Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 80


__ADS_3

“Maaf aku keluar dulu,” pamit Lee yang berdiri kemudian meninggalkan ruangan itu.


 


Setelah  Lee keluar dari ruangan itu. Tubuhnya melemas karena tidak mendapatkan asupan makanan apapun dari pagi kecuali Roti. Itupun Lee hanya memakan sedikit.


 


“Apakah aku benar-benar hamil?” tanya Lee dalam hati.


 


Kemudian Lee menuju ke ruangan pasukan khusus lalu melihat Suci, Angela dan Pita. Dengan wajah pucatnya Lee meraih kalender yang ada di meja. Setelah itu Lee menghitung kapan terakhir datang bulan.


 


“Aish... hampir tiga Minggu aku tidak mendapatkan tamu bulanan,” ucap Lee dalam hati lalu menahan mualnya.


 


Lee masuk ke dalam toilet lalu muntah lagi. Angela yang mendengar Lee muntah mengerutkan keningnya. “Ada apa dengan kakak besar?”


 


“Aku enggak tau. Akhir-akhir ini kakak besar semenjak di markas sering muntah,” jawab Suci. “Apalagi akhir-akhir ini kakak besar suka makan yang aneh. Contohnya semenjak kenal Kakak besar. Kakak tidak suka makan tongseng kambing. Lha ini kakak besar menyuruhku untuk memasak tongseng kambing.”


 


Ceklek.


 


Pintu terbuka. Lee keluar dengan tubuh yang tidak bertenaga. Setelah menutup pintu toilet, Lee menuju ke ruangan enam pilar utama. Belum sampai keluar Lee pingsan di ruangan pasukan khusus White Eragon. Melihat Lee pingsan, ketiga kaki tangan Lee panik. Suci bergegas menuju ke ruangan pilar utama. Sesampainya di sana Suci masuk tanpa mengetuk pintu.


 


“Tuan Erra,” panggil Suci.


 


“Iya ada apa?” tanya Erra.


 


“Kakak besar pingsan,” jawab Suci panik.


 


“Apa?” teriak Erra yang bergegas berdiri. “Dimana istriku?”


 


“Di ruangan pasukan khusus White Eragon,” jawab Suci yang takut.


 


Sesampainya di sana. Lee masih berada di posisi yang sama. Kemudian Erra masuk lalu melihat Lee yang masih pingsan.


 


“Astaga... Istriku!” seru Erra lalu mengangkat Lee ala bridal style.


 


Kemudian Erra membawa kamar pribadinya yang berada di lantai dua. Sesampainya di sana, Erra membaringkan Lee ranjang.


 


Angela yang mengikuti Erra sampai ke kamar memberikan minyak angin aromatherapy. “Tuan, sebaiknya anda berikan kepada kakak besar biar cepat siuman.”


 


Dengan cepat Erra meraihnya. “Panggil Imam kesini!”


 


“Baik Tuan,” jawab Angela.


 


Angela bergegas meninggalkan Erra untuk memanggil Imam. Sementara itu Erra duduk dan menaruh minyak angin aromatherapy di hidung Lee. Kemudian Lee membuka mata lalu merasakan mual.


 


“Istriku. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Erra.


 


Lee hanya menggelengkan kepalanya. “Hari ini aku sangat buruk sekali.”


 


Kemudian Imam masuk lalu melihat Lee yang pucat. “Ehem.”


 


Erra kaget karena mendengar dehaman Imam. Erra yang berdiri memutuskan mundur beberapa langkah. Setelah itu Imam duduk dan mulai memeriksa Lee.


 


“Jangan dibuka baju Lee!” titah Erra.


 


“Aku tidak membuka baju istrimu,” ketus Imam. “Apa keluhanmu?”


 


“Akhir-akhir ini aku sering mual dan muntah. Aku tidak bisa memakan masakan buatan Mama. Saat aku ingin memakannya rasanya ingin muntah,” jawab Lee dengan jujur.


 

__ADS_1


“Sudah berapa lama kejadian seperti ini?” tanya Imam dengan lembut.


 


“Hampir seminggu,” jawab Lee.


 


“Bolehkah aku bertanya sesuatu ke kamu? Ini sangat pribadi sekali,” ucap Imam.


 


“Apa itu?” sahut Erra dengan kesal.


 


“Ini orang pake nyahut segala kaya listrik tegangan tinggi,” sungut Imam.


 


“Cepat katakan, mau tanya apa sama bini gue?” tanya Erra yang berubah mode garang.


 


“Baiklah. Adik kecil kapan terakhir kamu menerima tamu bulanan?” tanya Imam.


 


“Hampir tiga Minggu,” jawab Lee dengan jujur.


 


“Kemungkinan kamu hamil adik kecil. Untuk lebih jelasnya kamu harus pergi ke dokter obgyn. Biar kamu tahu semuanya,” usul Imam.


 


“Berikan aku nama dokter obgyn yang berjenis kelamin perempuan yang sangat terkenal!” titah Erra.


 


“Ada. Dia bernama Widia Chandrawinata,” usul Imam.


 


“Sepertinya aku mengenalnya. Nama itu tidak asing lagi di telingaku. Tapi di mana ya?” tanya Erra.


 


“Kakak tampan. Itu Bibi Widia. Mamanya Kak Imam,” gerutu Lee.


 


Mata Erra membulat sempurna dan hampir menghajar Imam. Lee hanya tertawa kecil melihat sedikit kebodohan Erra.


 


“Memang itu Mamaku. Memangnya ada yang salah?” tanya Imam. “Besok aja datang. Mama jarang membuka praktek malam.”


 


 


“Apakah kamu sudah makan?” tanya Imam.


 


Lee hanya menggelengkan kepalanya lagi. “Aku belum makan sama sekali.”


 


“Apa yang ingin kamu makan adik kecil?” tanya Imam yang lembut.


 


“Aku ingin makan bubur buatan Kakak Tampanku,” ucap Lee.


 


“Tapi... Mana bisa aku memasak?” sahut Erra dengan jujur.


 


“Kakak tampan buatin,” rengek Lee.


 


“Ra... Buatin!” titah Imam.


 


“Istriku. Apakah kamu mau makan bubur buatan Kakakmu itu?” tanya Erra yang bingung.


 


“Aku enggak mau. Aku ingin makan bubur buatanmu,” pinta Lee.


 


“Baiklah aku akan membuatkan bubur untukmu,” lirih Erra.


 


Setelah itu Erra pergi ke dapur. Saat menuju dapur Erra membuka tutorial bagaimana cara membuat bubur di aplikasi Yusrup.


 


“Aku balik dulu,” pamit Imam.


 


“Baiklah kak,” sahut Lee.

__ADS_1


 


Imam bergegas berdiri lalu menuju ke ruangan para petinggi White Eragon. Sedangkan Lee hanya berbaring di ranjang.


 


 Sekembalinya Imam seluruh anggota inti White Eragon dan Black Dragon menatap tajam. Imam yang melihat mereka hanya menelan salivanya lalu duduk di samping Nanda.


 


“Kenapa dengan singa betina?” tanya Sam.


 


“Kemungkinan singa betina hamil. Tubuhnya lemah karena tidak mendapatkan asupan makanan,” jawab Imam.


 


“Kenapa Erra tidak memberikannya makan?” tanya Bayu yang mulai emosi.


 


“Bukannya Erra tidak mau memberikannya makan. Tadi saat mau makan adik kecil mual terus,” jawab Garda.


 


“Itulah yang dinamakan morning sickness. Apakah Suci mengalami hal yang serupa?” tanya Imam.


 


“Maksudmu?” tanya Nanda.


 


“Aku sudah memiliki anak laki-laki dari suci,” tutur Imam.


 


Mereka terdiam dan melihat Imam. Mereka seakan tidak percaya bongkahan es batu diam-diam sudah memiliki anak.


 


“Kamu serius?” tanya Nanda.


 


“Aku serius. Dia memiliki sorot mata yang tajam seperti diriku,” jawab Imam.


 


“Apakah yang sering di gendong oleh Irwan adalah anakmu?” tanya Bayu.


 


“Ya... Dia anakku. Aku baru mengetahuinya kemaren,” jawab Imam. “Aku harus menemui Suci.”


 


Kemudian Imam berdiri lalu meninggalkan mereka dan mencari Suci. Sementara itu Suci menggendong Raka yang tertidur pulas sambil bernyanyi bintang kecil. Saat Imam masuk ke dalam, Raka yang tertidur pulas tersenyum menyambut kedatangan Imam. Suci yang melihat Raka tersenyum menjadi bingung kemudian bertanya-tanya dalam hati.


 


“Sayangku, kenapa kamu tersenyum?” tanya Suci dalam hati.


 


Kemudian Raka membuka matanya lalu tertawa bahagia sambil memamerkan kedua giginya yang baru tumbuh.


 


Ceklek.


 


Pintu terbuka. Imam melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan lalu melihat Suci yang sedang menggendong Raka.


 


Kemudian Suci menoleh lalu melihat Imam.


 


“Tuan Imam,” pekik Suci.


 


“Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu,” ucap Imam.


 


“Apa itu?” tanya Suci.


 


Kemudian Imam mendekati Raka. “Biar aku gendong.”


 


Suci memberikan Raka ke Imam. Lalu Imam meraih Raka dan mencium pipi gembul Raka.


 


“Jawablah dengan jujur. Bagaimana kamu bisa mengandung Raka?” tanya Imam dengan tegas.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2