
"Kak Sam dan Kak Nanda mengirimkan seorang pria buat kakak besar," jawab Cecilia.
"Apa?" pekik Arini. "Apakah itu benar?"
"Ya… itu benar," jawab Cathy. "Biasanya kakak besar enggak mau menerima seorang pria di sini. Apalagi masuk ke kamar."
Arini semakin terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Cecilia. Arini mengepalkan tangannya dan ingin membunuh pria itu. Namun Arini tidak tahu siapa pria yang dikirim oleh mereka?
"Ini tidak bisa dibiarkan! Kakak besar sudah resmi menikah dengan Tuan Erra. Jika Kakak besar sampai berselingkuh aku pastikan orang yang pertama yang akan membunuh pria itu!" kesal Arini dengan nada meninggi.
Kalau sudah yang namanya sang ketua disentuh oleh pria yang tidak dikenal, Arini lah yang paling gercep untuk menghabisi pria tersebut. Tapi bagaimana pria itu adalah suaminya Lee sendiri. Apakah Arini akan melakukannya?
"Sambil menunggu kakak besar bangun. Lebih baik kita berangkat tugas terlebih dahulu!" ajak Cecilia yang pergi meninggalkan mereka.
Arini menganggukkan kepalanya sambil mengikuti Cecilia. Yang lainnya melaksanakan tugasnya masing-masing. Sedangkan di markas besar Sam, Nanda dan Garda terbangun dari tidurnya. Mereka terkejut karena melihat jam yang sudah siang. Mereka menghembuskan nafasnya secara kasar dan saling memandang.
"Jam berapa ini? Sepertinya waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Apakah Lee dan Erra sudah bangun?" tanya Garda.
"Biarkan mereka menikmati hidup. Aku tahu mereka akan bahagia setelah ini," jawab Nanda yang teringat akan Angela.
"Sepertinya kamu lebih berpengalaman soal ranjang?" tanya Garda yang bingung.
"Ah… rasanya kamu harus mencoba dengan Arini. Aku yakin kamu akan suka dan bakalan ketagihan," jawab Nanda dengan asal.
Garda memutar bola matanya dengan malas. Ingin rasanya Garda melemparkan Nanda ke daerah terpencil. Namun niatnya itu diurungkan.
Di tempat lain Emilia menghubungi seseorang. Yang dimana seseorang itu adalah kaki tangan Candra. Candra sangat mempercayai pria itu karena memiliki banyak pengalaman di bawah tanah. Badan kekar dan tegap menambah nilai plus buat pria itu. Sesampainya di apartemen Emilia, pria itu langsung mengetuk pintu. Emilia pun membuka pintu dan melihat pria itu kemudian menyuruhnya masuk ke dalam.
"Langsung saja ke intinya," ucap Emilia dengan tegas.
"Baik nona," jawab pria itu.
Emilia langsung menceritakan rencana besar pembakaran markas besar milik Lee. Emilia berharap bisa menghabisi seluruh pengawal pilihan terbaik Lee. Sambil menerawang lebih jauh, Emilia berharap rencana akan berjalan mulus seperti jalan tol tanpa ada hambatan. Orang itu akhirnya setuju dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kapan kalian akan menghabisinya?" tanya Emilia.
"Besok malam nyonya. Kalau malam ini nyonya akan sibuk. Sekalian saya ingin mempersiapkan semuanya," jawab pria itu.
"Ok... aku tunggu!" balas Emilia.
Pria itu berpamitan untuk pulang. Sedangkan Emilia tersenyum puas atas pekerjaan orang itu. Emilia sudah tidak sabar menunggu hari itu. Hari yang dimana ingin membuat Lee menangis darah.
Kembali lagi ke markas milik Lee. Sudah jam dua belas siang Lee perlahan membuka mata. Lee merasakan tubuhnya menjadi sangat sakit sekali bagai ditimpa beton dua puluh ton. Bagaimana tidak malam tadi Erra menghajar sang istri tanpa jeda sedetikpun. Bahkan Erra tidak memberikannya waktu untuk bernafas. Sungguh kejam sekali Erra Drajat.
Lee akhirnya membuka mengumpulkan nyawanya yang telah hilang kemana. Tidak sampai lima menit Lee sadar dan berkata, "Sepertinya aku melakukan hal gila semalam."
Ketika Lee bangun, tangan Erra melingkar di atas perut Lee. Hingga membuat Lee susah bernafas. Lee memutuskan untuk membuang tangan Erra. Namun Erra menambahkan tenaganya di tangan agar Lee susah mengambil tangannya.
"Tangannya berat sekali. Ingin rasanya aku memindahkan tangan ini," ringis Lee yang tanpa sengaja memegang tangan Erra dengan lembut.
"Hari ini akan ada banyak cinta di hatiku. Aku ingin memberikan semuanya untukmu. Aku harap kamu tidak menolaknya," ucap Erra yang mendekati Lee lalu mencium pipi Lee.
"Ya… akhirnya aku bisa menjamahmu," celetuk Erra yang tersenyum.
"Kakak, kenapa kakak bermain kasar sekali? Biasanya kakak bermain secara halus. Sangking halusnya aku sangat menikmatinya," jawab Lee yang merengek.
"Apakah kamu tidak menyukainya?" tanya Erra.
"Suka sih. Tapi kakak telah menghabisiku seperti singa jangan kelaparan," rengek Lee yang membuat Erra menahan tawanya karena gemas.
"Kamu tahu semalam aku dijebak sama Nanda dan Sam. Aku tidak menyadari bahwa salah satu dari mereka memberikan obat perangsang di dalam teh hijau. Aku merasakan tubuhku sangat panas sekali. Mereka mengirimkan aku kesini," jelas Erra yang mengingat kejadian tadi malam.
Lee tertawa cekikikan mendengar cerita Erra. Bagaimana bisa Erra dijebak sama mereka. Yang notabennya mereka adalah orang-orang jahil. Erra tersenyum bahagia sambil mencium mulut Lee. Sementara itu Lee yang mendapatkan serangan mendadak hanya bisa pasrah. Lee membalas ciuman Erra dengan menggelora. Hingga mereka melakukan satu ronde lagi.
Setelah selesai Erra menatap wajah Lee dengan berkata, "Aku tidak mau kehilangan kamu."
"Begitu juga aku," ucap Lee. "Apakah kamu marah sama mereka?"
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak marah sama mereka," jawab Erra. "Ngapain aku marah sama mereka?"
"Beneran ini?" tanya Lee.
"Iya... aku enggak marah sama kakak-kakak sialan kamu itu. Suatu hari nanti aku balas mereka satu persatu," jawab Erra yang tersenyum devil.
"Huaha.... kakak sangat kejam sekali," decak Lee. "Jam berapa ini?"
"Jam dua siang sepertinya," jawab Erra.
"Ha... jam dua siang. Pantas saja aku lapar. Untung saja semalam aku makan bersama pengawal dengan porsi banyak. Kalau tidak aku pasti kelaparan," ucap Lee yang memelas.
"Apakah itu benar? Jika kamu makan banyak, kenapa tubuhmu masih kecil begitu?" tanya Erra yang aneh dengan bentuk tubuh Lee yang tidak berubah.
"Entahlah. Sedari dulu aku memang makan banyak tapi tubuhku enggak melar sama sekali," jawab Lee.
"Tapi kenapa kamu sanggup menelan ular pitonku yang sedang membesar itu?" tanya Erra.
Sontak saja tubuh Lee melemas dengan pertanyaan konyol Erra. Bagaimana bisa Erra menanyakan hal konyol seperti itu. Bagaimana Lee menjawabnya pertanyaan dari Erra? Lha wong ketika ada pelajaran Biologi Lee sering menghilang dari peredaran kelas.
"Entahlah... aku tidak tahu jawabannya. Kakak tahu ketika ada pelajaran Biologi aku jarang ke kelas kecuali ujian?" tanya Lee.
"Kenapa kamu enggak masuk ke kelas?" tanya Erra.
"Karena yang diajarkan itu teori semuanya. Pas aku tanya bagaimana caranya mempraktekkan membuat adik bayi para guru Biologi tidak menjawab. Kan aku kesal. Makanya aku memutuskan bersama beberapa teman enggak masuk ke kelas," jawab Lee dengan jujur.
Mata Erra membulat sempurna dengan pernyataan dari Lee. Kenapa juga disaat pelajaran Biologi malah menghilang? Bagaimana bisa ini terjadi? Erra hanya menghela nafasnya secara kasar menatap wajah Lee.
"Kamu tahu, pelajaran Biologi itu sangat menyenangkan. Aku paham betul dengan apa yang dipelajari semuanya. Kalau aku tidak disuruh memegang Asco, kemungkinan besar menjadi dokter spesialis bedah atau jantung. Karena pekerjaan itu sangat mulia dapat menolong orang banyak," ucap Erra.
"Aku tidak menyukainya. Aku lebih menyukai pelajaran kimia. Jika belajar kimia kemungkinan besar bisa menjadi ilmuwan seperti papa Saga. Tapi papa tidak mengizinkan aku menjadi ilmuwan. Aku harus belajar memegang perusahaan," sahut Lee.
Erra tersenyum lebar dan berkata kepada Lee, "Ayo kita buat anak banyak. siapa tahu ada yang menjadi dokter dan ilmuwan."
__ADS_1