
Kemudian Lee mengajak Erra masuk ke dalam ruangan. Erra menatap lekat mata Lee. Tersirat kebahagiaan yang tak pernah di bayangkan.
Erra tanpa sengaja memegang perut datar Lee.
"Aku ingin membuat perutmu menjadi ndut," ucap Erra.
"Bagaimana caranya?" tanya Lee yang bingung.
Erra membisiki Lee. "Mari kita lari maraton tiap malam bersamaku."
Glek.
Wajah Lee langsung berubah menjadi memerah seperti kepiting rebus. Lee tersipu malu ketika teringat ular pitonnya Erra.
Erra yang melihat wajah Lee yang memerah langsung tertawa terbahak-bahak. Erra berhasil membuat wajah Lee memerah seperti kepiting rebus.
"Hayo... Lagi mikirin ular pitonku ya?" tanya Erra.
Lee mengangguk lalu malu. Rasanya Lee ingin menaruh wajahnya di sarang burung walet.
"Sini aku bisiki lagi," ucap Erra.
"Apa itu?" tanya Lee.
"Ular pitonku gratis untukmu. Hanya kamu yang bisa membuatnya bangun dan langsung menyemburkan racun yang unggul. Dimana nantinya akan menjadi," jawab Erra yang bingung.
"Sebentar. Apakah ular piton itu beracun?" potong Lee.
"Sepertinya," ujar Erra.
"Sepertinya bagaimana? Ular piton tidak mempunyai racun. Setahuku ular piton hanya bisa meremukkan mangsanya. Aish... kakak ini bagaimana?" tanya Lee yang masih bingung.
"Kan lain sayangku... Cintaku... Ular pitonku memang tidak bisa meremukkan mangsa. Adanya menyemburkan bisa yang nantinya akan membuat perutmu berubah," jawab Erra.
"Bagaimana bisa?" tanya Lee polos.
Erra yang melihat Lee yang polos menjadi sangat gemas sekali. Ingin sekali menyimpan wajah Lee itu di dalam kantong celananya. Erra tidak mau memamerkan wajah polos Lee kepada siapapun.
"Ya ampun. Kamu sangat lucu sekali sayangku. Rasanya aku ingin sekali menyimpan wajah itu di dalam kantong celanaku. Aku tidak rela jika orang lain melihat wajah polosmu. Oh... Istriku... Aku sangat mencintaimu," batin Erra.
''Hanya ular pitonku yang memiliki racun. Kalau ular piton sesungguhnya tidak bisa mengeluarkan racun. Aku ingin cepat-cepat memiliki banyak bayi," ucap Erra.
"Baiklah. Ayo kita membuat bayi," seru Lee dengan semangat.
Erra yang mendengar Lee menjadi semangat.
"Sebentar... Aku akan hunting hotel dulu ya," ujar Erra.
__ADS_1
Sementara itu dari balik pintu Caroline dan Andi mendengar mereka berbicara. Mereka mendengar apa yang di bicarakan. Caroline tertawa kecil karena kelakuan Lee dan Erra.
"Astaga... Putriku ternyata sangat polos sekali," ucap Caroline.
Ceklek.
Andi langsung membuka pintu dan melihat Lee dan Erra berdua.
"UpZzzz... Maaf salah masuk," ujar Andi yang pura-pura tidak bersalah.
Lee sangat terkejut oleh kedatangan Andi dan Caroline. Lee langsung mendorong tubuh Erra dan menjauhinya.
Erra yang melihat itu hanya terkekeh. Lee benar-benar malu terhadap mereka.
"Maaf," lirih Lee.
"Kenapa kalian meminta maaf pada kami? Seharusnya kalian pergi ke hotel dan mulailah produksi banyak cucu buat kami," ucap Caroline yang lembut.
"Apa!!" pekik Lee.
Caroline langsung mendekati Lee. "Kami sangat mendukung kalian. Mama sangat merestui kalian berdua. Lee kamu itu sudah di minta sama Erra pada waktu kamu masih di kandungan mama."
Lee langsung melotot ke arah Erra meminta penjelasan. Lee seakan tak percaya dengan pernyataan Caroline.
"Berarti aku sudah di paksa oleh kak Erra," ucap Lee.
Lee langsung menekuk wajahnya. Tak menyangka bahwa di hari kelahirannya Erra sudah menunggu.
"Itu benar puteriku," sahut Andi. "Ketika mamamu sudah masuk rumah sakit. Erra merengek minta di antar ke rumah sakit juga. Saat itu mertuamu bingung melihat kelakuan Erra. Mertuamu mengalihkan perhatian Erra dan mengajaknya ke Dufan. Tapi apa daya? Belum sampai di Dufan Erra menangis keras lalu berkata. Calon istriku akan lahir. Kalian tega sama Erra. Erra ingin melihat calon istri Erra."
Lee terdiam tak mengerti apa yang di katakan oleh Erra. Bocah sekecil itu sudah memintanya untuk menjadi calon istrinya.
"Terpaksa mertuamu langsung mengantarkan Erra ke rumah sakit di mana kamu di lahirkan. Mereka menunggu kamu. Setelah kamu lahir Erra sangat bahagia sekali dan langsung menyerobot masuk ke dalam ruangan persalinan dan melihat kamu di bersihkan. Erra tersenyum lebar dan berkata calon istriku sangat cantik sekali. Papa dan Mama langsung tepok jidat melihat kelakuan suami kamu itu," tambah Andi.
"Apa yang di katakan oleh Papa itu benar Lee. Aku memang sengaja menunggu kelahiran kamu. Kamu memang sangat istimewa buat aku," jelas Erra.
Kemudian Lee tersenyum tulus melihat Erra.
"Ma... Apakah Kak Brucce bisa ditemukan?" tanya Lee sedih. "Apakah Kak Brucce sudah meninggal?"
Caroline mendekati Lee. "Firasat mama kakakmu berada di sekitarmu. Cepat atau lambat kakakmu akan muncul sendiri. Bersabarlah... Mama tau kamu sangat merindukan kakakmu itu."
''Akhir-akhir ini aku mengalami de javu. Entah kenapa Garda sangat posesif sekali ke Lee? Kami sering berantem memperebutkan Lee," ucap Erra.
"Maksudnya? Bukannya Garda adalah asisten pribadi kamu di dunia bawah tanah?" tanya Andi.
"Iya pa. Garda selalu membuat aku emosi. Bahkan aku ingin melemparkan Garda ke bulan atau Gurun Sahara," jawab Erra sendu.
__ADS_1
"Apakah kamu mengajak Garda?" tanya Andi.
"Garda berada di mansion. Garda sedang marah karena Lee aku monopoli terus," jawab Erra.
Andi seakan tidak percaya apa yang di ceritakan oleh Erra.
"Apakah Garda mencintai Lee?" tanya Andi.
"Kak Garda tidak mencintaiku Pa. Kami seperti memiliki hubungan yang aku sendiri tidak tau pa. Kak Garda sangat menyayangi aku bahkan sangat melindungiku," jawab Lee.
"Seperti hubungan saudara Pa," sahut Erra.
"Papa juga merasa begitu ketika Garda bersama Lee. Papa sendiri bingung," ujar Andi.
"Aku belum tau kenapa kak Erra tidak pernah cerita tentang pertemuan dengan kak Garda. Ketemu di mana?" tanya Lee.
"Baiklah aku ceritakan pertemuanku dengan Garda," jawab Erra.
Kemudian Erra bercerita bagaimana bertemu Garda.
Flashback On.
Pertengahan tahun 2000. Seorang pemuda sedang berjalan melewati kebun kosong. Pemuda itu berjalan dengan santainya.
Sangking santainya, pemuda itu tak melihat ada sebuah pohon besar di depannya. Pemuda itu terus berjalan hingga akhirnya menabrak sebuah pohon.
BOUGH.....
Pemuda itu hampir saja terpental. Keningnya menjadi benjol. Pemuda itu pergi meninggalkan pohon itu sambil mengumpat. Sepanjang perjalanan pemuda itu bertemu dengan seorang pemuda yang lebih muda usianya.
"Ada manusia ternyata," gumam Erra.
Nama pemuda itu adalah Erra. Erra langsung mendekati pemuda itu.
"Apakah kamu manusia?" tanya Erra.
"Memangnya kamu pikir aku hantu apa!!!" geram pemuda itu.
Kemudian Erra mencubit lengan pemuda itu dan merasakan bahwa pemuda itu manusia. "Ah... Syukurlah... kamu benar-benar manusia."
"Memang aku manusia bro. Aku bukan hantu," seru pemuda itu.
"Perkenalkan nama aku Erra Drajat," ujar Erra dengan wajah tengilnya sambil mengulurkan tangannya.
"Gue Garuda Muda Prayitno. Panggil gue Garda," sahut Garda dengan menjabat erat tangan Erra.
"Mau kemana?" tanya Erra.
__ADS_1
"Gue mau pulang ke gubuk gue," jawab Garda.