Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 308


__ADS_3

“Maafkan Aku. Bukannya aku menyamakan putrimu dengan dirimu,” ucap Irwan dengan menyesal.


“Tidak usah menyesal. Aku tahu maksudmu apa?“ ucap Andi dengan serius.


“Ya... Kamu tahu kan istilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Itulah ibarat anak kita menuruni sifat kita. Tapi aku bersyukur Lee tidak ikut memiliki sifat psikopat kamu,“ ujar Joko.


“Ada... Dia adalah Garda. Garda telah memiliki sifatku yang itu. Bahkan lebih kejam dari aku. Tapi aku yakin setelah menghabisi Chandra dan Adam kemungkinan besar Garda akan sembuh dari jiwa psikopatnya. Aku tidak mau anak-anakku mengidap penyakit seperti itu. Hanya aku saja,“ ucap Andi yang menyesal memiliki jiwa psikopat.


“Jangan pernah menyesal seperti itu. Jiwa itu memang tumbuh di dalam dirimu karena ada sebabnya. Jika kita melihat ke belakang maka itulah yang bangkit dalam dirimu. Aku ingin semuanya berakhir dengan indah dan bisa menjalani hidup normal seperti dulu tanpa ada harus permusuhan satu sama lain. Tidak ada yang tindas menindas antara satu dengan yang lainnya. Kalau bisa kita saling menolong dan memakmurkan seluruh makhluk hidup di muka bumi ini,“ kata Joko yang memberikan sebuah pesan untuk Andi dan semuanya.


Keempat pria itu terdiam dan berdoa di dalam hati masing-masing. Mereka berharap agar semua masalah ini dapat selesai. Semakin lama mereka semakin kesal dengan sikap Candra dan Adam. Jujur mereka tidak peduli jika kehilangan semuanya. Tapi mereka memikirkan tentang para pekerja yang mencari sesuap nasi di perusahaan. Bagaimana mereka akan menghidupi keluarganya?


Di kamar Erra dan Lee masih tertidur sangat pulas seperti bayi. Mereka sangat bahagia karena ada pencapaian dalam hidupnya. Tak pernah terpikirkan olehnya, hidup yang dijalaninya semenarik ini. Erra yang tidak pernah mengenal cinta sedikitpun akhirnya mengenal cinta. Ia tidak menyangka kalau dirinya memiliki seorang pendamping hidup. Jujur saja era sangat bahagia menyambut cinta itu sendiri datang kepadanya.


Sedangkan Lee gadis berparas cantik itu pernah berpacaran banyak pria. Namun hubungan mereka tidak lama. Entah itu karena pria itu menyebalkan atau terlalu posesif. Bahkan Lee tidak pernah menyatakan cinta kepada pria yang bersamanya. Setiap memiliki jadwal kencan bersama kekasihnya, ia mengingat senyuman manis dari Erra kecil. Hatinya berdenyut hebat dan bayangan Erra pun hadir di setiap saat. Maka daripada itu Lee memutuskannya.


Lee merasakan tubuhnya ingin lepas satu persatu. Mengingat posisi tidur yang tidak enak, ia segera membuka mata dan melihat wajah Erra yang masih tertidur pulas. Kemudian Lee bangun dan duduk di samping Erra.


Lee diam dan menatap kamar itu. Jujur ia sangat penasaran sekali dengan kamar ini. Meskipun sudah beberapa hari di sini, namun Lee ingin tahu yang disimpan sang suami.


Akhirnya Lee beranjak dari duduknya dan mulai memeriksa satu persatu setiap sudut ruangan. Ruangan yang didominasi dengan warna biru muda menjadikan kamar ini sangat sejuk. Entah kenapa seorang ketua mafia memilih warna biru seperti itu. Memang tidak habis pikir namun warna itu adalah favorit sang pemilik kamar dan Lee.

__ADS_1


Lee tidak sengaja menemukan beberapa laci yang masih tersimpan rapi. Ia sangat penasaran sekali dengan laci tersebut.


Kemudian dirinya menarik laci itu sambil melihat isinya. Sungguh ia tidak tertarik dengan isi laci itu. Banyak dokumen-dokumen yang tidak penting tersimpan indah di sana. Entah buat apa Erra menyimpannya seperti itu. Jujur saja kamar milik Erra tidak menarik hatinya. Jika ada kesempatan dan waktu maka Lee akan merombak kamar ini menjadi nyaman.


Era yang merasakan tidak ada Lee di pelukannya hanya bisa menghembuskan nafasnya. Ia melihat bayangan istrinya yang sedang menatap jendela. Lalu ia memutuskan berdiri dan segera mendekati istri kecilnya itu. Ia langsung memeluk dari belakang.


“Sudah bangun?“ tanya Lee dengan nada lembut.


“Aku merasakan kamu tidak ada dipelukanku lagi. Makanya aku memutuskan untuk bangun,“ jawab Erra sambil menaruh dagunya di pundak sang istrinya.


“Tubuhku merasa sakit jika tidur seperti itu,” ucap Lee dengan jujur.


“Setelah penggempuran markas sialan itu aku sangat mengantuk sekali,” sahut Erra.


“Kalau begitu lakukanlah. Aku ingin melihat reaksinya ketika tahu gedung yang dia bangun akhirnya hancur berantakan seperti itu. Dan berikan bukti pembayaran Candra yang telah melunasi seluruh hutang-hutang karyawannya,” usul Erra.


“Tadi aku lupa berapa yang harus dibayarkan oleh Chandra ke setiap bank tersebut?“ tanya Lee.


“Tenang saja. Garda sudah mengirimkan semua tagihan yang sudah dibayar oleh Chandra. Kamu kirimkan saja kepada Chandra,” jawab Erra yang memberikan saran konyol tersebut.


“Aku melupakan sesuatu yaitu Candra memiliki riwayat penyakit jantung,“ ujar Lee yang bersedih tapi hatinya kegirangan.

__ADS_1


“Kalau begitu kirimkan saja. Setelah kamu kirimkan maka hapus lagi.“ saran Erra kepada sang istri.


“Tapi sebelumnya aku ingin menghubunginya,“ pinta Lee.


“Aku nggak mau kamu menghubunginya. Aku nggak mau Chandra mendengar suara renyahmu itu. Tapi kalau kamu yang minta... Ya sudahlah,“ kata Erra sambil tersenyum konyol.


Plakkkkkk.


Tangan mungil Lee mendarat ke lengan Erra. Lee sangat kesal kepada sang suami karena membuat pernyataan membagongkan. dan menghajar Erra saat ini juga. Namun niat itu diurungkan. Akhirnya Lee meraih ponselnya untuk mencari nomor Chandra.


Istanbul Turki.


Chandra yang selesai melakukan perawatan memutuskan untuk kembali ke markas. Hari ini tidak ada pengawalan ketat seperti biasanya. Karena Chandra mengira kalau singa betina sudah mati. Namun tebakannya itu salah besar, singa betina masih hidup. Sepanjang perjalanan Candra sangat menikmati jalanan yang dilewatinya.


Jarak antara rumah sakit miliknya dan markas hanya berjarak kurang lebih sepuluh menit. Mau tidak mau Chandra tidak bisa menikmatinya lebih lama.


Ketika keluar dari mobil, seluruh para pengawal sudah berjajar rapi untuk menyebut kedatangan Candra. Lalu Candra keluar dari mobil dan melihat seluruh para pengawalnya. Mereka membungkukkan badannya sambil mengucapkan selamat datang kembali dengan semangat. Akan tetapi Chandra tidak mengatakan apapun apalagi tersenyum. Ia langsung melenggangkan tubuhnya untuk masuk ke dalam markas tersebut.


Para pelayan yang mengetahui ada Chandra bersiap-siap berjajar. Namun Chandra melambaikan tangannya untuk segera bubar. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sambil menghela nafasnya. Lalu ponsel Chandra berdering. Iya pun mengambil ponsel tersebut dan melihat nomor yang tertera di layarnya tersebut. Mata Chandra membulat sempurna karena mengenali nomor itu.


“Apa?” pekik Chandra. ”Benarkah singa betina masih hidup?”

__ADS_1


Chandra tidak mengira kalau singa betina masih hidup. Bukannya ia sudah meninggal karena diburu oleh para mafia dan gangster di Amerika. Chandra pun langsung mengangkat ponsel itu dan menyapa seseorang yang berada di seberang sana.


“Halo,” sapa Chandra.


__ADS_2