlu?” tanya Garda.
“Ya... perlulah,” jawab Erra yang membuat Garda malas berdebat.
“Ujung-ujungnya yang punya itu Lee. Kan enggak mungkin lu nyiptain pedang itu yang lebih kecil dari punya kamu Pasti pedang kamu jodohnya pedang kecil itu. Yang artinya sang pemilik pedang itu adalah si mata indah. Yang dimana si mata indah itu sang pemilik pedang tersebut.” Jelas Garda yang membuat Erra mengangga seakan tebakannya salah.
“Ah... artinya semuanya suda tertebak. Baguslah kalau kamu paham,” puji Erra dengan tersenyum manis. “Lee akan memakai pedang itu.”
__ADS_1
Garda hanya manggut-manggut saja mendengar apa yang dikatakan Erra. Memang benar apa adanya kalau Erra menciptakan pedang itu sepasang. Ia ingin melihat Lee memakai pedang itu dan bertarung. Kemungkinan besar pedang itu akan diturunkan ke anak cucunya. Sebelum membuat pedang itu Erra bermimpi Lee bermain pedang dengan lihai. Setelah bermimpi seperti itu Erra membuat dua pedang itu dengan hati dan perasaannya.
“Apakah kamu sudah selesai memakai baju?” tanya Erra melihat Lee terdiam.