Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 182


__ADS_3

Sesampainya di sana Rustam segera memasang alat pengintai yang sengaja diselipkan di dalam jasnya. Lalu Rustam keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran itu. Nanda hanya berdiam diri dan mulai mengintai dari dalam mobil apa yang akan dilakukan oleh Emilia.


Rustam diberikan arah untuk masuk ke dalam ruangan VVIP. Rustam mulai memasang wajah yang dingin dan sifat angkuhnya sama seperti Thomassen. Seorang pelayan yang menjaga di sana langsung membukakan pintunya dan menyuruh Rustam masuk. Rustam memberikan kode agar pelayan itu pergi sembari masuk ke dalam. 


"Selamat sore nyonya Emilia," sapa Rustam yang sekarang menyamar sebagai Thomassen. 


"Sore… kemarilah Thomassen," seru Emilia yang sedang berbahagia. 


Saat Emilia berbahagia, Rustam mengetahui apa yang dipikirkan dalam otak wanita itu. Rustam masih bersikap dingin dan tidak bersuara. 


"Kemarilah Thomassen," suruh Emilia lagi. 


Rustam mendekati Emilia dan berdiri di hadapan Emilia. Namun Emilia sangat jenuh sekali melihat Thomassen gadungan itu karena terlalu dingin sikapnya. Bahkan bisa dikatakan sebagai es balok. 


"Duduklah," ucap Emilia yang menyuruh duduk. 


Rustam pun akhirnya duduk di hadapan Emilia. Sebelum membicarakan pada intinya, Thomassen gadungan itu membiarkan Emilia berbicara sepuasnya sambil memaki keluarga Sebastian. Thomassen gadungan itu hanya mendengarkan hingga makanannya datang. 


Sejam berlalu Emilia ingin rencananya berhasil. Thomassen gadungan pun langsung memberikan sebuah ide untuk melakukannya. Thomassen gadungan berbicara tidak perlu orang banyak untuk melakukan pembakaran. Jadi Thomassen gadungan hanya membawa sepuluh orang saja. 


Setelah Emilia selesai merencanakan semuanya. Thomassen gadungan itu mengajak Emilia ke markas. Rencana pertama berhasil. Tinggal Thomassen gadungan itu memberikan kepada Lee dan Garda. Mereka yang akan mengeksekusi Emilia. 


Markas Lee Sebastian. 


Lee yang bersama Erra sedang duduk menikmati kopi susu. Lee sedang menanti kedatangan Emilia dan Nanda. Rasanya sudah tidak sabar lagi ingin menghabisi wanita itu. 


"Lee," panggil Erra. 


"Iya kak," sahut Lee. "Ada apa kak?" 


"Jika nanti kakakmu menghabisi Emilia. Kamu tidak perlu ikut," jawab Erra. 


"Kenapa kak?" tanya Lee yang tidak paham dengan jiwa psikopat milik Garda. 

__ADS_1


"Kakakmu memiliki jiwa psikopat yang parah. Jika melihatnya kamu akan muntah. Aku yakin itu," jawab Erra. 


"Yang dikatakan suami kamu benar. Aku memang memiliki jiwa itu semenjak menjadi anggota mafia. Jiwa itu ada karena dari papa," sahut Garda yang membawa kopi lalu duduk di samping Lee. "Aku harap kamu enggak takut menghadapiku."


"Aku tidak pernah takut soal itu. Aku tahu bagaimana papa menghabisi korbannya dengan cara kejam pun tahu. Aku sudah tidak terkejut lagi," ucap Lee. 


"Lebih baik kamu enggak usah memotongnya. Suntik mati saja… lalu kirim ke Candra," usul Erra. 


"Ide bagus itu," sahut Lee. 


"Oh… iya aku baru mendapatkan obat yang telah diciptakan oleh Emilia baru-baru ini. Obat itu bisa membuat orang mati dalam waktu sekejap," celetuk Erra. 


"Memangnya ada ya obat seperti itu?" tanya Lee.


"Iya… rencana obat itu akan dijual di dunia bawah tanah. Obat itu memang sengaja diproduksi oleh Candra," jawab Erra. 


"Jadi obat itu termasuk obat terlarang?" tanya Garda. 


"Apakah obat itu yang dibuat membunuh Lee?" tanya Garda. 


"Tidak… obat ini lain dari yang dipakai untuk membunuh Lee. Jika obat yang dipakai membunuh Lee itu mempunyai waktu untuk melumpuhkan sistem saraf secara perlahan. Kalau ini lain hanya butuh beberapa detik obat itu langsung membuat korbannya mati sekaligus," jawab Erra. 


"Bagaimana kakak tahu tentang obat-obatan terlarang milik Candra?" tanya Lee yang mengerutkan keningnya. 


"Kamu itu enggak tahu saja apa yang ada di ponselku," jawab Erra yang tersenyum smirk. 


"Maksudnya?" tanya Lee yang bingung.


"Kamu enggak paham apa yang berada di ponselku? Terutama ada email yang isinya dunia bawah tanah?" tanya Erra balik yang membuat teka-teki untuk Lee. 


Garda hanya tersenyum melihat Lee yang bingung. Semenjak menikah Lee memang diperbolehkan mengetahui isi ponsel sang suami. Namun itu hanya sebatas mencari pesan dari wanita gatal untuk mengganggu suaminya. Selebihnya Lee tidak tertarik dengan transaksi yang dilakukan Erra. 


"Aku tidak tertarik dengan isi email kamu. Rasanya itu transaksi rahasia," ucap Lee. 

__ADS_1


"Ya… kamu berhak tahu. Siapa tahu nanti suami kamu membeli seorang perempuan di dunia bawah tanah," celetuk Garda. 


Cling!


Mata Lee mulai memerah dan menatap tajam ke arah Erra. Lee tahu apa yang dimaksud oleh Garda. Namun sebelum amarah itu memuncak Garda menghembuskan nafasnya secara kasar. Garda langsung memegang tangan Lee. 


"Adik kecil enggak boleh marah begitu. Kamu tahukan kalau ular piton milik Erra enggak bisa bangun ketika disentuh oleh wanita lain?" tanya Garda.


Lee menganggukan kepalanya tanda setuju. Tetap saja Lee masih dalam mode marahnya dan menatap tajam arah Erra. 


"Maksudnya begini, kamu harus memeriksa seluruh isi ponsel milik Erra. Kamu bisa memastikan isi ponselnya aman. Jika Erra berbuat sesuatu kamu bisa menghukumnya," jelas Garda. 


Sebenarnya Lee sudah melihat email Erra. Menurutnya itu tidak penting. Karena urusan bawah tanah adalah urusan masing-masing. Begitu juga dengan Erra, Erra juga tidak mencampuri urusan Lee. Karena Erra tahu pekerjaan berbahaya milik sang istri. 


"Aku tidak marah sama kak Erra. Jika Kak Erra sampai membeli dan menyimpan wanita itu. Bisa dipastikan wanita itu yang akan kuhabisi," gertak Lee ke Erra.


Erra mulai ketakutan jika itu sampai terjadi. Erra berpikir kalau hal itu benar-benar terjadi kemungkinan besar aset berharganya juga ikutan dihabisi. Erra bergidik ngeri melihat Lee seperti itu. 


"Aku tidak akan melakukannya. Karena kamu adalah cinta sejatiku. Aku ingin kita hidup bersama hingga memiliki banyak cucu dan juga cicit. Itulah impianku selama ini yang ingin aku wujudkan," pinta Erra.


Garda tersenyum manis dan mengamini permintaan Erra. Garda menjadi sangat bahagia ketika melihat kebahagiaan Lee dan Erra. Tak lama Lee bertanya kepada Garda, "Apakah kakak tadi meminta sambal terong ke Arini?" 


"Iya. Kamu tahu sambal terong milik Arini sangat enak sekali. Ingin rasanya aku makan terus menerus. Ah… rasanya aku ingin memiliki juga sama orangnya," jawab Garda dengan mata berbinar yang tidak sadar dengan perkataannya. 


"Apakah kakak menyukai Arini?" tanya Lee ke Garda. 


Seketika Garda memasang wajah datar dan normal lagi. Garda memandang wajah Lee sambil menggelengkan kepalanya, "Ah… enggak aku hanya bercanda soal itu."


"Ayolah kak… jujurlah pada perkataan kakak. Jika kakak menyukai Arini. Lee akan bahagia sekali. Sebentar lagi calon ahli waris Sebastian akan menikah," ucap Lee dengan mata berbinar. 


"Yang kamu katakan itu benar Lee. Kakakmu enggak pernah merasakan jatuh cinta. Kamu tahu hatinya seperti balok es yang tidak bisa mencair," sahut Erra. 


"Apakah itu benar kak?" tanya Lee ke Erra.

__ADS_1


__ADS_2