Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 421


__ADS_3

Malam ini adalah malam yang sangat indah sekali untuk Greg. Di saat pencarian ayahnya, Greg juga menemukan ibunya. Begitu juga dengan Jake, ia tidak menyangka bisa ketemu pamannya.


Selama ini papanya sangat merindukan pamannya itu. Meskipun sang Paman sangat brengsek. Namun papanya itu sangat menyayanginya. Sering sekali March berkirim pesan kepada Seva. Namun Seva tidak pernah membalasnya.


Diam-diam Jake mengambil foto kebersamaan mereka. Foto itu diberikan kepada March. Entah bagaimana perasaan March saat itu. Bahwa anaknya ke Amerika bersama Greg berdua saja.


Jakarta Indonesia.


Siang yang cerah di kota Jakarta. March yang sedang mengelus perut Naomi mendengar notifikasi pesan dari ponselnya itu. Ia segera meraih ponselnya dan membuka pesan itu.


"Perasaan anak kita hilang ya?" tanya Naomi yang sedari tadi ingat akan Jake.


March juga teringat pada Jake. Dirinya baru sadar kalau Jake menghilang ketika akan pulang ke Bangkok. Betapa bodohnya dirinya sebagai ayah. Tidak tahu kalau sang anak menghilang. Untung saja Jake sudah dewasa. Bagaimana kalau Jake berusia anak-anak? Kemungkinan besar mereka akan kalang kabut.


"Iya ya. Kok kita baru ingat sekarang," celetuk March.


"Untung saja kita memiliki putra sudah dewasa. Bagaimana jika Putraku masih kecil? Bisa-bisa aku kehilangannya," ucap Naomi.


Di saat mengobrol March melihat sebuah foto yang dikirimkan oleh Jake. Matanya membelalak sempurna dan mulutnya menganga. Ia tidak percaya dengan foto tersebut. March menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Putra kita bertemu dengan kakakku. Dan Greg sangat senang sekali bisa bertemu dengan Sheva," ucap March yang membuat Naomi terkejut.


"Apakah itu benar?" tanya Naomi yang masih terkejut.


"Iya itu benar. Aku tidak menyangka kalau Jake memberanikan diri bertemu dengan pamannya itu. Kok aku nggak tahu rencana Jake sendiri," jawab March yang bingung dengan rencana putranya itu.


"Kamu sibuknya sama aku. Makanya di saat anak kita kabur. Kamu nggak tahu," ucap Naomi. "Seandainya Sheva kembali, apa yang kamu lakukan?"

__ADS_1


"Aku akan menerimanya lagi. Menurut informasi yang aku dapatkan. Adikku sudah jatuh miskin. Aku tidak akan membuatnya menderita. Dan seluruh aset yang aku sita. Aku akan mengembalikannya lagi. Cepat atau lambat kakakku harus bangkit kembali," jelas March. "Aku akan menyuruh mereka pulang ke Indonesia."


"Aku setuju. Siapa tahu nanti enam pilar utama menjadi banyak pilar utama. Aku berharap seluruh anggota pilar utama semakin akrab dan solid untuk menjalin kerjasama hingga berpuluh-puluh tahun selamanya. Anak-anakku yang berada di dalam kandungan ini. Adalah penerus pilar utama selanjutnya," ucap Naomi.


"Aku tidak akan membiarkan mereka terjun ke dunia bisnis. Biarkanlah mereka memilih jalan hidupnya sendiri. Kita sebagai orang tua tidak boleh egois terhadap anak-anaknya. Kamu juga nggak boleh egois untuk menentukan masa depan mereka. Suatu saat nanti mereka atau cucu kita yang akan melanjutkan perjuangan pilar utama. Kami para papa sudah memberikan lampu hijau kepada putra kami. Yang intinya kami tidak akan mengekang anak atau cucu kita. Kemungkinan salah satu dari mereka akan ikut melanjutkan perusahaan tersebut," jelas March yang tidak ingin mengekang kedua bayinya itu.


Naomi tersenyum bahagia sambil melihat wajah March. Naomi bersyukur sekali memiliki seorang suami yang penuh perhatian. Ditambah lagi ia sudah mengetahui kebaikan March yang tersembunyi itu. Ternyata julukan Playboy itu adalah ulah hatersnya.


Banyak wanita yang tersangkut atas ketampanannya. Namun March tidak mau menerimanya. March sendiri memang sengaja melakukannya. Hanya untuk menolong wanita yang akan dijadikan budak se*s.


"Kita sudah banyak mendengar berita bahagia ini. Mulai dari putriku satu-satunya Lee sekarang sedang mengandung. Terus Putraku yang seperti es batu itu akan menjadi suami. Ditambah lagi Ananda sebentar lagi akan menjadi ayah. Semoga yang lainnya bersama putra kita akan menyusul jejak mereka," ucap Naomi yang membuat sang suami tersenyum manis.


Yang dikatakan Naomi itu benar. Para enam pilar utama sedang bahagia. Bagaimana tidak mereka membuat kejutan sendiri-sendiri. Seperti contohnya Nanda. Sedari dulu Nanda adalah pria yang sangat misterius sekali. Sangking misteriusnya kehidupannya tidak bisa diusik oleh siapapun. Bahkan orang tuanya sendiri juga tidak tahu.


Mansion Drajat.


"Ada apa?" tanya Erra sambil membenarkan posisi duduknya.


"Kita keluar jalan-jalan kompleks yuk. Aku pengen banget rujak manisnya ibu Imah," jawab Lee.


"Beneran nih?" tanya Erra. "Memangnya ada ya di komplek ini menjual rujak manis?"


"Ada. Kalau gitu ayo kita keluar," ajak Lee dengan semangat.


Dengan semangat Erra langsung berdiri. Begitu juga dengan Lee yang ikutan berdiri. Kemudian mereka keluar dari Mansion.


"Hari ini sangat panas sekali," celetuk Lee.

__ADS_1


"Iya kamu benar," sahut Erra yang memakai pakaian santai hingga memperlihatkan otot kekarnya itu.


"Ini tidak terlalu panas. Aku pernah mendapatkan misi menangkap kepala mafia yang mukanya jelek kepalanya botak. Ketua mafianya itu kabur ke Gurun Sahara. Mau tidak mau kami berpanas-panasan mengejar mereka. Untung saja sang ketua mafianya itu pingsan. Karena dia mengalami dehidrasi," ucap Lee yang membuat Erra matanya membulat sempurna.


"Siapa yang memberikan misi itu? Sepertinya aku harus menghajarnya," tanya Erra dengan kesal.


"Yang memberikan misi itu adalah papamu sendiri. Papa memang sengaja melakukannya. Hanya untuk menggembleng jiwa dan raga kami dalam cuaca berubah-ubah," jelas Lee.


"Untung saja masa lalu. Bagaimana jika sekarang?" tanya Erra.


"Aku tetap berangkat. Karena di gurun itu menguji keahlianku ketika menyetir," jawab Lee.


"Bener-bener deh istriku ini. Untung saja kamu mendapatkanku. Jika orang lain. Pasti akan mendapat serangan jantung," ledek Erra sambil memegang tangannya Lee.


Beberapa saat kemudian seorang pria paruh baya sedang bermain dengan burungnya. Jangan ngeres dulu. Maksudnya author itu burung yang berada di dalam sangkar. Sambil mengajak bicara si Kakak tuanya itu, Pak Burhan tidak sengaja melihat Lee. Akhirnya Pak Burhan menyapanya terlebih dahulu.


"Lee," sapa Pak Burhan.


Mendengar namanya dipanggil Lee menoleh ke arah pria paruh baya itu. Pak Burhan pun tersenyum sumringah. Karena dirinya melihat Lee.


Secara tidak sadar, Pak Burhan sudah mendapatkan tatapan tajam dari Erra. Dengan penuh percaya dirinya, Pak Burhan mendekatinya sambil memegang tangan Lee.


"Neng... Si Eneng ke mana saja. Kok nggak pernah muncul sama sekali. Si Eneng tidak kangen ya sama Pak Burhan ini," ucap Pak Burhan dengan penuh percaya diri.


Seketika Erra matanya melotot dengan sempurna. Rasanya Erra ingin mencabik-cabiknya. Akan tetapi Erra menahan amarahnya supaya tidak meledak.


Lee yang sadar tangannya dipegang langsung menariknya. Lalu Lee menatap Pak Burhan sambil mengucapkan kata maaf.

__ADS_1


"Maaf Pak. Bisakah bapak tidak memegang tangan saya?" tanya Lee yang merasakan ilfil ketika tangannya dipegang oleh Pak Burhan.


__ADS_2