
"Kami akan menikah dua hari lagi," jawab Gerry.
"Apa yang kamu katakan? Aku bakal belum menyiapkan semuanya," tanya Elizabeth yang kebingungan terhadap sikap Gerry.
"Tenang saja. Kamu diam saja. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kita akan menikah di New York. New York adalah kota kelahiranku," jawab Gerry dengan jujur.
Era dan Lee tersenyum bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Gerry. Mereka saling mendoakan agar pernikahan Elizabeth langgeng selamanya. Kemudian Gerry mengundangnya datang ke acara pernikahan itu. Dengan berat hati Erra menolaknya. Jujur saja Erra ingin sekali datang ke acara pernikahan itu. Namun mengingat dirinya sedang lemah, Erra hanya bisa mengucapkan selamat kepada mereka.
"Datang ya ke pernikahanku," pinta Gerry.
"Maafkan Aku. Kemungkinan istriku sedang hamil. Dan yang mengalami mual dan muntah di pagi hari itu adalah aku. Jadi aku tidak bisa berpergian jauh untuk beberapa waktu mendatang," ucap Erra yang sangat bersalah sekali sama Elizabeth dan Gerry.
Mendengar kata hamil, Elizabeth tersenyum manis. Ia langsung memeluk Lee sambil mengucapkan selamat. Diam-diam Elizabeth memintanya untuk menjadi adiknya. Akhirnya Lee menyetujui untuk membuka hubungan baru sebagai persaudaraan yang erat.
Setelah pertemuannya dengan Elizabeth, mereka akhirnya meninggalkan ruangan VVIP untuk menuju ke pesawatnya. Di saat berjalan Erra merasakan mual-mual kembali. Lalu dirinya menarik Lee menuju ke toilet.
Ketika sampai di toilet Erra mengeluarkan semua isi makanannya. Wajahnya semakin pucat dan tidak bisa berjalan. Mau tidak mau Lee menghubungi Bayu untuk segera datang ke sini.
Beberapa saat kemudian Bayu dan Andi bergegas menuju ke toilet. Mereka langsung mengosongkan toilet itu untuk sementara waktu. Lalu Bayu masuk ke dalam toilet dan melihat Erra yang lemah.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Bayu.
"Aku nggak apa-apa. Kepalaku pusing sekali. Aku habis makan keluar semuanya," jawab Erra dengan jujur.
"Lebih baik kita kembali ke hotel saja. Kita nggak bisa membawa Erra terbang seperti ini. Mau nggak mau kita akan memperpanjang masa liburan ini hingga Erra benar-benar pulih," udah Bayu sambil tersenyum sumringah.
"Kok Papa tersenyum sih melihat anaknya yang pucat seperti ini? Bukannya papa bersedih malah tersenyum seperti itu," tanya Erra dengan kesal.
__ADS_1
"Ingin rasanya tertawa nggak enak. Ingin sedih pun nggak mungkin. Suka-suka papa dong mau tersenyum mau menangis," kesal Bayu.
"Aku ada rumah di dekat pantai Phuket. Jika kita di hotel kayaknya itu tidak mungkin. Lebih baik kita tinggal di sana untuk sementara hingga Erra benar-benar sembuh," ucap Andi yang hampir saja melupakan rumah pribadinya yang berada di Bangkok.
"Apakah jauh dari bandara menuju ke pantai Phuket?" tanya Bayu.
"Memakai perjalanan darat membutuhkan waktu 12 jam. Mau tidak mau kita harus pergi ke Surabaya saat ini juga," jawab Lee.
"Lalu bagaimana dengan aku?" tanya Erra.
"Mending ke Surabaya saja. Di sana aku bisa tenang menjagamu. Paling perjalanannya juga nggak lama hanya 6 jam," jawab Andi.
"Aku nggak suka penerbangan lama-lama seperti itu. Lebih baik aku kembali ke hotel dan beristirahat. Perutku rasanya diaduk-aduk. Kalian nggak bisa merasakan perutku rasanya seperti ini," ucap Erra yang sudah menyerah dengan keadaannya.
"Kalau begitu ya sudahlah. Kita akan menempati ruangan khusus yang sudah aku desain Sedari dulu saat hotel itu berdiri," ujar Lee yang merasa kasihan pada Erra.
Saat perjalanan menuju hotel. Andi yang membawa mobil terpaksa meluncur ke rumah sakit. Di sana Andi ingin mengetahui apa benar putrinya sedang mengandung? Dengan rasa penasarannya itu pun Andi memikirkan mobilnya tepat berada di depan rumah sakit.
"Kok kamu berada di rumah sakit?" tanya Bayu yang menatap Andi dengan curiga.
"Sepertinya yang membuat masalah itu adalah putriku sendiri. Dan Erra yang menjadi korban," jawab Andi yang menahan tawanya lalu melihat era melalui kaca spionnya.
Tidak sengaja Bayu baru sadar dengan apa yang dikatakan oleh Andi. Dirinya memutuskan untuk menahan tawanya sambil berkata, "Sepertinya cucu kita sedang berbagi penderitaan kepada calon papanya itu."
"Kalian kok menahan tawa seperti itu? Apakah kalian tidak melihat aku yang sudah mau pingsan seperti ini? Kalian sangat kejam sekali kepadaku," tanya Erra yang semakin kesal kepada kedua papanya itu.
"Yang dikatakan para papa benar. Seharusnya kamu bersyukur tidak membawanya kemana-mana. Biarkanlah nama kecil yang membawanya," ledek Rani sambil tertawa keras.
__ADS_1
"Bener juga. Aku tidak akan membuat istriku menderita seperti ini. Ya sudah aku akan menikmatinya," Erra tersenyum manis sambil memandang wajah istrinya itu.
"Turunlah kalian dari mobil. Habis ini Papa dan Mama akan menyusul kalian," usir Bayu.
"Aku nggak kuat berjalan pa. Kepalaku pusing sekali. Tubuhku lemas tidak bertenaga. Perutku masih diaduk-aduk seperti tadi," ucap Erra yang mulai bersandiwara agar mereka menggotongnya masuk ke dalam rumah sakit.
"Coba saja kamu jalan dulu ke sana. Kamu nggak akan pernah pingsan," kesel Bayu yang tidak mau susah payah mengangkat Erra.
Di dalam otaknya Erra memiliki satu rencana yang licik untuk Bayu. Kemudian Erra mulai berakting lemah. Lalu Erra pura-pura pingsan di dalam mobil.
Melihat hal itu Lee semakin bingung dan membangunkan Erra. Akan tetapi sang suami tidak bangun-bangun. Malahan Erra sudah tidak sanggup lagi untuk bangun.
"Papa," panggil Lee yang panik namun tetap tenang.
"Ada apa Lee?" tanya Bayu.
"Kak era pingsan pa. Aku tidak bisa membangunkannya. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Ini bagaimana Pa?" Jawab Lee.
"Astaga ini bocah. Bisa pingsan segala. Padahal dulu pernah ditembak nggak pingsan sama sekali. Lah sekarang," ucap Bayu yang sebenarnya panik dalam hati.
Terpaksa Andi keluar dari mobil dan memanggil perawat laki-laki untuk menolongnya. Mereka langsung menuju mobil dan membantu mengevakuasi Erra. Setelah mengevakuasi Erra langsung dibawa ke instalasi gawat darurat.
Sedangkan mereka menyusulnya dari belakang. Erra yang tahu dirinya akan dibawa ke instalasi gawat darurat hanya bisa pasrah. Dirinya tetap saja tidak membuka mata.
Sesampainya di sana era langsung masuk dan dirawat oleh tim dokter khusus. Mereka tahu kalau Erra adalah anggota enam pilar utama. Dan rumah sakit ini adalah milik dari Andi Sebastian. Memang Andi meminta para tim dokter menyiapkan diri untuk memeriksa Erra.
Tiba-tiba saja Andi mendekati Bayu lalu menatap wajah sang besannya itu. Kemudian Andi berkata, "Bayu... Aku tahu kamu tadi sangat panik sekali melihat putramu itu sedang pingsan. Sebenarnya putramu itu tidak pingsan. Melainkan putramu itu sedang mengerjai dirimu. Biar kamu mengangkatnya dan membawanya ke lobi."
__ADS_1
"Putraku bener-bener pingsan Andi. Kamu jangan bercanda. Kalau ada apa-apa dengan Putraku. Bagaimana dengan putrimu itu?" tanya Bayu yang mulai frustasi memikirkan keadaan Erra.