
"Kamu nggak tahu apa itu dokter?" tanya Lee dengan kesal.
"Aku memang nggak kenal dokter," jawab Erra yang menunduk seperti anak kecil yang baru dimarahin ibunya.
"Maksud kamu apa sih? Bisa-bisanya kamu nggak kenal dokter. Kamu lagi sakit?" Lee semakin bingung dengan kelakuan Erra.
"Kepalaku pusing... Perutku nggak enak... Tiba-tiba saja," jawab Erra sambil menutup mulutnya dengan tangannya. "Di mana toilet?"
Lee segera berdiri lalu membantu era berdiri. Kemudian dirinya memegang Erra sambil bertanya, "Di mana toilet?"
Beberapa saat kemudian datang seorang pelayan pria yang mendekati mereka. Lalu pelayan itu segera mengantarkan mereka ke toilet. Sesampainya di toilet Lee mengucapkan terima kasih kepada pelayan tersebut. Lalu Erra masuk ke dalam dan...
Hoek...
Hoek...
Hoek...
Ketika berada di luar Lee mendengar Erra yang sedang muntah. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya dalam hati, "Ada apa dengan Kak Erra? Tiba-tiba saja ke Erra muntah-muntah?"
Lee semakin panik lalu masuk ke dalam toilet dan melihat wajah Erra yang pucat. Ia semakin bingung dengan keadaan Erra. Pagi tadi Erra baik-baik saja. Tiba-tiba saja Erra berubah seperti anak kecil. Kemudian muntah-muntah seperti ini. Akhirnya Lee menatap wajah Erra sambil bertanya, "Ada apa?"
"Perutku rasanya nggak enak. Aku mual makan di sini. Aku nggak mau makan di sini," jawab Erra dengan jujur.
"Bukannya restoran ini adalah milik mama?" tanya Lee.
"Aku nggak peduli itu. Aku ingin makan di tempat lain. Yang baunya tidak menyengat seperti ini," jawab Erra yang menunduk sendu.
"Kenapa kamu seperti itu? Kalau begitu ayo kita pergi! Lebih baik kau pilih makanannya saja! Aku juga ikutan makan sama kamu," ajak Lee
__ADS_1
sambil mengapa tubuh Erra.
"I'm sorry darling," ucap Erra dengan lirih yang terdengar di telinga Lee.
"Tak apa. Aku baik-baik saja. Kamu yang tidak baik-baik. Setelah makan kita pulang ke hotel," sahut Lee sambil mengulas senyum.
Terpaksa Lee berpamitan dengan para papa karena tubuh Erra tiba-tiba saja lemah. Saga yang melihat Erra pucat hanya menghembuskan nafasnya sambil berkata, "Kemungkinan ada yang hamil?"
Sebelum melangkahkan kakinya Lee mendengar kata hamil. Wanita bertubuh mungil itu pun mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Memangnya siapa yang hamil pa?"
"Paling juga singa betina yang hamil," jawab Saga yang terkekeh dan memberikan kode buat Andi dan Bayu.
Jujur Lee semakin panik dengan keadaan Erra yang semakin melemah. Namun dirinya mendengar kalau Papa Saganya itu mengatakan, paling singa betina yang hamil. Dalam hatinya Lee bertanya-tanya, "Apa benar aku hamil? Sepertinya aku harus membeli alat tes kehamilan."
Setelah keluar dari restoran itu Erra sudah tidak mual lagi. Melainkan wajahnya sumringah dan menatap wajah sang istri. Ia tersenyum sambil berkata, "Aku sudah tidak apa-apa."
"Akhir-akhir ini aku membenci aroma masakan yang menyengat. Rasanya aku ingin muntah saja. Makanya aku jarang sekali makan di kantin. Aku lebih memilih makan nasi sama kerupuk," jawab Erra dengan jujur.
"Kakak makin aneh saja," decak Lee.
"Aku nggak aneh. Tapi perutku yang aneh. Sepertinya aku harus periksa ke dokter deh," ujar Erra.
"Kalau gitu Ya sudahlah. Kita akan pergi ke dokter sekarang," ajak Lee.
"Kalau aku nggak mau?" tolak Erra yang tiba-tiba saja membenci dokter.
"Astaga nih orang ya... Bisa-bisanya buat drama siang ini. Kalau begitu suruh Kak Imam saja deh yang memeriksa kakak," kesal Lee.
"Pokoknya aku nggak mau ke dokter! Pokoknya aku nggak mau ke rumah sakit! Kalau kamu masih memaksa. Aku bakalan tidak makan seharian!" rajuk Erra.
__ADS_1
"Terserah kamu saja," balas Lee yang menarik tangan Erra untuk kembali ke kamar hotel.
Sementara para papa melihat mereka berdua sedang bertengkar. Entah ada apa tiba-tiba saja mereka bertengkar seperti itu. Biasanya mereka jarang sekali bertengkar apalagi di depan umum. Kemungkinan besar Erra sedang sakit. Sehingga mood Erra menghilang begitu saja.
"Ada apa dengan Erra?" tanya Irwan.
"Aku nggak tahu. Padahal dia baik-baik saja tadi pagi," jawab Bayu.
"Biasa, Erra dalam fase ngidam. Lihat saja tadi, yang tiba-tiba saja ceria berubah menjadi murung. Lalu berubah lagi sifat kekanak-kanakannya muncul. Lee bingung dengan apa yang terjadi? Kemungkinan besar Lee sedang hamil. Makanya pengaruhnya pada Erra," jelas Saga.
"Ah syukurlah... Akhirnya putri kecilku sedang berbadan dua," ucap Bayu dengan bahagia.
"Meskipun begitu Putri kecilmu itu kudu periksa terlebih dahulu. Biar calon bayinya bisa dideteksi," saran Saga.
"Memang betul sih. Nanti deh kalau sudah sampai Jakarta. Aku akan paksa Lee periksa ke dokter. Aku harap ada kehidupan baru di dalam perut putriku itu. Kayaknya aku rindu sekali sama tangisan Anak kecil," ucap Andi dengan sendu.
Mendengar penjelasan Saga, Adam berubah menjadi sendu. Pria tua itu sudah tidak mempunyai harapan lagi. Andaikan dulu dirinya tidak berbuat jahat kemungkinan besar hidupnya bahagia. Pulang kerja disambut dengan tawa canda sang istri dan anak-anaknya. Pagi-pagi melihat Sang putra putrinya sedang bermain. Memang ini adalah kesalahan yang fatal buat dirinya. Tapi apakah Yoona mau mengandung benihnya? Sedangkan usia Yoona empat puluh tahun. Apakah Adam akan memperoleh kebahagiaan itu?
"Kenapa kamu sedih? Seharusnya kamu bahagia. Di kota ini kamu sudah mendapatkan calon istri. Sebentar lagi kamu akan menikah. Kamu masih memiliki aset sebanyak seratus tiga puluh juta miliar dolar. Lalu Apa alasanmu bersedih?" tanya Bayu sambil menepuk bahu Adam.
"Apakah aku masih pantas jika berkeluarga dan memiliki seorang anak?" tanya Adam sambil menundukkan wajahnya.
"Kamu masih pantas mendapatkan itu semua. Sementara usiamu masih lima puluh lima tahun. Sedangkan Yoona usianya empat puluh tahun. Jadi menurutku masih wajar. Mending aku saranin kamu pergi ke dokter obgyn. Agar Yoona diperiksa secara mendalam. Itu saja saranku," saran Saga.
"Apa yang dikatakan oleh Saga kamu harus menurutinya. Meskipun titelnya dokter tapi Saga jarang sekali praktek di rumah sakit. Beda lagi dengan imiam. Imam selalu praktek di rumah sakit. Tapi Imam lebih cenderung ke dokter bedah. Selain itu juga Imam adalah seorang ahli tanaman. Aku harap kamu paham akan hal ini. Selamat berjuang untuk mendapatkan kebahagiaanmu bro. Jangan pernah menyerah. Karena Tuhan akan membimbingmu mencari kebahagiaan yang sesungguhnya," tutur Andi dengan bijak.
"Kamu benar... Aku harus mencari kebahagiaan itu. Terima kasih telah membuat aku berubah seperti ini. Setelah ini rencana kalian apa? Apakah kalian ingin kembali ke dunia mafia?" tanya Adam dengan serius.
"Jujur kami lebih baik memilih untuk pensiun. Soal dunia bawah tanah aku serahkan pada anak-anakku. Mau melanjutkan silakan mau tidak silakan. Aku sekarang nggak ambil pusing lagi. Kalau kamu bagaimana?" tanya Joko kepada Adam.
__ADS_1