Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 360


__ADS_3

"Tenang saja. Papa Bayu tidak akan melepaskan Lee begitu saja. Karena Lee adalah seorang batu permata yang indah. Ditambah lagi Li memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Keluarga mana yang akan melepaskan seorang menantu pintar dan baik? Kalau ada yang melepaskan seperti itu, berarti mereka sangat bodoh. Sebab melepaskan batu permata dan memungut batu kerikil itu sangat rugi besar," jelas Irwan.


"Mudah-mudahan saja tidak. Hampir tiap malam aku selalu berdoa. Agar mereka bisa bersatu. Sedari dulu Erra tidak pernah merasakan apa yang namanya cinta. Setiap wanita yang aku panggil untuk menghiburnya. Ternyata membuat aku nihil. Tubuh Erra tidak bereaksi apa-apa. Aku kasihan sama Erra zaman itu," ucap Imam dengan tulus.


"Tenanglah kalau begitu. Jangan terlalu dipikir. Nanti kamu sakit. Biarkanlah Lee yang akan menghancurkan beranda dan kroninya. Cepat atau lambat Lee tidak akan tinggal diam," hibur Widya.


"Kalau begitu aku bisa tenang. Aku ingin hidup mereka bahagia selamanya," balas Imam dengan serius.


"Kapan kamu akan menikah?" tanya Widya.


"Setelah ini. Ada satu kasus yang belum terpecahkan. Yaitu menghancurkan perhelatan besar. Semuanya ini karena tertunda hanya gara-gara Adam. Aku akan membalas dendamku kepada Adam," jawab Imam yang kesal karena pernikahannya batal.


"Apakah kamu akan mengajakku?" tanya Suci dengan serius.


"Aku tidak akan mengajakmu. Kamu harus di rumah bersama Raka dan mama. Sebelum berangkat aku akan memperketat Mansion ini. Aku berharap Adam tidak akan ke Indonesia beserta para pengawalnya sialan itu," jawab Imam.


"Bagaimana caranya mereka tidak akan ke sini?" tanya Widya.


"Aku akan menyuruh Erra untuk mem-blacklist mereka," jawab Imam yang tersenyum iblis. "Kalau begitu tunggulah saatnya. Hanya dengan satu kali perintah mereka akan diusir dari sini."


"Kalau gitu Kak Imam istirahat terlebih dahulu. Jangan terlalu dipikirkan. Aku nggak mau Kak Imam jatuh sakit," pinta Suci dengan tulus.


Melihat Imam yang diperhatikan oleh Suci, Widya menjadi tenang. Ternyata Suci adalah menantu idamannya. Ia tidak pernah memilih dari kalangan manapun. Yang penting baik kepada anaknya dan perhatian.


Bagaimana dengan Irwan? Irwan juga sama dengan Widya. Irwan juga tidak pernah memilih dari golongan manapun. Mau kaya ataupun miskin, asalkan wanita itu tidak silau dengan aset yang dimilikinya.


Wanita itu harus mampu saling menyayangi dan mencintai prianya. Mengerti akan kebutuhan sang pria. Di saat jatuh wanita itu harus saling mendampinginya. Jika kaya wanita itu selalu mendampinginya. Jika miskin maka ditinggal. Irwan dan lainnya tidak mau seperti itu. Mereka sepakat untuk membuat calon kriteria istri ataupun menantunya.


Sesampainya di hotel Erra dan Lee langsung meminta kunci. Mereka berjalan menuju ke lift khusus. Saat mereka berjalan, Lee menemukan sebuah ornamen yang dulu pernah dibuatnya. Matanya membelalak sempurna. Karena ornamen tersebut pernah ditolak sama yang punya hotel ini.


Jujur saja saat mengajukan gambaran ornamen tersebut, Erra tidak menyukainya. Bahkan membuang kertas itu di tempat sampah.


"Kakak tampan," panggil Lee yang membuat Erra menoleh.


"Ada apa?" tanya Erra yang mendekati Lee dengan cepat.


"Kenapa ornamen jelekku di sini ya?" tanya Lee dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Ah.... Gawat! Bagaimana aku bisa menjelaskannya?" tanya Erra dalam hati.


"Bisakah kamu menjelaskannya?" tanya Lee yang membuat Erra bingung menjelaskannya.


"Anu... Ayolah kita ke kamar! Kamu pasti sangat capek sekali!" ajak Erra yang mengalihkan perhatian Lee.


"Syukur kowe... Kesel kesel gambar ornamen kanggo hotel. Ujung-ujungnya di guwak! Ngono ra usah gambar ornamen. Eh saiki... Digawe... Pengen tak pites kowe!" geram Lee di dalam hati sambil memaki sang suaminya.


(Syukurin kamu. Capek-capek menggambar ornamen buat hotel. Ujung-ujungnya dibuang! Eh sekarang dipakai. Ingin tak pencet kamu).


"Ayo jelaskan. Jangan buat aku penasaran! Seharusnya gambar tersebut ada di tong sampah sekarang! Atau juga sudah menjadi tanah!" jelas Lee.


"Baiklah kalau itu mau kamu," ucap Erra dengan sungguh-sungguh.


Ketimbang Lee semakin penasaran, akhirnya Erra menjelaskan semuanya. Memang Erra dulu sangat bodoh sekali. Tidak mengerti seni yang bagus.


Flashback on.


Pagi itu Lee mendapatkan hukuman dari Erra karena terlambat masuk kantor. Pas waktunya membaca jadwal Lee datang dengan tergesa-gesa. Tangan kanannya memegang tablet. Tangan kirinya masih memegang tas.


Kemudian Lee membacakan jadwal itu sambil mengatur nafasnya yang terkenal-sengal. Tidak terima sang sekretarisnya membaca tidak jelas, akhirnya Erra membentaknya.


"Maaf tuan. Saya tadi datang terlambat. Saya masih mengatur nafas," jawab Lee. "Mau saya bacakan lagi?"


"Tidak perlu!" ketus Erra. "Sebagai hukumannya kamu terlambat! Kamu akan mendapatkan tugas untuk menggambar ornamen-ornamen indah yang akan aku buat untuk menghiasi dinding hotel segera jadi itu. Aku berikan waktu selama seminggu dari sekarang!"


"Baiklah tuan. Saya undur diri dulu," balas Lee sambil memberi hormat.


Lee memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Setelah keluar Lee melihat Garda yang berdiri tegak memakai baju santai. Sebelum pergi Garda menyapanya terlebih dahulu dan mengajaknya ngobrol sebentar.


"Hai Lee," sapa Garda.


"Kakak?" pekik Lee.


"Kenapa dengan bosmu itu? Pagi-pagi sudah ingin menelan orang saja. Bukannya menelan nasi rawon yang membuat orang lapar!" Kesal Garda.


"Tak tahulah. Aku terlambat masuk ke kantor. Gara-gara aku menyelamatkan seorang nenek-nenek sedang menyeberang di jalan," jawab Lee dengan jujur.

__ADS_1


"Aku sudah melihatnya. Kamu memang gadis baik. Aku akan memberikanmu kesempatan untuk menghajarnya. Karena kamu tidak bersalah sama sekali dalam hal ini," jelas Garda.


"Tidak perlu kak. Jika aku menghajarnya, aku terkena hukum pidana. Karena sekalinya menghajar tulang-tulang dia remuk seketika," jawab Lee.


"Kalau begitu terserahlah. Pria seperti itu harus diberi pelajaran. Dari dulu aku memang ingin memberinya pelajaran. Karena terlalu keras terhadap sekretarisnya. Kalau kamu masih betah dan bertahan, Kamu adalah wanita yang penuh dengan tantangan," puji Garda dengan tulus.


"Jangan terlalu memujiku Kak. Nanti kalau aku terbang ke langit ketujuh, bagaimana?" tanya Lee yang membuat Garda tertawa.


"Nggak usah balik sekalian. Biar tahu rasa. Setelah itu aku mengundurkan diri agar tidak menjadi asisten bos sialan itu. Enak saja main suruh-suruh aja. Biarkan saja dia kerja sendirian," geram Garda yang mendapat acungan jempol dari Lee.


"Ide yang sangat bagus sekali. Sekalian saja kita blunder," bisik Lee yang membuat Garda tersenyum merekah.


"Okelah... Aku setuju!" balas Garda yang membuat Lee tersenyum kemenangan. "Kalau begitu aku pulang ke rumah."


"Eh jangan pulang dulu. Tunggu jam lima," ucap Garda.


"Iya ya aku lupa. Aku harus bekerja sekarang," balas Lee sampai membuat Garda tertawa.


Seminggu telah berlalu, setelah dapat hukuman itu, Lee baru saja menyelesaikan dua puluh ornamen yang dibuatnya.


Sebelum diserahkan ke bosnya itu, Lee mau minta pendapat kepada sang papa. Andi tersenyum sumringah karena melihat bakat sang anak telah tumbuh.


"Bagaimana pa?" tanya Lee.


"Bagus sekali. Papa suka semuanya," jawab Andi dengan jujur. "Buat apa sih kamu menggambar ornamen-ornamen seperti ini? Bukankah itu pekerjaan dari seorang desainer?"


"Minggu lalu aku terkena hukuman dari si bos gila itu. Masalahnya sih cuman sepele. Aku hanya telat beberapa menit. Aku memiliki alasan yaitu menyelamatkan ibu-ibu yang terserempet tronton. Itulah alasan aku telat. Aku jelaskan melalui pesan singkat namun bos gila itu tetap memarahiku dan memberinya tugas menggambar ornamen-ornamen seperti ini," jelas Lee yang membuat Andi menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu kamu hukum saja jika terlambat masuk kantor. Kamu harus tegas melawan bos gilamu itu. enak saja kamu disuruh suruh menggambar seperti ini. Coba deh dia yang suruh menggambar. Pasti alasannya banyak," geram Andi.


"Aslinya tidak bisa menggambar pa. Gambar saja hancur," ledek Lee.


"Apakah itu benar?" tanya Andi.


"Iya itu benar. Aku sudah mendapatkan info itu dari Kak Garda. Dialah pria yang sangat sabar sekali menerimaku apa adanya. Apalagi kak Garda tahu kalau aku adalah gadis konyol di perusahaan itu. Jadi cak Garda selalu memaafkanku," jawab Lee sambil memuji kebaikan Garda.


"Baguslah. Jika kamu tidak suka bos gilamu itu, maka kamu bisa meminta pekerjaan lain dari Garda. Bapak yakin kalau nggak ada adalah pria baik. Namun sifatnya sama persis seperti Erra. Memiliki sifat dingin seperti kulkas berjalan. Aku ingin mencari papanya dan menyuruhnya untuk berubah. Jujur saja Papa sangat keras sekali jika melihat Garda," keluh Andi.

__ADS_1


"Memangnya Papa tahu, siapa bapaknya Kak Garda?" tanya Lee.


__ADS_2