
"Kutipan Erra"
Terkadang hidup itu harus memilih. Jika aku bisa memilih, aku ingin menjadi manusia biasa dan hidup tenang bersama Lee dan anak-anakku.
Selesai mandi, Lee terlihat segar.
"Ah... segarnya," batin Lee.
Kemudian Lee mengambil handuk dan memakainya.
"Semoga Kak Erra sudah pergi dari kamar," ucap Lee.
Kemudian Lee keluar dari kamar mandi tanpa harus melihat sekelilingnya.
Erra yang sedang asyik bermain game langsung mencium semerbak jeruk. Erra langsung mengangkat kepalanya dan melihat Lee yang berbalut handuk. Erra merasakan ular pitonnya bereaksi lagi.
"Lee... cepatlah pakai bajumu!!!!" titah Erra.
"Kok ada suaranya kak Erra sih. Prediksiku berarti salah," gerutu Lee.
"Pakai bajumu atau aku akan memakanmu lagi!!!" perintah Erra yang sudah mode beringas.
Akhirnya Lee langsung menoleh dan melihat Erra yang sudah mode beringas seperti serigala.
"Waduh!!!" teriak Lee dalam hati sambil cepat-cepat mengambil baju asal-asalan.
Lee langsung berlari ke kamar mandi dan memakai bajunya.
"Aish... gawat ini. Ular pitonnya mulai bereaksi lagi," ucap Lee.
Selesai memakai baju, Lee akhirnya keluar dengan memakai t-shirt yang berlogo Dream Theatre dan memakai celana pendek.
Erra langsung mendekati Lee dan menciumnya.
"Untunglah, si ular pitonku sudah tak bereaksi lagi," bisik Erra.
"Kakak!!!'' seru Lee dengan wajah yang cemberut.
"Hanya dengan kamu, ular pitonku bereaksi," Tawa Erra meledak.
"Aish... kakak... kakak tau enggak sih, kalau aku lapar!!" gerutu Lee.
"Sudah dingin. Aku akan mengambilkan lagi," ucap Erra.
"Tidak perlu, aku akan memakan ini," sahut Lee.
Kemudian Lee mengambil sarapannya di atas nakas.
"Kamu tidak makan?" tanya Lee.
"Aku akan turun mengambil makan," jawab Erra.
"Makanlah bersamaku!" titah Lee.
Kemudian Lee menyuapi Erra dengan manis. Erra yang mendapatkan perlakuan manis dari Lee menjadi semakin mencintainya.
Caroline yang selesai mengecek laporan, di kejutkan oleh Maura.
"Nyonya," sapa Maura.
"Ada apa?" tanya Caroline.
"Nyonya, ada seorang penyusup masuk ke dalam perusahaan BL," ucap Maura dengan takut.
"Masalah lagi. Baiklah aku akan bermain. Oh ya... aku akan keluar hari ini," senyum Caroline.
__ADS_1
''Baiklah Nyonya,'' sahut Maura.
Garda yang selesai berolahraga menjemur dirinya di bawah matahari yang enggan keluar. Tubuh Garda yang besar di penuhi oleh otot-otot besar dan perutnya yang sixpack membuat para pelayan perempuan terpanah.
Garda yang tidak sadar di perhatikan oleh para pelayan di sana malah cuek.
Sementara itu Fendi yang baru keluar dengan memakai baju santai terperanjat tidak percaya.
"Ada apa ini!!" seru Fendi.
Mendengar suara Fendi, seluruh pelayan langsung menghadap arah Fendi dan menunduk.
"Kalian ngapain di sana?" tanya Fendi.
"Kami...,"
Seluruh pelayan itu langsung diam. Fendi langsung melihat lurus dan melihat Garda yang sedang berjemur tanpa memakai baju.
"Kalian ini... yang sudah dewasa cepatlah menikah. Jangan biarkan diri kalian menjomblo terus-menerus," perintah Fendi.
"Kami ingin menikah dengan pria yang sedang berjemur di sana.''
Ucap mereka serempak.
''Aish... kalian ini. Kenapa tidak ada yang memilihku?'' ringis Fendi.
''Maaf, kami tidak berani,'' ucap salah satu pelayan.
Selesai makan Lee dan Erra langsung turun ke bawah. Sesampainya di bawah Lee dan Erra mendengar keributan.
''Kak.... ada apa ya?'' tanya Lee.
''Ayo, kita kesana,'' ajak Erra.
Kemudian mereka menuju ke halaman depan. Mereka baru sampai seketika bingung.
''Lee... apakah wajah Ayah tidak tampan?'' tanya Fendi.
''Apakah aku harus jujur pada Ayah?'' bisik Lee ke Erra.
''Ngomong aja yang sejujurnya. Memangnya kamu mau mengatakan apa pada ayah?'' bisik Erra.
''Wajah ayah sangat menyeramkan,'' bisik Lee lagi.
''Kok jawabanku sama ya dengan kamu,'' bisik Erra.
Fendi yang melihat Lee dan Erra berbisik-bisik sangat geram sekali. Ingin rasanya Fendi melempar mereka ke Sungai Nil.
''Hey... kalian bisik-bisik tetangga. Aku mau tanya sama kamu, Lee. Apakah wajahku tidak tampan?'' tanya Fendi geram.
''Ayah... Ayah harus menerima kenyataan ini jika istriku mengatakan yang sebenarnya. Ayah tidak boleh marah ataupun ngambek berhari-hari,'' ungkap Erra.
''Erra, aku tidak butuh ceramah mu. Aku butuh jawaban dari Lee,'' ujar Fendi kesal.
''Baiklah Ayah. Akan aku katakan sebenarnya,'' ucap Lee sambil membuang nafasnya dengan perlahan. ''Sebenarnya wajah Ayah sangat menyeramkan.''
JEDDDDDDDDEEERRRR.
Bagai tersambar petir di pagi hari. Fendi seakan tidak percaya dengan kenyataan yang di dengar.
Kumenangis...
Seperti lagu Rossa yang sedang di rasakan oleh Fendi sekarang ini. Hatinya hancur berkeping-keping.
''Kenapa bisa seperti ini?'' tanya Fendi yang menggelegar.
__ADS_1
''Kalian bubarlah!!'' titah Lee.
''Baik nona,'' jawab mereka serempak.
Kemudian mereka langsung bubar.
''Ayah... Maaf...,'' lirih Lee.
Kemudian Lee mendekati Garda. Lee seakan tidak percaya melihat bentuk tubuh Garda yang seksi lalu mendekati Garda.
''Kakak Garda!!'' seru Lee.
Garda langsung melihat Lee dan tersenyum.
''Adik kecil,'' sapa Garda yang memegang kepala Lee dan mengelus-elusnya.
''Tubuh kakak sangat bagus sekali,'' teriak Lee bersemangat.
Erra yang mendengar Lee sedang memuji tubuh Garda langsung memasang mode garang. Fendi yang merasakan hawa yang tidak enak itu langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.
''Apa yang kamu katakan, Lee!!!'' seru Erra.
''Hmmp.... tubuh kak Garda sangat bagus kak,'' ucap Lee tersenyum.
Erra yang tidak terima dengan Lee yang memuji keindahan tubuh Garda, langsung membuka bajunya. Lee yang menyentuh otot Garda merasakan aura yang pekat dan langsung menoleh melihat Erra.
''Memangnya bentuk tubuhku tidak bagus apa sehingga memuji bentuk tubuh Garda!!'' seru Erra berapi-api.
''Waduh kak... Kakak tolong,'' lirih Lee.
Garda yang merasakan Erra dengan mode garang langsung memegang tangan Lee yang dingin karena ketakutan.
''Adik kecil... minggirlah,'' ucap Garda yang lembut.
''Kak... adik takut,'' ungkap Lee.
''Jangan takut... Aku akan melindungimu dari pak bos gilamu,'' jawab Lee.
Lee dengan ragu langsung minggir dan merasakan detak jantungnya berdetak kencang. Garda dan Erra berdiri saling berhadapan dengan tatapan membunuh.
''Gawat ini... kalau mereka berdua berantem habislah aku,'' teriak Lee dalam hati.
Kemudian Lee berdiri di tengah-tengah mereka.
''Kalian tidak boleh berantem!!'' Seru Lee.
''Minggir!!'' titah mereka serempak.
''Tidak... Aku tidak mau minggir. Jika aku minggir... kalian akan bertaring!!'' seru Lee.
''Bertarung,'' ucap mereka serempak.
''Aish... iya maksudku itu. Kalian tidak boleh bertarung,'' sahut Lee.
''Kami tidak bertarung. Kami ingin membuktikan bahwa tubuh kami bagus!!'' seru Erra.
''Bener nih,'' ucap Lee.
''Bener kok,'' sahut Erra yang masih memancarkan cahaya amarah di matanya.
''Baiklah,'' lirih Lee sambil melihat Erra.
''Minggirlah,'' ucap Garda.
''Baiklah... aku ingin minum sebentar. Awas aja kalau kalian berantem. Akan aku hajar kalian,'' titah Lee.
__ADS_1
''Iya... Iya.... kami tidak berantem,'' sahut mereka serempak.
Lee akhirnya meninggalkan mereka. Setelah Lee menghilang dari pandangan mereka. Garda dan Erra saling bertatapan dengan aura membunuh.