
“Menurut informasi yang aku dapatkan sampai tiga hari ke depan,” jawab Lee dengan serius.
“Berarti kita stay disini selama beberapa hari,” ucap Erra.
“Terpaksa... kita sedang sial hari ini,” kata Nanda.
“Setelah memburu coklat... sebaiknya kita langsung pulang ke Jakarta. Aku sudah gila dengan pekerjaan yang sudah menumpuk di meja kantorku,” kesal Erra yang tidak sanggup mengerjakan tugas yang menumpuk banyak.
“Ah... biasanya kamu suka mengerjakan tugas banyak seperti itu?” tanya Lee yang melihat nasi gorengnya.
“Beda sayangku. Dulu aku memang suka menghabiskan waktuku di kantor hingga malam. Bahkan tengah malam. Aku sekarang sudah memiliki seorang istri yang harus dijaga setiap jam,” jawab Erra dengan jujur.
“Baguslah. Memang setiap pria kalau sudah menikah pasti berubah. Mereka pasti akan merindukan istrinya saat berada di kantor. Atau juga pekerjaan banyak mereka membawanya pulang dan mengerjakannya di rumah sambil memandang wajah istrinya biar semangat,” jelas Imam yang sudah mensurvey karyawan di kantor Pradipta.
“Lalu bagaimana dengan kakak yang berprofesi sebagai dokter?” tanya Lee.
“Aku harus stand by dan ponselku harus nyala dan enggak boleh mati. Hampir setiap jam aku mendapatkan laporan dari para suster untuk laporan pasienku. Bisa dikatakan aku kudu on-line,” jawab Imam dengan jujur.
“Berat juga ya... jika sudah mengenal ilmu kedokteran,” ucap Suci.
“Sebenarnya enggak berat sih untuk soal ilmu seperti itu. Kamu harus memiliki ilmu seperti itu walau sedikit. Jika suatu saat keluarga kita atau tetangga kita sewaktu-waktu ada terkena penyakit mendadak. Kamu bisa melakukan pertolongan pada awal kejadian tersebut. Bisa dikatakan untuk menyelamatkan seseorang itu. Agar tidak parah,” jelas Imam yang membuat mereka mendapatkan ilmu.
“Kakak benar. Manusia dilahirkan untuk mengerjakan misi dari Tuhan. Selain itu juga manusia disuruh belajar mulai dari hal kecil hingga besar. Intinya mulai dari yang tidak tahu bisa menjadi tahu. Itulah kenapa kita harus paham seluruh ilmu yang berada di dunia ini,” tambah Lee.
“Termasuk ilmu bercinta?” tanya Erra yang membuat mata Lee membulat sempurna.
“Hmmp... semakin lama kakak punya omes,” kesal Lee yang dibarengi oleh Imam, Nanda dan Erra tertawa.
“Itulah kenapa setiap pria yang habis menikah pasti pikirannya begitu,” sahut Angela yang membuat ketiga pria itu semakin tertawa kencang.
__ADS_1
“Yang dikatakan Angela benar. Setiap pria yang sudah menikah ternyata pikirannya berada di sana. Harap maklumlah,” tambah Suci yang menyunggingkan senyumnya.
Lee menganggukan kepalanya tanda setuju. Ia memang melakukan survey ke para pengawalnya. Dengan berkata jujur para pengawal membenarkan apa kata Lee.
“Habis gini aku mau tidur,” ucap Lee yang sudah menguap.
“Baiklah. Tidurlah dengan nyenyak. Besok pagi semoga saja badannya sudah reda,” jelas Erra.
Jakarta Indonesia.
Tepat jam 05.00 Caroline terbangun dari tidurnya. Ia segera meraih ponselnya dan melihat ada berita dari Maura. Ia sangat terkejut akan pesan itu dan menjerit histeris. Sementara Andi yang masih terlelap tidur terkejut dengan teriakan Caroline. Ia segera bangun dan memeluk sang istri sambil bertanya, “Ada apa?”
Caroline menumpahkan semua air matanya ke piyama Andi. Ia tidak menyangka kalau Maura mengirim pesan tentang pesawat tergelincir di bandara Belgia. Ia akhirnya menangis sesenggukan.
Tanpa menjawab jawaban Andi meraih ponsel Caroline sambil membaca pesan itu. Dadanya terasa sesak dan hampir tidak bisa bernafas. Ia akhirnya memenangkan Caroline sambil mengelus lengan Caroline sambil berkata, “Tetaplah tenang. Brucce akan baik-baik saja.”
“Bagaimana aku bisa tenang dengan keadaan Brucce? Aku sudah tidak mau berpisah lagi dengan anak-anakku,” ucap Caroline yang masih sesenggukan.
“Aku enggak tahu lagi! Padahal dia ingin menikah dengan gadis impiannya,” kata Caroline.
“Tenang saja. Brucce tidak apa-apa,” hibur Andi yang memiliki insting kuat kalau Garda baik-baik saja.
Akhirnya Andi menghubungi Lee untuk mencari keberadaan Garda. Dalam hitungan detik sambungan telepon itu tersambung. Andi menceritakan kejadian pesawat pribadi ada yang tergelincir karena badai salju dan angin. Namun Lee saat itu berada di mansion milik Nanda. Ia berjanji akan berusaha untuk mencari keberadaan Garda.
Kembali lagi ke Brussels.
Lee yang ingin memejamkan mata tidak sengaja mendengar ponselnya berdering, Ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Hingga akhirnya Lee mengangkatnya dan mendapatkan cerita kejadian memilukan itu. Namun Lee segera mematikan ponselnya. Ia berusaha melacak keberadaan Garda. Saat melacak keberadaan Garda, Erra masuk ke dalam dan melihat Lee yang sibuk. Ia segera mendekati Lee dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
“Kamu kok belum tidur? Katanya kamu mengantuk?” tanya Erra yang membuat wajah Lee menoleh ke samping.
__ADS_1
“Hmmpp... papa Andi tiba-tiba saja menghubungiku dan mengatakan ada pesawat pribadi tergelincir pas waktu mau terbang. Papa ngomong kalau Kak Garda berada di sini demi perjalanan bisnis. Jadi aku disuruh melacak keberadaannya. Mama sampai histeris mendapatkan berita seperti itu,” jelas Lee.
Erra menganggukan kepalanya tanda paham apa yang diceritakan oleh Lee. Ia mulai mencerna apa yang dikatakan oleh Lee. Ia mulai bermain spekulasi. Tapi Erra mengatakan kalau Garda selamat dari tergelincirnya pesawat itu.
“Kalau aku bermain firasat. Garda selamat dari sana. Bahkan baik-baik saja,” ungkap Erra yang menangkap Lee yang hendak berbaring.
“Aku juga begitu. Sekarang Kak Garda sekarang berada di bandara. Aku akan mencoba menghubunginya sebentar,” pinta Lee.
Erra menganggukan kepalanya tanda setuju. Ia mulai meraih ponselnya. Ia mulai mengecek pekerjaan di kantor untuk ditandatanganinya malam itu juga. Erra bangun dan melihat keberadaan tab Lee yang menganggur. Ia akhirnya mengalihkan pekerjaannya melalui tabnya, “Hubungi saja. Siapa tahu kakakmu tidak apa-apa. Aku juga merasakan hatiku mulai enggak enak.”
Lee memutuskan untuk menghubungi Garda. Memang sekali dua kali tidak angkat. Lalu ketiga kalinya Garda mengangkatnya.
Di bandara Garda yang tidak bisa memejamkan matanya mendengar ponselnya berdering. Ia akhirnya mengangkat ponselnya dan menyapa orang yang berada di seberang sana.
“Halo,” sapa Garda yang masih menatap bandara sedang ramai.
“Kak Garda berada dimana?” tanya Lee yang merasa khawatir.
“Kamu enggak apa-apa kan?’ tanya Garda yang merasakan adiknya khawatir.
“Aku enggak apa-apa. Aku berada di mansionnya Kak Nanda,” jawab Lee.
“Syukurlah. Kamu enggak keluyuran kemana-mana,” ucap Garda yang penuh rasa syukur.
“Aku enggak jadi kemana-mana. Sebelum aku berangkat aku mendapatkan informasi tentang badai salju dan angin yang akan menerjang kota Brussels,” ujar Lee yang mengucapkan rasa syukur.
“Posisi kakak sekarang berada di mana?” tanya Lee yang sangat penasaran sekali dengan keberadaan Garda.
“Aku berada di bandara. Aku bersama Sam, Pita dan Arini tidak bisa keluar dari bandara,” jawab Garda yang membuat hati lega sang adik.
__ADS_1
“Apakah kakak enggak mendengar apa yang telah terjadi di bandara?” tanya Lee.
“Maksud kamu?” tanya Garda dengan serius.