
Belum sempat menjawab di luar ada suara jet yang akan mendarat. Suara itu sangat memekkikkan telinga. Hingga akhirnya mereka mencari sumber suara itu.
"Siapa yang datang?" tanya Erra.
"Mungkin Jake atau papa March," jawab Lee.
"Apakah kamu mengundangnya?" tanya Erra.
"Tidak… aku hanya say hello tadi pagi,'' jawab Lee.
"Kalau begitu kita bersiap," ajak Garda.
"Kalau itu musuh bagaimana?" tanya Erra.
"Itu lebih bagus. Aku malah semakin semangat untuk membiarkan musuh itu datang. Jadi aku tidak lama-lama memburu musuh tersebut," jawab Lee.
Mereka akhirnya menuju ke pendaratan jet tersebut. Mereka melihat Mama Rani dan Mama Caroline. Lee tersenyum dan segera berlari menyambut kedatangan mereka.
"Mama," seru Lee.
"Hai… Lee… kapan kamu pulang? Kami sangat merindukanmu," ucap Rani.
"Masalah belum selesai. Kami ingin menuntaskan semuanya. Biar tidak menjadi duri dalam daging," jawab Lee yang memeluk kedua para mama.
"Aish… kamu itu," kesal Caroline. "Apakah kamu tidak rindu mama?"
"Pastinya ma. Aku sangat merindukan kalian," jawab Lee.
"Apakah kamu tidak merindukan para papa?" tanya Andi.
Lee melepaskan kedua para mama. Akhirnya Lee menatap wajah Andi dan memeluknya, "Aku sangat merindukan kalian. Rasanya aku ingin cepat pulang."
"Selesaikan dulu pekerjaan kamu. Setelah itu kamu pulang," titah Andi.
"Pastinya," ujar Lee. "Mari masuk!"
Sementara kedua pria itu hanya terbengong bingung. Saat berdiri tegak seperti Pengawal yang sedang menyambut kedatangan tuan besarnya malah dibiarkan begitu saja oleh kedua orang tuanya itu. Mereka menghembuskan nafasnya secara kasar. Erra dengan cepat menarik tangan Bayu sambil berkata, "Apakah papa tidak melihat kami?"
Bayu dan Andi memang sengaja untuk tidak memandang mereka. Sebelum pesawat mendarat Andi dan Bayu sepakat untuk tidak melihat mereka. Dan lebih kasarnya lagi membiarkan mereka. Bayu pun terkejut mendengar panggilan Erra yang sepertinya memasang wajah memelas, "Aku kira disini tidak ada orang.''
Duarrrr!
__ADS_1
Bagai petir di sore yang sangat cerah. Erra sungguh terkejut dengan sikap Bayu. Bagaimana bisa Bayu begitu cepat melupakan Erra sang putranya itu.
"Maaf… aku hampir saja melupakan kamu," ucap Bayu yang malas melihat wajah tengil Erra.
"Kenapa papa kesini?" tanya Erra.
"Mau ngecek persediaan senjata di gudang ini," jawab Bayu. "Sekaligus papa ingin membuat meeting tahunan. Kamu tahu beberapa Minggu lagi tahun ini akan segera berakhir?"
"Setelah ini aku akan pulang. Laporan tahun ini harus dibereskan. Rasanya aku kerja seperti dikejar hantu saja," jawab Erra.
"Lanjutkan saja perjuanganmu itu. Akhir tahun ini papa akan mengajak mama pergi Maldives," ucap Bayu.
"Terserahlah. Aku ingin membuat Erra kecil. Untuk menemanin diriku dan Lee yang sangat kesepian," ujar Erra.
Pletakkkkk.
Garda sangat kesal terhadap Erra. Bagaimana bisa Erra mengatakan seperti itu? Seharusnya Erra bersyukur memiliki seorang istri malah bilang kesepian.
"Kenapa kamu memukulku?" tanya Erra.
"Kenapa kamu bilang kesepian?" tanya Garda balik.
Erra masuk untuk meninggalkan Garda dan Bayu. Tak lama Erra mendapatkan ide untuk merayakan malam tahun baru. Erra akan melewatkan tahun baru bersama Lee. Ah… rasanya itu sangat menyenangkan. Bahkan Erra akan mengajak Lee tinggal di sebuah apartemen miliknya. Mereka akan mengerjakan tugas rumah tangga berdua. Bisa saja mereka akan mempererat hubungan suami istri.
"Ya… kamu benar. Dari dulu memang Lee adalah wanita yang diinginkannya," ucap Bayu.
"Apakah papa ada misi tertentu kesini?" tanya Garda.
"Tidak ada misi apapun. Mama kalian sangat merindukan Lee. Mereka memaksa ingin bertemu dengan Lee," jawab Bayu.
Mereka akhirnya masuk ke dalam. Mereka melihat Lee dan Erra sedang mengobrol bersama para mama dan juga Andi. Akhirnya Bayu dan Garda memutuskan untuk bergabung.
Tak lama Nanda datang sambil membawa kabar berita. Nanda segera mendekati mereka lalu bergabung di samping Garda.
"Bagaimana kabar Emilia?" tanya Erra.
"Tenang saja. Emilia sudah aman di tangan Rustam. Bahkan aku sudah menurunkan beberapa pengawal. Nanti malam mereka akan kesini," jawab Nanda.
"Kerja yang sangat cepat sekali," puji Bayu.
"Pa… ada yang ingin aku bahas tentang Emilia," kata Lee.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Andi.
"Apakah dulu Emilia pernah menjadi pegawai papa di Sebastian?" tanya Lee.
"Enggak tahu ya… papa sudah lupa itu. Papa kebanyakan orang untuk mengingat siapa-siapa yang pernah berdekatan," jawab Andi.
"Apakah Emilia adalah masa lalu Andi?" tanya Bayu.
"Ya… pasti mama juga kenal donk sama Emilia?" tanya Lee ke Caroline.
"Sepertinya mama mengenal Emilia," jawab Caroline yang memegang kepalanya sambil mengingat siapa itu Emilia.
Lee kemudian menceritakan siapa Emilia? Dari awal Emilia bertemu dengan mereka. Hingga Emilia membuat keluarga Sebastian terpecah belah. Mata Andi membulat sempurna bahwa selama ini biang keladinya Emilia. Andi sangat geram dan akan membuat perhitungan. Lalu bagaimana dengan Caroline? Caroline juga sangat geram. Kali ini Caroline tidak akan melepaskan Emilia. Yang lebih parahnya lagi Caroline sangat marah dan akan membuatnya menderita.
"Kami sudah memutuskan untuk menyuntik mati Emilia. Setelah itu kami akan mengirimkan mayatnya ke Candra. Aku sudah malas main kucing-kucingan," kesal Lee.
"Lalu rencana kamu?" tanya Andi.
"Menghancurkan Taylor Inc. Aku sudah tidak sabar lagi melakukannya itu," jawab Lee.
Malam Pun tiba tepat pukul sepuluh Lee memakai baju serba hitam. Lee menunggu kedatangan Emilia sendirian. Tak lama datang sebuah mobil mewah yang segera mendekati Lee. Sementara itu sang pengemudi menghentikan mobilnya sambil melihat Emilia, "Nyonya… kita sudah sampai."
"Terima kasih," sahut Emilia yang tidak sengaja melihat seseorang yang memakai baju serba hitam. "Itu siapa ya? Kok dia berdiri di hadapan kita? Apakah orang itu sudah bosan hidup?"
"Mungkin saja nyonya," jawab Emilia.
Emilia terpaksa keluar dari mobil. Emilia melihat tidak ada pengawal satupun. Emilia mendekati perempuan itu dan tidak sengaja melihat wajah Lee.
"Hi… Emilia… apa kabarmu?" tanya Lee yang memasang mode dingin.
Sontak saja Emilia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Emilia tidak menyangka kalau bertemu dengan Lee.
Selang beberapa menit Emilia menyerang Lee bertubi-tubi. Namun Lee dengan cepat menghindar pukulan itu. Lee segera berpindah-pindah tempat agar Emilia tidak menyerangnya. Ketika sudah berpindah ke belakang Lee mengepalkan tangannya dan memusatkan sedikit tenaga dalamnya. Setelah terkumpul sedikit Lee memukul tulang punggung Emilia hingga…
Bugh…
Emilia terjatuh tersungkur mencium tanah sambil memuntahkan darahnya. Emilia tidak menyangka kalau Lee memiliki kekuatan yang tidak bisa dikalahkan. Hanya satu pukulan dirinya langsung membuatnya lemah. Seharusnya dirinya tidak menyerang Lee dan harus mencari celah disaat lemah.
"Emilia, kenapa kamu jatuh tersungkur? Bukannya kamu ingin membakar markasku? Bakarlah kalau kamu mau! Aku mengizinkan kamu!" ucap Lee dengan datar.
Emilia hanya bisa merasakan punggungnya patah. Emilia kebingungan apa yang harus dilakukannya. Seharusnya Lee tidak berada di sini. Namun perhitungan Emilia salah besar.
__ADS_1
"Bu… Bu… Bu… Bukannya kamu berada di Jakarta?" tanya Emilia yang masih menahan sakit.